Oleh: niadp | Februari 14, 2009

Sahabat Beda Rasa

Masjid As-Salam jadi saksi tentang dua hati yang sedang dilanda gelisah. Redup matahari ba’da ashar melingkupi suasana hari yang beranjak sore. Dua hati itu, pada hari itu sepakat bertemu, dibawah naungan kubah masjid. Melepas penat dan keluh kesah. Entah benar atau salah, yang jelas dua hati itu pada hari itu merasa nyaman dalam satu perasaan yang sama: RESAH. Dua hati yang seringkali tak punya waktu yang sama untuk bersama dalam satu waktu yang leluasa. Tapi hari itu, semua terasa berbeda. Dua hati itu, mampu menyatukan waktu meski hanya beberapa saat saja, untuk berbicara dari hati ke hati, memberi celah perasaan untuk mengungkapakan segala hal yang tak terjamah sebelumnya. Ungkapan perasaan itu bernama: RESAH.Tapi pada hari itu, kita tidak berbicara tentang kita, tak mengungkapkan jutaan beban yang mungkin sebenarnya sangat membebani. Kita hanya duduk bersama, memperhatikan manusia-manusia yang lalu-lalang beribadah di dalam masjid, menerka-nerka, mungkin mereka-pun menyimpan keresahan dan masalah yang sama. Hhhh..kita memang aneh. Sahabat beda rasa namun terikat oleh kecocokan jiwa yang sama. Kita punya kebiasaan-kebiasaan yang sama, terutama saat hati “terluka dan berdarah” yaitu ngubek-ngubek buku positif di perpustakaan dan bermuara di masjid yang sama. Kita sepakat untuk tidak melibatkan orang lain dalam keterpurukan sesaat seperti ini. Kita sepakat bahwa dengan sedikit ritual rihlah kecil-kecilan seperti ini, mampu merefresh tiap “kefuturan” menjalani hidup. Dan kita sepakat tidak menunjukkan muka berkerut pada orang-orang yang kita cintai. Cukupkah dengan kebiasaan yang sedikit aneh itu, lalu kita mampu mengusir aura kegundahan dari peforma lahiriah.

 

Awalnya, aku ingin bercerita banyak, tentang sempitnya waktuku dalam himpitan “tuntutan” yang benar-benar melelahkan, tentang beratnya menjalani hari akhir-akhir ini. Namun, ku lihat matamu pun lebih letih dan aku menangkap pesan tersirat di pancaran cahayanya “bahwa engkau-pun sedang dirundung kegelisahan”. Lalu, aku lebih suka jadi “penghibur” baginya, aku ingin ketika bersamanya dalam keceriaan yang aku punya, bukan malah membebani. Aku siap menjadi pendengar yang baik tentang masalah dalam kisah hari-harimu. Namun, tak jua tercurah dalam kalimat ucapanmu, yang ada engkau mengajakku memikirkan kasus teman-teman kita yang lain dan mencoba membicarakan solusinya. Engkau juga mengajak diriku berencana, berhikmah dan ah.. dirimu sahabat yang istimewa yang berusaha membunuh kesah dengan cara yang berbeda.

 

Kita.. sahabat beda rasa, masjid As-Salam jadi saksinya.

Di bawah kubahnya, aku merasakan rasa persaudaraan yang berbeda dari biasanya. mungkinkah karena kembali aku “gemar” mendramatisir keadaan?! Entahlah. Persamaan diantara kita adalah kita sama-sama suka dengan kalimat bijak, filosofi dan seni bertutur, kita adalah pecinta buku-buku positif, sama-sama tak begitu suka bahasan berat lagi monoton, tidak suka ngotot, debat dan sejenisnya. Dan engkau bilang, kita adalah filsuf kecil yang lemah lembut, empiris dan anti_kekerasan.

Kita tahu, bahwa menurut Al Ghazali para filosof adalah orang yang bingung dan menurut Ibnu Rusyd, pernyataan bahwa filosof adalah orang yang bingung adalah pernyataan yang membingungkan. Dan kita sering bingung akan “sesuatu”, membuat pertanyaan, saling bertanya dan akhirnya.. kita tertawa bersama karena sama-sama tak paham jawabnya, hingga sepakat untuk berpencar mencari jawaban dan bertemu lagi untuk berbagi.

 

Itulah kita, sahabat beda rasa. Dirimu dengan kepribadian Silence is Gold, punya kadar kedewasaan sedikit lebih tinggi dariku, berkepribadian lebih tertutup dariku. Sedangkan aku, punya tingkat keceriaan sedikit diatasmu, sedikit lebih “pecicilan” darimu, sedikit lebih supel darimu dan lebih punya celotehan sedikit lebih panjang darimu (meski kata orang, diriku tetap masuk kategori pendiem –kalo lagi diem-). Berdua kita punya jabatan yang sama di keluarga yaitu Anak Bungsu, namun manja-manja kecil dan sifat childish lebih nampak padaku dan dirimu jelas lebih mandiri. Namun, kata Rasul perbedaan diantara umat adalah Rahmat. Sesaat, ketika aku mencoba “karakter” yang berbeda atau mencoba menyamai karaktermu, yang ada dirimu segera protes. Menurutmu, aku dicintai karena apa adanya diriku, karakter-karakter sejatiku (innate capacity) itulah yang “ngangenin” (kata mu). Lalu, jika aku menghilangkannya, maka akan ada sesuatu yang “hilang” dan semua menjadi serba tak indah. Itulah kita, sahabat beda rasa.

 

Senangnya punya sahabat beda rasa, namun saling memahami (mudah-mudahan selamanya). Demi keutuhan wujud persahabatan, kita selalu memendam marah dan tak meluapkannya di tempat, selang beberapa waktu kita akan bertutur tentang kekesalan kita, serta harapan-harapan akan tidak terulangnya peristiwa yang menjadi stimulus bergejolaknya “emosi sesaat” tersebut. Betapa indahnya bersahabat tanpa dunia matematika alias banyak perhitungan. Sungguhlah, dirimu sahabat beda rasa, rasa-mu beda, tepatnya kaya rasa. Ada seni yang melukis sketsa persahabatan kita. Kita adalah dua hati yang tertatih meniti hidup dengan daya yang tak seberapa dan minus ilmu melimpah, tapi kita punya SEMANGAT: api yang mengobarkan bara juang. (iya kan Ukh..!)

 

Sahabat dengan kecocokan jiwa yang sama, masjid As-Salam jadi saksinya.

Betapa satu mimpi yang kita rancang dan entah kapan akan terwujud.. mungkinkah nyata dalam bilangan 10 tahun kedepan?? Wallahua’lam.. lihatlah, senja telah menggelar permadani gelapnya menutup cahaya matahari. Sepuluh tahun ke depan, akankah kita kembali mengulang moment cinta di ujung letihnya hari.

 

10 tahun kemudian… jika diizinkan :

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa

Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu?

Memintaku untuk tidak tidur larut malam

Dan tidur dalam mimpi yang indah

Sambil mengirimkan nina bobo ala seorang filsuf nan bijak

 

Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih

Lembah pandalawangi

Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

 

Apakah kau masih menggenggam erat diriku seerat dahulu?

Ketika ku genggam , kau genggamlah lebih erat

Apakah kau masih akan berkata :

Engkau adalah saudara terbaik dalam hidupku

Kita begitu berbeda dalam semua , kecuali dalam CINTA

* * *

Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan

Yang tak kan pernah ku tahu

Dimana jawaban itu

Bahkan letusan berapi, bangunkan ku dari mimpi

Sudah waktunya berdiri

Mencari jawaban kegelisahan HATI…

( Puisi Cahaya Bulan yang sudah mengalami  beberapa perubahan )


Responses

  1. Duh kayaknya lagi sedang jatuh cinta ni, gue do’a in yah semoga dapat mengapai semua impian dan angan-angannya yah! Semogah berhasil mendapatkan sahabat beda rasa yang sejati, amin…amin…amin

  2. wah jatuh cinta nie….

  3. waduh.. waduh.. ada yang harus diluruskan nih. coba deh, baca lebih “dalam” maknanya.. tulisan ini “pure” tentang persahabatan lho….😉

  4. sahabat sejati emang kita perlukan walau berbeda rasa. “a friend in need is a friend indeed ” katanya
    Artikel menarik namun perlu dicermati secara perlahan-lahan.

    sukses !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: