Oleh: niadp | Januari 20, 2009

Dunia Kecil-ku yang di hujani Kefuturan

radiant-wallpapers-collection-04

Meski ku rapuh dalam langkah

Kadang tak setia kepada-Mu

Namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-Mu

Dalam dada kuharap hanya diriMu yang bertahta..

_OPICK-Rapuh_

Futur.. futur.. lagi-lagi masalah futur. Berulang kali aku menerima cerita-cerita sahabat-ku yang mengalami kefuturan. Aku juga sering mengalami futur. Yah.. emang sih, yang namanya iman tu akan mengalami pasang-surut. Kadang kalo lagi pasang bisa tinggi kayak gelombang tsunami, tapi kalo surut bisa jadi ampe kering kerontang. Wuih.. semoga aja nggak sampe surut-surut bener deh.. apalagi sampe terus mengering. Yang berlebihan emang selalu nggak bagus, ati-ati over dosis. Terlalu hot beribadah malah bikin jadi “hambar” dan nggak nikmat, misalkan aja kita maksain diri tiap abis sholat fardu tilawah 30 juz, jadi dalam sehari bisa khatam qur’an 5 x (wow.. mantap, tapi apa nggak kelenger tuh😀 ). Terlalu menggampang-gampangkan ibadah juga jelek, contoh: ntar aja deh sholat ashar nya dirumah, kan masih panjang waktunya, padahal bakal nyampe rumah nanti pada jam 17.30, kalo diibaratkan teh panas yang dihidangkan pada jam 15.30, pastilah jam segitu teh-nya udah dingin dong. intinya, kita harus punya konsep tawadzun (seimbang). Istilahnya tuh.. proporsional atau sesuai porsi.

Futur itu wajar, normal dan fitrah karena bisa dikatakan tiap orang akan merasakannya. Menjaga keseimbangan tu emang susah. Hanya saja kita tidak boleh larut dalam kefuturan. Kita harus cepat mendeteksi virus futur dan sesegera mungkin di scan anti-virus dan terkadang kita butuh teman untuk menyemangati “keterpurukan” iman. Hmm.. seperti aku yang selalu punya “seseorang-sahabat” untuk sekedar bilang: “aku sedang rapuh dan futur”. Nah, setelah itu biasanya aku banyak dapet terapi “ bakaran-semangat” tersendiri he..he.. kalo lail suka bablas, jangan malu untuk bilang: “aku bablas nih lail-nya”. Nah, nanti kita bakal diingetin untuk tidur lebih cepet dan miscalled lail nya lebih kenceng. Enak khan..

akui sajalah, seperti pengakuan salah satu sahabatku ini :

aku nggak pernah sholat lagi, ngaji udah males, baca buku udah nggak suka lagi bla..bla.. “. Dilain kesempatan ada yang cerita juga: “ aku udah nggak pernah liqo’ lg, sholatnya bolong-bolong plus non-on time, nggak pernah tilawah lagi, apalagi qiyamul lail”.

Duh.. sedihnya. Aku seringkali terkaget-kaget mendengarkan curhat-curhat teman tentang kasus futur mereka. Ada juga yang nggak cerita, namun lambat laun terlihat dari keseharian yang jauuuhhhh dari biasanya; jilbab lebarnya diringkas jadi jilbab imut, rok-nya diganti jeans ketat plus kaos kecil. Miris melihatnya, terkadang mereka aku cubit kecil pinggangnya sambil ku bilang “ duh.. seksi sekali,” dengan nada yang tidak sinis tentunya. Mm,, maksudnya tuh biar nyadar, tapi rata-rata malah ketawa-ketawa aja. Soalnya aku nggak pernah berani untuk “menghakimi” secara terang-terangan. Kata Murobbi ku, ingatkan saja secara lemah lembut, selebihnya kepekaan mereka terhadap hidayah-lah yang berbicara.

Rada takut juga melihat kenyataan yang seperti itu. Sungguh, terkadang sempat membayangkan jika futur parah itu terjadi padaku😦 . Untuk mengatasinya, kita butuh support system dari luar dan dalem. Hati kita butuh asupan setiap hari dengan berbagai cara; mendengarkan tausiah, baca buku islami, ikut tarbiyah dan sebagainya, sehingga ketika kita dihadapkan dengan kondisi masyarakat yang tidak selalu baik, maka filter yang sudah mantap menancap di dalam jiwa akan menyaring bentuk-bentuk negatif pergaulan itu sendiri. Seperti yang dikatakan teman halaqah-ku via sms: Orang yang jiwa dan nyawanya dalam lindungan cahaya Rahmat Allah. Futur-futur perusak tidak akan memiliki kesempatan untuk merusak jiwanya. Ya Allah,, aku titip jiwa dan nyawaku pada-Mu…

Ibnu Taimiyah berkata,” Mereka istiqomah dalam mencintai-Nya dan beribadah kepada-Nya. Mereka tidak menoleh dari-Nya, baik ke kiri atau kekanan.” (Tahdzibu Madaridji As-Salikin,hal 332,penerbit Wizaratu Al Adl,Emirat).

Istiqomah lah yang menjadi dasar kita untuk tetap kembali lagi ke jalan-Nya sesaat setelah futur (kalo futur mah jangan lama-lama.. ntar bablas. Iya khan?!). cinta itu sumber istiqomah, maka beribadahlah karena cinta bukan karena merasa sebagai kewajiban apalagi beban hidup.

Aku aja udah nggak keitung lagi berapa kali terkena virus futur. Aku juga pernah ngerasa males tilawah, males lail, bahkan terkadang mo sholat 5 waktu aja berattt (Cuma tetep diusahain on time yah.. malesnya jangan dimanja). Terlebih buat aku pribadi, 1-2 hari menjelang hari “H” ( tau kan maksudnya he..he.) bawaannya emang males banget (inget..! Cuma males lho, berarti tetap dikerjakan bukan ditinggalkan). Hanya saja semales-males-nya harus tetep di lawan sekuat tenaga. Melawannya dengan apa?? Ya dengan cinta. Jika kita mencintai-Nya, nggak rela dong pisah lama😉 so, futur itu wajar dan normal, asal kita bisa mengolah dan mengendalikannya, Insya Allah cepet pulih, tapi kalo di biarkan… wah, wallahua’lam. Istiqomah itu sulit tapi harus terus diupayakan.. ingatlah: jika sebuah batang bambu dipisahkan dari rumpunnya dan dijadikan seruling. Saat ditiup lengkingannya menyayat, merindukan rumpunnya. Begitu juga jiwa yang jauh dari Pencipta-nya (Jalaludin Rumi)

Hhhh.. Bilamana isak dan sesak sesal benar-benar mengantarkan pada system perbaikan diri dalam dunia kecil yang seringkali luntur karena futur hingga bisa tetap kuat dalam iltizam, mematuhi tanpa kelalaian dan menjalani tanpa ingkar..

( for all of my friends: I’m not the best, but u know that I just wanna be part of the solution)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: