Oleh: niadp | Juli 11, 2009

PROSES VS WAKTU ( Keyakinan Utuh Pada-Nya)

Pernah mendengarkan kisah Nabi Uzair? Saya baru saja tahu sedikit ceritanya. Kisah Nabi ini penuh ibrah, namun seringkali kita abaikan. Ya.. seringkali kita abaikan. Saya jadi ingat seseorang yang mempertanyakan,” Kenapa cuma 25 Nabi saja yang musti kita ketahui, padahal ada banyak Nabi yang diutus Allah?.” Dan dengan usilnya saya jawab,” 25 Nabi saja kita tidak hafal dan persis faham kisahnya satu persatu, apalagi kalau lebih dari itu.” tertawalah ia.. ( Intermezo only!).

Nabi Uzair termasuk salah satu Nabi yang diutus ke Bani Israil setelah Nabi Musa, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Bani Israil adalah kaum yang tidak beriman, berhati batu, suka membantah, dan tidak mau mengalah sejak masa Yaqub hingga Nabi Isa. Dalam ajaran Islam, setiap orang bertanggung jawab atas keluarganya sendiri, kemudian masyarakat. Barulah setelah itu boleh hijrah ke tempat lain untuk berdakwah. Namun Uzair diutus ke Bani Israil dengan meninggalkan kampung halamannya. Beliau menempuh perjalanan dengan keledai sebagai tunggangannya. Berbeda dengan Nabi lain yang pada umumnya berdakwah di kaumnya sendiri, Uzair ditugaskan ke tempat lain.

Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi dan Rasul mengemban misi dakwahnya selama bertahun-tahun. Butuh kesabaran, ketabahan dan kerja keras serta melalui rintangan, hambatan, musibah dan siksaan. Nabi Nuh berdakwah selama 1000 tahun untuk mengajak kaumnya menyembah Allah. Nabi Muhammad butuh waktu 23 tahun untuk mengajak umatnya masuk islam.

Muncul banyak pertanyaan; apakah kita termasuk pendakwah? Apakah dakwah dan prilaku kita saling bertentangan? Apakah dakwah kita bisa membuat mereka cinta atau malah lari dari agama?

Kita belajar dari Nabi Uzair yang ditugaskan berdakwah di daerah yang tidak dikenalnya (mungkin bisa dihubungkan dengan dunia maya yang terkadang kita satu sama lain tak saling kenal). Namun cobalah dan berusahalah. Allah akan membukakan jalan dakwah. Dakwah adalah seni dan keterampilan.

Kembali ke kisah Nabi Uzair, sesampainya di tempat yang telah ditentukan beliau terkejut mendapati tempat itu hancur, tidak berpenghuni, bangunan-bangunan roboh. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
“ Allah mengapa Engkau utus aku ke tempat seperti ini, tidak ada manusia yang bisa aku dakwahi?,” tanya beliau.
Jika kita berada di posisi Nabi Uzair, mungkin kita lebih memilih pulang seraya berpikir,” Apa Allah salah perintah ya?.”
Astaghfirullah.. mustahil Allah salah.

Nabi Uzair bertahan. Beliau yakin ada tugas yang harus dikerjakan. Beliau harus menuntaskan tugas sesuai perintah-Nya. Itulah keteguhan dan keyakinan Uzair kepada Allah. Beliau sangat yakin dengan kekuasaan-Nya. Beliau yakin Allah akan menghidupkan kembali tempat yang hancur lebur ini. Bahkan beliau ingin melihat sendiri bagaimana Allah menghidupkan negeri yang sudah mati. Dengan kesabaran dan ketabahan, beliau menunggu perintah Allah selanjutnya.

Bagaimana dengan keyakinan kita? Sudahkah sampai ke level ini. Yakinkah kita Allah akan memenangkan jihad-jihad umat islam? Yakinkah kita Allah akan memperbaiki Negara kita? Mari kita miliki keyakinan Nabi Uzair. Keyakinan kepada Allah adalah anugaerah terindah yang dimiliki seseorang. Dengannya akan terbentuk mental yang kuat dan berani. Yakinlah, Allah tidak akan menelantarkan hamba-hamba-Nya yang selalu berhubungan dengan-Nya. Kewajiban-kewajiban yang kita kerjakan akan memperkokoh keyakinan kita.

Jangan putus asa, meski berbagai macam ketidakadilan selalu menimpa umat islam, jangan pernah kehilangan keyakinan. Belajar dari Uzair. Beliau yakin Allah tidak akan menelantarkannya. Naiklah beliau ke atas bukit, keledainya diikat di pohon. Lalu beliau duduk menunggu. Ia berharap dapat menyaksikan Allah menghidupkan kembali tanah yang sudah mati. beliau ingin daerah itu diperbarui sesuai dengan keinginan dan harapannya. Apa maksudnya?

Ilustrasi singkat, ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif yang jaraknya sangat jauh dan ditempuh dengan jalan kaki, beliau tidak mendapatkan apa-apa (upaya dakwahnya nihil), tidak ada seorangpun mengikuti dakwahnya. Akhirnya, beliau beristirahat di sebuah padang pasir untuk shalat. Kedua kaki beliau terasa perih. Tak lama berselang, datanglah serombongan jin yang menyatakan diri masuk islam. Subhanallah! Bagaimana bisa. Jauh-jauh beliau menempuh perjalanan untuk mendakwahi manusia, tapi yang datang malah serombongan jin.

Secara tidak langsung Allah berkata:
“ Muhammad, kamu telah berusaha keras untuk berdakwah di tempat itu, dan kamu akan mendapat balasan dari usahamu, namun balasan itu tidak seperti yang engkau bayangkan/harapkan. Jangan pernah menganggap, usaha kerasmu-lah yang menyebabkan kemenangan Islam. Tugasmu hanya berusaha, dan Aku akan menentukan kemenangan tersebut.” Demikian pula-lah jika kita ingin Negara kita menjadi lebih baik. Sepakat..!🙂

Ketika Nabi Uzair ingin sekali melihat “perubahan” daerah itu, Allah mematikan beliau selama 100 tahun lamanya. Setelah 100 tahun tidak ada satupun dari tubuhnya yang berubah. Apa artinya? Artinya adalah Allah mampu melakukan apa saja yang di kehendaki-Nya.
Allah berfirman,” Dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). QS 2: 259

Ketika dilihat, keledainya telah berubah menjadi tulang belulang yang hancur dan tidak mungkin hal itu terjadi dalam waktu 1 atau 2 hari saja. Allah jadikan waktu 100 tahun bagaikan 1 hari untuk Uzair dan makanannya, sedangkan keledainya tetap berlalu selama 100 tahun. Dulu, Uzair ingin sekali melihat proses penghidupan tanah yang telah mati, tapi Allah malah menunjukkan hal yang lebih sulit lagi. Dua hal yang ingin disampaikan, yaitu kekuasaan ALLAH dalam mengatur waktu dan rezeki kepada hamba-Nya. Bentuk- bentuk waktu yang ada saat ini hanyalah buatan manusia dan untuk manusia, tapi di sisi Allah waktu itu tidak berlaku.

Belum selesai kebingungan Nabi Uzair, Allah perlihatkan lagi kekuasaan-Nya dengan memperlihatkan tanah yang dulunya mati menjadi hidup dan menyusun kembali tulang belulang keledai serta menutupinya kembali dengan daging.
“ Uzair, naikilah keledai itu sekarang,” perintah Allah.
Dinaikilah keledai itu menuju tempat yang telah dihidupkan kembali oleh Allah. Beliau harus menyelesaikan misi dakwahnya. Turunlah beliau ke desa. Terlihatlah tempat yang ramai dengan aktivitas yang hidup. Orang-orang beranggapan Nabi Uzair telah meninggal 100 tahun yang lalu. Mereka tidak percaya bahwa yang ditemuinya adalah Uzair. Namun setelah dibuktikan barulah mereka percaya. Mulailah Uzair menjalankan misi dakwah yang seharusnya dikerjakan 100 tahun yang lalu, tapi Allah mewujudkannya sekarang.

Ibrah (pelajaran) yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah bahwa keyakinan pada ALLAH harus tertanam dengan kuat dalam hati dan pikiran. Hanya Dia Sang Penentu dan Pengatur segala urusan. Jadilah manusia yang yakin pada-Nya dan terimalah setiap keputusan yang diberikan-Nya. Serahkan semua kepada-Nya, Allah mampu berbuat apa saja yang dikehendaki tanpa ada satupun yang menghalangi.

Mutiara hikmah dari kisah Nabi Uzair adalah:
1. Allah lah Sang Pengatur Waktu sekaligus rezeki dan umur.
2. Perkara hidup dan mati. Allah-lah yang menggenggam umur kita setiap hari yaitu dikala kita tidur, nyawa kita belum tentu kembali. Kematian selalu berulang setiap saat. Tiap kali kita tidur, otomatis nyawa kita terambil sementara. Maka beristighfarlah..
3. Pentingnya mengajak kepada kebaikan. Kita berusaha tidak meninggalkan tanggung jawab ini walau hanya pada satu orang.
4. Yakinlah pada Allah

Bumi ini sudah sangat menderita dan rusak. Dari sekian banyak penduduk bumi, berapa banyak yang beriman kepada Allah?… Bumi kita sama dengan bumi Uzair. Bumi kita sekarang hancur secara ruh, moral, psikis dan spiritual. Bumi ini telah jauh dari Allah. Solusinya adalah yakin bahwa Allah akan memperbaikinya sebagaimana Allah menghidupkan bumi Uzair. Hanya saja, perbaikan butuh waktu.

Allah sengaja menunjukkan kepada Uzair, proses menghidupkan keledai dalam beberapa menit saja. Tapi dalam menghidupkan tanah yang sudah hancur, Nabi Uzair dimatikan selama 100 tahun. Mengapa tidak dalam waktu sehari saja? Karena Allah tidak ingin mengubah hukum alam yang telah berlaku. Ada sebuah proses alam yang harus dijalani.
“ Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri.” ( QS. 13:11)

Pembangunan itu butuh proses yang bertahap, tidak bisa sekali jadi. Karena itu Allah menciptakan bumi selama 6 hari, tidak dalam waktu 1 hari. Meski itu bisa saja Allah lakukan. Ini dilakukan agar manusia tahu bahwa di bumi ada undang-undang yang telah diciptakan Allah, yaitu proses atau tahapan. Semuanya butuh undang-undang. Perubahan butuh proses melalui usaha dan kerja keras. Mengubah manusia menjadi baik juga butuh proses, dan proses butuh waktu yang sangat panjang.

Allah tidak mengabulkan keinginan Uzair untuk melihat proses penghidupan alam karena bertentangan dengan proses sunnatullah. Mengapa 100 tahun? Karena 100 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubah sebuah peradaban. Kemunduran umat islam terjadi selama 100 tahun. Dimulai dari abad ke-18 hingga abad ke-19. ketika Islam mundur, Eropa bangkit. Lihatlah… umat islam tidak jatuh dalam sekali hentakan, tapi hancur secara bertahap. Sedikit demi sedikit peradaban Islam runtuh digantikan oleh peradaban baru.

Bangkitnya Islam pun tidak mungkin terjadi dalam waktu sehari atau dua hari. Kita tidak perlu menyaksikan kebangkitan itu, yang lebih penting adalah bagaimana membentuk generasi-generasi yang cerdas dan bermoral yang akan merubah peradaban itu. jika kita meninggal dan bendera islam belum berkibar, minimal anak-anak kita akan meneruskannya atau melihat kejayaan Islam. Allah tidak akan bertanya, “ Mengapa Islam tidak berhasil di tanganmu?.” Tapi yang ditanyakan adalah apa yang telah kita berikan untuk islam?. Sammiyah meninggal tapi islam tidak juga menang. Hamzah terbunuh dalam Perang Uhud tapi Islam tidak juga menang. Tetapi satu hal yang pasti, mereka telah berbuat yang terbaik untuk Islam.

Pahami lagi.. antara proses, waktu dan keyakinan utuh kepada Allah.
Negara ini.. butuh pejuang-pejuang yang mau berpeluh dalam barisan yang ambil bagian dari proses kebangkitan itu. Tetaplah berusaha, tak perlu mendengarkan kata orang, cemoohan dan celaan. LANJUTKAN…🙂 Bangkitlah Negeriku, Harapan itu masih ada. Luruskan niat di hati, rapat barisan sejati. Oposisi bukan solusi🙂 (sok tau deh.. he,,he,,). Dalam shalat berjamaah, semakin dekat posisi kita dengan imam, maka semakin mudah kita mengingatkan jika sang imam salah. Bagaimana bisa kita tahu kesalahan Imam jika kita lebih memilih keluar dari Masjid (yah.. denger bacaan imam juga nggak, gimana bisa tau salah benarnya). Shalat sendirian OK.. tapi berjama’ah lebih hebat.🙂 Get it!

Still inspired by Al ustadz Amru Muhammad Hilmi Khalid
A Little Note: Mohon tidak diarah-arahkan, dihubung-hubungkan dengan “sesuatu” apapun.🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: