Oleh: niadp | April 30, 2008

Cerpen Ku II

JELANG SENJA BERSAMA CAHAYA

 

Dia sudah dewasa sekarang. Tampak manis sekali dibalut jilbab lebar berpadu indah dengan gamis warna muda. “ Ibu, Ais pergi dulu ya”. Pamitnya padaku. Kenapa harus pamit denganku. Yah..memang orangtuanya jarang dirumah. Sibuk dengan kerjaan masing-masing. Pulang seminggu sekali. Mau kepada siapa lagi dia akan berpamitan. Hanya kepadakulah dia bisa berbicara banyak hal. Memang akulah yang telah merawatnya dari kecil hingga sebesar ini. Wajahnya mengingatkan aku sewaktu muda dulu. Mengingatkan pada rupaku dua puluh tahun yang lalu. Termasuk membongkar semua kenangan yang terkubur selama dua puluh tahun.  Wajahnya manis, anggun dengan sorot mata yang teduh.  Sketsa wajah itulah yang kumiliki dua puluh tahun yang lalu. Wajah itulah yang telah membuat seorang laki-laki bernama Andre jatuh cinta. Dengan segenap kata manisnya merayu, menjanjikan dunia yang indah, membisikkan sejuta kata cinta. Lalu terbuailah aku sang gadis kampung nan belia kedalam pelukannya. Terlena dan terjatuh dalam nikmat semu cinta berselimut nafsu. Orang bilang laki-laki adalah buaya dan wanita adalah penyayang binatang. Karena rasa sayang itulah, semuanya aku korbankan. Segalanya aku berikan dengan ketulusan cinta. Habislah aku karena cintaku yang sedemikian rupa. Cinta terlarang dan penuh noda. Buaya tetap saja buaya. Tak pernah terdengar cerita ada buaya yang insyaf dan berhenti menggigit dengan taringnya.

 

Setelah semuanya terjadi, tak pelak selalu saja wanita yang harus menanggungnya. “Mas, aku hamil”. Laporku penuh harap. Berharap dia akan terlonjak gembira karena moment inilah yang sudah lama ditunggu-tunggu. Bukankah sudah dua tahun pernikahannya dengan istrinya yang sah tapi belum juga dikaruniai momongan. Suasana terasa semakin dingin sesaat setelah kabar itu aku sampaikan. Dia tidak sehangat biasanya. Dingin. Sedingin wajahnya yang tanpa ekspresi.. “Jadi bagaimana,” desakku tak sabar. Haruskah aku mengabarkannya dengan berteriak agar dia mendengar dengan jelas keluhanku. “Kamu maunya apa”, jawabnya singkat tetap tanpa ekspresi. Ya Tuhan.. pertanyaan macam apa itu?. Sesungguhnya tak perlu dijawab pun sudah bisa dimengerti apa mauku. Bukan hanya mauku tapi kemauan setiap wanita di dunia. Apalagi telah nyata bahwa aku sedang mengandung anaknya. Anak yang tidak seharusnya ada karena aku belum menikah dengannya. Kalau sudah begini tentunya aku ingin dinikahi. Aku ingin anakku nanti punya bapak. Apa kata orang jika tahu kasusku ini. Betapa malunya keluargaku di kampung. Walau aku harus berkaca tentang siapa aku sebenarnya. aku hanyalah seorang pembantu rumah tangga di rumahnya.  Memang begitulah kenyataannya. Dia bisa membaca bahwa aku gadis yang polos, lugu namun manis dan ayu. Akan sangat mudah baginya untuk memperdayaku dan bodohnya.. aku pun jatuh dalam perangkapnya. Sekarang bagaimana? Ah.. entahlah.

 

Akhirnya aku diungsikan selama sembilan bulan disuatu tempat. Sebelum isterinya tahu hal ini. Sebelum perutku membesar. Sebelum semuanya menjadi boomerang di kehidupan laki-laki itu. Dia mengaku masih mencintai aku. Namun keadaan saja yang memaksanya berbuat seperti ini. Egois.!! Laki-laki egois. Hatiku hancur. Aku bagaikan sampah makanan yang setelah diambil isinya lalu di buang ke tong sampah. Dia hanya menikahiku secara agama saja. Dia tidak benar-benar menjadikan aku seorang isteri bahkan ada keinginan darinya untuk menggugurkan kandunganku. Tidaakkkk! Tidak akan pernah. Dunia ini sudah penuh dengan dosa tangan-tangan aborsi. Dunia ini telah dipenuhi bencana karena dosa manusia. Aku tak boleh menambahinya. Biarkan aku menanggungnya sendiri. Dengan dalih ada urusan dikampung aku berpamitan dengan istrinya. Sebelum pulang dia sempat berjanji akan membiayai seluruh kebutuhan hidupku sampai melahirkan dan satu perjanjian lagi bahwa setelah melahirkan anakku akan langsung diadopsi menjadi bagian dari keluarganya. Oh kejam.. egois dan aku tak tahu lagi kata-kata apa yang bisa mewakili perasaan ini. Tapi aku menyetujuinya. Entah untuk alasan apa yang jelas anakku akan lebih terjamin hidupnya ketimbang aku sendiri yang mengurusnya. Membesarkan anak di zaman sekarang butuh biaya yang tak sedikit. Itulah pertimbanganku. Lastri.. lastri.. malangnya nasibmu.

 

Menjalani hidup sendirian. Terasing. Disaat seperti ini seharusnya seorang wanita lebih bahagia karena ada suami yang mendampinginya. Mendengarkan keluh kesahnya, memperhatikan perkembangan kehamilannya atau sekedar menyapa sang jabang bayi. Tapi tidak denganku. Aku merana sendirian. Duhai wanita diseantero dunia, jika ku boleh berpesan jangan sampai hal ini terjadi pada kalian. Cukup aku saja yang merasakan keegoisan laki-laki. Jagalah kehormatanmu. Jangan tertipu bujuk rayu kata- kata manis. Jadilah sekuntum bunga di tempat yang tinggi., sehingga tak sembarnag kupu-kupu mampu meraihnya. Hanya kupu-kupu pejuang saja yang bisa meraihnya.

 

Dalam kesendirian nan senyap, hanya Allah-lah di hatiku. Aku mencoba untuk lebih dekat dengan-Nya. Beginilah hakikatnya manusia. Kala duka menyapa barulah tersadar akan pencipta-Nya. Kemana saja aku kemarin. Aku habiskan semua waktuku dengan laki-laki tak berprikemanusiaan itu. Astaghfirullah.. ampuni aku ya Allah. Dulu sewaktu dikampung aku rajin sholat dan mengaji. Tapi setelah pindah ke kota dengan alasan merubah nasib aku telah melupakan-Nya. Aku akui nasibku benar-benar telah berubah. Berubah menjadi lebih buruk, buruk sekali. Aku terisak dalam setiap do’a panjangku. Apakah ada maaf untukku?. Aku yakin kemaafan Allah Maha Luas.  Kututup telinga ini dari pembicaraan tetangga sekitar mengenai aku. Aku sudah terlanjur kotor tak perlu membela diri untuk terlihat bersih. Ya Allah temani aku dalam kesendirianku.

 

Semakin besar usia kehamilanku, semakin aku menikmati hari-hariku. Rasanya aku tidak sendirian lagi. Ada nafas lain yang selalu menemaniku. Ada tendangan-tendangan halus di dinding perutku seperti ingin menguatkan ku dengan sapaannya. Inilah Maryam di zaman modern. Bedanya Maryam ibunda Isya AS. adalah wanita yang sangat suci belum pernah tersentuh satu lelaki pun. Sedangkan aku… tentu tak layak dikatakan suci karena aku penuh noda. Anakku sayang, cintailah ibu yang penuh noda ini. Ibu tahu sebentar lagi ibu akan kehilangan dirimu. Ibu tahu akan tersiksa tanpamu. Maafkanlah,, itu juga dilakukan untuk kebaikanmu. Kebaikan masa depanmu. Tanpa terasa airmata ini mengalir deras di penghujung malam. Menangislah yang bisa ku lakukan. Tahajudku memang selalu berkhir dengan tangisan kepedihan. Kelemahan hati dan kerapuhan jiwa mengantarkan aku pada kesedihan yang tak tertahan ini.

 

Tepat sembilan bulan usia kandunganku. Ku rasakan sakit yang tak terperi saat berjuang untuk melahirkan jabang bayiku. Kukerahkan segala tenaga ini demi melihat hadirnya anakku. Dia harus selamat.. dia harus selamat. Hanya itu yang ada dipikiranku. Aku tak perlu memikirkan biaya persalinan karena Mas Andre telah mempersiapkan segalanya. Setidaknya aku tak perlu berpusing-pusing mencari uang untuk biaya rumah sakit. Yang membuatku pusing adalah perpisahan dengan anakku akan segera tiba. Ketika tangis bayi itu pecah aku sedih sekali. Sedih yang tidak bisa terungkap. Sedih yang terlalu menumpuk. Aku menangis sampai tersengal-sengal.  Para perawat yang membantu persalinan mungkin heran dengan jenis tangisku. Apakah itu tangis bahagia atau apa?. Dua-duanya lah. Disisi lain aku bahagia bisa melihat anakku yang manis dan lucu. Meskipun raga ini lemah namun aku usahakan untuk segera menggendongnya, mendekapnya dengan sayang, memberikan ASI pertama dan mungkin yang terakhir karena aku tak tahu apakah masih punya kesempatan untuk itu. Bayi ini wujud dari buah cintaku. Seorang bayi perempuan yang manis sekali. Selamat datang cintaku. Namun disisi lain aku merana. Tak ada alunan takbir menggema dari mulut seorang bapak ketika bayi ini dilahirkan. Akulah yang harus membisikkannya sendiri. Tak ada orang yang menungguiku. Tak ada genggaman tangan sebagai bentuk perhatian dari seoranag suami disaat diriku berjuang antara hidup dan mati.

 

Hanya karena satu kesalahan aku kehilangan segalanya. Padahal dikampung ada banyak pemuda yang mau menikahiku. Seorang kembang desa yang lugu itu telah kehilangan sinarnya, kehilangan cinta dan tak pantas lagi mempunyai angan-angan untuk dicintai. Laki-laki mana yang mau menrima wanita yang sudah ternoda seperti aku?. Betapa enaknya laki-laki bebas memilih yang mereka suka dan tak mau menerima wanita yang rusak seperti aku ini. Padahal mereka pun turut andil dalam kerusakan itu. Maafkan aku wahai laiki-laki. Semua ini dikarenakan seorang laki-laki bernama Andre. Dia mampu membuatku seperti putri raja dengan kemanjaannya lalu tanpa ampun menghempaskan aku dalam kehinaan. Tapi aku tetap mencintainya. Demikianlah wanita jika telah menjatuhkan hatinya, sulit untuk berpaling. Memang sudah menjadi kodrat wanita yang tak pernah bisa menyimpan lebih dari satu cinta dalam hatinya. Kaum laki-laki dikaruniai kemampuan untuk  menyimpan cinta lebih dari satu di hatinya. Mungkin itulah sebabnya poligami diperbolehkan. Walau bagaimanapun tak seharusnya laki-laki menyalahgunakannya untuk mempermainkan wanita. Ah.. aku berkata begitu hanya karena aku sedang terluka disebabkan perbuatan makhluk Allah yang disebut laki-laki. Tentunya masih banyak laki-laki yang baik di luar sana. Bahkan banyak yang bisa berbuat adil dengan isteri lebih dari satu. Semuanya tergantung pada pemahaman agama dan ilmu yang memadai tentang poligami.

 

Kutatap lekat-lekat wajah tanpa dosa dipelukanku. Tenanglah anakku, ibu akan mengawasimu, menjagamu meskipun nantinya engakau tak pernah memanggilku “ibu” dengan sebenar-benarnya “ibu”. Tapi tak mengapa. Asalkan kau terurus dengan baik dan masa depanmu terjamin cukuplah membuat ibu bahagia. Biarkan ibu menjadi lilin yang rela hancur demi menerangimu. Waktu kita tak banyak sayang!. Repotkanlah ibu dengan tangis dan kerewelanmu, basahilah badan ini dengan ompolanmu, atau jangan ragu untuk membangunkan ibu ditengah malam jika engkau haus. Lengkap sudah kepahitan hidup ini saat engkau harus terambil dari pelukan.

 

Seminggu setelah kelahirannya, utusan Mas Andre menjemput sang bayi. Aku harus merelakannya menjadi bagian keluarga lain. Sebenarnya bukan keluarga lain. Dia adalah bapaknya sendiri dan statusku sendiri masih tetap isterinya. Kutitipkan pesan agar bayi ini diberi nama Aisyah Izzah Naima yang artinya Aisyah adalah kemuliaan yang halus. Aku ingin dia menjadi anak yang tidak sekedar cantik tapi juga cerdas dan solehah seperti Aisyah RA. Agar ia tidak dibodohi seperti ibunya. Sebelum berpisah kupuaskan diri untuk mencium Aisyahku. Rasanya tak sanggup berpisah karena aku terlanjur menyatu dengan jiwa si mungil ini. Dengan berurai air mata kulepas kepergiannya. Semoga hidupmu menjadi lebih baik sayang!

 

Beberapa hari setelah  peristiwa penjemputan anakku. Sesuai dengan skenario aku kembali ke rumah Mas Andre  menjadi baby sitter untuk Aisyah. Isterinya tampak senang dengan kehadiran Ais karena sampai detik ini dia belum juga hamil. Demikian juga dengan Mas Andre, kehadiran seorang anak tentu sudah sangat dinantikannya. Rumah ini kering tanpa tangisan bayi. Sayangnya, bayi itu datang dari rahimku bukan rahim isterinya sendiri. Tapi aku cukup senang. Setidaknya Ais tidak ada saingan dan akan tetap mendapat perlakuan baik. Aku tak peduli lagi apakah aku masih dianggap isteri atau tidak oleh Mas Andre. Yang jelas hatiku lebih terfokus untuk membesarkan belahan jiwaku, Aisyah.

 

“ Apa kamu tidak ingin menikah, Las?” Tanya isteri mas Andre pada suatu ketika si saat ia bermain dengan Ais. “Kamu kan cantik, nggak mungkin kalo nggak ada yang mau.” Lanjutnya. “ Belum ketemu jodoh yang pas, nyonya,” jawabku. Huh.. Tanya saja suamimu. Dia yang membuatku seperti ini. Dia yang membuatku menutup hati untuk yang lain. Andai nyonya tahu ceritanya, tentu kondisi rumah tidak setenang ini. Dua hati wanita dipermainkan seorang sutradara bernama Andre. Dan hanya untuk Ais lah aku bertahan.

 

Dua puluh tahun sudah rahasia itu terpendam. Ais ku sudah beranjak dewasa. Dia telah menjadi Aisyah impianku. Cantik, cerdas, halus dan solehah. Kelak engkau akan mendapatkan jodoh seorang laki-laki yang soleh, bijaksana dan benar-benar mencintaimu karena Allah. Terima kasih ya Allah. Aku senang dia telah memutuskan untuk menutup aurat, aku senang mendengar prestasi-prestasinya, begitu pula dengan aktivitas dakwahnya. Kini dia nampak sempurna lahir dan batin. Engkau putri ibu nak!. Kebanggaan ibu. Meski kau tak pernah tau itu. Aisyah Izzah Naima selalu tampil cantik dengan kerudung panjangnya. Garis wajahnya sering membuat Mas Andre terpaku, sepertinya dia ingat dengan rupaku pada saat seusia Ais. Dia benar-benar menjadi kebanggan di rumah ini.

 

“ ibu menangis? Kenapa?” Tanya Ais kepadaku disuatu sore. Dia memang lebih sering menghabiskan waktu ngobrol denganku jika ia sedang tidak ada aktivitas. Aku hanya tersenyum. “ Kamu cantik sekali, Ais!” Pujiku tulus. “ Ah Ibu”,  mukanya bersemu merah. “ Apa  ibu pernah menikah sebelumnya?”, Ais kembali bertanya. Pertanyaan yang membuatku kaget. “ Hmm.. pernah. Tapi suami ibu meninggalkan ibu. Bahkan ibu juga pernah punya anak. Hanya beberapa hari saja umurnya bertahan.” Jelasku dengan hati tersayat. Ah.. Ais, susah menjelaskannya. “ Anggap saja Ais anak ibu. Ais juga kesepian. Ada orang tua tapi serasa tiada,” keluh Ais. Kubelai kepalanya dengan sayang. Kamu punya ibu, sayang. Ini bukan pertama kalinya ia mengeluh.. Dia butuh kasih sayang orang tua. Sedangkan yang dia anggap sebagai orang tua malah sibuk dengan bisnis dan bisnis. Menurutku, wajar saja jika Allah tidak memberikan amanah seorang anak di pernikahan Mas Johan. Kasihan kan kalau hanya ditelantarkan. Tenanglah Ais, masih ada ibu disini.

 

Aku perhatikan wajahku di cermin. Gurat- gurat senja tampak jelas. Aku nampak tua sekali. Aku mencoba tersenyum. Sepertinya kecantikan wajahku sudah berpindah kepada Aisyah semua. Aku telah melalui banyak tekanan batin. Alhamdulillah,, aku tidak pernah berpikir mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Aku tidak tahu sampai kapan umurku akan bertahan. Seminggu yang lalu aku divonis menderita kanker rahim yang terlanjur parah. Yah.. umurku mungkin tak lama lagi. Tidak ada tindakan penyembuhan dariku. Aku sadar, rahim ini dilumuri dosa dan maksiat. Sudah selayaknya hidupku berakhir seperti ini.

 

Menjelang  senja tiba, aku melihat cahaya. Cahaya itu datang dari diri Ais. Cahaya hatiku. Penguat hidupku. Membuatku bertahan hidup. Aku hampir gila menjalani hidup ini yang penuh dengan kepalsuan. Namun ku cukup puas melihat Ais tumbuh menjadi gadis yang solehah. Ya Allah.. di senja suram ini aku mohon ampunan dari-Mu. Di ujung jalan ini aku berharap ada cahaya yang menerangiku menuju-Mu. Ais..do’akan ibu nak! Sebentar lagi ibu akan sampai kepada Dzat yang Maha Agung. Mempertanggungjawabkan semua perbuatan hidup dihadapan-Nya membuat tubuh ini gemetar. Dosa itu nyata. Ketakutan menyelimuti. Semoga dengan cahaya kesolehanmu bisa menghapus noda kelam itu. Ingin aku kisahkan sebelum jantung ini berhenti berdegup. Tapi itu hanya akan membuatmu hancur. Aisyah bidadari ibu nan cantik,, jaga dirimu sayang. Ibu tak kuasa bertahan untuk menjagamu. Tetaplah menjadi bunga terpelihara yang mulia karena kesolehan. Bukan karena rupa kau di puja tapi akhlakul karimah. Tiba-tiba sekelebat cahaya menyapa. Malam semakin larut. Aku sendiri. Sunyi. Sepi. Lalu hilang. Cahaya itu semakin redup. Aku mengeluh. Rasa takut mendekapku. Siapa yang akan menerangi cahaya kuburku nanti ?

( Written By Nia in Life, Love and Prestige)

 

Wahai Tuhan.. jauh sudah.. lelah kaki yang melangkah

Aku hilang tanpa arah.. rindu hati sinar-Mu

Wahai Tuhan.. aku lemah, hilang berlumur noda

Hapuskanlah.. terangilah.. jiwa di hitam jalanku

 

Ampunkanlah aku.. terimalah taubatku

Sesungguhnya Engkau Sang Maha Pengampun dosa

 

Ya Robbi.. ijinkanlah aku kembali pada-Mu

Meski mungkin takkan sempurna

Aku sebagai hamba-Mu

Ampunkanlah aku terimalah taubatku

Sesungguhnya Engkau Sang Maha pengampun dosa

Berikanlah aku kesempatan waktu

Aku ingin kembali.. kembali

Dan meski tak layak sujud pada-Mu

Dan sungguh tak layak aku….

( By Opick: Rapuh )

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: