Oleh: niadp | Desember 30, 2008

Love is not only such a way

3009coracoes

Pulang kuliah  sekitar pukul 20.00 WIB, dijemput kakak dengan motor. Hujan rintik-rintik menemani perjalananku untuk kembali kerumah. Namun, lama-kelamaan makin deras saja sehingga membuat orang lebih memilih berteduh ketimbang meneruskan perjalanan. Namun tidak denganku, aku lebih suka “nerobos ujan”. Bukan karena ada jaminan bakal nggak sakit, tapi hatiku lebih dulu sakit menyaksikan pemandangan sepanjang jalan yang “tidak sehat” buat kesehatan batinku. Yah.. aku liat banyak pasangan muda yang berteduh di emperan toko sambil PDA (Public Display Affection). Ugh.. I can’t imagine. It’s nasty for me and so fed up to see. Ih..nggak deh, mending langsung pulang aja. Lebih nyaman dalam dekapan keluarga. Ya Allah, sungguh tak terbayang jika berteduh satu atap dengan orang yang lagi “lengket mesra” gitu. Naudzubillahi min Dzalik, yang jelas aku nyadar deh, nggak bakal bisa jadi “anti-virus” buat mereka seandainya aku ikut teduh bareng. Boro-boro disebut “anti virus”, ntar malah di bilang “makmum” mereka😀 .

 

Dan aku kian mengerti penyebab maraknya kasus MBA (Married By Accident) bermula dari khalwat dan ikhtilat. Seperti disinggung dalam hadis, dari Jabir ra. Rasul bersabda:

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka janganlah berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis tanpa ditemani mahramnya) karena pihak ketiga adalah setan.

Rasul pun bersumpah: Demi Allah adalah suatu hal yang sangat disayangkan jika laki-laki dan wanita berkhalwat, karena memberi peluang kepada setan untuk berpesta pora menggoda manusia, dimulai dengan sekedar bercakap-cakap kemudian menjatuhkannya kedalam maksiat yang lebih jauh.

 

Tak tahan untuk tidak bercerita, kuungkapkan kejadian tersebut kepada sodara perempuanku yang sudah menikah.

” Oo.. mungkin mereka tu pasangan suami isteri”, respon sodaraku sepositif mungkin.

“ Mm.. bisa jadi. Tapi kemungkinannya kecil, bukankah kalo udah suami isteri malah malu expose kemesraan. Lah, Tanya aja ke diri sendiri, apa ayuk pernah display affection di tempat umum kalo lagi jalan keluar. Paling banter beraninya pegang tangan, itu juga langsung dilepas kalo ada yang liat. Hayooo.. ngaku deh”, bantahku tak mau kalah. Itu fakta.. meski hanya sebatas fakta yang aku ketahui.

Ayukku hanya bisa tersenyum. Tersenyum kalah sepertinya dan aku juga tersenyum (tersenyum menang tentunya). Eh, belum tentu juga, siapa tau ayukku tersenyum ngalah hehe…

 

Aku.. mungkinlah masuk golongan “cewek kuper” yang terlalu naif melihat kenyataan yang terserak (Padahal udah dua puluh tahun lebih dikit hidup di dunia😀 ). Disaat temen-temen udah punya koleksi mantan pacar, aku masih bertahan dengan “konsep diri” yang aku sendiri terkadang tak tahu apakah harus bangga atau merasa mempunyai out of date concept. Dari dulu temen-temen, guru bahkan sekarang dosen menanyakan: siapa sih cowok-mu? udah punya calon belum? Kok nggak pacaran dan sebagainya. Semua pertanyaan yang sulit dijawab karena sesungguhnya akupun tak tahu jawabnya. Kata murobbiku: pacaran tuh nggak boleh atau mau pake ayat: janganlah engkau mendekati zina. Ah, kaku banget jawabannya kalo kayak gitu dan terkesan sok alim. Dibilang belum ada yang mau ehhh mereka pada nggak percaya dan aku juga takut malah jadi do’a. yang jelas aku nggak suka aja sama aktivitas pacaran (jangan tanyakan kenapa karena ku tak tahu atau gk mau kasih tau😀 ) . dengerin lagu Kasih-Kekasih nya InTeam tuh.. kira-kira begitulah pengennya. Seperti kisah sodara perempuan ku yang dapet jodoh tanpa pacaran. Pokoknya gitu deh  🙂

 

Anyway, aku tetep punya temen cowok dan rata-rata mereka lebih “berhati-hati” saat berinteraksi, misalkan: nggak ngomong kalo nggak penting. Bahkan terkadang mereka bingung gimana mo ngomong langsung dan akhirnya cuma lewat sms, padahal mereka bener-bener lagi perlu sama aku hihi.. lucu deh. Anehnya lagi, ketika ada seorang ikhwan yang menelepon dan dengan terang-terangan bertanya: kenapa sih susah banget diajak ngomong kalo ketemu, sama sekali nggak ngasih celah orang buat ngucapin terimakasih atau ngucapin met lebaran dsb. Lho.. lho.. kok marah, salah sendiri nggak mau ngomong kalo ketemu😀 .Maka ku bilang: When U need My help, I’ll be there to help. Jadi, memaknai persahabatan, bukan dengan ngobrol panjang hal-hal nggak penting atau memperbolehkan maen-maen kerumah dan sejenisnya, tapi lebih ke kesiapan membantu dan hadir di kala butuh.

 

Pokoknya pacaran tuh banyak mudhoratnya ketimbang maslahatnya, terutama buat kaum cewek nih. Seorang Dosenku dalam suatu kesempatan mengungkapkan sebuah pesan: “ Tolong ya, terutama buat para cewek nih agar lebih “menjaga diri”, jaga penampilan sesopan mungkin. Jangan sampe masa depan hancur gara-gara “accident”. Kuncinya ada di perempuan. Karena tiap kasus yang terjadi tidak sepenuhnya salah laki-laki. Hukum sebab-akibat itu berlaku”. Ups.. tenyata pak Dosen juga pernah liat “keaadaan” yang sama dengan apa yang kuliat pas pulang kuliah waktu itu. Hiii.. ngeri.. ngeri sekali liat gaul bebas non-Mahram zaman sekarang. Terlebih akhir ini makin banyak cerita MBA (Married By Accident) mencuat di sekitarku.

“ Eh.. si itu baru nikah dua bulan langsung punya anak bla.. bla.. bla.. “

Nah lho.. kapan hamilnya sih, nggak pernah keliatan tuh. Kaget?? Buat aku jawabannya: iya.

Parahnya, ada yang sempet-sempetnya pake jilbab buat nutupin “aib”, lalu di lepas setelah bayinya keluar. Ugh, Naudzubillahi Min Dzalik. Kebayang kan kita-kita udah ngasih “selamat” atas hijrahnya, tapi ternyata….

 

Kata Imam Al Ghazali Cinta yang lahir dari keinginan mendapatkan kesenangan bukanlah cinta. Yah.. bukanlah cinta.

Love is not only such a way.. ada cara-cara yang lebih santun untuk mengekspresikan cinta. Bukankah tidak ada yang lebih baik bagi dua orang yang saling mencintai selain menikah?? Daripada bikin aib dulu, trus ujung-ujungnya kan nikah juga (meski nggak semuanya berujung nikah, ada yang berujung eksekusi bunuh diri atau aborsi dan sebagainya ).

Duh, gimana ya..

Aku sendiri juga masih belum lulus 100% dan masih butuh mawas diri hingga saat berbuka itu tiba😉 . rada takut ngomong-ngomongin kasus orang, ntar malah kena sendiri. Harapanku hanyalah…

 

Ya Allah… jika aku jatuh cinta

Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu

Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu

Ya Muhaimin, jika ku jatuh cinta

Jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

 

Ya Allah.. jika ku jatuh hati

Ijinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu

Agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu

Ya Rabbana… jika aku jatuh hati

Jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari-Mu

 

Ya Rabbul Izzati.. jika ku rindu

Rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu

Ya Allah…. Jika aku rindu

Jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindui syurga-Mu

 

Ya Allah… Engkau mengetahui bahwa hati- hati ini telah terhimpun

Dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam taat pada-Mu

Telah bersatu alam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu

Kukuhkanlah ya Allah ikatannya, kekalkanlah cintanya

Tunjukilah jalan-jalannya

Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah padam

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu

Dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.,,,

( Sayyid Qutub)

Allahumma Amin..


Responses

  1. aq suka banget tulisan ini..

  2. setuju. teman tidak harus banyak berinteraksi lewat lisan, yang terpenting kedekatan hati.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: