Oleh: niadp | Juni 15, 2009

Muhammad bin Abdulwahab dan Fenomena Wahabi

MUHAMMAD bin ABDULWAHAB
(1115-1204 H) – (1703-1792 M)

Pada dasarnya, gerakan Wahabi bertujuan untuk memperbaiki kondisi berupa kepincangan-kepincangan, menghapuskan segala perbuatan takhayul dan kembali kepada islam yang sejati. Segala bid’ah yang masuk kemudian tulisan dan segala macam tafsiran para ahli agama pada Zaman Tengah Islam dahulu, pemujaan dalam bentuk sesajen dan mistik, pengagungan para wali dan berbagai bentuk penyelewengan dilarang. Demikian Stoddard mengungkapkan dalam bukunya “The New World of Islam.

Pribadi Muhammad bin Abdul Wahab, sebagai pelopor gerakan ini sering diidentikkan sebagai seorang radikal ekstrim dalam mengemukakan gagasan, tanpa melihat situasi kondisi. Ironisnya lagi, beliau difitnah seakan-akan membawa agama baru.

Pembaruan (tajdid) dalam Islam sering dideskripsikan seakan-akan ingin mengubah dasar islam sesuai dengan perkembangan zaman dan menghilangkan nilai dasar Islam, kemudian diganti dengan jalan pikiran yang selaras dengan keadaan zaman, dengan tanpa mempertimbangkan wahyu dan hanya mengandalkan ra’yu. Benarkah??

Kondisi Umat Islam abad ke-18
Sejak abad XI M, dinamika dan semangat Islam berangsur-angsur mengalami penurunan. Spirit of Islam dan ruh daya juang semakin hilang. Sumber inspirasi dan motivasi (Al Qur’an) mulai dilupakan dan tak ada lagi hasil kreasi dan inovasi. Umat islam pada waktu itu, secara kuantitas naik, tapi kualitas mengalami kemunduran.

Kemurnian tauhid semakin terancam. Guru-guru dan pemimpin rohani dikultuskan, dijadikan perantara antara manusia dengan Tuhan. Amal ibadah yang tadinya murni kemasukan bermacam bid’ah dan khufarat. Stoddard menggambarkan situasi pada saat itu sebagai berikut:
Abad kejumudan ditandai dengan berbagai penyimpangan. Ketauhidan diselubungi khufarat dan paham kesufian. Masjid ditinggalkan masyarakat awam dan menghias diri dengan azimat, penangkal penyakit. Mereka belajar kepada fakir atau darwisy dan menziarahi kuburan orang-orang keramat untuk meminta sesuatu. Kota Makkah dan Madinah pun jadi tempat penuh penyelewengan dan penyimpangan, ibadah haji pun disalahgunakan. Penghormatan kepada Al Qur’an bukan dengan mengamalkan isinya melainkan hanya dengan menjunjung Qur’an diatas kepalanya, bahkan ada lembaran yang dibakar, ditelan untuk obat penenang hati. Akhirnya, Al Qur’an yang berisi petunjuk Tuhan menjadi magic, obat penawar dan jampi.

M. Natsir menambahkan: “Essensialia demokrasi dalam tata Negara, digantikan oleh feodalisme dalam bermacam-macam bentuk. Pegawai pemerintah yang curang memeras dan merampas hak rakyat. Petani dan orang kota patah semangat untuk bekerja dan berusaha. Baik pertanian maupun perdagangan jatuh merosot sama sekali.”

Ruh jihad dan ijtihad, kemerdekaan berpikir dan semangat berjuang menjelajah mencari kebenaran pun merosot. Yang ada hanyalah jiwa serba turut, puas terhadap hasil karya nenek moyangnya. Di kalangan awam, gairah untuk melepaskan diri dari keadaan lumpuh itu hilang. Malahan ada slogan-slogan yang mendorong orang benci kepada dunia, lari dari kenyataan dan keadaan.

Pada masa itu, banyak didapati hadits yang maudhu’. Di satu pihak ulama menerima Hadits tersebut, akan tetapi di pihak lain menolaknya. Sedangkan menurut Ahmad bin Hanbal, hal-hal yang menjadi perselisihan ulama, tak patut dijadikan sumber islam yang murni. Di Basrah, ajaran Islam sudah terkena pengaruh kepercayaan Parsi. Banyak upacara, adapt istiadat, kepercayaan yang tidak bersumber dari Islam. Kesimpulannya, kompleks sekali penyakit umat islam pada masa itu.

Tetapi Allah tidak akan membiarkan agamanya ditelan keadaan begitu saja. Setiap masa akan lahir tenaga pembangkit, agar sadar akan posisi yang sedang mencekam umat Islam. Ibarat di antara cabang pohon pohon yang rapuh akan tumbuh tunas-tunas baru.

Kelahiran Muhammad bin Abdulwahab
Beliau lahir di Uyainah pada tahun 1115 H atau 1703 M, sebuah kota kecil di lembah Nejed, suatu daerah yang pada saat itu masih murni keislamannya. Muhammad bin Abdulwahab dididik oleh ayahnya sendiri (Seorang alim dari aliran madzhab Hanbali yang menjadi kadhi di negeri itu). Sulaiman bin Ali adalah neneknya yang tergolong ulama terkemuka yang menjadi tumpuan masyarakat dalam permasalahan agama.

Sejak kecil, pada diri Muhammad bin Abdulwahab sudah menampakkan kecerdasan dan kecekatan dalam menghafal dan memahami suatu masalah. Pada usia 9 tahun, beliau sudah hafal Qur’an. Puas dengan didikan ayahnya dan telah banyak mengkaji fiqh aliran Ahmad bin Hanbal, maka dilanjutkannya perjalanan ke Madinah. Beliau berguru kepada Syekh Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad as-Sindi. Dari kedua guru tersebeut beliau mengetahui bahwa bermacam-macam bid’ah telah merata dan diamalkan oleh umat Islam. Untuk memperluas pengalaman dan wawasan beliau berpetualang ke beberapa negeri yaitu di Bashrah selama 4 tahun, di Baghdad selama 5 tahun, di Kurdistan beliau bermukim selama setahun, kemudian ke Hamadhan selama 2 tahun, lalu ke Isfahan untuk mempelajari falsafah dan tasawwuf, kemudian pulang ke negerinya setelah singgah di kota Qumm.

Usaha Pemurnian
Menurut pengamatan Muhammad bin Abdulwahab, masyarakat Islam sudah tidak lagi murni sebagaimana masyarakat di zaman Nabi. Keadaan itu akan dikembalikan sesuai dengan bentuk aslinya. Bentuk khufarat dan bid’ah telah dan tengah menyelusup ke dalam Islam. Ditambah lagi, pengikut Ahmad bin Hanbal terkenal paling gigih dan radikal dalam usaha pemurnian, terutama di bidang tauhid. Hingga demikian berminatnya beliau untuk mengembalikan Islam sebagaimana yang diamalkan oleh ulama-ulama salaf.

Visi utama beliau adalah mengembalikan Islam kepada sumbernya yang asli, membersihkan tauhid dari segala macam syirik, membersihkan ibadah dari segala macam bid’ah dan memberantas formalisme kosong dengan menganjurkan hidup sederhana.

Dimulailah program pemurnian di tempat kelahirannya di usia beliau yang ke 37. dilemparkannya kritik yang tajam terhadap khufarat dan bid’ah yang berlaku. Tak heran bila spontan beliau mendapat perlawanan sengit dari kepala-kepala golongan. Pamannya sendiri, Sulaiman bin Abdulwahab tak ketinggalan ikut menentangnya. Kemarahan timbul karena Muhammad bin Abdulwahab memaksakan keinginan secara keras terhadap metode. Seluruh Bashrah rebut dengan menyaksikan seorang pemuda Islam dengan kekerasan hati yang luar biasa. Penguasa Uyainah, Amir al-Hasa segera mengeluarkan perintah untuk membunuh beliau. Demi ketenangan, Amir Uyainah mengambil jalan tengah dengan memerintahkan Abdulwahab untuk meninggalkan Uyainah.

Az Zabir menjadi tempat yang strategis untuk menyelamatkan diri. Kemudian beliau berpandangan, bahwa kampungnya sendiri jauh lebih aman. Disinilah seruan itu dimulai: “Kembali pada Qur’an dan Hadits yang shahih”. Usaha pemurnian akhirnya mendapat pengikut, diantaranya Pangeran Usman bin Muammar, Amir Uyainah. Dengan bertambahnya pengikut, terutama dari kalangan pembesar, dakwah dan pemurnian semakin lancar. Para pembesar mengikutinya menebang pohon-pohon keramat yang di puja masyarakat. Demikian pula kuburan-kuburan keramat yang dimuliakan, tempat meminta berkat dan pertolongan.

Ketika beliau menerapkan hukum Islam kepada seorang wanita pezina, hebohlah masyarakat akan kekerasan dalam menjalankan hukum rajam sampai mati. disebabkan kehebohan itu, beliau menjadi tidak nyaman dan menghindarkan diri dari Dari’ah (tempat kediaman keluarga Su’ud).

Guna mencetak kader, beliau mendirikan sekolah yang menggembleng pemuda yang berdatangan dari seluruh penjuru Arab. Sekembali mereka dari menuntut ilmu, di daerah masing-masing mereka menyebarkan paham pemurnian. Pada dasarnya, usaha pemurnian Muhammad bin Abdulwahab adalah suatu upaya untuk mengembalikan kehidupan umat Islam sesuai dengan kehidupan Nabi Muhammad dan salafus shalih. Tauhid diajarkan secara keras dan diterapkan selurus-lurusnya. Segala bentuk kemusyrikan dan bid’ah serta penambahan dari bentuk Islam di masa Nabi Muhammad SAW diberantas sama sekali. Kultus terhadap orang-orang yang dianggap suci, pengagungan kubur-kubur, benda-benda yang dikeramatkan disapu bersih. Tarekat keshufian dilarang. Masjid-masjid di dirikan secara sederhana. Bahkan seni bangunan keagamaan pun dianggap tabu. Karena itu, kaum Wahabi membongkar kubah kuburan Nabi Muhammad di Madinah dan meruntuhkan menara-menara masjid yang dipandang sebagai penyembahan berhala.

Hal tersebut membuat kaum orientalis berpendapat bahwa kaum Wahabi, sekalipun moralnya tinggi, berpandangan terlalu picik, seakan-akan anti kebudayaan. Semua benda kemewahan serta perhiasan masjid dimusnahkan. Pakaian sutera, makanan mewah, minuman anggur, candu, kopi dan rokok dilarang.

L. Stoddard menuturkan lagi mengenai gerakan Wahabi ini:
“Ketika Amir bin Abdu Daus dikalahkan oleh Su’ud maka terbukalah jalan bagi perjuangan Muhammad bin Abdulwahab. Nejed dan Hejaz disatukan dalam bendera Wahabi. Dan Su’ud melakukan perjuangan di tanahnya sendiri, Mekkah (Hejaz). Kerajaan Hejaz dipegang oleh Syarif Husen, seorang raja islam yang masih kolot pendiriannya. Banyak dijumpai khufarat dan bid’ah di daerah kekuasaannya. Bergeraklah Su’ud di samping Muhammad bin Abdulwahab untuk menghantam raja Mekkah tersebut dengan memakan waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, Syarif Husen dapat diturunkan dan naiklah Su’ud memimpin tanah Hejaz.

Setelah kekuasaan dipegang Wahabi, terjadilah perubahan besar di tanah suci, baik di Mekkah maupun Madinah. Kuburan para pahlawan di Baqi’ yang tadinya mempunyai pagar yang bagus, disamping batu nisannya yang tinggi, semua dirobohkan. Kuburan menurut Islam tidak boleh diabngun lebih tinggi dari tanah. Maka gundullah tanah-tanah kuburan para pahlawan di Madinah. Sejak Su’ud memegang tampuk pemerintahan, berlakulah hukum Islam secara murni di segala bidang.

L. Stoddard menambahkan: “Negara Wahabi amat menyerupai khalifah Mekkah yang dahulu. Walau memiliki tenaga militer yang besar, Su’ud selalu bertanggungjawab atas anggapan umum. Ia tidak melecehkan kemerdekaan yang sah dari rakyatnya. Berjalanlah pemerintah yang keras, namun adil dan bijaksana. Perampokan hampir tak dikenal, pendidikan berkembang. Barakallah..!

Pola Pemikiran Muhammad bin Abdulwahab
Beliau berpandangan, wibawa Qur’an dan Sunnah adalah mutlak, sedangkan akal hanya berfungsi sebagai instrumen untuk memahami maksud-maksud nash, yang terkandung dalam Qur’an dan Sunnah (Lihat Tarikh Madzhahibil Islamiyah fis siyasah wal Aqa’id hal 214, oleh Dr.Abu Zahrah).

Di satu pihak ada golongan yang menghendaki ajaran Islam dapat dirasionalkan. Pola semacam ini dianut oleh kalangan Mu’tazilah. Sebagian lagi menginginkan pengalaman-pengalaman batiniah dipadukan dengan ajaran Islam. Ayat Qur’an dan Hadits dapat juga ditakwilkan sesuai dengan pengalaman batin. Bahkan sekalipun hadits itu perawinya dhaif boleh dipakai asal dapat memperkuat rasa kebatinan. Golongan ini biasa disebut batiniah atau dzauqiyah.

Muhammad bin Abdulwahab berpendirian bahwa kemutlakan Qur’an dan Sunnah tidak bisa ditawar-tawar dengan cara apapun, pendiriannya ini menjadi pangkal tolak keinginannya untuk kembali ke agama seperti yang diamalkan oleh ulama-ulama salaf. Pola ini sering disebut sebagai pola “Salafiyah” sedangkan para orientalis menyebutnya sebagai pola berpikir “tradisionalis”.

Sebagian mengecam gerakan Wahabi yang dianggap menjadikan Islam sepanjang hakikatnya dan sifatnya tidak berkembang menurut keadaan masa dan tidak sejalan dengan kemajuan zaman. Kecaman tersebut timbul –mungkin- disebabkan mereka melihat seakan-akan gerakan Wahabi kurang mendukung daya kreativitas manusia. Hingga kurang jelaslah garis pemisah di daerah mana yang memerlukan kekuatan akal dan daerah mana yang harus dikembalikan kepada Al Qur’an secara mutlak.

Namun, pembela Wahabi mengatakan, bahwa kecaman tersebut tidak mengandung unsur kebenaran karena tahap pertama untuk perbaikan keagamaan ialah kembali dengan keadaan yang asli dan berpegang teguh pada keadaan semula. Seorang mujaddid agama, tidaklah melihat jalan untuk menegakkan perbaikan dan mencapai tujuan, selain dengan melenyapkan segala bid’ah dan segala paham yang telah melekat pada agama.

Benar tidaknya argumentasi antara pengecam dan pembela Wahabi dalam hal dan menolak modernisasi, dapat kita lihat dari perkembangan sejarah, apakah mereka tergolong fundamentalis konservatif, dengan menutup diri dalam menerima bentuk tata nilai dari luar ataukah mereka menjadi fundamentalis modern, yang terbuka menerima nilai dari luar, asal tidak menggoyahkan akidah.

Tauhid Muhammad bin Abdulwahab
Pelajaran Tauhid beliau berikan secara sederhana, mudah dicerna. Kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” beliau pahamkan secara praktis, tidak berbelit-belit. Hal ini dapat dikaji dalam tulisannya :”Kitabul Tauhid al-Ladzi Huwa Haqqullah ‘alal Abid” dan ‘Kasyfus Syubhat”

Pengertian Islam secara simple menurut Muhammad bin Abdulwahab yaitu menyerahkan segala urusan kepada ALLAH, patuh atas segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan mengetahui rukun-rukunnya. Pemurnian tauhid yang diajarkan beliau tidak hanya berupa tingkal laku, perbuatan dan lisan tapi juga tulisan. Beliau tidak memandang siapapun, baik kepada umara’ dan ulama. Beliau sering melakukan polemik terbuka, guna adu hujjah.

Di samping aktif mengajar dan berdakwah, beliau juga meninggalkan beberapa karya tulis yang lazimnya dilakukan oleh ulama pada masa dahulu.

Sumber Bacaan:
1. Fitnatul Wahabiyah, oleh Sayid Ahmad bin Dahlan
2. ‘Ulamaul Muslimin wal Wahabiyyun, Isik Kitabevi
3. Kitabut Tauhid al Ladzi Huwa Haqqullah ‘alal ‘Abid, oleh Muhammad bin Abdulwahab
4. Tauhid Populer, oleh Drs. Imran Manan
5. Islam dan Perspektif Sejarah, oleh M.Natsir
6. Dunia Baru Islam, oleh L. Stoddard.

(Disadur dari buku: Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Ke Masa karya Imam Munawwir)

Demikianlah sepintas kilas tentang Muhammad bin Abdulwahab. Semoga Allah merahmati beliau dan membalas tiap tetes peluh dan segala ikhtiyar beliau dengan pahala yang berlimpah. Kepada Allah-lah kita kembalikan segala sesuatu. Semoga Allah meridhai kebaikan-kebaikannya dan mengampuni kesalahan yang tercelup di dalamnya. Wallahua’llam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: