Oleh: niadp | Oktober 18, 2008

CerPen Ku 3

Rasa Yang Salah??

Byurr.. aku merasa tercebur ke dalam sebuah sungai yang dingin sesaat setelah aku mengangkat wajah disebabkan sebuah suara halus mengucap salam. Masya Allah..!! aku terperanjat. Mataku menangkap sesosok ikhwan. Ya,, menilik dari penampilan dan bahasa tubuhnya aku bisa menebak bahwa dia seorang ikhwan. Sosok dengan postur tinggi, berkulit putih halus, potongan rambut lurus rapi dilengkapi senyum manis serta tatapan mata khas yang benar-benar telah membuatku merasa diguyur air dingin. Lalu, hatiku mengakui “ dirinya ganteng”.  Tiba-tiba ada desiran halus menggeliat di bilik hati. Ini jarang terjadi padaku yang notabene terkenal sebagai akhwat yang super cuek dengan makhluk yang disebut cowok atau yang lebih santunnya disebut ikhwan.

“ Assalamualaikum mbak” ulangnya sambil tersenyum.

Tergagap aku dari sebuah lamunan “ Waa’laikumsalam, ada yang bisa dibantai mas eh dibantu maksudnya”,. Tuh kan latahnya kumat, padahal udah dari tadi dia mengucapkan salam. Ih malu-maluin.

Lalu dengan segala keramahan aku menyambutnya. Memang sudah seharusnya begitu sebagai customer service yang baik tentunya. Ah.. tidak begitu juga, kata teman-temanku aku memang orangnya supel dan ramah (CIEE ciee). Namun untuk menghadapi customer yang satu ini sepertinya aku merasa supel-ku tak tulus, lebih condong ke grogi malahan he..he.. Sst.. moga saja sang ikhwan tidak menangkap sinyal tidak karuan dari hatiku ini. “ Gini mbak.. bla..bla..bla. seperti customer lainnya yang bertanya ini-itu tentang produk yang ditawarkan perusahaan tempatku bekerja. Nyaman sekali ngobrol dengannya karena dia tipe ikhwan yang lembut dan bijaksana menurutku. Hatiku kembali berbisik “ dialah ikhwan idamanku”.

 

Dia Tipe Ikhwan Favoritku, kata-kata itu tak diduga masuk dalam deretan baris kalimat dalam diariku. Kepikiran nih… apalagi tadi sempat di perlihatkan KTP nya. kuketahui namanya Muhammad Azis, status: belum menikah. Ups.. kenapa aku begitu antusias melihat statusnya. Aku kan tak tahu buat KTP nya kapan dan apakah status itu masih berlaku sekarang. Virasa Amelia & Muhammad Azis, cantik ya kalau di pasangkan dalam sebuah undangan. Ugh… tidaakkk!! Kok mikirinnya kesana sih. Detak jam menemani kesunyian malamku menjelang tidur. Malam kian larut, ku hempaskan tubuhku di pembaringan. Kulihat jam sudah lewat tengah malam tapi kok diriku belum bisa tidur. Lamunan yang aneh.. adakah cinta pada pandangan pertama? Impossible! I never believe it. Desiran angin diluar terdengar semakin kencang, mungkin sebentar lagi akan hujan. Baguslah.. hujan akan membantuku berpindah kealam tidur dengan mimpi yang indah tentunya.

 

Setelah petemuan itu, dalam beberapa kali terjadi pengulangan pertemuan dengan frekuensi yang lumayan. Aku melakukan berbagai transaksi dengan cuaca hati yang sama pada kali pertamanya, bahkan semakin dahsyat luapannya. Hari-hari indah, benderang dan penuh semangat. Wah.. wah.. ada yang lain terjadi di hidupku. Namun… diriku harus merelakannya pula pada saat semua harus berakhir. Transaksi kerjasama telah usai dan kalaupun akan terjadi lagi tentulah dalam waktu yang tidak bisa dipastikan. Ah,, Betapa singkatnya waktu. Tak banyak info tentangnya yang aku dapat, everything is pure business only. Aku sadar, aku adalah akhwat yang lebih mementingkan sifat Haya (malu) ketimbang keinginan yang tak jelas ujung pangkalnya. Tapi jikalau boleh meminta, bolehkah hati ini berharap akan terkabulnya sebuah keinginan dari indahnya bayangan? Entahlah.. waktu akan menjawabnya melalui aliran hidup.

* * *

“ Rasa, kamu tuh udah punya calon belum sih, coba dikenalin sama ibu,” tanya ibuku di suatu minggu ketika aku menyempatkan diri membantu beliau memasak.

Aku mengernyitkan dahi,” Emang napa sih bu?! Apa Rasa udah keliatan kayak perawan tua?,” aku malah memberondong ibu dengan pertanyaan. Heran deh, tumben ibu nanya yang “begituan”.

Ibu tersenyum membaca keherananku, anaknya ini memang rada sensi dan gampang sewot serta sangat perasa sekali. “ siapa yang bilang kamu keliatan tua. Nggaklah sayang, jangan cemberut dong! Justru karena kamu tu anak ibu yang cantik dan imut-imut, masa’ iya sih nggak da yang suka? Ibu Cuma pengen tahu aja. Siapa tau udah punya calon,” jawab si ibu sambil mencolek daguku.

Ugh.. sebel. “ Emangnya ibu seneng punya anak yang suka gonta-ganti pacar? Diboyong sana sini sama non-muhrim. Mustinya ibu bangga dong dengan Rasa,” ungkapku sembari mengaduk-ngaduk nasi goreng yang hampir matang. Ku tatap mata ibu, disana aku temukan sebuah kepercayaan penuh akan setiap kata yang aku uraikan. Kujelaskan bahwa tak ada kata PACARAN di kamusku. Meski begitu tak perlu pusing-pusinglah mengenai jodoh, kan  ada jaringan kontak jodoh di pengajianku. Tapi kapan jodoh itu datang? Hmm.. siapa ya yang bakal jadi suamiku nanti? Seutas wajah kembali membayang. Andaikan saja wajah itu lah jodohku, betapa bahagianya. Hhh… kuhela nafas berat, merasakan sesuatu yang terlalu rumit untuk di realisasikan. setelah selesai menyiapkan sarapan kelurga, kutinggalkan kegiatan dapur dan segera menuju kamar mandi. Mandi mungkin bisa sedikit mendinginkan tekanan rasa yang ada.

 

Pyuh.. seger deh habis mandi. Masih jam 8 pagi. Kuambil buku Bila Hati Rindu Menikah karya Mas Udik Abdillah, rencananya hari ini mau dikhatamkan. Hari ini ada jadwal menghadiri walimahan mbak Tiara seorang akhwat soleha itu telah menemukan muara jiwanya. Kapan moment indah itu akan datang padaku?. Tiba-tiba Hp ku dengan cerewetnya menjerit-jerit, sebuah nama yang tak asing lagi muncul “Endang” temen holaqohku.

“ya, assalamualaikum,” sambutku datar

“Waalaikumsalam Ras, dapet undangan walimahannya mbak Tiara kan, bareng ya?”, suara di seberang sana menawarkan sesuatu.

“ Mmm.. aku agak sorean aja datengnya,” jawabku males-malesan. Biasanya di acara walimahan tu manusia-manusia yang masih sendirian akan di ledek abis-abisan dengan pertanyaan “ nggak bosen kondangan sendirian terus”. Pertanyaan yang muales untuk dijawab.

“ yee.. kok gitu. Dapet makanan sisa dong kalo kesorean. Ambil barokahnya biar ketularan. Setuju nggak setuju, satu jam lagi kujemput. Bye. Wassalam.

Klik.. dengan tidak sopannya Endang memutus telepon. Kok maksa sih tapi that’s Ok lah, mumpung ada yang ngajak bareng dan dapet tumpangan gratis. Kubatalkan program membacaku dan Segera aku mengambil gamis  warna cream  kesukaanku di padu jilbab cream lembut motif bunga-bunga. Kutatap diriku di cermin. Bertanya pada diri sendiri, benarkah kata ibu kalo diriku tu cantik atau hanya sebuah penghiburan hati saja. Kucoba tersenyum.. hmm.. memang manis. Kuperhatikan setiap bagian-bagian dari wajahku. Disana nampaklah keluarbiasaan lukisan Allah mendekor wajahku. Semuanya seperti saling mendukung untuk membuatnya terlihat cantik. Terus, kok belum ada yang berani ngelamar ya?. Hhhh.. Dua puluh lima tahun menapaki hidup, sudah menjadi angka matang seorang wanita untuk membina sebuah rumah tangga. Kenapa ya sampai saat ini belum ada seorang ikhwan yang memberikan sinyal itu padaku. Teman-temanku sendiri selalu bilang kalau aku mempunyai kehidupan yang “nyaris sempurna” . aku terlahir sebagai gadis cantik yang baby face; terbukti dari banyaknya orang yang menerka aku masih seumuran anak SMA, Aku juga smart, mandiri dan punya keluarga yang menyenangkan tanpa kekurangan materi. Bahkan seorang teman sempat mengeluarkan komentar ,” apa sih yang kurang dari seorang akhwat bernama Virasa Amelia, udah cantik, pinter, solehah pula , kurangnya hanya satu: belum punya suami”. Komentar yang membuat aku seperti ingin dilahirkan kembali menjadi orang lain saja. Menjadi orang biasa namun tak pusing dengan masalah. Adakakah?

“ Hey ngelamun aja, dah siap belom”, sebuah tepukan di bahuku membuyarkan lamunan. Seorang akhwat manis memakai setelan baju muslimah warna biru langit telah berdiri di sampingku. Temanku yang satu ini sudah menikah satu tahun lalu, hanya saja karena dia orangnya tidak membatasi pergaulannya setelah menikah, meski sudah merit gaul jalan terus, begitulah slogan yang sangat ia banggakan.

“ your hubby kemana? Tumben-tumbenan ngajakin aku,”tanyaku heran.

“ ada, udah berangkat duluan. Aku pengen aja bareng sama kamu, ingin menularkan barokah moga cepet dapet jodoh hehe..”, jawabnya sambil cengengesan.

“udah yuk berangkat,” ajak Endang seraya menarik tanganku keluar dari kamar.

 

Entah mengapa setiap kali menghadiri acara walimahan selalu terselip kegelisahan dalam hati. Ada sebuah perasaan takut jika aku benar-benar harus menerima takdir sulit mendapat jodoh. Sesampainya di tempat mbak Tiara, acara akad nikah baru akan dimulai. Aku mengedarkan pandangan mencari tempat yang enak selama mengikuti acara. But guess what?? Mata ku berhenti pada satu titik yang menjelma menjadi satu sosok ikhwan yang namanya tertulis dalam diariku. Muhammad Azis. Wah.. gawat, suhu tubuhku turun naik. Apalagi bertepatan pula si ikhwan tersebut sedang mengarahkan pandangannya ke arahku. Saling melempar senyuman dan dengan sopannya dia menganggukan kepalanya kepadaku. Byurrr… siraman air dingin itu ku rasakan kembali. Jadilah aku seperti orang yang demam mendadak, tak satu bait rangkaian acara pun yang bisa kuikuti dengan konsentrasi.

 

“ Rasa, kenalin ini mas Azis, suaminya mbak Retno ketua pengajian al Hidayah,” kata Endang ketika memperkenalkan si ikhwan kepadaku.

Apaaaa????? Ikhwan idaman itu sudah punya isteri?. No way. Pupus semua harapan yang kurangkai dalam sebuah perandaian kalbu.

“ Mas Azis ini akan ikut mengelola di Yayasan kita,” sambung Endang padaku.

Kulihat mas Azis senyum-senyum, manis sekali.

“ kita udah kenal kok, iya khan mbak Vi?,” tanyanya langsung kepadaku.

“ eh.. iiiyya,” jawabku gugup. Satu-satunya orang yang memanggilku dengan sebutan yang aneh ‘VI” adalah dia yang serta merta berhasil membuatku terluka dalam waktu yang singkat.

Obrolan selanjutnya tak ku gubris lagi. Biarlah Endang saja yang meneruskan. Keinginanku sekarang adalah melihat bentuk dari isteri mas Azis. Lebih cantikkah dariku? Aku ingin membandingkannya dengan setiap detil dari apa yang aku punyai.

***

“ itu tuh yang namanya mbak Retno,” tunjuk Endang pada lain kesempatan ketika kami sedang rapat kepengurusan yayasan. Dengan sigap aku mengarahkan pandangan kepada seorang akhwat yang sedang asyik berdiskusi dengan akhwat lainnya. Oh God.. ternyata mbak Retno itu tidaklah secantik yang aku bayangkan. Jauh sekali dari perkiraan. Tubuhnya gempal, tingginya tak lebih dari 140 cm, pipinya ditumbuhi beberapa jerawat, berkacamata besar pula, pokoknya jauh dari tipe wanita berparas cantik secara fisik. Kenapa mas Azis memilihnya jadi pendamping hidup? Aku tak tahu jawabnya. Namun aku harus mengakui, mbak Retno telah memenangkah hati ikhwan pujaanku itu. Mengapa pertemuan itu terjadi pada waktu yang sudah terlanjur terlambat. Salahkah aku punya rasa?

* * *

Dalam sebuah keputus asaan akan terkuburnya pengharapan, tapi mengapa Allah malah menciptakan sekian banyak peristiwa yang membuatku semakin dekat dengan Mas Azis. It’s Crazy!!. Di yayasan tempat aku mengabdikan diri dalam dakwah dan kemashlahatan lingkaran dunia keislaman, aku di tugasi menjadi sekretaris yayasan dan tahukah siapa yang menjadi ketuanya sekarang? Ugh.. lagi-lagi aku harus mengupayakan tenaga ekstra agar tetap tegar berdiri tanpa desiran yang membuncah saat harus menuliskan atau menyebutkan sebuah nama: MUHAMMAD AZIS. Sebagai suatu tim yang bernaung dalam organisasi yang sama, menuntut aku mau tak mau harus banyak berinteraksi dengan sang ketua. Menoreh kebersamaan bersamanya dalam amar ma’ruf nahi mungkar sungguh membuatku bahagia dengan caraku sendiri yaitu: menikmati keberadaanku bersamanya. Astaghfirullah, tak seharusnya tapi hatiku telah melekat pada sosoknya, seolah menutup mata untuk sosok yang lain. Aku yang sulit jatuh cinta ini memang merasa kesulitan untuk berpaling saat hati terpaut pada sesuatu. My love is so blind but I don’t care. Pribadinya yang menurutku sempurna telah menutup ruang logika ku untuk sekedar mengingatkan diri bahwa dia tak halal bagiku. Telah ada seorang bidadari yang menemani hidupnya. Dan.. dosalah diriku yang kembali menggali harapan dan memutus harapan untuk “hati” yang lain. Pada saat murobbiku menawarkan beberapa “kotak ajaib” untuk kupilih tapi hatiku selalu berpihak lagi padanya. Aku tak tahu sampai kapan ini akan terus berlangsung. Air mata yang menderas di penghujung malam di sela do’a panjang memohon sebuah solusi tak juga menyembuhkan “penyakit gila” ini. Siapakah yang paham dan tahu bahwa kini aku telah menjadi akhwat berpenyakit, penyakit hati yang menjangkiti sampai ku merasa benar-benar terkapar olehnya.

 

Semakin hari diriku merasa semakin dekat dengan dirinya. Tiba-tiba saja kami telah menjelma menjadi dua insan yang saling memperhatikan, saling mengingatkan dan saling berkeluh kesah. Inikah yang dinamakan pengkhianatan terselubung?. Seharusnya tak begini. Ini adalah sumur dosa dan aku telah terjatuh ke dalamnya dan tak pula berusaha untuk keluar dari situ. Mengapa jadi begini jalan ceritanya? Apakah aku hanya rindu figur seorang kakak yang tak pernah aku rasai karena ibu hanya punya dua anak perempuan. Sodara perempuanku sudah menikah dan diboyong suaminya ke luar pulau. Tinggallah aku sendirian seorang “perawan cinta” seperti yang digambarkan penyanyi cantik Rosa dalam lagunya atau seperti kata Mas Udik Abdillah dalam bukunya Bila Hati Rindu Menikah:

Bila malam sudah terasa sepi dibanding masa-masa sebelumnya. Bila hangatnya persahabatan tak lagi cukup mencurahkan isi hati. Bila hati mendambakan pelindung dan pemberi motivasi di saat dirinya lemah. Bila hati merasa cenderung dan merasa tenteram di sisi lawan jenisnya.

Apakah cinta ku ini dalam jalur yang salah? akankah akan terjadi cinta segitiga layaknya Aisyah, Fahri dan Maria dalam ayat-ayat cinta? Ah.. inilah satu bentuk dosa yang terlanjur menjadi candu bagiku

* * *

Mbak Retno adalah seorang akhwat yang luar biasa, seorang aktivis dakwah yang tak kenal lelah namun tak jua melupakan keluarga dan anak-anaknya. Yah.. dari pernikahan dengan mas Azis, mereka dikaruniai dua orang anak laki-laki yang lucu. Yang pertama bernama Alif yang kritis dan agresif berumur 2 tahun. Satunya Rizki baru berumur 8 bulan. Kebayang betapa repotnya ngurusin anak-anak yang masih kecil. Aku sering menyempatkan diri main ke rumah mereka, sekedar bantu-bantu membereskan rumah dan mengajak main anak-anaknya. Seneng rasanya berkumpul dengan anggota keluarga mas Azis, tapi disisi lain aku merasa iri dengan mbak Retno yang telah memupuskan harapan indahku.

“ Kamu tu cantik ya Ras, apa memang belum kepikiran untuk nikah atau sedang menunggu seseorang?” tiba-tiba mbak Retno menanyakan itu sembari menatapku dalam. Tatapan aneh yang membuatku sedikit begidik.

Kugelengkan kepala, lalu tertunduk dalam. Haruskah aku mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya bahwa memang aku sedang menunggu seseorang dan dia adalah suami mbak Retno sendiri. Oh… tidakk biarlah hanya hatiku yang tahu.

* * *

Beberapa menit sebelum berangkat kerja, sebuah sms masuk. Hah.. dari mas Azis.

aslmlkm Vi, ada mimpi yg mngganggu tdrQ bbrp mlm ni

mimpi apa? dikejer anjing y? hehe..

🙂 ana mimpi anti

mksdny??

I dream u as my wife J

Oh.. don’t.

But I’m sure. Insya Allah sdh istikhoroh

Pa gk kasian ma mbk Retno?

Retno uda tau, I’m waiting 4 ur answer.bye

Hening. Kepalaku terasa berat. Di satu sisi aku bahagia karena cintaku tak bertepuk sebelah tangan tapi disisi lain kebimbangan meraja. Kebayang nggak sih.. Virasa jadi isteri kedua? Poligami? Bagaimana perasaan ibu jika tahu tentang ini? Apa kata tetangga dan teman-temanku? Perusak rumah tangga orang lain. Kelebatan wajah mbaK Retno dan anak-anaknya melintas di pikiran. Kisah cinta Aisyah, Fahri dan Maria benarkah akan terjadi di kehidupanku?

 

Sepertiga malam yang dingin, curhat panjang ku munajatkan pada Penguasa Alam ini. Terbata-bata ku kisahkan semua kepada-Nya. nafasku sesak merasakan desakan emosi yang tak tertahan. Derasnya air mata tumpah bak air bah. Pada saat seperti ini, aku tak ingin egois untuk mengambil keputusan hanya berdasarkan kata “ ingin dan mau”. Belenggu rasa yang mengikat harus dilepaskan terlebih dahulu, untuk menghasilkan keputusan yang jernih. Duhai Allah.. Bantu aku. Lalu ku putuskan sesuatu.

 

* * *

“ beneran kamu mo ta’aruf” murobbiku terlonjak kaget merespon request ku ba’da holaqoh.

Ku anggukan kepalaku demi meyakinkannya.

“ tapi biar mbak Nani aja yang tahu ya, plus keluargaku, jangan disebarkan dulu”

“ ok deh” janji mbak Nani sambil tersenyum

 

beberapa hari kemudian…

proses ta’aruf telah usai dan aku mantap untuk menerusakan ke jenjang pernikahan. Bulan depan akan jadi moment  melepas masa kesendirianku. Di dalam kamar ku buka proposal calon suamiku beserta foto nya. tertulis nama disitu: Muhammad Ridho Kurniawan. Yah.. itulah namanya meski aku sangat menginginkan nama itu berganti menjadi Muhammad Azis, ikhwan yang telah menaungi hatiku dalam setahun belakangan. Tapi aku yakin dengan keputusanku. Telah ku mantapkan dalam istikhoroh panjang pula. Seperti kata Maria bahwa Cinta dan keinginan untuk memiliki itu tidak sama. yang aku rasa pada mas Azis lebih cenderung kepada keinginan untuk memiliki dan bukanlah cinta karena Allah. Kini.. telah kulihat wajah cintaku. Tak ingin membanding-bandingkannya. Mas Ridho adalah ikhwan yang beberapa kali menanyakan kesiapan ku namun selalu diabaikan hanya demi membela “rasa” yang salah, rasa yang tidak pada tempatnya, rasa yang tidak seharusnya tumbuh. Hingga ku simpulkan: jika selama ini aku masih terus sendirian, maka Rasa-lah yang salah. yupp seorang gadis bernama Virasa mempunyai rasa yang salah. ups.. sudahlah! Berhenti menyalahkan diri sendiri. Kupandangi foto calon suamiku, apa yang kurang dari dirinya, dia ganteng seperti Kevin Richard, soleh, mandiri dan mapan. Hmmm.. kurangnya hanya satu: dia belum punya isteri hehe… but don’t worry bulan depan kami akan saling melengkapi kekurangan itu. Hp ku berdering, sebuah sms masuk.

Congrat Ukh udh sukses ta’aruf gk blg2. Inikah caramu mnjwb prtanyaanQ?

Yupp.. thx. Bg ku cinta yg sehat itu adalh yg mndidik kcerdasan, kmatangan emosi. Dy mngajarkan u/ mnahan syahwat ato mbingkainya dg ikatan suci prnikhn. Terusla brjln brsama mbk Retno, beliau akhwat yg luar biasa. Yg Vi ingin hnylh Al Hubbu Fillah wa billah.

Klik.. tak ada balasan lagi. Beberapa menit kemudian masuk satu sms lagi.

Dek.. ntar siang diajak mama liat desain undangan ba’da zuhur. Nti mama yg mo njmpt adek.Hv Nice Days calon isteriku. By mas Ridho

Iya mas, Vira tunggu! Hv Nice Day too! Jgn lupa mkn  J

Langit-langit kamar bersenandung:

Aku jatuh cinta.. takdir aku hidup denganmu

Menjalani cinta sehati dengan mu

Aku jatuh cinta.. hidup ini indah karenamu

Pengabdian cinta sepanjang umurku hidupku

( Krisdayanti: pengabdian cinta)

 

(Nia_ba’da subuh: terinspirasi dari sebuah curhat mengenai rasa yang salah..)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: