Oleh: niadp | Juni 10, 2009

Hasan Al Banna dan Perjuangan Ikhwanul Muslimin

 

HASAN AL-BANNA

(1906-1949)

Nama tokoh ini sangat dikenal di kalangan dunia Islam, terutama di kawasan Timur Tengah menjelang pertengahan abad ke XX M dan dampaknya dirasakan hingga saat ini di seluruh penjuru dunia.

Beliau berhasil memobilisasi semua potensi dalam masyarakat, mulai dari buruh, usahawan, ilmuwan, ulama, zuama yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin beliau telah menancapkan satu model organisasi radikal modern dalam Islam yang menangani seluruh aspek kehidupan. Para ulama penerus dan pewaris perjuangannya terpandang, disegani dan dihormati. Amal sosialnya amat terasa, dan sebagian pecahannya membuat teror dimana-mana. Bermula dari sekelompok kecil yang bersemangat dan gelisah di Kairo, yang kemudian tumbuh pesat menjadi serikat yang kokoh dan kuat, menyebar hampir di seluruh penjuru Timur Tengah, bahkan ke bagian dunia lain (paling tidak dalam hal gagasan).

 

  1. Perjalanan Hidup Hasan Al Banna

Dilahirkan pada tahun 1906, dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Ayah kandungnya adalah Syekh Ahmad ‘Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan as-Sa’ati (tukang arloji). Dalam lingkungannya orangtua itu tergolong berharta dan dihormati. Beliau memang datang dari lingkungan yang tekun dan setia mengkaji agama dan Al Qur’an. Lahir di distrik Syamsyirah, tepat di bagian barat Fuh. Beliau juga menguasai ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu bahasa dan hafal Al Qur’an. Selain bekerja di bengkel arloji, Syekh Ahmad jug aktif mengajar dan disegani oleh sejumlah besar ulama. Beliau memiliki perpustakaan pribadi dengan aneka ragam cabang ilmu pengetahuan.

 

Syekh Ahmad juga banyak menekuni karya tulis. Diantaranya ialah Ba’da-I’ul Musnad, fi jam’iwa Tartibi Musnadisy Syafi’i was Sunan ( Segi-segi keindahan musnad, tentang Himpunan dan Pengurutan Musnad Imam Syafi’i dan Kitab-kitab sunan). Dari Musnad Ibnu Hanbal, beliau juga sempat menyunting, dengan judul Al-Fathur Rabbani, fi Tartibi Musnadil Imami Ahmud asy Syaibani (Pembukaan ketuhanan, Pengurutan Musnad Imam Ahmad Asy Syaibani).

 

Sebagai seorang ayah, Syekh Ahmad menginginkan putranya menjadi mujahid (pejuang) disamping sebagai mujaddid (pembaru). Dinasehatkan kepada puteranya sebuah petuah: “Barang siapa menguasai nash, berarti ia akan menguasai disiplin ilmu”. Sejak kecil, Hasan Al Banna dituntut sang ayah untuk menghafal Al Qur’an secara penuh. Setelah itu, dimasukkan sekolah persiapan yang dirancang pemerintah Mesir menurut model sekolah dasar tanpa pelajaran bahasa asing. Di rumah pun, Hasan Al Banna bergelut dengan buku perpustakaan pribadi ayahnya, baik buku agama, hukum, hadits dan ilmu bahasa.

Al Banna muda gemar membaca cerita rakyat, terutama yang menimbulkan semangat heroic. Secara khusus, beliau terpukau oleh cerita kepahlawanan, perjuangan dan sejarah, cerita tentang para pahlawan Afrika Utara, hikayat Abu Muhammad al Baththal dan sebagainya. Umur 13 tahun, beliau sudah terlibat aksi, menulis puisi, dan menyaksikan pendudukan Mahmudiyah oleh pasukan Inggris. Hal tersebut menumbuhkan keyakinannya, bahwa pengabdian kepada tanah air merupakan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.

Di usia 14 tahun (1920) Al Banna masuk sekolah guru tingkat pertama di Damanhur. Kecendrungan reliji nya tetap tidak berubah. Beliau tetap berpuasa dalam bulan Rajab dan Sya’ban. Dalam usia semuda itu, beliau telah menggabungkan diri dengan mazhab sufi Hashofiyah. Pendiri mazhab ini kelak sangat berpengaruh atas perkembangan Al Banna, terutama mengenai ajarannya tentang persaudaraan sejati. 

Sejak di sekolah menengah beliau sudah terpilih sebagai ketua Jam’iyatul Ikhwanil Adabiyah ( perkumpulan yang terdiri dari calon pengarang). Karena semangat heroiknya, maka beliau membentuk Jam’iyatul Man’il Muharramat dan Al-Jam’iyatul Hasafiyah Khairiyah (Perhimpunan Etika Islam). Setelah lulus dari sekolah guru, Al Banna ditunjuk sebagai guru. Tapi beliau memilih melanjutkan sekolah ke Darul Ulum dan lulus tahun 1927 di usia 21 tahun. Darul Ulum bisa dikatakan sebagai miniatur Al Azhaar yang dilengkapi dengan pengetahuan agama dan bahasa, dengan cara lebih modern.

 Pada bulan Maret 1928, di Ismailiah beliau mendirikan Ikhwanul Muslimin. Pada mulanya beliau hanya mempunyai 6 pengikut dan sekelompok siswa yang taat pada guru. 6 bulan menjelang munculnya Ikhwanul Muslimun, beliau melakukan sejumlah persiapan. Sebagai media komunikasi dan propaganda, beliau memilih tiga kedai minuman yang besar. Dua kali seminggu beliau tampil di kedai tersebut dalam bentuk menerangkan ayat, mengingatkan umat akan adzab neraka dan nikmat surag berupa ceramah. Acara tersebut dihiasi dengan cerita serta tafsir Al Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan aktual.

 Bila pengunjung mendesaknya untuk mengajari mereka prinsip-prinsip agama, beliau mengajak mereka ke sebuah zawiyah (tempat pertemuan sufi) yang sudah tua. Beliau mahir memahami kelompoknya yang kecil dan cara-cara efektif menghadapi mereka; sejumlah ulama, sufi dari berbagai aliran dan orang-orang yang terkemuka. Semua tampak puas terhadap Hasan Al Banna yang dengan bijaksana berhasil menyingkirkan pertentangan. Beliau membatasi petunjuknya pada masalah-masalah umum dan mengarahkan minat pada soal-soal di sekitar lingkungan sendiri.

“Saya mencoba menegakkan sebuah gerakan yang umum dan luas di dasari ilmu, pendidikan dan semangat militansi, yaitu sokoguru ajaran Islam”.

Mereka yang ingin mendapat pendidikan khusus –yang berkenaan dengan ajaran sufi- dipersilahkan mengambil jalan sendiri.

 Al Banna memang pejuang yang menginginkan wajah Islam dikenal sebagai totalitas dan tampak utuh. Karena itu, beliau tidak hanya berkutat pada ilmu keagamaan, akan tetapi juga pengetahuan modern yang lain, seperti ilmu pendidikan, filsafat, logika, guna memperluas cakrawala pandangnya. Beliau juga memperkaya diri dengan kepekaan terhadap masalah-masalah di luar pemikiran agama. Beliau melihat politik, soal-soal kemasyarakatan dan olahraga, dengan semangat yang jarang terdapat pada tokoh agama lainnya. Minatnya terhadap industri dan perdagangan agaknya dipengaruhi oleh ayahnya sebagai tukang arloji yang berhasil.

 Al Banna mulai peka terhadap politik ketika beliau melihat instansi militer Inggris yang berada di Ismaillah. Demikian pula administrasi Suez Canal Company yang memonopoli suplai kebutuhan umum. Perbedaan taraf hidup orang asing dan kaum buruh setempat membuat beliau prihatin.

 Al Banna tinggal di Ismailiah sejak 1928 hingga 1933. menyebarkan agama yang tidak terbuka, tetapi berhasil menarik perhatian. Al jundi mengungkapkan:

Beliau bagai pemilik sebuah gedung kuno dan lapuk, dan ingin memperbaiki bangunan tersebut. Di pagarinya gedung itu, sehingga terlindung dari pandangan. Dan ketika pagar diruntuhkan, berdirilah sebuah gedung yang besar, kokoh dan ampuh”.

Masjid, bagi Hasan Al Banna tetap merupakan markas besar yang utama. Disana beliau merasa aman dan terlindung. Setelah dua tahun, berbagai perjalanan itu membuahkan cabang gerakan di Abusir, Port Said dan al-Balah. Setelah tiga tahun, sebuah cabang di Suez berdiri, barulah setahun kemudian hampir seluruh cabang terbentuk, berikut sebuah sekolah, tempat gadis-gadis dipersiapkan sebagai kader.

 Disamping ketahanan mental, Al Banna memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Beliau biasa melakukan perjalanan pada akhir minggu dan selama liburan musim panas. Beliau mampu menempuh perjalanan jauh, bekerja hampir siang malam, berpidato, menulis, memimpin rapat dan pertemuan, mengontrol kegiatan markas besar dan cabang. Para sahabatnya, yang pernah bersama menunaikan ibadah haji juga mengakui ketahanan fisiknya.

Kami berkendara dari Makkah ke Madinah, semuanya mabuk perjalanan, kecuali Al Banna. Akibat salah makan, kami mengalami gangguan pencernaan, tapi Al Banna tidak. Kami tiba di Makkah yang mendidih setelah sebelumnya berada dalam udara lembab. Kemudian masuk Madinah yang lembab dari Makkah yang panas. Semuanya demam dan batuk-batuk kecuali Al Banna. Kami mendaki gua Hira sampai terengah-engah, Al Banna biasa saja.

 Al Banna memakai buku pamphlet, surat menyurat, Koran, pidato, ceramah, kunjungan pribadi dan wejangan. Latar belakang pendidikan Al Banna, terutama studinya terhadap Al Qur’an, Hadits dan Biografi, berpengaruh jelas pada gerakan yang dipimpinnya. Gerakan yang diarahkan menuju garis murni Islam dilengkapi dengan semangat heroisme dan ketahanan menanggung azab dan bencana. Aspek lain yang menonjol dalam kepribadian tokoh ini adalah kecerdasannya. Ingatannya kuat dan mempunyai kemampuan menyelesaikan masalah dan menempatkan diri dalam berbagai situasi, serta kecakapannya memimpin para pengikut dari berbagai latar belakang budaya dan jenjang sosial. Kemampuan dan kesanggupannya memimpin para pengikut boleh dikatakan luar biasa. Untuk tiap anggota, beliau memiliki cerita khusus, kebiasaan khusus dan logika khusus.

 Dalam semua pidato dan tulisannya, Al Banna senantiasa berusaha membuktikan bahwa Islam mengandung semua aspek yang terdapat dalam gerakan politik modern. Bahkan Islam lebih mengandung harapan, kekuatan, patriotisme dan watak yang lurus. Lebih dari itu, beliau adalah seorang yang bijak dalam bicara, berceramah dan mengarang.

 Penulis Ahmad Hasan al-Hajjaji membicarakan Al Banna dalam bukunya Rouh wa Raihan (Kelapangan dan Istirah):

Ia mengungkapkan masalah sosial, budaya, hukum sama bijaknya seperti ia membicarakan persoalan agama. sejarah mencatat tokoh ini sebagai orator yang tangkas dan berwibawa, serta penulis yang berbakat dan terkemuka. Ia memiliki keyakinan diri yang mantap, kemampuan mencipta, orisinalitas. Ia tidak pernah meniru siapapun. Dapat berbicara mengenai apa saja tanpa persiapan terlebih dahulu dan santai dalam berceramah”.

 

  1. Hasan Al Banna dan Pendidikan Al Ikhwanul Muslimin

Pemikiran-pemikiran yang tumbuh di kalangan Ikhwanul Muslimin banyak bersumber dari gagasan-gagasan Hasan Al Banna dan dianggap baru oleh kalangan lain, bahkan diangap asing. Dr. Yusuf Qardhawy dalam buku “At Tarbiyatul Islamiyah wa Madrasatu Hasan Al Banna” mengemukakan bahwa paham Ikhwanul Muslimin tentang Islam adalah paham baru dan lama. Dikatakan baru karena paham itu asing bagi kebanyakan orang termasuk putera-putera Islam sendiri, karena paham itu memandang islam sebagai agama dan Negara, ibadah dan kepemimpinan rohani dan amal, shalat dan jihad, Al Qur’an dan pedang, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasan Al Banna:

“Islam adalah peraturan yang lengkap, mencakup seluruh aspek kehidupan. Ia adalah Negara dan tanah air atau pemerintah dan bangsa, jihad dan dakwah atau tentara dan pemikiran, intelektualitas dan undang-undang atau ilmu dan peradilan, akhlak dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, materi dan kekayaan atau usaha dan harta, begitu pula ia adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar”.

 

Adalah kewajiban pendidikan Ikhwanul Muslimin untuk menghadapi efek-efek dari kebodohan lama dan pembodohan baru: bekerja keras untuk meletakkan sistem yang sempurna untuk mencerdaskan “seorang muslim” berlandasakan pada sumber Islam yang murni, sebelum dikotori oleh penambahan atau pengurangan dengan menjauhi istilah mutakallimin, takalluf para sufi dan debat para fuqaha.

 

Tidak diragukan bahwa cabang-cabang dan pusat gerakan Ikhwanul Muslimin mempunyai usaha yang terus menerus di bidang ilmu dan penyadaran keislaman yang bersifat umum, sementara “keluarga-keluarga” mereka mengadakan pertemuan-pertemuan teratur bagi pendidikan akal. Diantara aspek pendidikan yang terpenting menurut Ikhwanul Muslimin adalah aspek kejiwaan dan akhlak. Al Banna yakin bahwa krisis dunia disebabkan oleh krisis jiwa dan hati sebelum menjadi krisis ekonomi dan politik.

 

Cita-cita menurut Hasan Al Banna adalah harapan akan kemenangan Islam, percaya bahwa masa depam di tangan dan pertolongan Allah itu dekat (datangnya) meskipun bahaya bertubi-tubi dan bencana silih berganti. Diantara ucapan Hasan Al Banna :

“ Sesungguhnya kenyataan pada hari ini dan kemarin masih merupakan mimpi dan apa yang pada hari ini merupakan mimpi akan menjadi kenyataan pada hari esok”

Kesediaan berkorban adalah akhlak yang paling dipentingkan dalam pendidikan Ikhwanul Muslimin. Yang dimaksud dengan kesediaan berkoraban adalah tidak kikir tenaga, harta dan waktu untuk perjuangannya.

 

Aspek pendidikan Ikhwanul Muslimin yang menonjol adalah pendidikan jihad, namun tidak sama dengan pendidikan kemiliteran yang menyebabkan menjadi ngeri dan tabu. Kemiliteran adalah disiplin dan latihan, sedangkan jihad adalah iman, akhlak, jiwa dan pengorbanan, disamping disiplin dan latihan pula. Gerakan Ikhwanul Muslimin menghidupkan pengertian jihad, memupuknya dan mempopulerkan dalam tulisan-tulisan, kitab-kitab, majalah-majalah, Koran-koran, pidato dan diskusi, syair-syair dan lagu-lagu Hasan Al Banna, semboyan yang diteriakkan oleh jamaah adalah: Aljihadusabiluna, wal mautu fi sabilillahi asma amanina ( Jihad adalah jalan kami dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi). Diantara cara-cara Ikhwanul Muslimin untuk mengingatkan kepad jihad adalah memperingati peristiwa-peristiwa Islam yang berhubungan dengannya, seperti perang Badar, penaklukan Makkah dan sebagainya.

 

Pengetahuan Ikhwanul Muslimin dan pendidikan mereka secara umum menumbuhkan pada diri mereka perasaan unggul dan terhormat, akhlak suka berkorban dan memberi, jiwa berani mati, serta menanamkan dalam diri mereka makna prajurit yang mukmin berupa ketaatan, patuh kepad peraturan, mengedepankan itsar. Manifestasi ini dibuktikan secara nyata dalam milisi pembebasan Palestina (1948).

 

  1. Hasan Al Banna dan Perkembangan Al Ikhwanul Muslimin

Organisasi Ikhwanul Muslimin memang cepat berkembang, namun melalui tahapan serta penyusunan program yang menarik dan matang. Prinsip Ikhwanul Muslimin terdiri dari enam hal, yaitu:

  1. Ilmiah, yaitu menjelaskan Al Qur’an secara tepat, melalui tafsir asli dan segala elemen universalnya. Melengkapinya dengan semangat zaman dan membelanya dari kepalsuan dan kesangsian.
  2. Praktik guna mempersatukan Mesir dan bangsa-bangsa Islam di sekitar prinsip-prinsip Al Qur’an, membina bangsa Qur’ani sejati, mempersatukan pandangan diantara aliran-aliran Islam yang bermacam-macam. Ini berarti pembangunan masyarakat Islam seutuhnya di atas satu dasar keagamaan dan penyelesaian perbedaan uang muncul dari berbagai kelompok madzhab.
  3. ekonomi, yaitu peningkatan kesejahteraan nasional, perlindungan dan pembebasannya. Prinsip ini menguntungkan kaum buruh, juga membatasi pengaruh asing atas ekonomi Mesir, menghidupkan industri lokal dan mengarahkan kegiatan serikat buruh bagi peningkatan standar nasional dan financial para anggotanya.
  4. Sosio-filantropis, menyangkut pelayanan masyarakat, perjuangan melawan kebodohan, penyakit, kemiskinan dan kebiasaan buruk.
  5. Patriotisme dan nasionalisme. Menyangkut pembebasan lembah Nil, seluruh Arab dan seluruh tanah air Islam dari kekuasaan asing. Menyokong persatuan Arab tanpa syarat, usaha terus menerus kearah perwujudan Liga Arab.
  6. Kemanusiaan dan universalisme, yaitu usaha ke arah terciptanya perdamaian yang menyeluruh dan peradaban yang manusiawi di atas landasan yang baru, lahir dan batin, melalui prinsip-prinsip universal Islam dibangun dalam ikatan persaudaraan.

 

Disamping program pendidikan, Ikhwan juga menyurati para pemimpin Mesir dan negeri-negeri Arab. Surat pertama dikirimkan kepada Muhammad Mahmud Pasha, kepala pemerintahan pertama setelah Ikhwan berdiri. Surat didahului dengan gambaran keadaan Mesir, yang tenggelam dalam kegelapan, kekacauan, kemiskinan, kebobrokan moral, kebudayaan dan fisik” . solusinya adalah pendidikan Islam dan Kitabullah. Lalu, perdana Menteri Mesir tesebut di desak menjadi “uswatun hasanah”, dengan jalan; pertama: melarang khalwat pria dan wanita , kedua: melarang para anggota cabinet mengunjungi rumah judi dan tempat-tempat hiburan, ketiga: melarang oknum yang sama membicarakan anak-isteri di Koran-koran, keempat: mengontrol ketaatan shalat, kelima: menjadikan anak negeri sebagai tuan rumah di tanah air sendiri, beragama Islam dan berbahasa Arab, keenam: menghukum para pejabat yang tak senonoh.

 

Dalam upaya membubarkan partai politik, Ikhwan juga melakukannya via surat. Menurut mereka, partai politik yang terdapat di Mesir lebih bersifat semu ketimbang nyata. Motifnya bersifat personal bukan nasional.

 

Pada tahun 1939, Ikhwan menyurati an-Nahas Pasha, mengharapkan agar kaum Wfdi menjadi teladan kebajikan dan mengumumkan program reformainya berpangkal pada prinsip-prinsip Islam. Termasuk perubahan undang-undang, pengukuhan pengadilan di bawah syariat, pembaruan pendidikan, merekrut para pria ideal menjadi tentara, memerangi kemesuman, memperbaiki keadaan ekonomi, menghentikan praktik yang mencontoh Eropa, memperbarui administrasi dan memperbarui politik luar negeri. Mereka membentuk komite khusus yang mempublikasikan surat-surat tersebut dalam bentuk pamflet.

 

Pada 3 Jumadil Akhir 1365 (5 Maret 1946), terbit surat kabar Ikhwanul Muslimin. Diantara publikasi mereka, surat kabar harian mencapai sirkulasi tertinggi. Di dalamnya mereka menjelaskan tujuan gerakan, yang diperinci dalam lima bagian:

  1. Penjelasan ajaran-ajaran Islam dan kehadiran Islam yang serasi dalam zaman modern.
  2. Membuktian kerancuan tuduhan yang di alamatkan ke pihak Ikhwan
  3. Menggalang persatuan di kalangan Islam. Bergotong royong dalam perkara yang disetujui, dan memaafkan dalam perbedaan pendapat.
  4. Mendemonstrasikan kepada masyarakat bahwa Islam tidak mempunyai perselisihan dengan agama manapun. Ajarannya adalah kasih, harmoni, kerjasama, dan perdamaian.
  5. Menunjukkan jalan menuju Islam. Menerapkan hukumnya dalam kehidupan sehari-hari, rumah tangga, Negara dan masyarakat.

 

Di dunia usaha, Ikhwan mendirikan Syarikatul Mu’amalatil Islamiyah, sebuah serikat dagang diantara pengusaha Islam. Di Iskandariah, mereka memiliki perusahaan dagang dan engineering dengan 3.500 saham dan dengan 70 ribu pon, dan 50 ribu pon bagi awal usaha di bidang persuratkabaran.

 

Namun, diantara kegiatan Ikhwanul Muslimun yang paling menonjol adalah aspek jihad; “Setiap Muslim adalah serdadu Allah. Mereka harus rela mengorbankan jiwa dan raga tanpa balas. Bila kehormatan Islam terancam, adalah kewajiban mereka maju membela dan terjun ke dalam jihad”. Pada 27Jumadil Akhir 1367 (6 Mei 1948), Al Banna memimpin langsung siding komite Pendiri Ikhwan yang menelurkan bebrapa keputusan, antara lain: menuntut pemerintah Mesir dan Pemerintah negeri-negeri Arab lain “ mengumumkan jihad melawan Yahudi serta mengambil segala langkah yang perlu untuk menjamin penyerahan kembali Palestina”.

 

Tanggal 15 Mei 1948, tentara Arab mulai berperang untuk pembebasan Palestina. Di bawah perlindungan Liga Arab, Ikhwan ambil bagian. Sebagai akibatnya, mereka mendapat kesempatan mempersenjatai diri dan mengikuti latihan tempur yang cukup baik. Hal ini menyebabkan tuduhan terhadap ikhwan, bahwa mereka akan melakukan kudeta.

 

8 Desember 1948, pemerintah memerintahkan pembubaran Ikhwanul Muslimin dan cabangnya di mana saja, menutup pusat kegiatannya, menyita Koran, dan semua publikasinya, juga uang dan kekayaan serta semua harta benda. Perusahaan-perusahaan dagang Ikhwan dilikuidasi. Pemerintah menahan sejumlah besar anggota Ikhwan.

 

Menurut Al Banna, hal-hal yang mendorong pemerintah Mesir melancarkan kekerasan hati disebabkan oleh campur tangan inggris yang menganggap Ikhwan sebagai kekuatan nasional yang fanati, duri dalam bentuk persetujuan Mesir dengan negeri super itu, persiapan pemilu serta keinginan partai an-Nuqrasyi untuk menang meski dengan cara curang, faktor keinginan Negara Arab menangani masalah Palestina dan tekanan Internasional kekuatan asing.

 

Al Banna mencoba mendekatkan pengertian untuk menjernihkan soal, tapi usaha kandas karena an-Nuqrasy terbunuh pada tanggal 28 Desember 1948. tuduhan pun ditumpahkan ke pundak Ikhwan. Anggota Ikhwan dikejar dan di halau, sebagian dibenamkan dalam kamp-kamp konsentrasi. Tindakan kekerasan ini sangat memukul Al Banna. Di depan matanya, bangunan yang dibinanya selama 20 tahun ambruk sekejap mata. Malah mungkin beliau kecewa telah melangkahkan Ikhwan ke gelanggang politik.

“ Dalam gambaran saya, serikat kita harus mengambil bagian memajukan Negara ini secara religius, sosial dan ekonomi, dengan meninggalkan aspek politik. Tokoh-tokoh kita boleh saja menampilkan diri dalam Pemilu, di bawah partai apapun yang mereka anggap layak. Saya percaya, waktunya tak lama lagi partai-partai tersebut akan memeluk keyakinan yang kita bela”.

 

Namun langkahnya terhenti. Petang 12 Februari 1949, selagi duduk dalam kendaraan di depan kantor YMMA, Al Banna dibunuh. Meski semangat dan jiwa tetap melekat pada sanubari para pendukungnya, akan tetapi tanpa organisasai (nidzam) yang teratur dan rapi lambat laun akan mengalami nasib yang tidak menggembirakan. Pemerintah Abdul Hadi, terus mengadakan terror, secara buas dan kejam. Dr. Abdulkadir Audah, Sayyid Quthb bersama kawan-kawannya berakhir di tiang gantungan pada tanggal 8 Desember 1954. peristiwa itu sangat mengejutkan dunia, terutama dunia Islam, karena dirasa tidak wajar dalam suatu negeri Islam di tengah peradaban dunia yang bertambah maju.

 

Demikianlah, meski jiwa patriotik masih tetap dimiliki oleh para pendukungnya, akan tetapi organisasinya makin lama makin rapuh. Pada masa Pemerintahan Anwar Sadat mereka masih tetap menunjukkan jiwa patriotiknya, lantaran Anwar Sadat lunak dalam menghadapi zionis Israel.

 

Meski gerakan Ikhwanul Muslimin memasuki periode azab dan sengsara, akan tetapi nyatanya, minat khalayak terhadap Ikhwanul Muslimin semakin besar, dan orang makin banyak ingin mengkaji, apa itu Ikhwanul Muslimin dan siapa Hasan Al Banna.

 

Sumber Bacaan:

  1. Al Ikhwanul Muslimin, Oleh Ishak Mussa Al Husaini
  2. Al-Ikhwanul Muslimin fil Mizan, oleh Muhammad hasan Ahmad
  3. Al-Islam wa Audla’unal Qanuniyah, oleh Dr. Abdul Kadir ‘Audah
  4. At Tarbiyatul Islamiyah wa Madrasatu Hasan Al Banna, oleh Dr.Yusuf Qardhawy
  5. Mudzakkirat Hasan al-Banna, oleh Ahmad Anwar al Jundy
  6. Qaidud Da’wah au Hasan al-Banna, Hayaty Rajul wa Tarikhu Madrasah, oleh Anwar al-Jundi.

 

(Disadur dari buku: Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Ke Masa karya Imam Munawwir)

 

Note : Mengenai konsep jihad, baiknya dibarengi dengan baca buku-buku dari berbagai sumber misalnya (Fatwa-Fatwa Para Ulama Senior) dalam masalah terorisme, pengrusakan, batasan-batasan jihad dan vonis kafir oleh Abul Ashbal Ahmad bin Salim Al Misyri atau dengerin kajian bedah bukunya oleh  Ustd. Mustafa Aini, MA. mengenai fatwa-fatwa seputar terorisme, biar nggak salah penafsiran dan salah konsep yah…!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: