Oleh: niadp | Oktober 6, 2008

Syawal nan Biru

Hatiku Membiru di Bulan Syawal

 

Hidup syar’i selalu tak gampang

Istiqomah pa lagi

Diusahakan pun lebih banyak tersalah apalagi kalo nggak…

Hatiku membiru

* * *

Silaturahim di bulan syawal bersama temen-temen holaqoh kembali memberikan banyak kisah baru yang sayang untuk dilewatkan (terutama sekali untukku). Moment-moment kebersamaan bersama anggota Mar’ah muhajirah emang 100% membawa kebahagiaan tersendiri. Banyak perbedaan diantaranya namun begitu indah jika dalam satu kesatuan. Duh.. mustinya aku tak perlu “menyembunyikan diri” lagi dan siap berteriak lantang “ Mundurlah yang ingin mundur. Berhentilah bagi yang tidak kuat bertahan, silahkan bagi yang ingin mengalami kefuturan. Aku.. masih ingin disini, di jalan dakwah ini. Sampai kemenangan menjadi NYATA atau SYAHID memuliakan diriku (Ngutip kata-katanya HASAN AL BANNA)”. Udah saatnya go public ah!!! Tapi lagi-lagi aku harus mengakui, saat ini pun aku masih terus dalam kebingungan dan masih meraba-raba dalam melangkah. Kurang TEGAS. Definisi tegas itu sendiri oleh temanku diartikan: TEGAS= BERANI AMBIL KEPUTUSAN=TEGA. Pfff,,, cape”deh, realitanya aku orangnya “nggak tegaan”.

 

* * *

eh ya,, mo cerita NIH kalo murobbiku tuh sekarang udah nikah. Jadi pesennya bukan La Tahzan lagi tapi La Tansa ya Ukh ma anak didiknya he..he.. meskipun sang suami yang datang menikahinya tidak sendirian tapi memboyong 2 anak dalam kehidupan sang murobbi (isteri pertama nya meninggal-red). Whateverlah, kita-kita sih asyik-asyik aja, gk da niatan buat ngata-ngatain kok.. malah seneng dan ikut bahagia.

So, silaturahim kali ini berbeda-lah, si mbak udah menikah jadi banyak perubahan. Diantaranya: rumahnya pindah (lebih jauuuhhh,, namanya ikut suami, walau keujung dunia juga harus diikuti), gk bisa lagi dipaksaian untuk konvoi silaturahim bareng kita-kita karena lebih prioritas acara keluarga ( apalagi keluarganya 3 pihak: dari almarhum isteri pertama suaminya, keluarga suaminya sendiri dan keluarganya sendiri). Jadi harap maklum kalo para mutarrabbi yang notabene still single ini harus puas silaturahim “mandiri”.

 

Ini pertama kalinya aku mengintip suasana rumah murobbiku, pas datang si mbak lagi njemur pakaian bareng suaminya ( mungkin lagi acara nyuci bareng kali ya..). ssttt.. ini yang seringkali membuatku takjub saat melihat seorang laki-laki yang menanggalkan”kesombongannya sebagai pemimpin” dengan tak sungkan membantu pekerjaan rumah tangga.

“ udah, tinggalin aja, biar Abi yang nerusin”, kata sang suami.

Oh My God.. so sweet, absolutely bijaksana, gk bakal nyesel deh mbak nikah sama orang yang bijak kayak gini.. apapun status yang disandangnya.

Selanjutnya…

Mengalir banyak cerita-cerita tentang betapa bijaknya sang suami, betapa ringan tangannya beliau, betapa sabarnya, betapa… betapa.. dan betapa lainnya.. ternyata banyak hal aktivitas yang dilakukan mbak sebagai Ummi jadi pake kata “ bareng “ diujungnya ( nyuci bareng, masak kue bareng dsb). Nih dia contoh suami teladan. Hayo kasih keprok-keproknyaaa.

“ Mbak bersyukur dapet suami gitu”, puji murobbiku.

Syukur Alhamdulillah deh kalo gitu dan semoga kita-kita juga bisa dapat “yang kayak gitu”. Iri.. iri.. iri… eits hati berhentilah ber- iri hati.

 

Pelajaran pertama yang aku dapat :

Allah selalu menyediakan waktu, tempat, suasana, rasa, kado terindah, hidup yang terbaik buat hamba-Nya yang berusaha menjadi insan yang terbaik. Segala hal yang menjadi ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk kita. Siippp!!!

 

* * *

Next, dalam sebuah perjalanan di bulan syawal aku melihat fenomena tentang jodoh dalam real story. Aku bertemu dengan Seorang ikhwan yang –menurutku- sangat ganteng, manis, ikhwani, pokoknya Oke-lah ( aku jarang lho bisa muji ikhwan kalo gk bener-bener OK), disertai seorang akhwat (–isterinya-) dengan penampilan yang biasa saja, bahkan terkesan sangat sederhana, apa adanya, polos dan sedikit sulit untuk masuk kategori “cantik secara fisik” ( afwan ya mbak.. gk da maksud buah menghina atau mngecilkan..). mereka nampak mesra, sang suami pun tak nampak merasa “dapet musibah”.  Mereka masuk kategori keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah ( maklum Penganten Baru dan mudah-mudahan selalu memperbarui tatanan rumah tangganya). Disini aku sedikit tercekat, seringkali aku menyatakan bahwa dimana-mana ikhwan tu selalu aja mengkriteria pada penampilan fisik. Apalagi dalam mencari isteri yang dicari adalah yang cantik, pinter, solehah. Tapi kali ini pula aku harus meralat itu semua. Ternyata : TIDAK SEMUA LAKI-LAKI.. nih contohnya. Setahuku banyak akhwat-akhwat yang lebih cantik dari si mbak tadi dalam sirkulasi tarbiyah. Sang ikhwan bisa ber-taa’ruf dengan akhwat lain dalam jaringan tarbiyah ini (afwan.. diriku tidak sedang emosi atau memendam perasaan iri lho..). Tapi tidak dengan ikhwan ini, dirinya berbeda, dialah sosok ikhwan yang melihat akhwat dari sisi yang berbeda. Ternyata, kecantikan tak selalu bisa diandalkan. Halo akhwat-akhwat cantik.. jangan merasa cukup dengan sekedar cantik. Cantikmu tak menjamin untuk mendapat ikhwan yang OK luar dalem ( catet!!!!).

 

Akhirnya aku sadar, apa sih yang bisa dibanggakan dari diriku. Tiba-tiba aku merasa jauh lebih jelek dibanding mbak akhwat itu. Aku yang sering rapuh iman, futur dan berbagai kelemahan iman menghiasi perjalanan hidupku. Ugh.. lihatlah mbak itu bisa mendapat yang terbaik saat dia mampu memberikan yang terbaik untuk Maha Penggenggam Hati.

 

Pelajaran berikutnya:

Wanita cantik melukis kekuatan lewat masalahnya, tersenyum saat tertekan, tertawa di saat hati sedang menangis, tabah di saat terhina, mempesona karena memaafkan. Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih dan bertambah kuat dalam do’a dan pengharapan.

Mampukah aku????  Seperti mbak itu., Cantik karena akhlak, ketaatan dan kesolehan.

 

* * *

lalu .. kumpul-kumpul JOJOBA sambil silaturahim satu sama lain. Cerita-cerita yang tersembunyi pun terkuak jua.

  ngerti nggak dengan sindiran di rumah umi tadi,” kata salah satu mbak ku –anggota pengajian-

mmm.. coba inget-inget lagi, tadi pas kami maen kerumah seorang yang sama-sama kami panggil UMI emang sempet ada kata-kata kiasan yang terlontar, “ Nah, ini dia rombongan yang bakal segera walimahan, abis murobbinya nular ke lainnya”.

“ tau gk sih.. mbak nih udah ta’aruf pas Ramadhan kemaren?” lanjut si mbak sambil senyum-senyum,

“Hahhhh.. kok gk bilang-bilang!! Curaaangggg!! Pekik yang lain terkaget-kaget

wiiihhh.. setelah itu seru deh cerita tentang proses taaruf mbakku ini.

 

Flashback dikit ya.. several months before

Mbak ku ini pernah curhat sama murobbi tentang “titipan rasa” nya terhadap seorang ikhwan. Kalo dilihat dari caranya bercerita nih sepertinya gejolak yang dirasa itu udah nyaris jadi tsunami. Duahsyaaattt pisan !. bahkan terlintas di pikirannya suatu perandaian “andaikan dia jadi suamiku, betapa bahagianya aku”. Wah.. gawat udah akut nih.. musti masuk emergency gawat darurat. Tapi tenang.. di tarbiyah pastinya hal yang seperti ini akan ditanggapi serius dan segera dicarikan jalan secara syari’ah. Apalagi sich selain proses ta’aruf. Don’t worry mbak be happy.

 

Setelah curhat-curhatan itu tak kudengar kelanjutan kisahnya, mmm.. mungkin aku nya nggak “care” atau telinganya kurang panjang hee… dan tak ayal lagi kalo aku dapet “big surprise” di lebaran ini mendengar si mbak udah taaruf dan dikhitbah. Alhamdulillah.. subhanallah!! Uniknya, si ikhwan itu sendiri sebenernya udah dijodohin dengan beberapa akhwat yang kata mbak ku “secara faktor bla bla bla”  lebih baik levelnya, tapi si ikhwan keukeuh milih Mbak ku dong!! (secara emang orangnya manis dan baik ati). Lagipula aku nggak rela kalo mbak ku musti kalah dalam pertempuran ini (eits.. siapa yang lagi tempur neh..)

 

Ngintip dikit yukk kisah ikhwan –akhwat tersebut  yang sukses berta’aruf di bulan Ramadhan kemarin. Mereka tuh ternyata udah sahabatan luama. Entah kenapa mereka seringkali berantem kalo lagi terlibat perbincangan dan terlontar satu kata dari si ikhwan kalo mbak ku lagi kesel (kalimat ini maknanya dalem dan diinget terus sama mbak ku) “ eh.. gk boleh marah, entar kita jodoh lho…,”. Guess what?? Aneh sih.. unik banget.. dalem dan ugh.. gk nyangka. Yang lebih unik lagi mereka berdua tu sebaya dengan tanggal-bulan-tahun lahir sama persis. Subhanallah!! Ketika Cinta Bertasbih dong! ( hee.. apa hubungannya).

 

A Dream Comes True.. itulah kata-kata yang paling tepat untuk melukiskan kisah salah satu temen holaqoh ku. Terlihat ada “Invisible Hand” bermain disini. Itulah fenomena jodoh. Siapa yang bisa menentukan kapan akan menemukan jodoh dan siapa jodohnya. Hanya Allah yang tahu. Seperti aku yang jika ditanya tentang taget menikah dan kapan akan menikah, maka hanya kujawab dengan seyuman termanis yang aku punya dan dilanjutkan dengan kata “It’s out of my authorithy. Dalam hati boleh meminta, mengkriteria atau mengharap namun Jodoh dari surga itu dikirmkan Allah berdasarkan apa yang lebih kita butuhkan bukan yang kita minta (coba aja baca Novel Jodoh dari Surga). Tetapi banyakdiantara kita lebih memilih “icip-icip” sembari menunggu pendamping hidup. Aktivitas “icip-icip” itu lebih dikenal dengan nama PACARAN. Padahal, seperti sebuah puasa panjang dan akan terasa indah disaat berbuka dan akan lebih baik jika sembari menunggu buka puasa tidak melakukan hal-hal yang bisa mengurangi nilai puasa. Paham khan maksudnya.. setuju nggak setuju deh tapi orang yang jatuh cinta tidak akan masuk surga kecuali ia bersabar dan menjaga kehormatan diri (iffah) karena Allah dan menyimpan cintanya karena Allah(HR.Ibnu Abbas). Seperti kisah mbakku itu lho.. betapa Allah mendengar bait-bait do’anya tentang kelemahannya menjaga hati, betapa Allah dengan ke Maha Baikan Nya memudahkan jalan untuk menyempurnakan setengah Dien hamba-Nya. so, nikmat-Nya yang manalagi yang akan kita dustakan.

 

Apalagi…

Ternyata sang ikhwan satu sekolah denganku. Waduh.. dasarnya aku orangnya “super cuek” kiri kanan (kebiasaan jelek ini memang harus segera dimusnahkan deh), padahal mungkin aku sering interaksi. Oow..sepertinya setelah ini aku punya kerjaan baru yaitu hunting-hunting “wajah calon mbak ku” di sekolah. Tenang mbak..! tak kan berpaling darimu kok.. Cuma pengen tau.

 

Pelajaran penting yang harus aku catet :

Cinta yang sehat mendidikkan kecerdasan,kematangan emosi,ketenangan hati dan kedewasaan berpikir.ia mengajarkan kesabaranmenahan syahwat atau membingkainya  dalam ikatan suci yang di ridhoi. ( Salim A.Fillah dalam bukunya Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan).

 

* * *

Pff.. rangkaian moment-moment di bulan syawal membekaskan nokhta biru di hati ini. Betapa Allah membelai hamba-Nya dengan banyak cara. Lalu.. apa yang membuatku tak bersyukur. Tiap insan punya lukisan hidup yang berbeda. Mustinya percayakan semuanya pada Allah. Seorang teman mengirimkan sms kepadaku:

Aku meminta kepada Allah bunga segar, Dia beri aku kaktus berduri

Aku meminta kepada Allah hewan mungil nan cantik, Dia beri aku ulat bulu yang gatel

Aku sedih.. kecewa.. protes, betapa tidak adilnya. Tapi kemudian.. kaktus itu berbunga sangat indah sekali, ulat bulu pun berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya. Walau kadang sedih, kecewa, terluka, tapi jauh diatas ketidaktahuan kita, Allah sedang merajut yang terbaik bagi kehidupan kita. Allahu Akbar. Semoga kita termasuk golongan hamba-Nya yang bersyukur.

 

Di persimpangan Dilema: bingung bertutur, bingung menetukan tapi aku yakin Allah akan segera membuka tabir hikmah di setiap kejadian. Be Patient! Sabarlah ya ukh.. ana uhibbuki fillah..

Last..

Ukhti fillah sekalian (especially kelompok holaqoh ku yang masih “dalam penantian”) tenang aja, taukah bahwa anggota kita adalah akhwat yang manis-manis dan kalaupun “seperti kata umi” bakal saling menularkan keberkahan, liat aja who’s the next. Dan sebagai anggota termungil, ana siap disalip duluan he..he.. ngalah deh sama yang tua. Please Keep Spirit Dengan Luapan Iman Ya..

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: