Oleh: niadp | Desember 30, 2008

Penghujung Tahun dengan Beragam Makna

my-happiness

Kapur putih yang pucat, terasa penuh warna

Dan pelangi yang enggan datang pun berbinar

Kertas putih yang pudar, tertulis seribu kata

Dan kuungkap semua yang sedang kurasa

Dengarkanlah kata hatiku

Bahwa ku ingin untuk tetap disini

…….

Dunia boleh tertawa, melihatku bahagia

Walau ditempat yang kau anggap tak biasa

Biarkanlah aku bernyanyi, berlari, berputar menari di sini

(Tak Perlu Keliling Dunia-Gita Gutawa)

 

Tiap perjalanan meninggalkan catatan yang tersirat dalam sajian peristiwa-peristiwa di kehidupan kita. Dan aku merasa makin rumit untuk bisa menangkap makna yang ada. Semua terkadang membingungkan sekaligus mengejutkan “ketidaktahuan dan bodohnya pemikiran”. Di penghujung tahun aku bertutur, berkisah, memaknai, mengerti lalu bersyukur.

Bahwa tiap pribadi mempunyai kisahnya masing-masing. Dalam cerita hidup selalu tersimpan banyak rahasia yang tak terkuak satu sama lain. Hingga terkadang kita memandang orang lain “lebih baik” kehidupannya daripada kita. Lalu kita sibuk mengutuki segenap kesulitan, keluh kesah, lara dan semua masalah yang mendera raga dan nafas jiwa.

Allah..

Akhirnya aku sadar bahwa Engkau seolah membagi banyak masalah dan kesulitan secara merata ke semua hamba agar kami kembali pada-Mu.

Engkau tangguhkan pengabulan do’a, cita-cita dan keinginan agar kami senantiasa menengadah pada-Mu.

Sungguh, ketidaktahuan ini membuatku makin mengagumi keluasan ilmu-Mu.

Rapuhnya hatiku akhirnya bermuara pada-Mu

Aku berdo’a untuk tiap kebaikan yang aku inginkan

Aku berdo’a untuk tiap masalah yang belum terpecah, kesulitan yang membelit, keinginan yang masih dalam angan, mimpi yang menanti keajaiban menjadi nyata dan sebagainya..

* * *

Duh, tak semestinya aku minus syukur begini. Aku yang seringkali iri melihat orang “nampak lebih baik” di banding kehidupanku, akhirnya mengakui bahwa aku-pun punya sesi hidup yang lebih baik dari mereka.

 

Mbak Lin (sebut saja begitu) pernah di tinggal kekasihnya menikah dan itu pasti menyakitkan sekali, sedangkan aku belum pernah di sakiti dan mudah-mudahan tidak.

Mbak Is, meski berjilbab 5 tahun lebih dulu dariku, hanya saja sampe sekarang beliau masih merasa “kesulitan” meninggalkan jilbab+ fashion style gaul-nya, sedangkan aku dari awal hijrah-ku tidak melalui proses jilbab gaul (pake jilbab mungil yang diiket sana sini, nge-jeans + kaos ketat, pokoknya sejenis itu-lah). Yah.. Alhamdulilah, dari awal aku lebih nyaman pake jilbab panjang. Trus Mbak Is kini harus berjuang untuk lepas dari temen-temen super gaulnya juga dengan resiko dikata-katain sok alim, akhwat.. akhwat.. kawat dan sebagainya (Astaghfirullah), pastilah berat melewatinya dan sudah semestinya aku bersyukur  tak seekstrim itu dalam meniti perjalanan hijrahku. Aku-pun tak harus tampil eksklusif dengan membatasi pergaulan. Aku punya banyak temen  pengikut gaul bebas tanpa hijab, hanya saja mereka sangat toleran padaku. Toh jika mereka butuh bantuan Insya Allah selalu ku bantu tanpa harus terlibat langsung dengan aktifitas mereka. Mbak Is yang ku kira punya kehidupan yang “almost perfect” mempunyai segudang masalah diiringi hamburan air mata. Aku.. sungguh telah iri pada seseorang yang juga iri padaku. “ Aku iri padamu yang bisa istiqomah dalam keseharian sedangkan mbak baru bisa di pengajian saja berpenampilan akhwat”, begitu katanya. Ya Allah.. aku menyesal membuang kesyukuranku.

 

Trias, a lucky girl, begitu aku menjulukinya, menyimpan kisah kelam, suram, buram (ini istilah yang dipakainya untuk menggambarkan masa lalunya). Walau di mataku dia adalah sosok yang Smart, Mandiri,beruntung dan kenyataannya dia-pun menyimpan ke-iri-an padaku. “ Banyak hal yang ada di dirimu yang tidak aku punyai dan bikin ngiri”, demikian penjelasannya padaku. Waduh.. padahal aku berpendapat bahwa dia mempunyai hidup yang mengalir lurus tanpa hambatan. Yah.. ketidaktahuan-ku seringkali mengaburkan realita.

 

Seorang menelponku hanya untuk berkata: you are better than me.

Dan kutolak dengan mengatakan: No, you are better than me.

ANEH.. satu sama lain ternyata saling memendam rasa iri begini.😀

 

Lalu, aku bertanya-tanya, apa yang harus di-iri dari diriku? Terlahir dari keluarga sederhana hingga menjelma menjadi seorang gadis sederhana yang masih harus banyak belajar mengenai makna hidup sebenarnya, mencari jawab atas tanya tentang keberadaannya di muka bumi. Ah.. ketika aku merasa Zero ternyata ada juga sebagian orang yang memandangku sebagai Hero😀 . Allah dengan segala kekuasaan-Nya mengajariku sesuatu melalui perantara-Nya. Apapun adanya diriku, di tiap kelemahanku pastinya Allah juga menitipkan kelebihan. Now, listen my statement: I love my self. Meski aku tak secantik para artis, tak sesoleh Khadijah, tak secerdas Aisyah, tak sekaya artis Holywood tapi aku bahagia punya hidup yang relatif aman. Hidupku tak sehancur hidupnya Britney Spears, aku tak pusing dituduh perebut suami orang seperti kasusnya Mayang Sari, aku tak sedemikian depresi seperti Rahma Azhari karena foto “anehnya” tersebar di internet, aku tidak terlibat narkoba seperti Shella Marcia, aku bukan Inul atau Dewi Persik yang kehadirannya seringkali diprotes, aku tidak masuk barisan koruptor yang tiap saat dipanggil pak Antasari Azhar (orang Palembang tuh keren juga ya🙂 ). Hhh.. apa sih yang kita cari dari hidup ini? Jawabnya satu: BAHAGIA dan kini aku bahagia, bahagia menjadi diriku. Kudengar banyak perempuan yang terpuruk karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya, apalagi di kota-kota besar. Aku bersyukur dikaruniai hati dengan filter alami. Suatu hari, Allah akan memberi jawaban atas tiap do’a yang kurangkai pada waktu yang tepat.

 

Jadi, tak perlu repot membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Apalagi sampai merasa “ nothing”, padahal Allah telah mengaruniakan sebaik-baik kehidupan dengan setingan-nya. Seperti kata Douglas Malloch: Jika tidak bisa menjadi jalan raya, berpuaslah menjadi jalan kecil. Jika tidak bisa menjadi matahari, cukuplah menjadi bintang. Apapun adanya dirimu, jadilah yang terbaik. Yupp, tul banget🙂

 

Di penghujung tahun ini..

Setiap manusia ingin menjadi pribadi yang lebih baik tentunya. Perjalanan masih jauh dan proses itu butuh waktu yang tak mudah. Harapan terbesarku adalah: aku ingin mencintai-Mu lebih banyak, mengenal-Mu lebih dalam, mendekat pada-Mu lebih rapat. Sungguh, pasrah hidupku tergenggam oleh-Mu. Hanya Engkau yang mampu mengaturku. Diriku bersandar pada-Mu. Tiap seretan langkah kaki dalam menghabiskan sisa umurku, aku ingin selalu dalam belaian hidayah-MU.

“ Dari kesenyapan yang luar biasa, kesenyapan permulaan yang tak berawal muncul kerinduan Tuhan : Aku adalah perbendaharaan tersembunyi dan Aku ingin dikenal”

Al-Hadits

Diri-Mu ingin dikenali  dan aku ingin mengenal-Mu

(diriku)

Dorongan-Mu lah dalam diriku yang merubah malam menjadi hari

Yang menjadi milik-Mu pula.

Kami tak kuasa meminta apapun, sebab Kau-lah yang Maha Tahu Kebutuhan kami

Bahkan sebelum kebutuhan itu muncul dalam diri

Engkaulah kebutuhan kami, Engkaulah pemberi kami semua

          Gibran-

Ketika kehidupan memberi seribu alasan untuk ingin sesuatu, ku pahami bahwa Allah punya sejuta pengetahuan akan kebutuhanku. Awali hari dengan rasa syukur, nikmati tiap detik dengan istiqomah dan akhiri hari dengan keikhlasan. Sudahlah, berhenti ngiri sama kehidupan orang lain🙂 toh mereka juga sama aja, punya kelemahan, pernah rapuh dan terjatuh. “ Rumput Tetangga Memang Selalu Nampak Lebih Hijau”, kenapa?? Karena kita tak mau mensyukuri apa yang sudah dikaruniakan Allah pada kita.

Betapa banyak kau mengeluh dan berkata tak punya apa-apa

Padahal bumi, langit dan bintang adalah milikmu

Ladang, bunga segar, bunga yang semerbak

Burung bulbul yang bernyanyi riang

Air disekitarmu memancar berdecak

Dan matahari yang di atas kepalamu memandang geram penuh amarah

Cahaya di kaki dan puncak bukit membangun tanah lapang yang rata

Di bukit-bukit dan sebentar lagi rusak

Dunia ceria kepadamu lalu mengapa kau cemberut

Dan dia tersenyum kenapa kau tidak

Jika kau sedih karena kemuliaan yang telah lalu

Tak kan lagi penyesalan mengembalikannya

Atau kau murung karena adanya musibah

Tapi tak mungkin kau mencegah datangnya musibah

Jika kau lewati masa mudamu jangan kau katakana,

Zaman telah tua sebab zaman tidak pernah tua

Lihatlah masih ada gambar-gambar yang mengintip di balik embun

Yang seakan bicara karena indahnya

( DR. Aidh al-Qarni – La Tahzan)

Bukan karena Masalah yang membuatmu tidak bahagia, karena kamu tidak bahagia maka hidupmu bermasalah. Bukan karena keterbatasan yang membuat hidupmu terbatas, karena kamu membatasi diri maka hidupmu terbatas. Bukan karena krisis nikmat yang membuatmu kufur, karena kamu kufur maka terjadi krisis nikmat (An.Ubaedy-Human Learning Specialist)

 

>>note: mengenai pernyataan rencana akhir tahun-nya tu cuma becanda aja kok Ukh.. afwan🙂 jangan ditagih-tagih gitu. Do’akan saja  😀


Responses

  1. assalamualaikum….

    subhanaLLah….tulisan ukhti sangat bermakna untuk direnungkan……..
    salam kenal….ana di Palembang..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: