Oleh: niadp | November 14, 2008

Ketika Hati Harus Di Uji

Apa sih akhwat itu? Bagaimana seharusnya berprilaku dan apa batasan-batasannya?

Ugh.. kasus yang aneh

Berawal dari seorang ikhwan yang menghentikan perjalanan “tarbiyah” nya karena merasa dipermainkan seorang akhwat. Lho kok.. gimana ceritanya?

Satu kata: MISTERIUS

Aku sendiri bingung bagaimana menilai kasus ini. Seorang akhwat misterius mengirim sms “say hai” ke seorang ikhwan. Selanjutnya komunikasi kian luancarrr, via sms dan telepon tanpa copy darat. Sang akhwat menunjukkan “ketahuannya” mengenai segala sesuatu yang berkenaan dengan si ikhwan (berarti akhwat tersebut kenal baik dong dengan si ikhwan) dan dia adalah seorang akhwat yang bener-bener akhwat ( dilihat dari segi bahasa dan wawasan). Arah pembicaraan kian jauh dan lebih mengarah ke itu tuh “pernikahan”, hebatnya, sang akhwat sampe meminta ikhwan itu menghafal surat Ar Rahman jika berminat melamarnya. Hal tersebut ternyata ditanggapi serius oleh si ikhwan, dia turuti deh permintaannya. Hmm.. bagus sih awalnya, tapi apa yang terjadi setelah itu??

 

Komunikasi terakhir…

Sebuah surat dititipkan ke toko buku, si ikhwan bertanya kepada si penjaga toko mengenai rupa “penitip surat”. Diketahui bahwa akhwat tersebut datang berdua, memakai jubah, jilbab lebar(akhwat banget khan…)  satu berkacamata satunya tidak. Isi surat tetap mengarah ke PERNIKAHAN. Guess what??? Apa-apaan sih..

Setelah itu..

Sang akhwat menghilang tanpa jejak.. komunikasi putus..lenyap begitu saja.

Suatu hari, si ikhwan mendapat sms dari seseorang yang mengaku sebagai sepupu akhwat yang isinya kira-kira begini: “ ikhwan kok gitu sih,gampng trpancing, gk mnjg hati”. Intinya adalah ungkapan kekecewaan akan kualitas penjagaan hati si ikhwan. Waduh.. terang saja hal tersebut membuat ikhwan tersebut terhina, marah, benci dan merasa di permainkan. Imbasnya, futur abis-abisan, berhentilah ia dari kelompok holaqoh-nya. dia hanya mau ngaji lagi jika si akhwat mau menunjukkan wujudnya. Nah lho.. mana kita-kita tahu siapa dia. Sampe sekarang masih ngambang karena tidak ada yang tahu profil si akhwat. Misteriusss..

 

mmm.. aku ingat sesuatu, sebuah rangkaian kata dari seorang LaoTse”

se ciek sang ciu yen tek ci li, puk sek tien ya, erl sek wo can cai ni mien cien, ni ciek puk ce tao wo ai ni ( jarak yang paling jauh di atas dunia bukanlah ujung langit melainkan  saya berdiri di hadapanmu namun engkau tidak tahu bahwa aku mencintaimu) cieee.. puitiz abizzz!!!

 

Apa kata dunia jika akhwat jatuh cinta? (udah baca bukunya belom?)

Mengapa berat ungkapkan cinta padahal ia ada ..he..he.. ( lagunya Acha-Irwansyah)

Seandainya-pun memang “punya hati” sama si ikhwan, bilang aja-lah, nggak da salahnya kok menawarkan diri (meski aku tak yakin bisa jika ada di posisi seperti ini). Trus.. apa nggak da cara yang lebih santun dan ber-etika sih..? kecewanya aku dengan cara yang misterius itu karena sudah menganggu kenetralan hati seseorang secara mendalam, meninggalkan bekas yang sudah terlanjur lekat, menodai kebersihan lintasan hatinya. Kok tega sih mbak?? Dosakah yang sudah dilakukan akhwat tersebut? Wallahua’lam.

 

Kurang jelas alasannya melakukan itu, belum tentu juga karena “punya hati”, bisa aja Cuma nge-tes kualitas iman si ikhwan. Tapi kok iseng banget. Ngomong-ngomong masalah dipermainkan, rasanya aku pernah mengalami hal yang hampir sama, yang beda Cuma cara meresponnya. Dulu pernah ada seorang ikhwan (terlihat dari gaya bahasa dan isi pembicaraannya mencerminkan dirinya seorang ikhwan) yang suka sms tanya kabar, tanya aktivitas, sedang apa, sudah makan belom, ngingetin kuliah dan sebagainya. Beberapa kali sepertinya dia mencoba menelpon ( tapi ya.. berhubung aku tuh tipe orang yang nggak begitu suka telpon-telponan nggak jelas sama orang yang nggak jelas juga, kalaupun tidak bisa dihindari pasti durasinya tak lama dan seperlunya), sms pun dibalas singkat-singkat saja (aslinya, kata temen-temen cowokku tuh aku emang orangnya jutek sama cowok kiri kanan he..he.. ngapain juga jelalatan). Awalnya biasa, sampai dia berani sms: “udah bersuami belum sih.. kalau malam minggu ngapain?”. Oh.. No, cukup..!! nggak da urusan nanya-nanya yang begituan, semuanya harus di CUT. Ku sms saja bahwa aku tak ingin di sms atau ditelpon, alasannya Bantu aku menjaga hati ya..! (weits, kesannya sok alim banget, tapi bener juga khan?). Beres..! si ikhwan paham dan sampe sekarang “suasana menjadi normal”  meski aku tak pernah tau siapa dia dan posisinya tidak fair karena dia sudah tahu aku “lumayan detil”.

 

Mungkinkah.. ini hanya sebuah keusilan individu atau emang ada jaringan tukang nge-tes kualitas penjagaan hati tiap jama’ah tarbiyah. Mungkin ini bukanlah hal yang “baru”, tapi sudah sering terjadi, tapi buat kita-kita yang ikutan liqo, mungkin rada-rada gimanaaa gitu ya.  Ah.. kualitas iman orang itu hanya Allah saja yang tahu..

(special for hidden akhwat: seorang akhwat militan tidak akan pernah bersembunyi dan lari dari tanggungjawab. ??? where r u. )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: