Oleh: niadp | Juni 30, 2009

Bahasa Do’a

Diantara kita ada yang berkata,” saya telah merasakan pentingnya do’a, tapi saya tidak tahu do’a yang tersusun bagus. Saya hanya tahu sedikit tentang agama, apakah do’a saya yang sederhana ini akan dikabulkan? Apakah saya harus tetap berdo’a atau tidak? Saya tidak bisa berdo’a selain dengan bahasa daerah…”.

Mengenai hal itu, pernah seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu berkata,”Wahai Rasulullah, saya tidak bisa menirukan bacaan-bacaanmu ya Rasul maupun bacaan-bacaan Mu’adz.” Maka Rasul pun bertanya,” Apa yang biasa engkau baca?’. Lelaki itu menjawab,” Aku berucap,” Ya Allah, sungguh aku meminta surga kepada-Mu, dan berlindung kepada-Mu dari api neraka.” Rasul pun mengatakan,” Demikian jugalah aku dan Muadz biasa mengucapkan.”

(HR. Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

Untuk itu, berdo’alah kepada Allah seperti yang kita rasakan dan jangan membebani diri. Tak perlu membuat-buat munajat. Jadilah diri sendiri, dan seketika itu juga kita akan menemukan lidah kita selayaknya lidah para Shalihin, hanya jika kita benar-benar tulus dan mencintai Allah seraya merasakan dalamnya nilai kepasrahan terhadap-Nya, yang akan menumbuhkan kerendahan, kekhusyuan, ketenangan, perasaan butuh, dan keharibaan penuh kepada Sang Pencipta langit dan bumi.

 Ibnul Qayyim mengatakan;

“ sesungguhnya di dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersama Allah.”

 Di dalam hati juga terdapat sebuah kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi kepada-Nya. Di dalam hati, ada tuntutan kuat yang tidak akan berhenti sebelum ALLAH menjadi satu-satunya tujuan.

 Itulah sebabnya, do’a termasuk ibadah yang paling indah. Kita semua memiliki banyak tuntutan, baik itu harta, isteri, pekerjaan, anak-anak dan sebagainya. Setiap kita juga selalu mengharap keridhaan, petunjuk, dan karunia Allah. Setiap kita mempunyai beragam persoalan yang ingin terselesaikan.

 Ya Rabb…. Seolah sekian banyak masalah dan persoalan dibagi rata agar kita kembali kepada-Nya; seolah segala keinginan dan cita-cita ditunda agar kita senantiasa menengadah kepada-Nya dan seolah-olah ampunan Allah tidak bisa diketahui, apakah telah diberikan atau belum, agar kedua tangan kita tetap rajin menengadah ke atas langit.

 Tujuan dari ibadah do’a adalah agar kita senantiasa memohon kepada Allah dan meyakini dengan kuat bahwa Allah akan mengabulkan permintaan kita. Lalu mengapakah kita meminta pertolongan kepada orang yang juga membutuhkan pertolongan??

 “ Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” ( QS. Fathir:15)

 Sebuah kisah;

Mendiang Syekh Al-Azhaar Dr. Abdul Halim Mahmud menceritakan sebuah kisah nyata yang pernah terjadi di Mesir. Seorang bangsawan yang baik tidak memiliki cara tepat untuk menyuburkan tanah pertaniannya. Hampir saja tanamannya menjadi sia-sia. Ia pun duduk ditengah sawahnya yang luas dan berkata,

”Ya Allah, sesungguhnya Engkau berfirman,

 “Maka aku katakan kepada mereka,”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat”. (Nuh:11)

 Maka saksikanlah disini hamba-Mu, wahai Tuhan, memohon ampun kepada-Mu demi berharap agar Engkau curahkan rahmat-Mu kepada kami.”

 Laki-laki itu terus beristighfar beberapa jam dengan keyakinan penuh akan janji Allah. Seketika itu, tiba-tiba langit diliputi oleh mendung kelam yang seketika mengucurkan air hujan yang amat deras.

 Sungguh,” Dan Rabbmu berfirman,”Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenakan bagimu”.

 Tidak percaya?? Kita coba yuk..!

 Sayangnya.. manusia sering lupa.

 Allah telah mengabulkan ribuan do’a kita namun kita melupakannya. Tidak selamanya pengabulan do’a seketika itu juga. Terkadang Allah mengabulkannya pada waktu yang telah ditentukan dan kita lupa bahwa hal itu sesungguhnya sebagai jawaban atas do’a kita sebelumnya. Beribu do’a kita telah terkabul. Ingat-ingatlah kembali.. janganlah lupa, sebab manusia sejati tidak akan melupakan cinta dan jasa walau sekejap. Apalagi terhadap pemberian yang terus menerus sepanjang hayat..

 Kemudian, tahukah kita bahwa Rasul bersabda;

“ Do’a seorang muslim untuk saudaranya dari jauh (ketika tidak sedang bersama) adalah do’a yang mustajab. Di kepalanya terdapat seorang malaikat khusus yang setiap kali ia berdo’a untuk saudaranya, malaikat itu berkata; “Amiin. Dan semoga engkau juga mendapatkan yang serupa.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

 Marilah kita menjadi orang yang cerdas. Jika menginginkan do’a dan hajat dikabulkan oleh Allah, berdo’alah kepada-Nya untuk saudara kita dari jauh, sehingga do’a ini akan dikabulkan juga untuk kita secara tidak langsung. Subhanallah.. tidakkah kita ingin mencobanya??

 Ayolah kita berdo’a tidak untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Berlakulah itsar dalam berdo’a. do’akan pula Negara kita, pemimpin kita dan tiap-tiap pejuang yang memperjuangkan kebenaran di jalan Allah. Do’akan pula keluarga, saudara, tetangga, semuanya.  Sanggup?? Kita coba yukkk! Bilakah kita berpikir bahwa carut marut Negara kita karena kita tak pernah mendo’a akan kebaikan baginya, yang ada kita hanya berprasangka, pesimis dan mencela serta berkoar-koar, “mana buktinya, mana hasilnya, dan sebagainya”. Sekarang, coba kita balik deh.. kita coba mulai mendo’akan sekaligus ber-azzam menjadi rakyat yang baik. Satu request khusus: do’akan saya juga yah..

 kekuatan akan diberikan

pada saat kita tidak berpikir utk diri kita

pada saat kita berpikir utk orang lain

maka Allah akan memberikan kekuatan

dan itu adalah kekuatan yang sempurna

untuk membuat kita lebih sukses

( nyontek kata-katanya mas ERWIN )

 Hmmm.. tapi kok sampe sekarang do’a kita masih belum diijabah ya..

Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa ALLAH bertanya kepada JIBRIL,”wahai Jibril! Apakah hamba-KU berdo’a kepada-Ku?

Jibril pun menjawab,”Ya”

Allah bertanya lagi,” Apakah ia menghiba kepadaku dalam meminta?”

Jibril menjawab,” Ya.”

Maka Allah berfirman, “ Wahai Jibril, tangguhkanlah (pengabulan) permintaan hamba-Ku, sebab Aku suka mendengar suaranya.”

 Dari kesenyapan yang luar biasa, kesenyapan permulaan yang tak berawal muncul kerinduan Tuhan.

“Aku adalah perbendaharaan tersembunyi dan Aku ingin dikenal”. ( HADITS Qudsi)

 Tahukah kita bahwa dosa yang membuat kita hina lebih disukai ALLAH disbanding taat yang kita bangga-banggakan. Jerit kita yang melakukan dosa lebih baik disisi Allah ketimbang kesombongan orang-orang yang taat..

 Saya rasa antum-antum semua sangat faham dan bisa memaknai dengan jelas.

 Khafizakumullahu wa jazaka khair..

 Thanks to Al ustadz Amru Muhammad Hilmi Khalid as an inspiration to face up my daily reality of life; spiritnya beda, bahagianya juga beda..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: