Oleh: niadp | Februari 6, 2009

Long Road.. Long Story of My Life

2-radiant-wallpapers-collection-10

Sepagi itu aku telah duduk manis bersama kakak iparku berkendara menuju satu tempat yang tak pernah terbayang sebelumnya. Sesaat kemudian aku telah menyusup ke satu cerita hidup yang begitu berbeda dalam sudut pandang mata kecilku. Yah.. keputusanku untuk resign ternyata menghantarkan aku ke sebuah tempat dimana kembali aku bisa menguak banyak “sesi_hidup” sebenar tentang sesuatu yang biasanya hanya mampu kudengar tanpa aku tahu kebenarannya. Salah satu kesukaanku dalam hidup ini adalah berpetualang. Andaikata aku seorang laki-laki mungkin aku akan melakukan hal-hal ekstrim dalam petualanganku😀. Hanya saja, aku ditakdirkan menjadi seorang wanita yang hidup dalam lingkaran keluarga overprotected, segala sesuatu selalu dibawah naungan pengawasan keluarga. Seperti sekarang, atas pertimbangan keluarga, demi satu bentuk perlindungan akan betapa sayangnya keluarga padaku, dari beberapa alternatif yang tersedia, aku akhirnya satu kantor dengan kakak iparku sendiri. Ah.. sudahlah🙂

 

Sepagi itu, aku terkesiap mendapati diriku benar-benar telah menjadi bagian dari perputaran dunia “Pondok Pesantren” di kota kecil-ku ini. Sedari kecil aku tidak pernah membaurkan diri ke cerita kehidupan yang berbau pesantren. Meski seringkali orang berprasangka bahwa aku “anak pesantren”😀 (tampilannya aja,ilmunya jauh panggang dari api, nggak mateng-mateng.)Dan kini, aku telah menjadi salah satu staf yang membantu mengelola yayasan Pondok Pesantren tersebut. sungguh menarik,, jiwa observasi menggelitik untuk segera menggali “realita-realita” yang mungkin belum pernah aku ketahui sebelumnya. Dunia Pesantren, Dunianya para santri. Ah, entahlah🙂

 

Satu paragraf yang ku dapat kan dari e-book motivasi:

Bila kita tak mencintai pekerjaan kita, maka cintailah orang-orang yang bekerja disana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila kita tak bisa mencintai rekan-rekan kerja kita, maka cintailah suasana dan gedung kantor kita. bila toh kita juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dan ke tempat kerja kita. namun, bila kita tak menemukan kesenangan disana, maka cintai apapun yang bisa kita cintai dari kerja kita: tanaman penghias meja, cicak diatas dinding atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja. Bila kita tidak menemukan yang bisa kita cintai dari pekerjaan kita, maka mengapa kita ada disitu?! tak ada alasan bagi kita untuk tetap bertahan. cepat pergi dan carilah apa yang kita cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

Hmm.. apa hubungan kalimat-kalimat diatas denganku?!.

“ Ah..Nia, kenapa musti berhenti kerja sih, kan sayang”, ujar temanku mendengar keputusan resign-ku beberapa waktu lalu. Dan banyak komentar-komentar lain yang berusaha menggoyahkan tegaknya pendirianku pada saat itu. Sulit di jawab, namun yang aku ingat kembali pada paragraph diatas: Bila kita tidak menemukan yang bisa kita cintai dari pekerjaan kita, maka mengapa kita ada disitu?! tak ada alasan bagi kita untuk tetap bertahan. cepat pergi dan carilah apa yang kita cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

Seolah mengisyaratkan bahwa “gumpalan awan” disekitarnya-pun tak mampu menyuburkan cinta akan nya. Sebuah rangkaian kalimat ku tulis:

Ketika hati mulai berpaling

Bagaimanakah mengembalikannya

Ketika dirasa hari tak senyaman biasanya

Lalu.. bagaimana bisa menyusurinya

Ketika semua semakin tak terarah

Masihkah mungkin untuk diteruskan

Letih ku menanti jawaban

( sebuah hati yang berkabut)

Aku benci keegoisan, pembunuhan karakter, ketidakadilan bertubi-tubi, pembohongan publik, mengorbankan jiwa pihak lain demi kebahagiaan pribadi, lari dari masalah (ups…), yang jelas semuanya membuatku mampu berpaling seketika jika dirasa terlalu banyak hal yang berakibat “menyakiti orang lain”. Astagfirullah.. afwan, ngelantur. Dan aku terlanjur cinta pada dunia pendidikan, menyentuh keberadaan laskar pelangi dimanapun ia berada. Bahkan ditempat yang “sedikit pelosok” seperti Ponpes tempatku bekerja ini (maaf.. maaf.. nggak pelosok-pelosok banget sih.. cuma kadang sering kehilangan sinyal provider aja he..he.. )

 

Masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan mengenai “dunia baruku”. Tapi aku tetaplah aku, seorang yang senang menuliskan segala pernak-pernik kecil yang tertangkap oleh mata, terasa di hati atau teraba oleh sentuhan peristiwa. That’s me..!🙂

 

Sebaik-baik pemimpin kamu adalah yang kamu cintai dan mencintaimu. Kamu mendo’akan pemimpinmu dan beliaupun mendo’akan mu (HR.Imam Thabrani).

Aku seringkali terkagum-kagum membaca atau mendengarkan cerita tentang sosok pemimpin yang betul-betul bersahaja. Contohnya Tifathul sembiring yang lebih suka naik ojeg ketimbang naik mobil dan cerita-cerita lain tentang kiprah pemimpin yang sederhana layaknya Rasul kita yang tetap down to earth meski mempunyai jabatan tinggi. Trus, mo cerita apa nih tentang pemimpin yang terdekat dengan kita. Terlepas dari tiap rumor yang menghinggapi atau apalah kabar-kabar yang berhembus tentang sosok pimpinan PonPes ini mengenai baik-buruknya, aku tidak begitu tahu kebenarannya. Namun, yang aku tahu beliau punya jiwa kebersamaan yang indah. Sesekali aku surprise melihat beliau memotong kecil makanan yang sedang dipegang oleh seorang stafnya, padahal makanan itu notabene sudah dimakan. Beliau bukan sosok yang ekslusif (menurutku), berbaur dengan staf-stafnya tanpa melihat siapa orangnya. Selain itu, yang aku suka adalah sikap mencontohkan bagimana sesuatu harus dikerjakan, inovatif dan punya mimpi besar. Dan, yang menyenangkan adalah beliau mempunyai typelogi kepemimpinan patrilinial (kebapaan). “Nak”, demikian beliau memanggil kami yang masuk kategori kecil dan imut-imut (cieee..!). Never Give Up,Keep Fight..! Moga tujuan perjuangannya dipermudah oleh Allah. Sebenarnya, siapapun pemimpin-ku, aku selalu punya draft “pujian” yang tak pernah aku ungkap secara nyata (katanya muji tu nggak boleh ya,, aku seringkali diingetkan untuk tidak memuji, meski aku selalu punya pujian tersendiri untuk tiap jiwa yang aku kenal tanpa berniat untuk menyanjung dan berkali-kali pula aku tak bisa menahan diri untuk memuji hehe.. makanya dibilang bandel). Ssst.. mudah-mudahan jika beliau sedang browsing, tidak menemukan tulisan ini. Ah, aneh lah.

 

Hmm.. merasakan udara baru, udara yang berbeda dari udara yang biasa kuhirup (hee..biasa aja kaliii). Tapi beneran berbeda kok dari lingkungan biasanya. Disini kita akan lebih sering mendengar kata “ana”, “antum” dan percakapan-percakapan bahasa arab (asli bikin ngiri..!). Apalagi ketika aku berjalan mengitari pondok, lalu sekelompok santri nampak memperhatikan seraya berujar dengan bahasa arab, duh.. apaan sih! Nyesel deh nggak ngerti bahasa arab. Sepertinya aku harus mengalokasikan waktu untuk belajar bahasa arab secara intensif nih.. yakin?! Yupp, do’ain aja, moga ada yang bersedia meluangkan waktu buat ngajarin. “kenapa nggak nyantri dari dulu”, kata seorang tenaga pengajar disana. Mmm.. bagaimana aku bisa menjawabnya. Toh, masa lalu sudah berlalu. Mustinya pertanyaan itu diganti dengan “ mulai nyantri aja dari sekarang”. Kalo sekarang sih.. mau banget. Tidak harus terdaftar jadi santri, tapi cukuplah dengan mempelajari ilmu-ilmunya. Aku punya konsep sendiri tentang dunia pesantren dan sayangnya belum tercermin secara keseluruhan disini. Miris, melihat para santri (yang punya kompetensi bahasa arab yang bikin aku ngiri) tapi akhlaknya minus. Kenapa minus?! Mereka seringkali aku dengar berucap kata-kata kotor, ghadul bashor-nya pun kurang dipergunakan, bahkan terkadang aku-pun bisa kena “suit-suit” jahil mereka. Sosok yang aku bayangkan menjadi bias dan kabur. Begitukah sosok santri kota ini? Mungkin tidak semuanya begitu, pasti masih ada sosok yang aku bayangkan selama ini, hanya saja untuk sementara waktu itulah yang terlihat. Aku ingat kata KH. Said Agil Siroj pas ikut seminar di hotel Abadi, bahwa yang paling sulit adalah  melaksanakan tarbiyah, terlebih untuk membentuk akhlak dan bermoral. Konsep pendidikan yang menerapkan komponen – komponen IQ, EQ dan SQ secara harmonis agar menghasilkan daya guna yang luar biasa, baik secara horizontal dalam lingkup pergaulan manusia maupun secara vertikal dalam relasinya dengan Ilahi Rabbi. Ah, indah-lah.

 

“ustadzah”.. panggil anak-anak dimanapun bertemu. Astagfirullah..! aku nggak pantes banget dipanggil dengan sebutan “ustadzah”. “kamu tu termasuk korban penyempitan makna”, kata temanku ketika kuceritakan hal tersebut (ustadzah kan maknanya luas). Ya.. karena selain menjadi staf, aku juga mengisi kekosongan tenaga pengajar, jadi aku memang punya interaksi tersendiri dengan “laskar pelangi pesantren” ini. Dan mau tidak mau, udah pasti aku akan sering mendengar sapaan yang berasa “asing dan aneh” buatku (gini nih.. kalo contextual meaning nya beda-beda dan mindset-ku yang terlanjur menafsirkan kata “ustadzah” sebagai orang yang mempunyai kompetensi keilmuan dibidang agama). Meski berulang kali diingatkan-pun, mereka tetep aja gitu dengan wajah innocent mereka yang menggemaskan (buatku). Mengajar mereka adalah keasyikan tersendiri, berinteraksi dengan mereka adalah kebahagiaan tersendiri dan mendengarkan cerita-cerita mereka adalah kesenangan tersendiri.

 

Tapi…

Berada di lingkungan pesantren, tak jua membuat ibadah menjadi lebih mudah lho.. terlebih buat aku yang “lumayan ribet” dengan segala perangkatnya (atau mungkin aku-nya saja yang belum bisa beradaptasi). Ketika ku tanya “ dimana mushola-nya?’, aku kaget ketika diarahkan pada satu tempat “open air”. Hah..! bukannya wanita tu semakin tertutup tempatnya semakin baik. Mm.. mungkin ada konsep-nya sendiri yang aku tidak tahu alasan syar’i-nya. Tapi, aku tidak bisa sholat di situ. Lalu, aku sibuk mencari tempat yang “sreg”. Kesana kemari ditunjukkan tapi keadaannya tidak memungkinkan. Tak sadar aku berujar “ Aku kan tidak sedang berada di Jepang, mo sholat aja kok susah”. Hhhh.. akhirnya aku numpang di salah satu rumah “tenaga pengajar” di kompleks Ponpes. Masya Allah..! lagi-lagi aku harus miris. Aku tidak ingin mengatakan “jelek”, tidak.. rumahnya tidak begitu jelek. Standar-lah, sama dengan rumahku yang sederhana. Namun, untuk sebuah konsep rumah sehat rasanya sangat tidak terpenuhi😦 . Pengap tak berudara, tanpa cahaya matahari, sehingga lampu biasa saja di hidupkan seharian. Rumahku juga sederhana dan mungkin tidak sehat-sehat amat, hanya saja ini lebih parah dari rumahku. Ah, biasalah

 

Shock culture.. itulah istilah yang tepat mengenai kondisi yang sedang aku hadapi saat ini (Sst..padahal aku udah janji sama seorang teman untuk berhenti mendramatisir keadaan). Tapi inilah keadaan yang seringkali aku dengar sebelumnya bahwa Pesantren di kota ini menyimpan banyak cerita-cerita tentang sebuah “kekurangan dari berbagai segi” yang belum terpecahkan. Dimana letak salahnya?! Di bagian mana yang musti benar-benar di perhatikan dan mulai di perbaiki?!. Akan sangat disayangkan sekali jika PonPes yang sekiranya mampu mencetak kader-kader berakhlakul karimah, tak mampu memenuhi “request dan harapan” dari masyarakat. Bahkan dari cakap-cakap yang pernah aku dengar bahwa ada satu fenomena tentang orang umum yang belajar agama ternyata mempunyai semangat lebih tinggi ketimbang para santri (mungkin ini hanya berlaku di kota-ku saja, dalam ruang lingkup yang kecil, tidak secara keseluruhan,-red). Pembentukan kader yang smart, struggle, santun dengan kecerdasan spiritual yang tinggi,  mampukah di hasilkan disini?! Semoga saja, aku menantikan hal tersebut terealisasi disini. Allahumma Amiin.

 

Banyak hal yang belum tertulis, banyak hal yang harus ditelusuri, banyak hal yang masih menjadi pertanyaan, banyak hal yang masih menjadi harapan.. masih banyak hal yang entahlah, aku juga masih bingung untuk menterjemahkannya. Seiring sejalannya waktu mungkin akan terjawab dengan sendirinya. Sayang sekali,, sepertinya tak lama aku-pun harus meninggalkan dunia baru itu, di saat aku mulai mencintai segala sesuatu yang ada di sana. Entah untuk waktu yang tak lama atau selamanya. Bila beribu kata tak sanggup menjawab tanya, bila mata terlanjur menangkap makna. Bijaksanalah,, butuh waktu,tempat dan rasa yang tak mudah. Bijaksanalah.. butuh waktu, tempat dan rasa yang leluasa. Dia menjawab dengan cara-Nya yang luar biasa dan perantara-Nya yang tak terduga.

(Nia_pinkoLover_050209_ba’da subuh)

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: