Oleh: niadp | Mei 6, 2008

Celoteh Ukhti 4

Menjelajahi Kekuatan Kata dalam Bahasa Cinta

 

Kalau lagi libur, beberapa kali sempat mencoba chatting dengan ‘orang luar’ dari berbagai Negara. Ingin tahu aja gimana rasanya. Walaupun bahasa inggrisnya masih pas-pasan ( pas pengen ngomong pas gk tau bahasa inggrisnya apa.. he..he). Sebelumnya mohon maaf ya kalo artikel ini narsis banget. Awalnya sih.. cuma mo nge-tes bahasa inggrisnya dimengerti  pa gk sama native speaker, tapi ah.. kok jadi banjir kata-kata cinta sich. But don’t take their words personally. Aku tahu dan sadar betul bahwa kata-kata itu tidak punya ‘kekuatan’ sama sekali. Lucu.. lucu dan aneh sekali. Ada yang sempat-sempatnya membuat a marriage proposal. Aneh deh.. Jadi inget scenario drama-nya Anton Chekhov, aku merasa berperan sebagai Natalia Stepanovna he..he. Siapa yg bisa percaya dengan hal-hal seperti itu. Perhatikan beberapa statement berikut:  I will come to Indonesia and marry U atau you are the first and will be the last or I’m falling in love suddenly. Apakah kata-kata itu mengandung sebuah kekuatan yang bisa dipercaya? It just no way.. Nonsense. Impossible etc. Aku sempat berdebat dengan mereka. Bahkan setiap chatting biasanya berakhir ricuh dengan debat tak berujung sampai aku meng-off kan diri. Tak jarang juga mereka mengakhiri dengan kata-kata kasar. Sabar.. sabar. So I have one conclusion: Indonesian is better. By the way, gk semuanya gitu. Satu temen yang bisa diajak bertemen itu ada juga. Aku kenalin yah.. inisialnya MT orang Mesir (Jadi ngebayangin Fahri he..he..). Dia temen yang baik buatku karena lebih sopan dari yang lain. Aku terus terang gk suka sama cowok yang maksa-maksa minta photo atau pengen liat-liatan pake webcam. No way.. risih sekali rasanya. Temenku yang satu ini gk begitu guys! Dia temen diskusi yang baik. Kita bisa berbicara tentang Islam di Negara masing-masing. Sepertinya lebih banyak bicara tentang Indonesia (keliatan banget ya aku suka mendominasi! Tapi gk juga ah memang dia yang banyak bertanya). Ada lucunya juga karena kita sama-sama bukan asli English user, jadi kadang suka beda persepsi. Makanya musti belajar Semantic biar paham mengenai context clues. But Fun Enough. Menyenangkan..! karena dia jauh dari kata-kata ‘cinta’ tanpa makna itu. Udah ya kenalannya, nanti panjang ceritanya. Kesimpulannya aku gk begitu suka kata-kata manis yang berlebihan dan dihamburkan tanpa makna yang jelas (wuih.. kesannya sok cantik banget nech). Kira-kira seperti lirik lagunya si Burung Camar Vina Panduwinata : “Mari bicarakan lewat bahasa cinta. Tanpa suara tanpa kata-kata…” iya khan..

 

Seharusnya jangan membuat ‘kata-kata cinta’ itu begitu murah. Berserakan dimana-mana. Diumbar sana-sini sehingga maknanya menjadi bias. Meaningless!!. Buatlah kata cinta itu menjadi suatu yang sakral layaknya ijab Kabul. Lihatlah prosesi ijab Kabul. Khidmat sekali. Nggak boleh salah. Denger- denger pengucapannya sebisa mungkin satu nafas (kasian deh para laki-laki musti latihan vocal dulu,,hmm.. banyak aturan yach!). butuh latihan biar prosesi ijab Kabul menjadi lancar. Benar-benar sakral dan terkesan istimewa sekali.

 

-Never trust in words- itu pesan dari guruku lho! Belajarlah mengasah feeling agar engkau tahu kata-kata mana yang bisa dipegang dan bisa dipercaya. Saat feeling terasah dengan baik kita tidak akan mudah termakan pujian dan rayuan darimanapun asalnya. Agar kita bisa membuat kata-kata cinta yang mahal, kita harus paham mengenai bahasa cinta. Intinya, jangan terlalu diumbar deh!. Karena kalo terlalu diumbar rasanya seperti kalo kita minum susu kebanyakan,, rasanya ‘neg’, syukur-syukur gk muntah…

 

bahasa cinta adalah refleksi dari perasaan yang sangat halus, seperti Ali terhadap Fatimah yang bahasa cintanya terjaga sampai mahligai pernikahan, sampai bahasa itu benar-benar menjadi cinta. Fatimah dan Ali mencontohkan bagaimana cinta itu tumbuh, terjaga dalam sebuah rahasia hati, simpati, ketertarikan, kontrol diri, do’a dan harapan. Saking rahasianya, setan pun tak sempat mengetahuinya. Wah.. keren ya. Di zaman sekarang rasanya sudah langka sekali. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan dan ingin segera mengekspresikan segala perasaan walaupun itu belum jelas arahnya kemana. Gampang sekali bilang “I Love U”, setia sehidup semati dan ah.. banyak sekali untaian kata yang kalau saja kita mau menelaah lebih dalam tentang kedalaman maknanya akan terlihat jelas tak berkekuatan apa-apa. hal seperti itu anak SD juga udah bisa. contoh saja pengalaman salah satu temanku ini. Kebetulan aku sangat mengikuti ‘kisah cinta’nya karena aku teman dekatnya. First, ada yang naksir abis sama temanku ini ya.. PDKT-lah. Pas waktu mo jadian kebetulan aku diajak untuk jadi saksi (wuih.. gk sopan, jadian kok ngajak-ngajak aku!). Aku menyaksikan sendiri janji-janji yang diucapkan si Cowok. Temenku ini memang membuat beberapa syarat kalau mo jadian sama dia, diantaranya: no smoking, setia dll. Mo tau jawabnya?! Ya pasti iyalah.. semua persyaratan diterima tanpa pikir panjang. Belum nyampe setahun, ku dapati temanku sedang duduk dengan berurai air mata. What happened?! Ternyata putus, disconnect, brokenheart… setelah moment putus itu, kulihat si cowok kembali ke asalnya. Huh.. terus apa artinya janji-janji waktu itu. Katanya setia kok putusss! Ah.. lagi-lagi aku harus mengambil hikmah di balik kejadian ini. Lihatlah .. kata-kata yang terucap kehilangan kekuatannya.

 

Kisah lainnya ada lagi, ini sedikit kontras dengan kisah temanku tadi. ini cerita tentang sodara perempuanku sendiri ( afwan..nepotisme). Dia notabene menghabiskan masa lajang tanpa ‘pacaran’. Trus pada suatu ketika ( siap-siap neh ceritanya mo klimaks !) ada seorang cowok ( pake istilah ikhwan aja ya), maen ke rumah. Wah.. aku surprise banget, kayaknya serius nech. Eh.. gk taunya mo nyampein niatnya mo ngelamar kakak perempuanku ini. Oh.. Dear God,, inilah yang membuat aku yakin bahwa Allah tidak pernah tidur. Kejutan yang membahagiakan. Hanya saja rasanya aneh sekali. Apalagi lamaran itu diterima. Kadang aku berpikir, apa pertimbangan seorang akhwat menerima lamaran ikhwan ya? Kadang aku juga berpikir: cinta gk sih sama calon suaminya? Kan belum ada interaksi yang dekat sebelumnya. Hanya kenal satu sama lain saja. Jika  pertimbangannya materi terus terang aja ‘kakak iparku ‘ ini bukan kaum borjuis. Sangat sederhana dan apa adanya. Sulit diterima logika untuk bisa membangun rumah tangganya nanti. Apalagi kalo nanti punya anak. Duh.. ternyata aku salah. Everything is running well. Alhamdulillah. Kurang lebih lima bulan setelah lamaran mereka menikah. ya.. begitulah seharusnya. Tak perlu banyak cakap yang penting bukti nyata. Berhentilah jadi manusia NATO ( No Action Talk Only)

 

Bahasa cinta adalah bahasa mulia, bahasa kelas tinggi, tidak semua orang bisa menangkap artinya. Seperti diamnya wanita berarti ‘iya’ atau tangis wanita yang belum tentu berarti sedih. Kemampuan memahami dan menggunakan bahasa cinta tidak dimiliki orang yang melecehkan cinta. Berbahagialah kita jika dikaruniai kemampuan berbahasa cinta. Sekali mengucapkan kata, terkesan sangat bermakna dan dipercaya kekuatannya.. it can be more powerful exactly🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: