Oleh: niadp | April 26, 2008

celoteh ukhti 3

Mo Awet Muda ?! Menulis Yukkk!

Fatima mernissi seorang penulis di dunia pemikiran Islam Modern, Lahir Di Fez Maroko pada tahun 1940. Di dalam bukunya Pemberontakan Wanita! : Peran Intelektual Kaum Wanita Dalam Sejarah Muslim menulis satu judul yang menarik di salah satu bab nya yaitu : menulis lebih baik daripada Operasi Pengencangan Kulit Wajah. Mernissi berpesan: “ usahakan menulis setiap hari. Niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat Anda bangun, menulis meningkatkanaktivitas sel. Dengan coretan pertama di kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan terasa segar kembali”. Wow.. ajaib. Benarkah?

Mungkin gambarannya seperti ini, pada dasarnya menulis itu bisa menjadi pelepasan emosional yang membuat rasa puas dan lega. Emang betul. Dan memang akan lebih baik jika emosi disalurkan melalui tulisan. Apapun bentuk emosi itu ( marah, sedih, kecewa, bahagia dan sebagainya). Dari hasil penelitian Dr. Pennebaker didapat satu kesimpulan bahwa menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif dan kesehatan fisik yang lebih baik.

Nah lho.. kuncinya ada di suasana hati. Suasana hati yang baik akan menghasilkan raut wajah yang cerah ceria dan tentunya bisa bikin awet muda. Hmm.. menurutku, pernyataan bahwa didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat harus dibalik menjadi di dalam jiwa yang sehat akan tercipt tubuh yang kuat dan sehat ( Insya Allah, karena hanya pendapat pribadi tanpa penelitian sebelumnya . Ya.. karena sepertinya penyakit-penyakit berat banyak disebabkan oleh kondisi psikologi kita yang tidak baik.

Pernah juga seorang peneliti ( maaf, nggak tau nama penelitinya) meneliti hubungan antara aktivitas menulis dengan peningkatan kekebalan tubuh. Selama empathari berturut-turut 50 mahasiswa di minta menulis selama 20 menit, mereka juga diambil darahnya sebelum dan setelah kegiatan menulis untuk diteliti (ugh.. kayak nggak ada kerjaan lain ya sang peneliti :D). Para Mahasiswa diminta menuliskan pemikiran terdalam/ pengalaman traumatis mereka. Kesimpulannya: orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh disbanding dengan orang yang menulisakan masalah yang tidak penting (maksudnya tiap orang pasti menulis tapi jarang sekali meluangkan waktu untuk menuliskan pemikiran terdalam/ perasaan terdalam kita ). Dan ternyata setelah penelitian itu, kunjungan berobat ke pusat kesehatan mahasiswa menurun pada orang- orang yang menulis tentang perasaan terdalam dengan orang yang menulis hal-hal biasa.

Kita disarankan menulis tentang kemelut emosional karena diakui dapat memperbaiki kesehatan mental dan fisik. Tidak hanya itu tapi juga bisa mengurangi kecemasan dan depresi. Ya iyalah.. daripada meluapkan emosi secara fisik, misalnya dengan marah-marah, banting-banting, menegangkan urat leher saja dan tentunya juga menyakiti orang di sekitar kita. Udah selesai emosi di kita tapi masih berbekas di hati orang lain, kan gk enak tuch!.

Hanya saja jangan salah persepsi. Mengeksplor pikiran dan perasaan terdalam bukan merupakan obat yang bisa mengobati segalanya lho… menulis hanya akan bisa memberi sedikit jarak dan perspektif dalam hidup kita. Aktivitas menulis jangan diniatkan untuk pengobatan dong! Apalagi diniatkan untuk mengencangkan kulit🙂 . yah.. pokoknya tekadkan untuk menulis tiap hari pasti bermanfaat bagi perkembangan diri kita. Menulis itu kalo menurut Dr.Pennebaker memberikan manfaat sebagai berikut :

 Menulis menjernihkan pikiran

 Menulis mengatasi trauma

 Menulis membantu mendapatkan informasi baru

 Menulis membantu memecahkan masalah

 Menulis bebas membantu kita ketika kita terpaksa harus menulis.

Dah cukup teorinya..toh aku juga bukan penulis handal. Hanya saja memang suka menulis. Karena aku suka baca jadinya senang menulis. Mereka berdua kan kembaran . Dari kecil aku suka baca. Dimulai dari majalah Bobo. Aku punya banyak majalah Bobo. Tiap kali ditanya minta dibeliin apa, pasti mintanya majalah Bobo. Trus beralih ke jenis komik mulai dari donal bebek, doraemon dan komik-komik lainnya. Kalau sudah ketemu bacaan biasanya aku susah diajak ngobrol dan susah disuruh makan. Meningkat ke masa SMA I’m crazy about Aneka Magazine, Gadis etc yang berbau ramaja gitu. Baru setelah mengalami reinkarnasi taubat ( aside: ngomong apa sih..berat banget kosakatanya, gk ketangkep), barulah bacaannya berubah jadi lebih reliji seperti Annida, baca novel islami bahakan sampe baca majalah Ummi juga. Nah.. kalo sekarang baru mo coba baca yang agak berat seperti Sirah, Fiqih, Tafsir dan sejenisnya ( baru nyoba-nyoba lho coz rada-rada males).

Dari kebiasaan membaca itu jadi seneng menulis. Waktu sekolah paling seneng kalo disuruh mengarang. Pas temen-temen mentok hanya 1 paragraf, aku malah kekurangan kertas. Kalau dikumpulin buku diariku juga sudah banyak. Seandainya diterbitkan kira-kira udah berapa buku ya? ( he..he.. yang jelas pasti isinya nggak menarik deh soalnya ‘narsis’ ceritanya melulu tentang diri sendiri saja. Mungkin karena aku termasuk tipe orang yang taciturn ( pendiam ) dengan kadar talkative hanya beberapa persen saja, membuat aku lebih banyak berbicara lewat tulisan saja. One of my lecture, menilai aku sebagai orang yang suka menyimpan segala yang aku pikirkan tanpa mau mengemukakannya. Sampai-sampai beliau pernah bilang “ kalo kamu nggak pernah ngomong, bagaimana orang lain tau kalo kamu cinta saya “. It’s joke of course. Tapi aku tahu beliau sedang memotivasi dan memancing aku keluar dari kediaman ku. Mungkin beliau melihat dari tulisanku setiap menjawab tes darinya yang sering aku panjang-panjangin dan ditambah-tambahin. Tapi aku memang lebih suka berbicara lewat tulisan, rasanya lebih baik dan Insya Allah tidak menyakiti. Bukankah dalam tulisan kita biasa menggunakan diksi atau pilihan kata? Jadi sebelum menulis biasanya kata-kata disaring dulu melalui otak,. Beda kalo langsung disalurkan melalui lisan langsung biasanya diksinya nggak dipake karena nggak disaring dulu. Liat aja orang yang lagi marah.. nggak mikir dulu kan apa-apa yang mo diomong. Keluar begitu aja tanpa penyaringan. Orang marah jarang yang inget sama omongannya sendiri, ketika sadar barulah merasa sendiri sudah ngomong kasar bahkan tak jarang disaat marah seluruh penghuni kebun binatang di absen.

Lucu sekali jika saya ingat dulu aku pernah ‘benci’ sekali dengan saudara perempuanku. Segala emosi dan kemarahan aku tulis diselembar kertas. Aku tumpahkan segala kekesalan disana. Hasilnya.. tak separah jika kita sampaikan dengan lisan. Dia bisa terima dan tidak merasa sakit hati padahal jika aku meluapkan langsung, mungkin yang ada kita malah berantem. Sampai sekarang kertas itu masih ada. Kami sering tertawa mengenang masa kecil itu. Padahal disaat menulis segala kekesalanku, emosinya udah nyampe ubun-ubun. Berarti menulis bisa jadi manajemen emosi juga. Bagus tuch buat kesehatan jasmani rohani.

Satu catatan lebih baik dari seribu ingatan, ya khan?. Disaat aku membuka kembali lembaran tulisanku dulu ada kesenangan tersendiri. Emosi disaat menulis dulu dengan dengan saat membaca sekarang terasa berbeda sekali. Aku pernah melihat anjing tertabrak mobil lalu dikubur hidup-hidup ( Na’udzubillah). Entah kenapa aku merasa sedih dan merasa berdosa karena tak mampu mencegah. Akhirnya aku tulis di diari. Lucunya, dalam tulisanku aku minta maaf sama si anjing karena nggak bisa nolong dan meminta kepada si anjing kalo nanti bersaksi di hadapan Allah jangan bilang aku nggak mo nolong ya? ( ha..ha.. aneh bin stress ya). Sempet dibaca temen dan duh… malunyaaaa!

Tulisanku memang nggak bagus tapi banyak memberikan manfaat abgiku. Kalo orang suka bilang diriku jarang marah. Itu salah. Aku sering marah. Meski tidak diucap. Cukuplah aku tulis saja. Setelah semenit, sejam atau sehari kemudian coba dibaca lagi tentu perasaan kita sudah berubah. Berubah menjadi lebih baik tentunya. Kita disyariatkan untuk tidak cepat marah seperti dituturkan dalam Al Qur’an “ Dan orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang orang lain. Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan”. (Ali Imran:134.). Cepet marah nanti cepet tua lho.. aku sendiri di usia 21 tahun ini, kadang kalo ditanya orang “Masih sekolah ya?”. Sering kujawab masih SMA atau SMP dan mereka percaya- percaya ajah. Tapi kalo aku bilang sudah menikah dan punya satu anak eh.. mereka malah nggak da yang percaya he..he..

By the way, nulis yukk.. walaupun tidak sefenomenal karya Habiburrahman Elsihrazy, tidak semenarik tulisan Helvi Tiana Rosa dan tidak sekeren tulisan J.K. Rowling. Minimal untuk kenangan pribadi..:-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: