Oleh: niadp | Juni 15, 2009

Imam Syafi’i; Imam Madzhab Fiqh Ketiga

IMAM SYAFI’I

( 150-204 H atau 767-830 H)

 

Nama lengkapnya “Muhammad Idris As Syafi’i, merupakan imam ketiga, yang juga sebagai seorang pendukung ilmu hadits dan mujaddid (reformer) pada abad ke-2 Hijriah. Dilahirkan di Gazza, Palestina tahun 150 H. Ahli sejarah ada yang berpendapat beliau dilahirkan di Asqalan lebih kurang tiga kilometer dari Gazza dan ada pula yang mengatakan beliau dilahirkan di Yaman. Guna menggabungkan pendapat-pendapat yang berbeda itu Yakut menegaskan bahwa Imam Syafii dilahirkan di Gazza, kemudian pindah ke Asqalan sampai usia remaja.

Silsilah keturunan Imam Syafi’i ialah:  Abdullah bin Idris bin Al Abbas Usman bin Syafi’i bin Assaib bin Ubaid Abu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muttalib bin Abdul Manaf. Keturunan beliau bertemu dengan keturunan Rasulullah pada datuk Rasulullah, Abdul Manaf. Karena itu Imam Syafi’i dijuluki dengan anak paman Rasulullah. Yakut menjelaskan bahwa Hasyim yang dimaksud bukan Hasyim bin Abdul Manaf, tapi Hasyim bin Ukhai. Imam Syafi’i menganggap dirinya sebagai orang yang dekat dengan Rasulullah, bahkan dari keturunan “Zawil Qurba” yang berjuang bersama Rasulullah ketika aksi pemboikotan. Maka tidak benar pendapat yang menyatakan beliau bukan keturunan bangsa Quraisy.

Imam Syafi’i berasal dari keluarga miskin yang diusir dari negerinya, lalu hidup di perkampungan orang Yaman. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih kecil, kemudian di bawa ibunya ke Makkah ketika berumur 2 tahun atau 10 tahun sebagai anak yatim. Ibu Imam Syafi’i bernama Fathimah binti Abdullah Azdiyah, berasal dari keturunan Al-Azd.

Imam Syafi’I muda hidup dalam keadaan miskin sehingga beliau harus mengumpulkan batu-batu yang baik, tulang belulang dan pelepah tamar untuk dijadikan catatan dan terkadang beliau pergi ke tempat orang-orang berkumpul untuk meminta kertas guna menyalin pelajaran. Sejak kecil beliau sudah hafal Al Qur’an dan menulis Hadits. Beliau sangat tekun mempelajari kaidah-kaidah nahwu sharaf dengan mengembara lebih kurang 10 tahun bersama kabilah Huzail yang terkenal paling baik bahasa Arabnya dan Imam Syafi’i banyak menghafal syair-syair dari kabilah itu.

Selain menuntut ilmu beliau juga belajar memanah, dengan sepuluh buah anak panah tanpa meleset satu pun. Cita-cita beliau pada mulanya adalah dua: panah dan ilmu. Orang yang mendengar hal tersebut berkata,” Demi Allah, ilmumu lebih baik lagi dari kepintaranmu memanah.”

Meski beliau banyak belajar sastra Arab, tetapi Allah menakdirkan beliau untuk mendalami Ilmu Fiqh. Dalam satu perjalanan dengan sekretaris Az Zubair, beliau membawa seuntaian syair. Berkatalah orang yang bersama beliau,”Orang semacam engkau tidak cocok menurutkan syair tersebut karena akan menjatuhkan dirimu. Alangkah sangat minimnya fiqh mu”. Kata-kata tersebut sangat berkesan di ingatan Imam Syafi’i  hingga beliau mulai mengikuti Muslim bin Khalid Az Zindi, mufti Mekkah, untuk belajar ilmu fiqh.

Riwayat lain menceritakan, Imam Syafi’i bertemu dengan Muslim dalam perjalanan mempelajari ilmu nahwu dan sastra Arab. Betanyalah Muslim mengenai Imam Syafii  dan kemudian Muslim berkata “ sebenarnya Allah telah memuliakan engkau di dunia dan akhirat. Alangkah baiknya jika engkau menggunakan kepintaranmu untuk mempelajari Ilmu Fiqh yang lebih baik untukmu”.

Diceritakan pula, Mas’ab mendapati Imam Syafii mempelajari syair dan nahwu, lalu bertanya,” Untuk apakah ini? Jika engkau mempelajari fiqh dan ilmu hadits tentu lebih cocok bagimu”. Di suatu ketika, Mas’ab menemui Imam Malik meminta beliau mengajar Imam Syafi’i  dan bisa dikatakan tidak satupun ilmu Imam Malik dibiarkan berlalu begitu saja oleh Imam Syafi’i. kemudian beliau mengembara ke Irak, belajar pada Muhammad al Hasan. Beberapa tahun berlalu, beliau dan Mas’ab pergi ke Makkah. Mas’ab menceritakan kesuksesan Imam Syafi’I kepada Ibnu Daud hingga Ibnu Daud menghadiahkan 10.000 dirham kepada Imam Syafi’i.

Yang Jelas, Imam Syafi’i belajar di Makkah hingga dipercayakan oleh guru beliau Muslim bin Khalid Az Zanji untuk memberi fatwa. Kemudian pindah ke Madinah dengan Imam Malik hingga dapat menghafal seluruh isi kitab Al Muwaththa. Beliau giat belajar hingga Imam Malik meninggal dunia. Walaupun demikian beliau juga menyediakan waktu untuk menziarahi ibunya di Makkah dan mengembara ke sana kemari.

Imam Syafi’i Bekerja
Ketika Gubernur Yaman datang berziarah ke Hejaz, Imam Syafi’I di rekomendasikan oleh beberapa orang Quraisy agar bekerja di Yaman. Akhirnya, beliau bekerja di Najran dan dikenal sebagai orang yang jujur dan adil. Suatu hari beliau dituduh bersekongkol dengan 10 orang penyokong Muawiyyin yang memprotes pelantikan khalifah. Setiap tertuduh dihadapkan dengan khalifah Harun Al Rasyid dan dihukum dengan pukulan ditengkuk.

Ketika sampai pada giliran Imam Syafi’i beliau berkata:

“ Perlahan sedikit wahai Amirul Mukminin. Tuan adalah orang yang menyuruh datang sedang aku yang disuruh datang. Tentu saja Tuan bisa berbuat apa saja, tapi tidak denganku. Hai Amirul Mukminun, ada dua orang yang satu menilai aku adalah saudaranya sedangkan yang lain menganggap aku adalah hambanya, menurut pendapat manakah yang lebih sayang kepadaku?
“Tentu orang yang menganggapmu sebagai saudaranya”, jawab Harun Al Rasyid
“ Engkau seharusnya demikian wahai Amirul Mukminin!” Sambung Imam Syafi’I, “Engkau adalah anak Al Abbas. Al Abbas anak Ali. Dan kmi dari keluarga Bani AL Muttalib. Maka kamu harus memandang kami sebagai saudaramu. Sedangkan orang-orang muawiyyin memandang kita sebagai hamba sahaya”.

“ Wahai anak Idris, sampai berapa jauhkah ilmumu tentang Qur’an dari segi hafalan?” kata Al Rasyid

Imam Syafi’i menjelaskan:

“Aku telah hafal keseluruhannya. Aku telah mengetahui tempat perhentian dan tempat mulai membacanya. Aku mengetahui mana nasikh (yang meralat) dan mana pula mansukh-nya (yang diralat), mana yang gelap dan mana pula yang terang, ancaman dan bujukan. Aku mengetahui pula mana yang ditujukan kepada hal-hal yang khusus dan mana pula yang ditujukan kepada hal-hal umum, serta mana pula yang diungkapkan dengan kata-kata yang khusus tetapi maksudnya umum”.

“Bagaimana pula pengetahuanmu tentang perbintangan?”, tanya Al Rasyid

“ saya mengetahui bintang darat, bintang laut, bintang Tanah Datar, bintang bukit-bukit, bintang Failak, bintang Mabah dan bintang-bintang lain yang harus diketahui,” jawab Imam Syafi’i.

“ Bagaimana  pengetahuanmu tentang keturunan Arab?” Harun Al Rasyid bertanya lagi.

“Ada yang mulia dan ada yang tidak baik. Aku mengetahui silsilah keturunan dan keturunan Amirul Mukminin”, Imam Syafi’i menjawab.

“Apakah akan engkau nasehatkan kepada Amirul Mukminin?”, sambung Harun Al Rasyid. Imam Syafii pun menasehatinya dengan suatu nasihat yang berasal dari Thawus Al Yamani yang sangat berkesan hingga Al Rasyid menangis, lalu memberi hadiah dan harta yang banyak.

Riwayat ini menunjukkan kepintaran Imam Syafii dalam berdiplomasi guna meloloskan diri dari hukuman, dan ketinggian ilmu pengetahuan di pelbagai bidang. Beliau pernah mengembara ke negeri Yaman, Kufah, Basrah, Mekah, Bagdad dan Mesir. Beliau juga gemar bertukar pikiran dengan ahli ilmu kalam, ahli filsafat, ahli fiqh, ahli hadits dan ulama-ulama lainnya, serta penyelidikan dan kesungguhan pribadi menjadi faktor yang menjadikan ilmu dan ajaran beliau berkembang dengan baik.

Beliau berkata: Barang siapa mempelajari Al Qur’an tinggilah ilmunya. Siapa yang menulis Hadits, kuatlah alasan pendapatnya. Siapa yang suka membicarakan hukum fiqh akan menjadi orang pintar. Siapa yang memperhatikan budi pekertinya akan menjadi orang yang baik dan halus. Barang siapa yang banyak berhitung, pikirannya akan berkembang. Barangsiapa yang tidak menjaga kehormatan dirinya, ilmunya tidak akan berguna sama sekali.

Guru Imam Syafi’i

Muslim Khalid AzZindi adalah guru pertama Imam Syafi’i. menyusul kemudian ulama-ulama Makkah seperti: Sufyan bin Uyainah, Said bin Al Kudah, Daud bin Abdurrahman, Al ‘Attar dan Abdul Hamid bin Abdul Aziz. Lalu, Imam Syafi’i pindah ke Madinah pada usia 13 tahun untuk belajar kepada Imam Malik. Guru-guru lain di Madinah yaitu Ibrahim bin Sa’ad Al Anshari, Abdul Aziz Muhammad Ad Dawardi, Ibrahim bin Yahya Al Usmani, Muhammad Said bin Abi Fudaik dan Abdullah bin Nafi’i As Saigh.

Diantara guru-guru beliau di Yaman ialah Matraf bin Mazin, Hasyim bin Yusuf, hakim kota san’a, Umar bin Abi Maslamah dan Yahya bin Husen. Di Irak beliau belajar kepada Muhammad bin Al Hasan, Waki’ bin Al Jarrah Al Kufi, Abu Usamah Hammad bin Usamah Al Kufi, Ismail bin Athiah Al Basri dan Abdul Wahab bin Abdul Majid Al Basri.

Guru-guru Imam Syafi’i ada yang menjuruskan perhatian kepada hadits, ada yang mengutamakan pemikiran, ada pula yang berpaham Mu’tazilah, ada yang bermazhab syi’ah, ada pula yang bermazhab lain. Belajar pada guru-guru dengan berbagai mazhab sangat membantu beliau dalam mendalami ilmu fiqh dan ilmu-ilmu lainnya. Di Baghdad Imam Syafi’i mempelajari Hadits dan ijtihad dari Muhammad bin Al Hasan. Apabila guru-guru beliau telah meninggalkan majelis, beliaupun memperhatikan fiqh orang Madinah.

Pada suatu hari salah seornag guru beliau mengizinkan beliau berdebat dengannya dan beliapun memenangkannya hingga orang menganggap beliau sebagai orang yang ahli dalam ilmu fiqh dari Madinah dan sebagai sahabat Imam Malik. Seiring dengan bertambah tingginya ilmu beliau, kepribadian beliaupun semakin tinggi. Mulailah Imam Syafi’i mengeluarkan pendapat sendiri yang kadang-kadang berlainan dengan pendapat guru beliau.

Imam Syafi’i berpendapat bahwa orang banyak yang memuliakan Imam Malik. Di Spanyol (Andalus), topi Imam Malik dihormati untuk mendapatkan berkah. Biasanya orang memperkuat pendapatnya dengan sabda Rasul, tetapi mereka memperkuatnya dengan perkataan Malik. Imam Syafi’i menegaskan bahwa Malik adalah seorang manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Kemudian, beliau mulai mengkritik pendapat Malik yang ditulis dalam buku “Khilafu Malik”. Imam Syafi’i menegaskan dalam buku tersebut tidak adanya ijtihad dalam masalah-masalah yang telah dijelaskan dalam hadits. Sikap beliau tersebut semata-mata untuk memperbaiki paham tentang agama, bukan untuk menyaingi gurunya. Beliau selalu menyampaikan hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan gurunya dengan kata “Al Ustadz” bukan dengan langsung menyebut nama. Selain Imam Malik, Imam Syafi’i juga mengkritik Abu Hanifah, Al Auza’i dan lain-lain.

Karena Imam Syafi’i banyak belajar mempelajari kitab-kitab karangan Muhammad bin Hasan, dan guru-guru beliau yang berada di Irak, beliau sering melakukan diskusi dengan ahli fiqh Irak sehingga beliau dapat menyatukan antara fiqh orang Madinah dengan fiqh orang Irak, menyatukan antara tradisionalis (ahli hadits) dengan aliran rasionalis (ahli Ra’yi).

Murid-Murid Imam Syafi’i
Murid-murid beliau diantaranya; Abu Bakar Al Humaidi, Ibrahim bin Muhammad Al Abbas, Abu Bakar Muhammad bin Idris  dan Muhammad bin Al Jarud di Mekkah, Al Hasan As Sabah Az Za’farani, Al Husin bin Ali Al Karabisi dan Ahmad bin Muhammad Al Asy’ari Al Basri di Baghdad, Harmalah bin Yahya, Yusuf bin Yahya Al Buwaithi Ismail bin Yahya Al Mizani, Muhammad bin Abdullah Hakam dan Ar Rabi’ bin Sulaiman Al Jazi di Mesir.

Murid beliau yang termasyhur adalah Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Hanbal adalah murid beliau yang terbanyak menghadiri majelis Imam Syafi’i dan sangat menghormati gurunya. Ketika Imam Syafi’i berada di Makkah untuk mengajar di Masjidil Haram, banyaklah orang yang menziarahi tanah suci sambil mendengarkan uraian beliau dan Ahmad bin Hanbal pun ikut serta. Ahmad bin Hanbal pula yang memperkenalkan Imam Syafi’i kepada Ishaq bin Rawaih.

Selama 9 tahun Imam Syafi’i berada di Makkah untuk mengajar dan mendalami ilmu. Tahun 195 H beliau pindah ke Baghdad dan menyusun kitab Ar Risalah yang memuat prinsip-prinsip tentang ushul fiqh. Kitab tersebut beliau susun kembali ketika pindah ke Mesir. Beliau tinggal di Mesir lebih dari 40 tahun, dimana beliau telah menyusun beberapa kitab, diantaranya “Al Um” yang berisikan hukum-hukum tentang berbagai masalah (agama). Disini pula beliau  menyusun madzhab baru karena telah berbedanya situasi dan adat istiadat masyarakat yang dihadapi.

Disamping mengajar fiqh, beliau juga mengajarkan ilmu-ilmu lain. Ar Rabi’ bin Sulaiman mengatakan bahwa Imam Syafi’i mengadakan majelis pelajaran Qur’an ba’da subuh sampai matahari tinggi, kemudian mengadakan muzakarah dan mengulangi pelajaran yang lalu. Sepulang mereka, datang pula ahli syair dan bahasa belajar bahasa dan sastra Arab kepada beliau.

Fiqh Imam Syafi’i
Fiqh Imam Syafi’i merupakan penggabungan antara aliran “naqli” dengan aliran “ra’yi”, menggabungkan cara-cara untuk memahami Qur’an dan mengistinbatkan hukum, sehingga beliau dianggap sebagai pendiri ushul fiqh.

Imam Syafi’i berkata,” Dimanapun bumi kuinjak dan langit yang menjauhiku, apabila disampaikan orang sesuatu yang tidak sampai dengan sesuatu yang aku katakan, aku akan dengar dan patuhi”. “Adapun yang aku katakan dan gariskan, kan tetapi bertentangan dengan perkataan Rasulullah, maka pendapatku sebenarnya adalah yang dikatakan oleh Rasulullah.”

Oleh sebab itu, beliau sangat memperhatikan dan banyak sekali menghafal hadits. Ibnu Farhun dalam bukunya “Ad Dibajul Madzahib” mengatakan Imam Syafi’i adalah seorang hafiz dan dapat menghafal kitab “Al Muwaththa” dalam tempo 9 malam saja. Fakhrudin ar Razi membayangkan betapa besar peranan Imam Syafi’i dalam menyatukan antara hadits dan pemikiran dengan menjelaskan bahwa ulama sebelum Imam Syafi’i terbagi menjadi 2 golongan; yakni ahli hadits dan ahli ra’yi. Imam Syafi’i banyak mengetahui hadits Rasul tentang macam-macamnya, cara-cara berdiskusi, punya lidah fasih, sehingga dapat mengalahkan ahli pikir yang berusaha menjatuhkan ahli hadits.

Imam Syafi’i juga menjadikan ijma’ sebagai sumber hukum sesudah Qur’an dan  Sunnah dengan beberapa syarat. beliau  memberi pendapat-pendapat yang berdasarkan pada “terkaan” belaka dalam masalah agama. Karena itu, beliau tidak menyukai ilmu kalam dan bid’ah. Beliau juga merasa sedih melihat pertengkaran ahli ilmu kalam yang sudah saling kafir mengkafirkan. Imam Syafi’i berpendapat bahwa seseorang  belum boleh mengeluarkan hukum syari’ah kalau belum mengetahui cara-cara dan syarat-syarat qias. Beliau menilai orang yang mencari-cari alasan tentang sesuatu berdasarkan pikirannya, seolah-olah telah mengadakan bid’ah dalam agama. Ar Razi mengatakan bahwa kedudukan Imam Syafi’i dalam ilmu ushul seperti kedudukan Aristoteles dalam ilmu logika (mantiq) dan Khalid bin Ahmad dalam ilmu Syair.

Setelah menyelidiki madzhab-madzhab yang terkemuka, beliaupun meneruskan peraturan-peraturan yang lengkap mengenai cara mengambil hukum dari Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qias. Imam Syafi’i adalah orang yang mampu menjelaskan cara “mengistinbatkan” hukum dari Al Qur’an dan hadits, mengetahui nash-nash yang “nasikh” dan yang “mansukh” yang “mujmal” dan yang “mubayyan”, yang “khas” dan yang “am” dan ilmu “mantiq”.

Karya Tulis Imam Syafi’i
Menurut sebagian ahli sejarah beliau telah menulis 13 buah kitab, yaitu dalam bidang ushul fiqh, fiqh sastra dan lain-lain. Diantara kitab Imam Syafi’i yang terkenal adalah “Ar Risalah” tentang ushul fiqh yang ditulis atas permintaan Abdurrahman al Mahdi, salah seorang ahli hadits di masa Imam Syafi’i.

Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis kitab “A Hujjah” sesuai dengan pendapat beliau dengan madzhab “al qadim” nya. Kitab beliau yang lain ialah “Al Wayasa al Kabirah”, Ikhtilaf Ahlil Iraq, Washiyatus Syafi’i, Jami’al Ilm, Ibtal al Istihsan, Janni’al Mizan al Kabir, Jami’al Mizan a Shaghir, Al Amali, Mukhtasar al Rabi’wal Buwaiti, al Imala dan sebagainya, disamping “Al Um” sebagai kitab terlengkap dalam ilmu fiqh.

Imam Syafi’i dan bahasa arab
Bahasa Ibu Imam Syafi’i adalah bahasa Arab. Namun beliau juga mempelajari bahasa Arab selama 20 tahun sehingga menjadi seorang yang ahli dalam bahasa Arab. Ibnu Hisyam, Abu Ubaid, Ayyub bin Suwaid, Abu Usman Al Mazini, sebagai para ahli bahasa arab menegaskan Imam Syafi’i adalah “hujjah” (pendapatnya dipakai alasan) dalam bahasa Arab.

Imam Syafi’i adalah orang yang ahli ilmu bahasa dan ahli menggunakan bahasa, ahli sastra dan seorang sastrawan. Ibnu Hisyam, seorang ahli bahasa Arab, dan Az Za’farani pernah berkata bahwa Imam Syafi’i tidak pernah bersalah sedikitpun dalam menggunakan bahasa arab. Ar Rabi’ berkata bahwa lidah imam Syafi’i lebih besar dari kitab-kitabnya. Diantara penulis sejarah hidup Imam Syafi’i ada yang meriwayatkan ini, Allah sajalah yang tahu benar tidaknya riwayat ini bahwa beliau pernah bermimpi dimana Nabi Muhammad SAW datang mengusap lidah Imam Syafi’i dengan air ludahnya dan berkata “Pergilah, semoga Allah memberkahi engkau.”

Imam Syafi’i sebagai penyair

Al Mubarrid berkata,” Imam Syafi’i adalah seorang penyair dan sastrawan yang hebat, seorang yang paling mengetahui ilmu Qiraat”.

Mas’ah bin Zubair berkata bahwa ayahnya pernah membaca syair bersama Imam Syafi’i. ketika Imam Syafi’i membaca syair kabilah Huzail, ayahnya mengingatkan Imam Syafi’i agar tidak mengajarkan syair tersebut kepada ahli hadits karena mereka tidak akan mampu menghafalnya.

Ismail bin Yahya al Mizani pernah menjenguk Imam Syafi’i yang tengah menderita sakit yang membawa kematian beliau. Imam Syafi’i berkata: “Aku kira aku akan meninggal dunia, akan berpisah dengan kawan-kawan. Sekarang aku sedang meminum segelas kematian. Aku sedang kembali menemui Allah yang Maha Besar dan Maha Mulia. Demi Allah aku tidak tahu apakah rohku menuju surga atau neraka”.

Lalu, Imam Syafi’i menangis dan bersyair:

Di kala jiwaku telah memberontak, alamku telah sempit

Hanya kemaafan-Mu lah, tumpuan harapan penyerahan dariku

Dosa-dosaku besar, tetapi manakala kubandingkan

Dengan samudera kemaafan-Mu, kemaafan-Mu lah yang jauh lebih besar

Dikaulah pemilik keampunan dan kemaafan dan (aku yakin)

Engkau masih tetap mengampuni

Dengan rahmat dan kemuliaan-Mu, Engkau memuliakan dan mengampuni

Jika Engkau izinkan iblis tidak sanggup menggoda hamba-Mu

Kenapakah hamba-Mu yang suci Adam, dapat tergoda?

 

Imam Syafi’i dan Politik

Imam Syafi’i berpendapat bahwa umat islam wajib memiliki khalifah yang berasal dari bangsa Quraisy, dan harus dengan bai’at rakyat, atau dengan cara lain kalau keadaan memaksa. Kalau salah seorang telah di bai’at oleh rakyat maka kepemimpinannya harus diterima.

Beliau tidak suka mencampuri pertentangan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah. Beliau sependapat dengan Umar bin Abdul Aziz dalam menyikapi pertentangan tersebut: “Tanganku telah dilindungi Allah dari darah-darah yang tertumpah dalam perang tersebut. karena itu, aku tidak mau mengotori lidahku dengan pembicaraan masalah tersebut”.

Imam Syafi’i menyokong golongan Alawiyyin yang menentang golongan Abbasiyien. Beliau menanggapi pelantikan Ali dengan kata-kata: “Imam Ali memiliki beberapa sifat yang kalau orang lain memiliki salah satunya, dia pantas tidak takut kepada siapapun juga. Beliau seorang zahid, dan orang zahid tidak menghiraukan dunia dan isinya. Beliau seorang yang berilmu pengetahuan, dan orang yang berilmu tidak khawatir kepada siapapun. Beliau seorang yang berani dan orang yang pemberani tidak takut kepada siapapun. Beliau orang yang mulia dan orang yang mulia tidak takut pada siapapun.

Pujian dan Kritikan Terhadap Imam Syafi’i

> Pujian <

Abu Bakar Al Humaidi berkata,” Imam Syafi’i adalah pemuka ilmu fiqh”.

Ahmad bin Hanbal berkata,” Imam Syafi’i adalah filosof dalam empat hal: bahasa, tempat manusia berpedoman, ilmu ma’ani dan ilmu fiqh.

Sufyan Ats Tsauri berkata,”Imam Syafi’i adalah orang yang termulia pada waktu itu”.

Yahya bin Said Al Kattani berkata,” Aku belum pernah bertemu orang yang lebih pintar dan ahli dalam ilmu fiqh selain Imam Syafi’i”.

Muhammad bin Abdulhakam berkata,” Jika Imam Syafi’i tidak ada tentu aku tidak mengetahui bagaimana cara menjawab pertanyaan orang. Beliau juga orang yang mengajarkan ilmu qias. Beliau pendukung sunnah dan atsar, berlidah fasih, pintar dan bersikap tegas”.

Daud bin Abu Az Zahiri berkata,” Imam Syafi’i mempunyai kelebihan-kelebihan yang tidak ada pada orang lain. Ia keturunan orang-orang mulia, beragama dengan konsekuen, memiliki jiwa yang halus, memiliki pengetahuan tentang hadis yang shahih dan tidak shahih, hafal nasikh dan mansukh, hafal Qur’an dan hadits, mengetahui sejarah khalifah-khalifah dan keindahan tulisan.

> Kritikan <

Sebagian pengkritik mengatakan bahwa beliau bukanlah seorang reformer, karena tidak sanggup membasmi golongan-golongan ekstrim pada waktu itu, dan karena beliau berpendapat yang berhak jadi khalifah hanyalah orang Quraisy dan sah walaupun tanpa bai’at rakyat, dalam keadaan terpaksa. Padahal kedaulatan di tangan rakyat. Memegang kekuasaan dengan kekuatan pedang adalah merampas dan berkhianat.

Kritik lainnya dilancarkan karena beliau menyokong pendapat golongan ekstrim yang mengatakan sekufu antara kedua calon pengantin adalah syarat sah perkawinan, dan mereka mengatakan bahwa orang Quraisy hanya sekufu dengan orang Quraisy dan orang Arab dengan orang Arab. Padahal Allah menegaskan dalam QS. Hujurat:13;

Hai Manusia, sesungguhnya Kami telah ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, bersuku bangsa, hanyalah untuk saling mengenal. Sesungguhnya orang termulia diantara kamu ialah orang yang bertaqwa.

 Sebenarnya dalam hal ini Imam Syafi’i mengambil jalan tengah, beliau berpendapat bahwa menikah dengan yang tidak sekufu bukanlah haram yang membatalkan akad, semua terserah kepada pengantin perempuan atau walinya, apabila mereka setuju maka sah-lah pernikahannya, jika tidak nikahnya harus di fasakh. Imam Syafi’i berkata,” tidak ada hadits yang menyatakan bahwa kufu itu berdasarkan keturunan”.

Sifat-sifat Imam Syafi’i
Basyrat Muraisi berkata,”Akal orang ini menyamai akal separuh penduduk dunia. Beliau lebih menyukai membicarakan masalah-masalah pokok daripada masalah kecil”.

Imam Syafi’i memiliki lidah yang fasih dan iman yang teguh. Beliau sangat menjaga diri (wara’), sehingga Yahya bin Mu’in berkata,” Jika berkata dusta itu diperbolehkan Allah, tentu Imam Syafi’i akan menahan diri agar tidak berdusta untuk menjaga dirinya”. Beliau berkata,” Jika meminum air dingin menjatuhkan harga diri, tentu aku tidak akan meminumnya”.

Beliau seorang yang berhati lembut dan pemurah. Dimana saja beliau tetap mempertahankan kebenaran. Tidak segan beliau mencabut pendapat yang telah dikemukakan kalau memang ternyata salah, atau ada pendapat lain yang lebih kuat. Karena itu dalam fiqh beliau kita dapati ada dua madzhab, Al Qadim (yang lama) dan Al Jadid (yang baru).

Dalam mempertahankan kebenaran beliau tidak dipengaruhi oleh hubungan persaudaraan dan keluarga, karena kebenaran adalah masalah lain dari hubungan persaudaraan. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin.

Imam Syafi’i senantiasa menjauhi maksiat dan hal-hal yang dianggap tidak baik. Seperti yang dinasihatkan Imam Malik: “Wahai Muhammad (Idris), Allah telah memasukkan Nur ke dalam hatimu. Karena itu janganlah kotori dengan berbuat maksiat, bertakwallah kepada Allah, engkau akan diberi Nya sesuatu”.

Ketaqwaan dan ketakutan Imam Syafi’i kepada Allah selalu menyertai dimanapun berada. Sebagaimana beliau menyatakan keadaannya; “Keadaanku adalah sebagaimana orang yang sedang dimintai pertanggungjawaban tentang delapan masalah, yaitu Allah SWT dengan Al Qur’an , Nabi Muhammad dengan sunnahnya, Malaikat penghafal dengan apa yang dihafalkannya, setan dengan kemaksiatan, waktu dengan penggunaannya, jiwa dengan nafsu, anak-anak dengan makanan mereka, dan malaikat maut dengan roh”. Imam Syafi’i sangat banyak melakukan tahajud di malam hari. Beliau membagi waktu malam nya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat tahajud dan sepertiga lagi untuk tidur.

Imam Ahmad bin Hanbal secara berlebihan pernah mengatakan bahwa ada diriwayatkan dari Rasulullah bahwa Allah akan mengutus pembaru dalam agama. Umar bin Abdul Aziz diutus untuk seratus tahun pertama dan Imam Ahmad bin Hanbal berharap yang kedua adalah Imam Syafi’i. jamaludin Asy Sayuthi pernah menguntaikan dalam rangkaian syairnya yang bernama “ Tuhfatul Muhtadin bi akhbaril Mujahidin”, bahwa pembaru abad pertama adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Imam Syafi’i adalah pembaru kedua.

Sayangnya, Imam Syafi’i tidak dikaruniai Allah umur panjang, sebagaimana Imam Malik. Beliau sering menderita sakit seperti wasir yang banyak mengeluarkan darah. Di usia 54 tahun, beliau meninggal dunia di Mesir di rumah sahabatnya Abdullah bin Hakam ba’da maghrib. Beliau dimakamkan di sebelah barat Al Khandak, dekat kuburan Zahith, dan  tempat tersebut menjadi masyhur sebagai bukti kebesaran beliau.

Sumber bacaan:

  1. H. Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab, Bulan Bintang Jakarta
  2. Abul Hasal Ali al-Husni An-Nadwi, Rijalul Fikri wad Da’wah fil Islam, Darul Fath. Damaskus cetakan II,1965
  3. Ahmad Asy Syurbasi, Al Aimmatul Arba’ah, Penerbit Darul Hilal Mesir
  4. Sirajuddin Abbas, K.H., Keagungan Madzhab Syafi’i, Pen.Pustaka Tarbiyah Jakarta
  5. Mochtar Rasjidi, Doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Penerbit Menara Kudus
  6. Sirajuddin Abbas, K.H., I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah, Pen. Pustaka Tarbiyah Jakarta
  7. Ahmad Siddiq, K.H., Khittah Nadliyah, Penerbit Balai Buku Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: