Oleh: niadp | Agustus 1, 2008

Profil Akhwat Sejati

Nia, coba kasih gambaran tentang akhwat sejati, ditulis dikertas seperti apa akhwat sejati versi nia. Harus ditulis tangan nggak boleh diketik. Waduh.. kesannya maksa banget yach! Tapi itulah permintaan dari seorang temanku. Yah..salahnya sendiri punya sahabat tempel. Ok deh.. let me think and imagine first………………..

 

Profil akhwat sejati?? Hmm.. sulit untuk dijabarkan karena tidak ada rujukan khusus yang  membahas mengenai profil akhwat sejati atau mungkin aku-nya aja yang kurang baca dan pengetahuanku yang terbatas tak bisa menguraikan profil akhwat sejati secara teoritis. Jadi ya kesimpulannya.. ngarang bebas aja deh. Menurutku, kriteria akhwat sejati itu sendiri sifatnya ‘abstrak’, maksudnya entah dinilai dari sudut mana agar bisa mengidentifikasi satu sosok bisa dikatakan ‘akhwat sejati’. Kalo dari penampilan yah.. standarnya sih berjilbab lebar, pake gamis atau setelan rok dipadu baju-baju longgar khas ‘akhwat fashion style’ (cieee..), dilengkapi kaos kaki dan manset serta jalannya menunduk ( maksudnya Ghodul Bashor gitu! ). Yang seperti itu biasanya baru bisa masuk kategori akhwat ( katanya sich!). Tapi apa iya Cuma itu ? tentu tidak ( he he ingat slogan iklan: anak ibu cacingan?? Tentu tidak). Ada faktor-faktor lain yang juga ‘abstrak’ menyelubungi sosok sang akhwat ( duh.. bahasanya gaya). Didukung oleh faktor-faktor abstrak itulah yang bisa membuat seorang akhwat menjadi akhwat bangetttt ‘t’ nya ada 300. Apa ya?! Again.. let me think and imagine..

 

Simple aja, sepertinya akhlak dan kepribadian-lah yang bisa menjadi titik tolak penilaian tentang seorang akhwat bermula. Cerminan keseharian yang dipantulkan oleh muslimah menunjukkan kedalaman pemahamannya terhadap zona islam yang kaffah. Dia berjilbab didasari pengetahuannya tentang perintah berhijab, selanjutnya terus berproses menggali ilmu tentang bagaimana menjalankan ibadah dan beraktivitas sesuai dengan syari’at Qur’an dan sunnah, memperbaiki diri tiada henti dan tak lupa memercikkan pesona islami ke sekitarnya dengan cara menjadi suri tauladan yang baik. Seolah- olah memperkenalkan islam melalui tiap gerakan yang dilakukan dan tiap ucapan yang dilontarkan. Intinya, apapun yang ia lakukan taste-nya asli ramuan islami yang teduh, sejuk, ramah dan menyenangkan ( It’s so perfect anyway.. ). Bagaimanapun, dirinya merasa tak cukup ‘soleh’ sendirian tapi juga mempunyai target untuk menebarkan manfaat, bersatu dalam dakwah sebisa yang ia bisa, sekecil apapun bentuknya. Ilmunya mampu diterbitkan dalam amalan-amalan nyata.

 

Akhwat sejati tentunya bukan akhwat gadungan, bukan akhwat sekedar ‘panggilan’, apalagi sebagai topeng. Akhwat wanna be… tak pernah letih dalam menjalani prosesnya menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Dia pun butuh pasokan ‘gizi’ ilmu untuk mempertajam keyakinannya, meneguhkan pijakannya dan menguatkannya saat mengalami masa futur ( kondisi iman yang lagi anjlok, penurunan ghirroh berbuat baik dll). Segala hal yang ia punya disedekahkan di jalan Allah. Tak selalu berupa materi yang berlimpah tapi bisa berupa senyuman tulus, sapaan ramah menyapa, bisikan do’a penuh asa, pengorbanan ikhlas tanpa balas. Siapapun yang butuh pertolongannya, bibirnya berat untuk mengatakan “tidak”, tak kuasa menolak memberi bantuan jika di rasa ia mampu membantu.

 

Tawadzun ( seimbang) menjadi bagian dari konsep hidup seorang akhwat. Mengingat bahwa sang akhwat berdiri diantara banyak posisi yang harus dijalani. Dirinya sebagai hamba Allah, seorang anak bagi kedua orang tuanya, saudara bagi sahabat-sahabatnya, isteri bagi suaminya, ummi bagi anak-anaknya serta merupakan bagian dari kemajemukan sosial di lingkungannya. Di tiap posisi itu menuntut kesempurnaan perhatiannya. Butuh perjuangan yang gigih agar mampu meraih kesuksesan secara pribadi, sosial serta menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

 

Next, aku sendiri paling seneng liat akhwat yang smart. Cerdas gitu lho!!

Minimal nggak bego-bego amat lah ( afwan.. diriku juga nggak pinter-pinter amat kok, tapi seneng liat akhwat yang pinter he..he.. nggak fair ya). Cewek berjilbab kan akan lebih sering dapat pertanyaan, jadi kalo otaknya ‘Kocong’, nah lho!! Pokoknya, gk ada cerita deh.. akhwat yang saking ‘sederhananya’ menolak kemodern-an zaman. Lebih memilih jadi wanita ‘kemayu’ yang manut tanpa prinsip, malu-malu karena tak tahu dan hanya mampu tergagap dan senyum-senyum ketika dimintai pendapat mengenai suatu hal. Yee.. gimana bisa jadi akhwat militan. Wanita itu tiang Negara, jika baik wanitanya maka baik pula negaranya dan sebaliknya. Teruslah menambah ilmu sana sini biar nggak ‘tulalit’.

 

Tegas berprinsip merupakan karakter yang harus dimiliki akhwat sejati. Berjilbab tak lepas dari godaan. Bagaimana mengatasi dan bertahan dari godaan? Disitulah iman memainkan perannya. Tegas dan galak memang rada-rada beda tipis, tapi tegas perlu agar diri ini tak mudah dimain-mainin. Minimal, buatlah orang lain mengerti bagaimana memperlakukan dan menghormati wanita.

 

Selanjutnya, menata hati merajut akhlak. Akhwat sejati mempunyai stabilizer dalam hatinya yang bisa men-stabilkan segala peristiwa dan kejadian yang menimpa. Bagaimana respon yang dikeluarkan setelah menerima satu kejadian, seperti itulah cerminan akhlaknya. Bukankah akhlak itu adalah respon pertama kita ketika mengalami satu kejadian. Baiknya, ketika senang bersyukur, ketika ditimpa masalah bersabar. Kemampuan menata hati demi meredam gejolak emosi jiwa menandakan ketenangan batin, kalbu yang hidup dan keyakinan “La haula Wala Kuata Illa billah”

 

Sejatinya, tak perlu menuntut orang lain untuk mengerti kita, tapi paksalah diri kita untuk mengerti orang lain. Pupuk kemampuan untuk memaklumi kekurangan orang lain. Toh.. kita yang lebih paham, kita yang tiap hari sholat, kita yang ikut tarbiyah dsb, so jika kita bawaannya masih es moni-an eh.. emosi-an maksudnya, tak bijaksana menjalani hidup dan jauh dari keseharian yang islami, apa bedanya kita dengan orang yang nggak sholat. Tiap kita dibekali potensi emosi yang sama tapi bagaimana cara kita mengekspresikannya tergantung pada ‘pemahaman’ masing-masing individu. Apa enaknya sih dapet cap “akhwat judes”, akhwat cerewet, akhwat kompor meleduk (baca: gampang marah), apalagi akhwat manja (dikit-dikit merengek, cepet meleleh –airmatanya- kalo gk diturutin maunya). Duh.. rasanya nggak da salahnya menjadi akhwat tegar, mandiri, tegas namun bijaksana dan lemah lembut.

 

Mungkin paparan mengenai profil akhwat sejati ini terlalu sederhana atau terlalu sempurna untuk di aplikasikan, tapi yakinlah “where there is a will there is a way”. Selalu ada jalan, seperti air yang selalu mencari celah agar bisa terus mengalir karena jika tak mengalir maka akan menjadi air yang busuk dan tidak bisa dipakai untuk bersuci. Tak ada yang sempurna.. memang begitulah adanya namun cobalah untuk selalu menyempurnakan diri.

 

Selanjutnya…. Tambahin aja sendiri J

 

( saat merakit satu kalimat ke kalimat lain dalam proses mengurai makna akhwat sejati ini, diriku membayangkan satu bentuk wajah akhwat yang teduh, ramah dan menjadi figur contoh bagiku, aktif berdakwah, ummi yang baik hati, isteri yang soleha, sahabat bagi saudara-saudara disekelilinganya, psikiater jiwa. Pokoknya komplit.. Jazakillahu khoiron ya Umi )

 


Responses

  1. Subhanalloh, mdh2n qt smua bisa menjadi akhwat militan.. Muslimah yg tangguh. Insya Alloh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: