Oleh: niadp | Juni 6, 2009

Ibu dan Satu Bentuk Perhatianmu

Ibu

Kaulah  gua teduh

Tempatku bertapa bersamamu

Sekian lama

Kaulah kawah

Darimana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi

Yang tergelar lembut bagiku

Melepas lelah dan nestapa

Gunung yang menjaga mimpiku

Siang dan malam

Mata air yang tak berhenti mengalir

Membasahi dahagaku

Telaga tempatku bermain

Berenang dan menyelam

 

Kaulah ibuku, laut dan langit

Yang menjaga lurus horisonku

Kaulah, ibu, mentari dan rembulan

Yang mengawal perjalananku

Mencari jejak sorga

Di telapak kakimu

(Tuhan, aku bersaksi

Ibuku telah melaksanakan amanat-Mu

Menyampaikan kasih sayang-Mu

Maka kasihilah ibuku

Seperti Kau mengasihi kekasih-kekasih-Mu. Amin)

~ Puisi Karya K.H.A. Mustofa Bisri

~ Teruntuk ibuku: sebagai ungkapan atas besarnya perasaan bersalahku, tak paham bentuk “kasih sayangmu” dalam bentuk yang berbeda.

 

Akhir-akhir ini, ketika saya sibuk dengan pikiran-pikiran sendiri, tak mau diganggu dan terkesan eksklusif, ibu menjadi lebih sering bertanya “ kenapa pulang jam… “, jam berapapun saya pulang kerumah selalu saja ditanyakan alasannya. Pulang cepet ditanya, pulang sedikit larut-pun ditanya. Padahal, beliau tahu saya bukan tipe anak garis kiri (ini istilah yang saya pakai untuk kelompok anak yang suka menyalahgunakan kepercayaan orang tua). Beliau tahu, saya tidak akan keluar rumah tanpa kepentingan yang penting. Tapi hari-hari terakhir, beliau sangat ingin tahu alasan atas setiap waktu yang terpakai di luar. Dan.. saya (mendadak) merasa “tidak nyaman” dengan pertanyaan yang dilontarkan setiap hari itu. Saya seolah harus membuat laporan yang rinci tentang apa saja yang saya lakukan di luar. Tau dengan WH-Question ?? nah.. begitulah kira-kira brainstorm yang harus saya paparkan. Tak biasanya…

 

Akhir-akhir ini, saya lebih suka menyendiri dan larut dengan pikiran saya sendiri. Menghabiskan malam dengan baca-baca, tulis-tulis, mikir-mikir dan ritual-ritual kecil yang saya ciptakan sendiri (ssstt.. No Mistic). Saya mendengar sodara-sodara saya menanyakan keberadaan saya, tapi saya terlanjur lebur dalam meditasi yang saya desain sendiri. There’s a change in me. Dan.. saya tetap mengeluhkan my daily WH-Questions from my mom.

 

Beberapa hari terakhir, akhirnya saya tahu sesuatu. Ya.. saya lupa banyak hal, saya terlalu sibuk dengan pikiran saya sendiri. saya lupa, kalau saya biasa menceritakan setiap kejadian yang saya alami sehari-hari pada ibu. Kenapa sekarang tidak?! Saya lupa, untuk menceritakan kesah saya pada beliau. Saya lupa, membagi pengalaman sekaligus berhikmah bersama beliau. Saya lupa, bahwa saya adalah anak yang sangat diperhatikan, ditunggu jika belum pulang, ditanya keberadaannya jika tidak diketahui dan sebagainya. Saya lupa, bahwa saya tiap hari biasanya memang selalu hadir ditengah keluarga dengan celotehan-celotehan aktivitas dan cerita-cerita tentang kejadian yang saya temui di luar. Saya seperti anak TK yang begitu sampai dirumah, langsung disuruh bercerita tentang kegiatan-kegiatan di sekolah.

 

Akhir-akhir ini, ternyata saya sedang mencoba keberanian untuk mandiri, memutuskan segala sesuatu sendiri, menjadi solving problem atas segala masalah yang saya hadapi sendiri. Yah.. anakmu sedang belajar berjalan sendiri,bu!. Karena apa? Sudahlah cukup membebani-mu dari kecil, sembilan bulan pula memberati perutmu. Tapi engkau tetaplah seorang yang dinamakan “IBU”. Tak kan pernah kau lelah bertanya tentang seorang yang dinamakan “ANAK”. So, patutkah aku merasa lelah untuk ditanya????!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: