Oleh: niadp | Juni 23, 2008

Mengungkap Makna Berbeda di Balik Aktivitas Sholat

“ Perjanjian yang ada diantara kami dengan mereka adalah sholat. Maka orang yang meninggalkannya berarti telah kafir. (HR. an-Nasa’I, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

 

Bertanyalah pada hati ‘sudahkah kita sholat?’ jawabnya kebanyakan “ sudah kok… walau…. Gk on time, gk khusyu’, gk berjama’ah, gk beriring dengan sholat sunah, tanpa dzikir dan sebagainya. Ternyata sholat kita hanya sholat biasa, tanpa ruh, hanya berupa gerakan fisik ( sebenarnya hal ini lebih ditujukan kepada saya sendiri karena kemungkinan orang lain telah melakukan sholat dengan kualitas tinggi). Jujur saja, hati ingin sekali ‘mendirikan sholat bukan sekedar mengerjakan sholat’. Secara teori, paham betul bahwa sholat yang berkualitas adalah jika dengan melakukannya kita terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar..

 

Mengapa membahas mengenai sholat?? Karena saya sendiri seringkali kalah ketika ketika harus mempraktekkan teori agar sholat menjadi khusyu’. Padahal kita tahu pada saat sholat berarti kita sedang ‘ menghadap Allah’, tapi mengapa hati dan pikiran berpaling pada yang lain. Adakah yang lebih baik dari Allah??. Akhirnya saya berkesimpulan “ SHOLAT ITU BERAT DAN SUSAH”, lalu saya pun menemukan jawaban mengapa sholat itu terasa berat, sulit dan menjadi beban. Ya… karena saya sendiri belum melaksanakan sholat secara khusyu’.

 

Di sinetron Kiamat Sudah Dekat dikatakan sholat itu wajib tapi hati harus menemukan alasannya agar sholat menjadi khusyu’. Duh.. ternyata kita harus punya alasan yang kuat mengapa kita melaksanakan sholat. Untuk mengejar surgakah? Atau hanya karena kita orang islam yang mau tidak mau secara budaya dan ritual memang seharusnya mengerjakan sholat. Ah.. tak tahu-lah, setiap pribadi tentunya punya jawabannya sendiri-sendiri.

 

Saya mencoba membayangkan sebuah perumpamaan realita yang terjadi di seputar kehidupan kita. Saat kita akan menghadap seorang petinggi biasanya kita sangat memikirkan etika – etika yang harus dilakukan. Ada letupan semangat untuk bertemu, kita sangat memperhatikan jadwal janji temu, jangan sampai datang tidak tepat waktu sehingga di cap “jelek” oleh petinggi itu. Next, setelah bertemu kita pun bertutur dengan sopan dengan ritme yang lembut dan jauh dari ketergesaan. Lalu kita memberikan perhatian penuh selama durasi pertemuan itu. Bayangkan jika kita sibuk ‘toleh sana toleh sini’ atau lirik sana sini di hadapan sang petinggi, atau jasad kita dihadapannya namun pikiran melayang entah kemana. Mana bisa nyambung komunikasinya dan pasti akan terlihat aneh sekali kan.. atau kita berbicara secepat mungkin lalu ‘bablas’ tanpa permisi dan dilain kesempatan kita datang lagi dengan segudang permintaan. Ih.. malu-maluin. Gk sopan banget!!! Tapi, begitulah adanya kita ( terutama saya ) ketika sholat. Padahal rasul bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menyambut sang hamba dalam sholatnya sepanjang ia tidak berpaling. Maka jika sang hamba itu memalingkan muka, Allah pun berpaling darinya (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i).

 

Malu.. malu sekali diri ini. Berhadapan dengan manusia senantiasa dilanda ketakutan namun dihadapan Rabb-nya seolah tak punya rasa, tiada cinta dan tak ada penghambaan. Astaghfirullah.. bagaimana mungkin?. Memang tingkatan manusia dalam sholat tidak sama, setidaknya ada lima level yang perlu kita ketahui dan nyatakan dimana keberadaan kita.

 

Tingkatan pertama

Disinilah adanya orang-orang yang tidak menjaga waktu sholat, tidak menjaga wudhu, tidak juga rukun-rukunnya serta kekhusyuan. Dalam kata lain bisa dikatakan “ sama sekali nggak sholat”.

 

Tingkatan kedua

Terdapat orang yang menjaga waktu sholat, menjaga wudhu dan juga rukun-rukunnya namun lalai dari kekhusyuan ( Wah.. sepertinya saya disini). Orang seperti ini akan dihisab sholatnya dengan keras.

 

Tingkatan ketiga

Disinilah tempat orang yang menjaga waktu sholat, menjaga wudhu dan rukun sholat. Ia gigih melawan setan. Awalnya khusyu’ lalu setan menggoda tapi dilawan hingga kembali dalam kekhusyuan, demikian seterusnya. Orang seperti ini dapat tertutup kekurangannya.

 

Tingkatan keempat

Pada level ini hamper sama dengan level 3 namun disini ia benar-benar menang melawan setan setelah perjuangan yang amat gigih. Orang seperti ini akan mendapat pahala penuh (Insya Allah).

 

Tingkatan kelima

Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu sholat, wudhu dan rukun-rukunnya serta khusyu’. Ia juga mampu menanggalkan hati dan menyerahkan sepenuh jiwa kepada Allah. Ia tidak lagi di dunia, ia ada bersama Allah ( Subhanallah.. bisa gk ya. Allah.. antar aku menuju tingkat istimewa ini. Amin).

 

Pernahkah berpikir mengapa Allah menjadikan sholat fardu berselang-seling waktunya, tidak dijadikan dalam satu waktu saja. Ternyata sholat adalah terminal-terminal pengisian bahan bakar bagi diri kita, saat kita mulai lemah semangat, letih badan, datanglah sholat menyapa untuk mengisi bahan bakar spiritual dan penghubung jasad yang berada di bumi dan ruh tersambung ke langit.

 

Allah layaknya seorang seniman yang luar biasa. Memberikan fasilitas kepada manusia dengan beragam cara dan selalu ada makna di setiap cara tersebut. Saat kita punya keinginan ada sholat hajat dimana kita diperbolehkan menghiba kepada Allah, saat hati ragu akan sebuah pilihan ada sholat istikharah, usai larut dalam Lumpur dosa, bersegeralah insyaf dan laksanakan sholat taubat, ketika dalam kebahagiaan dan keceriaan umat sholat hari raya turut menghiasi dan lain sebagainya.

 

Seninya Allah adalah selalu ada makna di balik rutinitas ibadah. Mari mencoba mengungkap makna tersebut, telusuri prosesi sholat lebih dalam.

ü      Memulakan wudhu sebelum sholat merupakan pensucian lahir batin. Jika kita mendalami maknanya bahwa tiap percikan air wudhu menggugurkan dosa dan akan berbekas sampai ke akhirat bahwa kita termasuk golongan hamba-Nya yang soleh.

ü      Menutup aurat

Dimaksudkan bahwa semestinya tidak hanya menutup aurat secara dzahir saja, tapi juga secara batin.

ü      Menghadap kiblat

Apakah kita hanya menghadapkan wajah ke kiblat sementara hati kita berpaling?. berusahalah untuk mengarahkan pandangan hati kita seperti kalau kita sedang bertemu pejabat atau orang terhormat.

ü      Niat dan takbir

Saat berniat, lupakan dunia! Allahu Akbar! Allah Maha Besar  dibanding dunia dan isinya.

ü      Ketika di hadapan sang Maha Raja

Camkan bahwa diri ini benar-benar membutuhkan Allah dalam tiap hela nafas kehidupan ini. Perhatikan sopan santun. Yakinlah.. Allah sedang melihat kita.

ü      Al Fatihah

Rasakan makna Surat Al-Fatihah pada saat melafadzkannya karena di antara bacaan-bacaannya ada jawaban Allah atas ayat yang kita lantunkan. Betapa bahagianya jika kita bisa merasakan jawaban-jawaban Allah.

ü      Rukuk dan Sujud

Rukuklah dan tundukkan punggung sebagai suatu ketundukan dan menghiba. Lalu I’tidal dan puji Allah yang telah meluruskan kembali punngung kita. Dan benamkan wajah ini ke tanah, ingatlah bahwa sehebat apapun kita hanyalah tercipta dari tanah. Rasakan kehinaan dan kerendahan di hadapan Allah.

ü      Tasyahud dan maknanya

Ada syahadat dalam bacaan tasyahud. Syahadah mengandung makna melihat dan menyaksikan secara langsung serta sebuah keyakinan bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah. Kesaksian itu dilakukan dengan dua anggota badan, yaitu lidah dan tangan. Oleh karena itu, selain berucap dengan lisan diiringi dengan jari telunjuk seolah kita sedang menulis dengan tangan, tiada sesembahan selain Allah. Akhirnya, ucapkan salam ke kanan untuk malaikat kanan dan salam ke kiri untuk malaikat kiri. Seolah sedang melakukan perundingan dengan malaikat kanan agar mencatat segala kebaikan dan pahala, sedangkan dengan mlaikat kiri agar tidak mencatat kejelekan kita.

 

Subhanallah.. saya pun baru tahu seharusnya kita lebih meresapi tiap gerakan sholat. Untuk itu dibutuhkan kehadiran hati.  Seharusnya memang begitu.. walau jujur saja saya sendiri belum bisa 100% bisa seperti itu. Saya yakin tak akan ada beban lagi jika bisa mengaplikasikan teori diatas. Semoga Allah mengaruniakan kepekaan hati untuk terus mencari “nikmatnya sholat khusyu”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: