Oleh: niadp | Oktober 18, 2008

Akhwat Heart 2 Heart

Akhwat Heart to Heart

Ketika mereka bertanya siapa

Maka kujawab: wajahnya belumlah terlukis

Namanya belumlah tertulis

Jiwanya tak teraba

Bahkan tak berani sedikit membayang rupanya

Duhai wajah cinta..

Dimanapun Allah menempatkanmu

Ku harap engkau seseorang yang bijaksana

Nan lembut hatinya

Peneguh ulung saat jiwa merapuh

Memberkahi tiap langkahku dengan ridho mu

 

Wajah cinta ku dimana saja dirimu berada

Kuharap engkau seorang yang sederhana saja

Tak tinggi karena harta

Tak angkuh karena hormat dunia

Menyatu dengan tanah selayaknya manusia tercipta

Apa adanya seadanya kau berada

 

Wajah cinta ku dimana pun adanya dirimu

Seperti inilah adanya diriku

Tak kan pernah kau dapati diriku sempurna

Berkubang cacat menghias jiwa raga

Namun, disini ku menjaga

Menjaga seberkas gumpalan hati

Agar tak kelam bernoda

Yakin diri ini tak sesoleh Khodijah

Yakin diri ini tak seistimewa Aisyah

Tapi biarkan aku puas berjuang dalam penjagaan hati

 

Disini menanti..

Hadirmu yang masih bias tertutup tirai takdirNya

Hanya menanti dirimu

Tanpa mau mencoba mereka-reka wujudmu

Hanya menunggumu

Tanpa mau bermain dengan hati-hati yang lain

 

Ketika mereka bertanya siapa

Aku tersenyum dan menggeleng

“ Sesungguhnya aku pun tak tahu”

dia masih menjadi rahasia-Nya

secarik do’aku : Ya Allah, aku titipkan keberadaannya pada-Mu

( Spesial untuk dia yang teguh menjaga hati..)

 

* * *

kaget aku mendapati tanganku sakit dicubit seorang teman di sebelahku. “ Eh, si Pdr tu udah nikah belom sih? Sebuah tanya meluncur setelah peristiwa pencubitan tadi. yee.. nanya aja pake acara nyubit segala. Kugelengkan kepala menyatakan ketidaktahuan. Tak kujawab panjang lebar karena pada saat itu sedang mengikuti pembekalan PPL. Lalu temanku itu menarik tubuhku sambil menunjuk ke arah luar. “ tuh, cewek yang disebelahnya tu siapa, kok mesra amat”, sambungnya. Hmm.. ku paksakan diri melongok keluar dan Masya Allah.. iya nih, asli PDA (Public Display Affection), kulihat Pdr sedang duduk bareng seorang cewek, dekaatt sekali. Gk perlu dijelasin lah ya, yang jelas lengket dan mesra. Sebenarnya sih aktivitas khalwat dan ikhtilat seperti itu termasuk kategori “ udah biasa dan udah banyak” jama’ahnya. Hanya saja yang menjadi kekecewaanku adalah sang cewek itu seorang Jilbaber dengan jilbab panjangnya. Di depan umum aja berani gitu, gimana di kesunyian. Diketahui bahwa si cewek adalah seorang mahasiswi luar pulau ( akhwat seberang yang notabene mustinya bisa kasih contoh yang baik karena mengenyam pendidikan di kota besar yang disebut sebut sebagai kota pelajar) . ih.. sebel.. kok gitu ya!

 

Dalam kesempatan lain, seorang teman cowokku menunjukkan beberapa fotonya sedang jalan-jalan kesebuah tempat dengan “calonnya”. Wow.. mesra deh pokoknya. Again! Aku musti kecewa lagi nih.. si cewek adalah seorang jilbaber, tapi dia rela foto dengan adegan pelki-pelka (peluk kiri,peluk kanan). “ Jangan diturut ya Nia, biar aku aja yang banyak dosa hehe..” celoteh temanku itu. Pfff.. how come? Temen cowokku itu bukanlah orang yang awam “ilmu agama” bahkan aku kalah jauh pemahamannya di banding dia. Bahkan dia pernah “mencecar” ku untuk tidak show off ilmu (kasarnya: jangan sok pinter deh! Tiap orang tuh bisa bicara masalah agama). Meski sebenarnya aku sendiri tak pernah bermaksud show off tapi lebih ke “berbagi”. Bukankah aplikasi ilmu adalah amal? Pokoknya Balighuu Anni Walau Ayah … aku akui dirinya adalah seorang ustadz, guru ngaji, penceramah dan murobbi dengan ilmu agama luar kepala. Disitulah letak kekecewaan terbesar ku. Tapi kok gitu ya..! hhh.. nggak penting deh statusnya ustadz tapi hatinya tak berpadu dalam ke-ustadz-an. Buruan merit aja deh..! daripada terjadi hal-hal yang dikau “harapkan” ( $#@@@@*&^%$#@!)

 

That was the reality. Aku tak bisa menutup mata atas segala kenyataan yang ada.

 

Ketika aku berkesempatan “jalan-jalan” ke kota Palembang di hari minggu, nampak suasana jalan yang sepi sekali. Kutanyakan apa sebabnya, karena biasanya hari minggu adalah waktunya anak muda nge-date. Eh.. tenyata jawabannya adalah: “ada tempatnya tersendiri”. Dan ketika aku sampai disuatu tempat yang ramai oleh muda mudi, barulah aku tahu “sesuatu”. Astaghfirullah.. pantesan bencana tak kunjung usai, ternyata… bumi telah bosan diberati makhluk “pembuat maksiat”. Seandainya kita menelusuri awal penciptaan manusia dari tanah. Kini aku paham mengapa si tanah sempat menolak dijadikan bahan dasar “penciptaan manusia”, karena mereka tidak mau menjadi bagian dari makhluk Tuhan yang sebagian nantinya akan masuk NERAKA.

 

Aku tahu…

Betapa susahnya menjaga hati. Betapa susahnya berada dalam koridor yang syar’i. beberapa kali aku terkagum-kagum dengan sosok jilbaber yang begitu teguhnya menjaga diri. Namun di sisi lain aku merasa ditampar melihat akhwat-akhwat yang “nyeleneh”, seolah tak menyadari dengan “konsekuensi dari keputusannya berhijab”. Padahal menurut opini publik, akhwat jilbab lebar adalah seseorang yang dianggap sebagai pribadi yang terkondisi dalam kesolehan tutur kata, perilaku dan kesehariannya serta pemahaman agama secara kaffah (meskipun tidak-lah seperti itu kenyataannya). Akan tetapi, dengan opini tersebut akan membuat kita (para jilbaber) lebih tertantang untuk menjaga citra diri (image). Kasihan kan mbak sama jilbabnya, nggak salah tapi akan dipersalahkan jika yang make tidak mau menjaga. Iya khan!

 

Hingga kini aku bersyukur menjadi diriku sendiri, bersyukur terlahir jadi orang biasa dan sederhana, terlahir dari keluarga yang bersahaja pula. Di bekali sedikit pemahaman agama tapi selalu diusahakan untuk bisa merealisasikannya. Aku beruntung terjaga dalam kelompok tarbiyah yang solid, meneguhkan dan mengingatkan. Aku takut kehilangan apa yang aku yakini sekarang. Seperti saat mendengar curhat teman tentang “perubahan drastis” fashion style dan perilaku seorang akhwat menjadi seorang cewek yang “lebih” ( lebih pendek jilbabnya, lebih ketat bajunya, lebih tak terjaga hijabnya dsb) atau aktivis dakwah yang turut pula menjadi aktivis PACARAN. Betapa seringnya aku mendengar berbagai “cerita akhwat” yang melenceng dari yang seharusnya.  Tiba-tiba aku merasakan suatu ketakutan. Takut jika aku mengalami hal serupa dengan kasus-kasus di atas, takut jika suatu hari aku terjerembab dalam “perubahan” kearah negatif, takut tak bisa menjadi jilbaber yang istiqomah. Meski tiap pribadi di bekali hidayah, namun semua tergantung pada kepekaan diri untuk menangkap sinyalnya. Ya Allah.. Save Me Wherever I stand. Wherever I go. Karena saat ini aku adalah Seorang BaLiTa, yang mencoba belajar mencari hakikat hidup. BaLiTa yang masih harus banyak-banyak belajar dari uswah-uswah di sekitarnya, belajar memilah dan memilih. Belajar.. belajar dan belajar…

 

Note: Tentang puisi di muka adalah satu bentuk peneguhan untuk seorang teman yang “rindu” something. Yakinlah, Allah akan memberikan yang terbaik kepada hambaNya yang selalu berusaha menjadi insan terbaik pula. Sabar aja ya Ukh! Gk perlu tergesa-gesa memutuskan, paket “ kotak ajaib” itu pasti nyampe juga, cepat atau lambat tergantung pak Posnya hehe.. you are in the right way, so be patient!! Jika engkau lelah dan berpeluh, ingatlah bahwa Allah selalu membalas tiap jerih payahmu dengan memberikan kado terindah PADA WAKTU YANG TEPAT.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: