Oleh: niadp | Agustus 1, 2008

Satu Hari di Hari Minggu

Minggu, 27 Juli 2008

Minggu ini terasa berbeda hingga ingin ku ceritakan perputaran hari dengan sedikit berkisah.

Dapet undangan walimahan seorang teman SMA. Bingung korek-korek no Hp temen SMA yang bisa dihubungi untuk diajak bareng ( Hii.. ketauan deh jarang silaturahim). Terlihat sebuah nama di phone book, iseng-iseng nyobain ngirim SMS buat mastiin biar gk salah sasaran. Alhamdulillah bener. “Mo bareng ya kak, nti dijemput” begitu responnya menerima sms ku. Teman-teman SMA ku dulu memang banyak yang membahasakan panggilan “kakak” padaku dan beberapa nama lainnya, entah dimaksudkan untuk apa yang jelas tak mengenal rentang usia apakah lebih muda atau lebih tua. Itu cerita SMA yang masih terbawa sampe sekarang, yang terkadang membuat orang terkaget-kaget “lho kok mungil-mungil dipanggil kakak sama yang ukuran usia dan bodi nya lebih gede hi..hi.. pokoknya begitulah, there is no special reason. Mungkin lebih enak kalo punya panggilan sayang biar lebih akrab. Kalo SMP malah dipanggil “si centil imut-imut” ( panggilan yang nggak begitu aku sukai karena aku nggak pernah merasa centil deh,, klo imut-imutnya bolehlah.. hi..hi.. nawar ajah)

 

Serasa dapat durian runtuh ( tapi untung nggak kena di kepala, malah gk bisa ngehadirin walimahan dunk!!!), enak bener diriku dapet fasilitas jemputan. Kesepakatan dibuat: pagi nggak bisa, siang ngaji maka sore terpilih jadi waktu yang ‘pas’ buat silaturahim.

 

Pengajian dimulai jam 2. materinya membahas tentang: FUTUR yaitu bisa diartikan sebagai malas/mengendur/tidak semangat/ bosan  yang menimpa seseorang untuk berjuang di jalan Allah. Bahasan yang menarik. Hingga tak terasa setelah pending sholat Ashar pun tetep lanjut, lupa waktu deh pokoknya. Ditambah lagi saat sesi curhat, ada seorang mbak curhat tentang……… guess what?? Ya Allah.. aku jatuh cintaaa!!!! Jatuh cinta yang kata orang rasanya ada berjuta-juta mulai dari rasa capucino sampe rasain lo… Dari curhatan itu diriku belajar banyak hal. Wejangan-wejangan yang diberi MR membuatku lebih ngerti bagaimana me-manage perasaan. Cinta itu fitrah, tinggal bagaimana pinter-pinternya kita mengekspresikannya. Speechless.. demikian komentarku. Karena diriku sendiri nggak punya pengalaman yang sangat “luar biasa “ seperti mbak ku itu. Sampe badannya dingin dan gemetaran gitu. Because of the power of love kayaknya mbak he he.. mbak.. mbak.. siapa sih nama ikhwan itu??? Ikhwan.. ikhwan.. bisa-bisanya membuat jantung mbak-ku ini berdegup kencang saat menceritakan tentang titipan rasa di hatinya. Satu kata “ Dahsyat”.

 

Perputaran jam tak dihiraukan. Hp ku memekik singkat. “ Kak, dah siap blm? Mo djmpt nih”. Ya Allah… lupa. Kulirik jam sudah menunjukkan pukul 5 tepat. Emang kalo udah ngumpul gini suka lupa waktu pulang. Bergegas mengisyaratkan menutup holaqoh tapi gk nyambung-nyambung. Gelisah dalam batin, sampe disodorin sebuah sms pke kertas sama salah satu temen holaqohku “ gelisah amat neng, ada apa sih?”, kubalas “ udah ditunggu temen dirumah”. Akhirnya holaqoh ditutup. Lega.. syukron. Layaknya kereta ekspres secepat kilat tergesa melarikan diri dari arena holaqoh. Acara cipika-cipiki pun tak semesra minggu-minggu sebelumnya😀 , bahkan tak sempat say good bye untuk beberapa orang yang ku kenal saat melintas di kelompok holaqoh lain. Buru-buru amat Bu! Hee.. Afwan for All.

 

Sesampainya dirumah, ngegubarakin isi tas sembarangan karena temanku itu udah “memelas” sekali nungguin. Rada kesorean sih kalo mo dibilang kondangan jadi lebih diniatkan silaturahim aja. Sopan nggak sopan pokoknya sopan-sopan aja meski tak mirip sopan sopian. Let’s go!!

 

Sebuah rumah di depannya dipasang janur kuning khas menunjukkan ada pesta walimahan disitu. Udah nggak lengkap lagi sih aksesorisnya karena sudah banyak yang diberes-beresi dan dibersihkan. Waduh.. sudah lama sekali aku tidak kesini. Terakhir main ke rumah ini sekitar kelas 3 SMA. Mana nih kedua mempelainya? Kok nggak ada di pelaminan (Ih.. ngelantur, ya jelas nggak ada, pelaminannya juga udah diberesin, mo disuruh duduk dimana). Akhirnya, satu sosok yang aku kenal kami temukan juga di dalam rumah. Yupp.. itulah teman SMA ku yang dengan tidak sopannya telah mendahuluiku he.. he.. iri kok dipelihara. Sore itu menjadi moment reuni kecil-kecilan. Kebetulan si suami barunya ( hee.. baru satu maksudnya) lagi mobile keluar. Interogasi dimulai!!. Mungut dimana suaminya, bu?? ( GK SOPAN ++++), liat fotonya donk! Nih.. cerita sang mempelai dalam perjalanan “mungut” suaminya itu:

Sebuah foto disodorkan, lalu dirinya mulai bercerita mulanya kenalan sama si pemilik foto bahwa beberapa bulan yang lalu ditawari ta’aruf dengan seorang ikhwan yang usianya 15 tahun diatasnya ( gpp, namanya juga jodoh) yang bener-bener mo nyari isteri. Disebabkan temenku ini masih sedikit belia dan masih kuliah pula, maka sedikit ragu. Lalu sang perantara-pun menyampaikan pada sang ikhwan mengenai keraguan itu sembari menyerahkan foto temanku itu ( foto tercantik tentunya ya Ukh!!) sekaligus mengisahkan latar belakang kehidupannya. What’s the next move, berhentikah ikhtiar sang ikhwan? Oh.. ternyata tidak saudara-saudara. Justru more excited katanya. Proses berlanjut dan akhirnya melunturkan keraguan. Kesimpulan terakhir: Diterima. Gimana?? Ok khan. Dooo.. kasih keprok-keproknya dulu yukkk!!

 

Senyum-senyum.. Kita yang mendengar turut bahagia tentunya. Paling tidak muncul satu cerita syar’i lagi di muka bumi ini tentang proses pencarian pendamping hidup. Ups.. suaminya datang. Ooo.. itu dia orangnya, mirip banget satu sama lain. Kesan awalnya ‘Jawa Bangettt’ @$%*&^. Pas.. sekufu. Temanku ini juga orang jawa. Kata orang, orang berjodoh itu mempunyai kemiripan yah. Berhubung suaminya udah datang, stop deh ceritanya. Berganti dengan cerita laen. Mulai dari itung-itungan umur, berat badan dsb.. (apa hubungannya?#@!*). Dan.. giliran diriku-lah yang diinterogasi sang mempelai. Kalo dari itung-itungan umur kan diriku lebih muda beberapa bulan, nah.. berapa bulan ke depan harusnya bisa menyusul temanku ini, bahkan dia bilang sudah nyium bau-baunya orang mau nikah ( yee.. dikira gampang tapi dalam hati berbisik : Allahumma Amin ). Jadi inget curhatan “mbak ku” sebelumnya yang lagi terpanah pada satu sosok, tapi tidak denganku. Diriku sedang menjaga kekosongan dan ke-netral-an hati dibarengi kepasrahan kepada Allah: siapapun jodohnya nanti, biarkan Allah saja yang mempermudahkan jalannya tanpa diriku harus membantu mencarikan jalan. Mencoba menutup semua celah yang tidak diperbolehkan secara syariat. Biarkan menjadi puasa batin yang suatu hari akan tiba saat “berbuka”nya. do’akan ya ukh..

 

Flashback ke masa-masa SMA, ada sedikit hasil dari reuni kecil itu. kata temanku ada perubahan dari diriku. Kata mereka sih : tambah manis ( ciee.. mau banget), lebih suka guyon ( hmm.. diriku baru tahu kalo dulu bawaan ku terlalu serius dan sulit di ajak candaan. Emang sih, sekarang lebih mencoba untuk selalu easy going, nyantai, relax), dan sudah mulai bisa bahasa jawa dikit-dikit (hee.. kursus dimana neng?! Untuk yang satu ini mungkin disebabkan terlalu sering kumpul dengan komunitas orang jawa yang dengan teganya selalu meledek, sms atau ngobrol pake bahasa jawa. Disebabkan tidak mau dipermainkan secara “bahasa”, maka mau tak mau mulai mencoba beradaptasi layaknya gula dan air panas yang akan menjadikan air terasa manis. Kalo sepatah dua patah kata Oke lah -meskipun lebih sering diketawain-tapi kalo disuruh nulis skripsi pake bahasa jawa.. itu yang Wo Puk Ce Tao) serta perubahan- perubahan lain yang tidak bisa disebutkan semua. Daripada di vonis NARSIS( ?#@%&*^@!). Anyway, teman-teman SMA ku jadi a bit little amazing atas perubahan itu.

 

Sudah terlalu sore untuk melanjutkan cerita yang tentunya tak habis diceritakan. Pamit pulang menjadi jalan terbaik ( apa sih..) soalnya diriku sudah dicubitin sama si adek (temen yang manggil diriku kakak itu). Dalam perjalanan pulang, kami ribut berbincang tentang hal yang dibahas di rumah “pengantin baru” tadi. sampai akhirnya si adek bertanya “ tadi habis darimana kak??”. “ Ngaji”,jawabku. Tiba-tiba menyembur sebuah pengakuan bahwa dirinya udah lama nggak ikut tarbiyah, udah lama ninggalin qiyamul lail, sholat wajibnya keteteran dsb. Tes.. setitik air bening jatuh dari sudut matanya. Duh.. diriku 100% absolutely tak menyangka. Dirinya.. yang aku pikir jauh lebih “akhwat” dariku, memendam banyak kegalauan batin, dilema batin dan konflik keluarga yang membuatnya tersesak dalam isakan. Duh.. kemana saja aku selama ini tak memperdulikannya. “ Aku mau ngaji lagi, masih bolehkah??. Of course, honey, dengan senang hati. Kujanjikan minggu depan akan mengajaknya ngaji bareng dan berusaha untuk bangunin buat QL dsb. Futur.. kondisi itu yang sedang dihadapinya. Pas dengan materi holaqoh hari ini. Kondisi futur itu memang milik semua orang, tapi kita harus bangkit dan tak boleh terlus terlena “ berleyeh-leyeh” demi memperturutkan ke-Futuran itu. Dalam hatiku berbisik : Ya Allah, jagalah aku dikala futur

 

Minggu ini aku merasa banyak mendapat pelajaran baru, suatu pencerahan di kala aku mulai bosan dengan segala aktivitas yang ruwet, dikejar waktu dsb. Duhai Allah,, minggu ini menjadi titik tolak sebuah tekad untuk selalu menjaga kestabilan jiwa untuk selalu berada di jalan-Mu dan terakhir Rabbul Izzati anugerahkan pendamping yang bisa menjadi pemimpin yang adil serta menjadi qurrotaa’yun bagiku. Seperti seutas do’aku di penghujung sholat: Robbana Hablana Minazwajina Wazurriyatina Qurrotaa’yun waj alna lil muttaqina Imama (Al Furqon:74) -Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa Amin. Ku akhiri weekend ku dengan sebuah senyum di sudut bibir agar tambah manis semanis nikmat kebersamaan dan kesamaan atas Ridho-Nya. Kenapa langit sore terlihat mendung?? Tentu saja, mataharinya kan sudah pindah ke hatiku. ( Me.. in one afternoon )

 

Meskipun ceritanya nggak nyambung satu sama lain, up to me-lah ya…..🙂

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: