Oleh: niadp | Mei 10, 2008

Point Of View

Tentangnya yang sederhana

 

Entah bagaimana harus memulai mendeskripsikan sosoknya yang bersahaja, S3 saja ( Smart, Sopan dan Sederhana). Diantara sekian banyak laki-laki yang selalu menampilkan ‘ kemewahan’ demi menarik hati para wanita, maka tidak dengannya. Tak banyak yang bisa diceritakan toh aku juga jarang berinteraksi langsung dengannya. Tapi memang aku adalah tipe orang yang senang menyimpulkan sendiri ‘karakter-karakter ‘  disekitarku, mencoba melukisnya dalam rangkaian kata sehingga aku paham bagaimana harus menghadapi kemajemukan ‘karakter’ itu. Bahwa kita diciptakan dengan keberagaman sifat itulah Maha Kuasanya Sang Penguasa.

 

Kenapa dia?? Karena dia berbeda, karena dia yang sering aku lihat, karena dia yang ada dan tampak berbeda. Bukan karena aku sedang jatuh cinta, bukan karena aku suka padanya, bukan pula seorang ‘secret admirer’. Dia hanyalah salah satu dari sekian banyak makhluk Allah yang dicipta dalam frame yang biasa dari tampilan namun menarik dari segi kepribadian. Boleh dibilang karena aku sendiri telah merasakan keunikan karakter itu. Aku hanya mengenalnya sebatas teman ya.. hanyalah teman tanpa ada campuran lainnya. Tak banyak interaksi, hanya sesekali saja itupun jika ada keperluan, selebihnya kita hanya tau satu sama lain. Komunikasi lebih sering via sms dan perantara. Walaupun kami sering terlibat dalam satu tim namun entah kenapa dia selalu menghindar ketika harus ‘ berkumpul ‘ dirumahku. Terkadang aku harus marah karena kupikir dia tidak care dan selalu ‘lepas tangan’. Ternyata tidak begitu, itu hanyalah ekspresi dari rasa hormatnya padaku, demikian teman-temanku sering berkomentar. Jika ada yang ingin disampaikan atau ada pesan untukku dia selalu mewakilkan dirinya kepada teman-teman. Banyak ‘ cara ‘ nya yang membuat orang memujinya.  Padahal secara fisik menurutku biasa-biasa saja, standar sekali dan tak ada kesan glamour di dirinya. Yah.. begitulah Smart, Sopan dan Sederhana. Hanya tiga kata itulah yang mampu aku simpulkan. Aktivis yang aktif, kritis namun tetap down to earth, lembut dan bersahaja.

 

Aku tak tau sepenuhnya.. pun tak patut bagi seorang akhwat sepertiku mencoba menerjemahkan kehadirannya dalam tulisan. Tapi memang begitulah adanya. Dia bisa menarik perhatian orang dengan self-personalnya. Seorang akhwat (temen sharing ku) bahkan pernah mengakui kekagumannya itu. Yang jelas bukan karena dia punya segudang materi, apalagi tampilan fisik nan menawan. Ah.. seharusnya tiap laki-laki tak perlu menampilkan materi dan fisik demi mendekati wanita. Entah kenapa.. fenomena itulah yang malah terjadi. Jika banyaknya cewek matre bertambah seperti jamur di musim hujan maka laki-laki juga harus bertanggung jawab. Karena laki-laki tanpa disadari telah mendidik wanita menjadi matrealistis. Cobalah perhatikan..! bagaimana seorang laki-laki memperlakukan pacarnya: bersedia mengantar jemput dengan kendaraan yang diusahakan selalu ada dan up grade, siap sedia mentraktir makan wherever the place it is, traveling, membelikan barang-barang kesukaannya, etc. Wah.. siapa yang nolak dapet fasilitas gratisan. Maka tak heran jika seorang cewek tak bertahan lama untuk cepat mendapat pengganti lagi ketika “hubungan tanpa status-nya” berakhir sudah. Aku pernah mendapati temanku sedang dalam keadaan sedih. Ketika ku tanyakan penyebabnya ternyata dia sedang putus cinta dan ingin segera mendapat gantinya. Surprise buatku ketika dia menyebutkan criteria yang dicarinya “ gk ganteng gpp, yg penting punya kendaraan buat anter jemput aku, lumayan deh buat ngirit ongkos”. Astaghfirullah… benarkah!! Kriterianya kepribadian (Mobil pibadi, rumah pribadi dll yg serba pribadi). Mungkin aku nya aja sih yg terlalu kuper, naif dan polos tapi bukankah pagar atau batasan yg paling kokoh adalah sifat malu yang kiranya bisa dijadikan bekal seorang wanita. Jikalau pagar atau batasan itu rusak, niscaya dia akan terjerembab dalam kesesatan. Bukankah harga diri wanita lebih mahal daripada materi yang tidak seberapa itu?. Kalaupun kita tidak dicipta dengan kesempurnaan fisik tapi paling tidak kita punya harga diri yang harus terus dijaga.

 

Namun bagiku laki-laki yang bijaksana tentu lebih menarik. Gk gampang marah dan yang terpenting adalah mengerti arti hadirnya wanita di dunia ini. Tidak hanya memanjakan dengan materi namun mencerdaskannya. Cinta yang sehat itu mendidik kecerdasan, kematangan emosi, ketenangan hati dan kedewasaan berpikir. Ia mengajarkan kesabaran menahan syahwat atau membingkainya dalam ikatan suci yang diridhoi ( lho.. apa hubungannya.. mulai out of contact kayaknya ). Kesimpulannya sederhana saja, pribadi yang sederhana jauh lebih mengesankan dibandingkan jiwa-jiwa yang angkuh. Kini aku banyak belajar dAri dia yang sederhana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: