Oleh: niadp | Mei 9, 2008

OPINI – PRIBADI

Poligami VS Poliandri

 

Setelah Aa’ Gym mendeklarasikan diri telah berpoligami, poligami menjadi bahasan yang marak dibicarakan dan kaum hawa didera ‘ketakutan’. Takut jika hal tersebut dicontoh oleh pasangan-pasangan mereka. Takut kalau hal tersebut menjadi angin segar bagi para lelaki untuk mengikuti jejak Aa’. Tapi disadari atau tidak memang banyak yang mengikuti jejak beliau “dalam hal ini”, setidaknya demikian yang aku dengar. Ditambah lagi contoh-contoh dari media, lihatlah Film Ayat-Ayat Cinta atau yang terbaru Sinetron Munajah Cinta. Semua mengarah ‘kesana’. Seolah meminta keikhlasan wanita.  Kita semua tahu KH. Abdullah Gymnastiar adalah figur contoh bagi sebagian masyarakat Indonesia. Kegemparan itu sampai ke istana kepresidenan sehingga menggugah pemerintah membuat UU tentang poligami. Acara infotainment pun tak henti-hentinya meng-ekspose sedetil-detilnya bahkan terkesan dibesar-besarkan dan over.  Dan hal yang paling mengesankan bagiku adalah waktu lagi ujian lisan ehh.. out of contact banget dosennya nanya ‘what do u think about poligami?’, waduh.. temen-temenku senyum2 semua dan pasang muka serius buat ndengerinnya.. padahal tema-nya gk da hubungan sama sekali dengan poligami. Dan hanya akulah satu-satunya yang dapat pertanyaan ‘nyeleneh’ itu. Duh.. bakal dapet julukan baru neh..  Ada apa denganku, Pak??? Kujawab aja “Gpp, tergantung alasan’. Hi.. hi.. asal bunyi deh!

 

Pada saat itu banyak sekali (terutama kaum hawa) yang kecewa dengan tindakan Aa’. Termasuk ibuku, juga sodara perempuanku, teman-temanku, sedangkan aku.. ada sih sedikit rasa kecewa dan sedih. Apalagi pas dengerin MQ pagi diputerin nasyid ‘Siti khodijah” khusus buat Teh Ninih.. duh.. sediiihhh sekali rasanya. Tapi aku coba untuk berpositif thinking bahwa tiap orang boleh melakukan apa saja yang menurut persepsinya diyakini kebenarannya. Tiap orang menjalani hidupnya dengan caranya sendiri tanpa kita tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ilustrasinya kira-kira begini: tidak semua wanita memakai jilbab. Ketika mereka merasa ‘comfort’ dan merasa sudah sopan tanpa jilbab, ya itulah sebuah keyakinan yang mereka jalani dan kita harus menghormati keputusan itu. Tidak dengan memaksa untuk pake jilbab apalagi pake acara ngancem masuk neraka (sok ahli surga banget!). begitu juga dengan para artis yang merasa sudah sopan dan nyaman walau hanya menggunakan tank top, mini skirt, hot pants etc. itupun disebabkan karena itulah yang mereka anggap sudah benar ( btw, sebenernya mereka tau kok itu gk sopan, buktinya kalau Ramadhan tiba mereka pada gk pake untuk menghormati bulan suci, nah tuch tau!). Yang udah pake jilbab terkadang masih kurang puas dan merasa masih kurang nyaman jika tidak memakai cadar. Keberagaman ini harus kita hargai. Hormatilah apapun keputusan orang lain. Cobalah untuk melihat dari sudut pandang yang lain. Toh.. kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita masing-masing nantinya. Hanya Allah saja yang tahu apa yang tersembunyi dalam hati manusia. Do’akan saja keputusan itu diambil karena pertimbangan yang matang.

 

Agak telat sih membahas masalah ini. Tapi gk papa- lah ya. Better late than never. Aku ingat sekali waktu Aa’ berpoligami banyak sekali yang mencibir dan langsung under estimate. Dan aku ternyata masuk ke golongan orang yang membelanya ( Afwan, sampe-sampe temanku memberi stempel “calon isteri ke-3”, OMG.. No way). Ah.. tidak juga, aku bukan tipikal fans yang fanatik dengan satu sosok figure. Hanya mencoba meluruskan saja bahwa kita tidak boleh menghujat jika belum tahu ‘kebenarannya’. Apa alasan Aa’ menikah lagi? Kita tidak pernah tahu. Ketika teman-teman meminta pendapatku tentang masalah ini, aku bilang aja: “Kalau aku di posisi Teh Rini atau kalau saja pada saat itu Aa’ melamarku. Aku belum tentu nolak,” Hah.. satu pernyataan yang membuat temanku berdecak tak percaya. Lho.. habisnya gimana.. bukankah kita diberi fasilitas Istikhoroh jika ingin menentukan pilihan. Kalau jawabannya cenderung “iya”, berarti sudah menjadi takdir Allah. “Jika ada seorang laki-laki yang datang kepada kalian sedang kalian meridhoi ad-Dien dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia, karena jika tidak maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang parah” (HR.Tirmidzi dari Abu Hatim Al Mazni).

 

Bukankah poligami tidak dilarang?

“Nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja. (QS. An Nisa:3)

 

jika kita menuntut kesetaraan, mengapa laki-laki diberi kebebasan menikahi wanita lebih dari satu sedangkan wanita dilarang melakukan Poliandri?

Allah Maha Tahu yang terbaik untuk umat-Nya. Siapa yang lebih berhak membuat sebuah aturan jika bukan pencipta-Nya sendiri. Misalkan kita membeli suatu benda tentunya disertakan tata cara pemakaian dan perawatan serta larangan-larangan agar barang tersebut awet dan tentunya kita akan lebih percaya jika aturan itu dibuat oleh orang yang menciptakan benda tersebut bukan karangan dari penjualnya. Kira- kira seperti itulah gambarannya. Setiap aturan yang di buat Allah mutlak untuk kebaikan kita juga.

 

Logikanya saja ya Ukhti.. Ummi.. semuanya

Jika seorang laki- laki mempunyai isteri dua dan keduanya melahirkan anak tetep aja bapaknya jelas. Tapi kalau wanita bersuami dua dan melahirkan anak, itu anak dari suami yang mana? Bingung kan Bu! ( kalau gk salah ini isi ceramahnya KH. Zainudin MZ.). Bukannya aku sedang membela kaum laki-laki lho.. terus terang saja dalam hati ini juga berdo’a semoga someday gk dipoligami, tapi mau tak mau kita harus siap jika itu harus terjadi. Ngertilah..! wanita mana sih yang mau diduakan. Entahlah ya.. akupun harus berhati-hati jika ingin membicarakan ini. Agak takut juga melihat Teh Ninih yang dari dulu menganjurkan suaminya menikah lagi dan bener-bener kejadian. Terkadang omongan yang nggak disengaja malah jadi do’a (mudah-mudahan nggak deh..he..he..).

 

By the way, anyway…

Denger-denger memang laki-laki itu akan mengalami masa puber dua kali dalam hidupnya. Kurang tahu juga bener pa gk, tapi yang jelas pada usia 35 ke atas-an lah (never intend to make all wife to be afraid.. ). Tapi kalau ada yang kurang dari umur itu udah ‘kegenitan’ mungkin itu yang disebut puber dini he..he.. beberapa kasus sudah terkuak nyata. Kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran laki-laki. Mungkin saja tiap laki-laki akan merasakan ‘jatuh cinta lagi’, hanya saja mungkin tidak semuanya diekspresikan secara terang-terangan. Pinter-pinternya para lelaki saja me-manage perasaannya. Ada yang sukses melewatinya dan tetap setia dengan satu isteri. Namun, ada juga yang gagal memendam rasa dan menempuh jalan lain bisa selingkuh, backstreet, nikah diam-diam atau terus terang minta izin nikah lagi sama isteri ( wee.. Nia sok pinter banget yach.. sok dewasa dan sok tahu, padahal gk punya pengalaman sama sekali he..he..). Habisnya gimana, aku sudah sering sekali melihat ‘air mata’ yang jatuh di depan mata ini karena ‘pengkhianatan hati’ seperti itu. Gini-gini, walaupun aku masih belum dewasa-dewasa banget tapi banyak ibu-ibu yang rela menceritakan keluh kesah tentang suaminya yang mendua. Jadilah aku diwanti-wanti jangan sampe ngerebut suami orang ( Naudzubillahi Mindzalik.. siapa juga yang mau).. Hmm.. sepertinya kuncinya ada di kesiapan ilmu. Tanpa kesiapan ilmu tentang poligami maka akan menjadi suatu hal yang menyakitkan, ledakan amarah dan kata ‘cerai’ cepat sekali diajukan. Bukankah kata cerai itu dibenci oleh Allah?

 

 

Pernah baca Novel Jodoh dari Surga yang ditulis oleh Ifa Avianty? Kebetulan nama tokohnya sama dengan namaku, jadi bacanya tuh seperti bener-bener merasakan apa yang dirasakan tokoh di dalam novel itu. Novel yang bercerita tentang lika-liku rumah tangga. Perjalanan cinta yang rumit karena ditengah perjalanan sang suami dirundung dilemma. Dilemma apa? yah itu tuh.. merasakan kehadiran wanita lain untuk melengkapi hidupnya. Kira-kira begini: isterinya sudah Ok, tapi entah kenapa dia merindukan satu sosok lain untuk menyempurnakan hidupnya. Dua sosok wanita yang mempunyai kelebihan masing-masing ingin disatukan ke dalam satu kehidupan laki-laki (kesannya egois bangett). Tapi asli deh.. sediiihhh banget baca novel ini. Untungnya Happy Ending. Makanya terkadang kita ( kita? Eh salah ding aku belum termasuk, yang udah punya suami aja ya) harus paham dengan kondisi psikologis seperti ini. Ibu-ibu harus banyak belajar ilmu psikologi biar bisa baca kondisi. Biar gk kaget. Temani masa puber kedua itu kalau gk mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak perlu merasa berada di posisi yang disulitkan. Yakinlah apapun ketetapan Allah itulah yang terbaik Karena Allah lebih tau apa yang Anda butuhkan bukan sekedar yang anda inginkan maka Ia kirimkan laki-laki itu untukmu. Keep Smile..Mujahidah Solehah! Tidak selalu poligami itu jelek. Ada juga kisah rumah tangga poligami yang sakinah, mawaddah, warahmah. Sekali lagi.. bukanlah sebuah pembelaan.. apa salahnya mencoba melihat dari sisi yang lain..

-An invisible side from Invisible Hand-

( This writing is inspired by a huge fragile heart of woman – tears n pain – long time no see U madam  )..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: