Oleh: niadp | Juni 18, 2009

IMAM HANBALI: ZAHID yang TEGUH BERPRINSIP

IMAM HANBALI

(164-241 H atau 782-856 M)

 Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adalah Imam yang keempat dari fuqaha Islam. Beliau memiliki sifat-sifat yang luhur dan tinggi, Imam umat Islam seluruh dunia, Imam Darussalam, Mufti di Irak, zahid dan saleh, sabar menghadapi cobaan, seorang ahli hadits dan contoh teladan bagi orang-orang ahli hadits.

 Sayyid Rasyid Ridha berpendapat bahwa Ahmad bin Hanbal adalah seorang mujadid abad ke-3 hijriah. Ada pula yang berpendapat, Ahmad bin Hanbal-lah yang berhak dinamakan mujaddid abad ke-3 dibanding dengan Ibnu Suraij, Syafi’i, Al Khilal atau An Nasai.

 Ahmad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad, bulan Rabuil Awal tahun 164 H. keturunan Ibnu Hanbal bertemu dengan keturunan Rasulullah pada Mazin bin Mu’ad bin Adnan. Beliau termasyhur dengan nama datuknya (Hanbal) karena datuknya lebih masyhur dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang pejuang yang militan sedangkan datuknya adalah seorang gubernur di Sarkas. Khurasan, ketika masa pemerintahan Umawiyin pernah disiksa karena beliau salah seorang penyokong Abbasiyah. Ayah beliau meninggal pada saat beliau masih kecil. Beliau dibesarkan oleh ibunya Safiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik Asy Syaibani dari suku Amir. Orang tua beliau adalah keturunan asli Arab asli suku Syaiban tinggal di Basrah. Karena itu beliau digelari Al Basri. Apabila ziarah ke Basrah, beliau shalat dulu di masjid Mizan karena kata beliau masjid itu adalah masjid nenek moyangnya.

 Ahmad bin Hanbal sangat menyayangi ibunya, terbukti ketika beliau sakit panas ketika berpergian ke Kufah, beliau mengatakan bahwa sakitnya disebabkan tidak minta izin dulu kepada ibunya sebelum berangkat.

 Ibnu Hanbal hidup dalam kemiskinan. Beliau dalam memenuhi kebutuhan hidup harus melakukan aneka ragam pekerjaan seperti bekerja di tukang jahit, memilih sisa-sisa panen sehabis menuai, mengambil upah menulis dan terkadang mengambil upah dalam membawa barang-barang, yang penting halal dan beliau tidak mau menerima hadiah-hadiah.

 Beliau menunaikan ibadah haji sebanyak lima kali, tiga kali ditempuh dengan berjalan kaki dengan biaya 30 dirham saja di setiap haji-nya.

 Perjalanan-perjalanan beliau dalam menuntut ilmu pun ditempuh dengan bagaimanapun caranya dan dengan keterbatasan materi serta fasilitas. Seperti perjalanannya ke Kufah beliau tidur di sebuah gubug dengan berbantalkan tanah. Saat beliau belajar ke Yaman, beliau harus bekerja mengangkut barang bersama para kuli.

 Di umur ke- 14 Ahmad bin Hanbal belajar mengarang, bahasa dan menghafal Al Qur’an. Beliau menuntut ilmu dengan giat. Sebagian ilmu yang didapatnya dipelajari dari Abu Yusuf. Pada mulanya beliau mempelajari kitab-kitab yang berdasarkan pemikiran-pemikiran. Kemudian beliau tinggalkan dan berpindah mempelajari hadis-hadis yang harus dikumpulkan dari beberapa tempat, hal ini dimulai pada tahun 174 H. Meskipun beliau miskin, tidak menghalangi diri beliau berpetualang mencari ilmu.

 Ada riwayat yang menceritakan bahwa pada suatu kali Ahmad bin Hanbal mengembara dari Baghdad ke Syam. Ketika beliau bertemu dengan orang yang masyhurtempat beliau akan belajar, kebetulan orang itu sedang memberi makan anjing, sampai beliau bosan menunggu. Setelah selesai, orang itu menoleh dan berkata,”Mungkin saja engkau marah kepadaku”. Mendengar jawaban Ahmad bin Hanbal bahwa memang demikian, perawi itu terus menjelaskan,” Di negeri kami ini, tidak ada anjing. Tetapi anjing itu mengikutiku minta makan karena lapar dan haus. Dengan memberi makan dan minum aku merasa telah menunaikan kewajiban sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW., menurut yang diriwayatkan oleh Abi Az-Zanad, dari Araj, dari Abi Hurairah:

 “ Barangsiapa yang memutuskan harapan dengan orang yang mengharap, Allah akan memutuskan pula harapannya di hari kiamat”

 Mendengar ucapan itu, Ibnu Hanbal tersenyum dan berkata, “Hadits ini sudah cukup bagiku”. Beliau pun pulang kembali ke Baghdad.

Ibnu Hanbal sangat berhati-hati tentang riwayat hadits, karena hadits sebagai dasar tidak akan di dapatkan faedahnya tanpa meneliti riwayatnya. Beliau berkata,”Barangsiapa yang tidak mengumpulkan hadits dengan riwayatnya serta perbedaan pendapat mengenainya, tidak boleh memberikan penilaian tentang hadits tersebut dan berfatwa berdaarkannya.

 Guru-guru Ibnu Hanbal

Guru-guru Ibnu Hanbal yang pertama ialah sahabat Abu Hanifah, Abu Yusuf Ya’kub bin Ibrahim. Ahli sejarah berpendapat bahwa pengaruh Abu Yusuf tidak besar terhadap beliau, maka yang dianggap gurunya yang pertama adalah Husyaim bin Basyir bin Abi Qasim Al Wasithi, yang diikuti Ibnu Hanbal selama lebih empat tahun untuk mempelajari tiga ribu hadits. Husyaim adalah Imam Hadits di Baghdad dari generasi tabi’it-tabi’in yang banyak mendengar hadits dari imam-imam dan banyak orang lain yang meriwayatkan hadits dari dia, seorang yang sangat takwa, wara’ dan kuat ingatan yang dilahirkan tahun 104 H dan meninggal tahun 183 H.

 Disamping itu, beliau juga belajar dengan Umair bin Abdullah, Abdurrahman bin Mahdi dan Abu Bakar ‘Iyadi. Imam Syafi’i dikatakan oleh sebagian orang sebagai guru kedua yang memberikan pelajaran tentang pemahaman hukum dan cara-cara mengistimbatkan hukum. Ibnu Hanbal juga pernah belajar dari Ibrahim bin Saad, Yahya bin Al Qattan, Waki’ dan lain-lain. Selain itu beliau belajar kepada Sufyan bin ‘Uyainah yang tinggal di Mekkah.

 Ibnu Hanbal lebih menonjol sebagai seorang tokoh dalam ilmu hadits daripada seorang tokoh ilmu fiqh, sehingga ada pendapat yang mengatakan bahwa beliau bukanlah imam dalam bidang fiqh. Tetapi pendapat itu tidak dapat diterima karena perhatian beliau yang menjurus kepada ilmu hadits tidak mengurangi ketinggian ilmunya dalam bidan fiqh. Meskipun beliau tidak menyusun kitab ilmu fiqh, tapi sahabat dan murid beliau menyusun kitab fiqh yang merupakan himpunan pendapat beliau, seperti kitab “Al Jami Al Kabir” yang terdiri dari 20 jilid yang disusun oleh Ahmad bin Muhammad Al Hilal dan lain-lain.

 Ibnu Hanbal sebagai Guru

Pada umur 40 tahun beliau mulai mengajar di masjid jami’ kota Baghdad. Majelis beliau terbagi dua: umum dan khusus. Pelajaran umum diadakan sesudah ashar di masjid. Pelajaran khusus diadakan di rumahnya sendiri. Beliau tidak pernah bersenda gurau, karena beliau sendiri tidak sabar terhadap cemoohan dalam senda gurau tersebut. apabila orang yang suka bersenda gurau di dekat beliau, orang itu tidak mau bergurau.

 Sumber-sumber fiqh Ibnu Hanbal

Ibnu Hanbal adalah orang yang sangat berpegang kepada Sunnah Rasul karena sunnah itulah yang menafsirkan Qur’an dan hukum-hukumnya. Ibnu Hanbal menempatkan Al Qur’an sebagai sumber hukum fiqh yang pertama, sunnah yang kedua, dan kata-kata serta fatwa para sahabat sebagai sumber ketiga. Selain itu beliau mengambil qias, ijma’, mahalih mursalah dan sadduz-zarai.

 Ibnu Hanbal juga menggunakan hadits-hadits dhaif apabila tidak ada dalil lain selam tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama atau hukum yang berdasarkan kepada hadits shahih. Beliau sangat teliti tentang hadits-hadits yang menyangkut masalah halal dan haram, baik matan atau sanadnya, dan mempermudah persyaratan hadits-hadits jika menyangkut masalah-masalah dorongan untuk berbuat baik atau kelebihan suatu amal. Dalam hal ini beliau berkata,” Apabila kami menerima hadits-hadits Rasul mengenai halal haram, sunnah dan hukum, maka kami teliti dengan cermat, baik matan maupun sanadnya. Akan tetapi, kalau kami menerima hadits tentang kelebihan amal ibadah dan hal-hal yang bukan menyangkut masalah hukum, kami permudah syaratnya”.

 Ibnu Hanbal memiliki beberapa istilah tersendiri dalam fiqhnya, seperti istilah “akrahuhu” (aku benci) atau “la yu’jibuni” (tidak menarik bagiku) beliau maksudkan bahwa masalah yang dibicarakan hukumnya “haram”. Sebagian orang yang tidak mengerti menyangka bahwa hukum yang sedang dibicarakan hanya sekedar tidak disukai.

 Madzhab Ibnu Hanbal terkenal sangat keras dan ketat. Kekerasan beliau itu tampaknya disebabkan karena sifat wara’ yang sangat tinggi, sehingga beliau mewajibkan kepada diri sendiri hal-hal yang tidak diwajibkan kepada orang lain, menjauhi hal-hal yang syubhat dan berpegang teguh kepada hukum yang ada.

 Madzhab Ibnu Hanbal juga keras dan berat dalam masalah mensucikan najis, seperti beliau mewajibkan mencuci bejana yang dijilat anjing sebanyak 7 kali, beliau mewajibkan membasuh tangan waktu bangun tidur sedangkan yang lain hanya (berpendapat) sunnat saja. Beliau mewajibkan berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung ketika berwudhu sedangkan yang lain berpendapat sunat saja, dan beliau mewajibkan berwudhu’ sehabis memakan daging onta. Akan tetapi, tidak semua hukum yang diketengahkan Ahmad bin Hanbal keras dan ketat.

 Pandangan Kemasyarakatan Ibnu Hanbal

Walaupun madzhab Hanbali tampaknya berat dan keras, akan tetapi dalam menyangkut kemasyarakatan kita dapati beberapa kelonggaran, seperti beliau berpendapat bahwa tanah yang diwakafkan kepada fakir miskin tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

 Syarat-syarat untuk menjadi Mufti

Ibnu Hanbal menggariskan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufti, sebagai berikut:

  1. orang yang memiliki niat ikhlas, karena tanpa keikhlasan ia tidak akan memperoleh petunjuk.
  2. Seorang yang berilmu, berwibawa, wara’ dan tidak sombong.
  3. Hendaklah seorang memiliki wibawa besar, agar tidak diperolok-olok oleh masyarakat
  4. Hendaklah orang yang kuat yang sanggup menghadapi suatu perkara, berkat ilmu dan mentalnya yang tinggi.
  5. Orang yang mengetahui keadaan manusia
  6. Hendaklah orang yang mengetahui ilmu-ilmu Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi.

 Murid-Murid Ibnu Hanbal

Murid-murid Ibnu Hanbal diantaranya Yahya bin Adam, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Ali bin al Madini al-Bukhari, Muslim, Anu Daud, Abu Zarah, Ar Razi, Ad Damsiqi, Ibrahim al-Harbi, Abu Bakar Ahmad bin Hani’ At Tha’I, Al-Altram, Muhammad bin Ishaq Al Shaghani, Abu Hatim Ar Razi, Ahmad bin Al-Huwari, Musa bin Harun, Hanbal bin Ishaq, Usman bin Said Ad Darami, Hujaj bin As-Sya’ir, Abdul Malik bin Abdul Hamid Al-Maimuni, Bakyi  bin Makhlid Al-Andalusi, Ya’kub bin Syaibah dan lain-lain.

 Ahmad bin Muhammad al-Atram yang meninggal tahun 273 H pernah mengatakan, bahwa dia telah banyak menghafal ilmu fiqh dan perbedaan pendapat dalam ilmu itu, tetapi setelah berjumpa dengan Ahmad bin Hanbal, semua ditinggalkannya. Sedangkan Ahmad al-Maruzi yang meninggal tahun 275 H dan Ahmad bin Muhammad al-Khilal yang meninggal tahun 311 H, adalah orang-orang yang mengumpulkan fiqh Imam Ahmad bin Hanbal.

 Sifat-sifat Ahmad bin Hanbal

Sahabat-sahabat Ibnu Hanbal kebanyakan juga bersifat keras, tegas, zahid, wara’, berpegang teguh pada nash-nash Al Qur’an dan hadits, tidak mau mengadakan penafsiran dan tambahan.

Abu Wafa’ bin Aqil, seorang ahli fiqh bermadzhab Hanbali yang meninggal tahun 513 H menerangkan bahwa sahabat-sahabat Ibnu Hanbal adalah orang-orang yang tegas ikhlas, sangat serius dan tidak suka mengada-ngada. Mereka menjauhkan diri dari pandangan yang berlebih-lebihan, cerita-cerita dan takwilan-takwilan. Mereka banyak mengerjakan ibadah, lebih mengutamakan ke wara’ an dan tidak suka mempelajari ilmu-ilmu yang sukar dan terlalu teoritis. Mereka berpegang pada keterangan-keterangan saja. Kalau ada maksud yang terkandung dibalik keterangan nyata dan lahiriah itu, mereka serahkan kepada Allah. Karena berpegang pada dzahir ayat dan hadits, menjauhi takwilan, merekalah yang banyak menindak pendapat-pendapat yang syubhat.

 Dr. Ahmad Asy Syurbasyi (penulis buku Al-Aimmatul Arbaah) berpendapat bahwa tidak ada suatu aliran/madzhab dalam islam yang benar-benar bersih dari bid’ah kecuali madzhab ini. Walaupun kewara’an mereka itu sangat berlebih-lebihan, kita berharapan baik semoga kekerasan madzhab mereka hendaknya dikurangi agar orang-orang kafir dan jahil tertarik untuk mempelajari Islam. Demikian juga kita berharap agar kekerasan mereka dalam menindak hal-hal yang tidak mereka setujui dapat dikurangi, seperti menyerang rumah-rumah yang diragukan, merusak alat-alat musik, memukul para penyanyi, menahan dan menanyai orang yang berjalan berpasang-pasangan dan lain-lain.

 Ibnu Athir juga berharap supaya pengikut Ibnu Hanbal dapat mengumpulkan hadits-hadits Rasul dan mengajarkannya kepada manusia. Hendaknya pula mereka dapat terjun ke tengah-tengah masyarakat berfatwa dan mengubah masyarakat sesuai dengan perkembangan waktu, tempat dan watak manusia, tanpa keluar dari ketentuan-ketentuan dalam Qur’an. Cara yang halus dan baik –Insya Allah- akan lebih berhasil dari cara-cara kekerasan, sebagaimana tertera dalam QS. An Nahl 125 dan surat Thaha 44 (Wallahua’lam, Allah lebih tahu mengenai apa yang tidak kita ketahui, kepada-Nya lah kita kembalikan segala sesuatu).

 Penderitaan Ibnu Hanbal

Di masa Ibnu Hanbal telah banyak orang mencari-cari masalah yang belum pernah dipersoalkan sebelum itu,  yaitu apakah Al Qur’an itu “hawadits” (baru) atau “qadim” sama dengan sifat Allah, dimana orang mu’tazilah berpendapat hawadits.

Pemerintah Abbasiyah pada masa itu berpihak dan sangat dekat dengan golongan Mu’tazilah. Banyak orang Mu’tazilah yang memegang jabatan penting dalam pemerintahan seperti Ahmad bin Abi Duad yang memegang jabatan Menteri.

Pada suatu ketika Khalifah Al Ma’mun jatuh sakit. Ibnu Duab dapat membujuk Al Ma’mun menandatangani sebuah surat yang menginstruksikan para ulama mengakui dan mengajarkan paham bahwa Al Qur’an adalah hawadits. Ulama yang berjiwa penakut mematuhinya, tetapi Ibnu Hanbal menolaknya. Beliau tetap berpendapat bahwa Qur’an adalah kalamullah (pembicaraan Allah) dan pembicaraan Allah adalah salah satu sifat-sifat-Nya yang Qadim, karena Dia dan sifatnya sudah ada sejak zaman azali. Akhirnya, Ibnu Hanbal digiring dengan tangan terbelenggu menghadap Khalifah Al Ma’mun, tapi sebelum beliau sampai Khalifah Al Ma’mun meninggal dunia.

Al Mu’tasim menerima wasiat kakaknya Al Ma’mun untuk menyokong golongan Mu’tazilah (mungkin wasiat tersebut atas dorongan dari Ibnu Abi Duab). Karena tindakannya terhadap Ibnu Hanbal dan sangkaan orang bahwa tindakan Khalifah hanya karena hasutan Ibnu Abu Duab, banyak rakyat yang membencinya.

Ibnu Hanbal sendiri karena pendiriannya yang tidak berubah, dipukuli dengan kuat hingga pingsan, lalu diancam akan disiksa dengan pedang. Sesudah itu beliau dipenjarakan selama dua setengah tahun, barulah dibebaskan dalam keadaan lemah, sakit dan banyak bekas penyiksaan. Setelah kondisinya pulih beliau kembali mengajar.

 Kitab-kitab karangan Ahmad bin Hanbal

Kitab karangan Ahmad bin Hanbal hanyalah berisikan hadits sunnah atau atsar sahabat. Yang termasyhur adalah kitab “Al Musnad” berupa kumpulan hadits Rasulullah SAW sejumlah 40.000 hadits. Hadits- hadits tersebut beliau kumpulkan dari perawi-perawi yang terpercaya. Kitab tersebut dijadikan pedoman dalam menyelidiki hadits-hadits.

Kitab beliau yang lain adalah “Az Zuhd” yang menjelaskan sampai dimana kezuhudan nabi-nabi, sahabat-sahabat, khalifah-khalifah dan imam yang bersumberkan hadits, atsar dan “akhbar”, Kitab “As Shalah” yang merupakan kitab kecil, Kitab “Al Manasikul Kabir”, “Al Manasikus Shaghir”, “At Taufiq”, “An Nasikh wal Mansukh”, “Al Muqaddim wal Muakhir fi Kitabillahi Taala”, “Fadlailus Shahabah” dan lain-lain.

 Risalah Ibnu Hanbal

Ibnu Hanbal mnulis surat yang kemudian dijadikan sebuah buku kecil bernama “Risalatu Rad’alal-Jihamiyah”. Dalam risalah tersebut beliau mengatakan bahwa golongan jihamiyah dengan segala macam bentuknya itu kafir dan halal dibunuh. Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa seseorang hanya dapat keluar dari Islam dengan mempersekutukan Allah atau menolak sesuatu yang di wajibkan-Nya dengan sengaja bukan karena malas.

 Beliau juga mengemukakan pendapat golongan Mu’tazilah yang mengkafirkan segala orang yang berbuat dosa walaupun hanya berupa mencuri sedikit gandum, pendapat golongan Rafidah yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih mulia dari Abu Bakar yang nyata-nyata bertentangan dengan banyak ayat Qur’an maupun hadits.

 Selain banyak masalah keimanan mengenai hari kiamat, akhirat dan hal-hal yang diriwayatkan oleh hadits-hadits mengenai masalah tersebut, juga dalam risalah itu Ibnu Hanbal menyatakan imannya tentang akan datangnya Dajjal yang kemudian dibunuh oleh Nabi Isa di pintu Lud.

Risalah tersebut juga menerangkan bahwa pendapat yang baik sesudah Nabi adalah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Selain itu dinyatakan pula kepercayaan kepada 10 sahabat yang telah diberitahu oleh Rasulullah akan masuk surga, kewajiban mematuhi imam, tidak sah nikah tanpa wali, kawin mut’ah adalah haram dan banyak lagi masalah-masalah lain, baik yang menyangkut fiqh, keimanan dan nasehat-nasehat yang beliau ucapkan dalam risalah tersebut.

 Pengakuan- pengakuan Terhadap Ibnu Hanbal

Abu Atim berkata,” Apabila kamu dapati ada orang mengasihi Ahmad bin Hanbal, tentu orang tersebut adalah pembela sunnah”.

An Nawawi mengatakan bahwa beliau adalah orang yang bijaksana, besar, terkemuka, wara’, zuhud, kuat ingatan, lagi banyak ilmu dan besar pengaruh.

Abdullah An Nasai Al Harwi mengungkapkan pujian bahwa Ahmad bin Hanbal adalah orang yang menyatukan antara zuhud dengan takwa, penerang hadits Nabi, yang menebus agama dengan jiwa, dan seorang yang sangat sabar dalam suatu rangkaian syair yang cukup panjang.

 Kepribadian Ibnu Hanbal

Beliau seorang yang mempunyai ingatan kuat, sabar, berkemauan keras, tidak riya’, dan selalu menjauhkan diri dari bersenda gurau. Karena wara’nya, beliau tidak memberikan fatwa tentang suatu masalah yang tidak ditanyakan kepada beliau, tentang masalah yang tidak terjadi, tidak menyukai hal-hal yang sepele, tidak mengeluarkan fatwa berdasarkan pendapat sendiri dan banyak pula menjawab pertanyaan dengan “aku tidak tahu”.

Beliau melarang keras berpegang kepada ilmu para ahli pikir dan mantiq. beliau adalah orang yang sangat bersih, suci, zahid dan menghindarkan diri dari yang haram. Setelah uzur karena tua dan penderitaan, beliau masih bisa mengerjakan seratus lima puluh rakaat sehari semalam dan menamatkan Al Qur’an seminggu sekali.

 Keluarga Ibnu Hanbal

Beliau menikah dengan seorang sahaya perempuan bernama Husan. Dari pernikahan tersebut lahirlah beberapa anak, yaitu: Said, Muhammad Al Hasan, Zainab, Fatimah dan anak kembar Hasan dan Husen yang meninggal beberapa hari setelah dilahirkan.

 Beliau juga menikahi Al Abasah binti Al Padhl dan memperoleh beberapa anak, yaitu: Saleh yang bergelar Abu Fadhl, dilahirkan 203 H dan meninggal tahun265 H yang pernah menjadi hakim Asbahan dan menulis riwayat ayahnya, Abdullah yang digelari Abu Rahman, pimpinan majelis ilmu hadits, meninggal 290 H dan seorang anak perempuan.

 Pada awal bukan Rabiul Awwal 240 H, beliau terserang panas sehingga tidak sanggup berjalan. Menjelang wafat beliau sempat mewasiatkan diantaranya berisi supaya keluarga dan segenap sanak saudara hendaknya tetap menyembah Allah, memuji-Nya, suka memberi nasehat kepada kaum muslimin. Beliau juga mengatakan bahwa Abdullah bin Muhammad Al Ma’ruf ada berhutang kepada beliau sebanyak 50 dinar.

 Ibnu Hanbal meninggal dunia pada hari jum’at 12 Rabiul Awwal 241 H. Turut memandikan beliau Abu Bakar Ahmad bin Al Hujjaj Al Maruzi.

Semoga Allah meridhai segenap kebaikannya dan mengampuni tiap kesalahan yang tercelup di dalamnya. Amiin.

 Sumber Bacaan:

  1. Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab, Bulan Bintang, Jakarta
  2. Moenawar Chalil, Kembali pada Qur’an dan Sunnah, Pen. Bulan Bontang Jakarta,1977 (cetakan keempat)
  3. Abul Hasan Ali al-Husni An Nawawi, Rijalul Fikri wad Dakwah fil Islam, Pen. Darul Fath Damaskus, 1965 (cetakan kedua)
  4. Ahmad Asy-Syurbasy, Al-Aimmatul Arba’ah, pen. Darul Hilal Mesir.
  5. Mochtar Rasyidi, Doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Penerbit Menara Kudus
  6. Ahmad Siddiq, K.H., Khittah Nahdliyah, Penerbit Balai Buku Surabaya.

(Disadur dari buku: Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Ke Masa karya Imam Munawwir)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: