Oleh: niadp | April 23, 2008

Celoteh Ukhti II


Mommy and Me

Mother how are u today
Here is a note from your daughter
With me everything is ok
Oh.. mother how are U today?

Mother don’t worry I’m fine
Promise to see U this summer
This time will be no delay
Oh.. Mother How are U today?

( Mother How are you today: May Wood)

“ Nanti kalo dah nyampe jangan lupa nelpon”,
“ Udah makan nasi belom?”
“ Tadi sholat dimana?” “ buka puasa dimana”, “ makanan buat sahurnya udah disimpen di….. “ sederet kata-kata yang tidak akan bisa aku lupakan, membekas dan terpahat indah dalam memori. Ah.. dialah Ibu. Orang yang tiada pernah terputus kasih sayangnya, yang selalu punya stok airmata demi memikirkan dan mengkhawatirkan anaknya. Beliau menempati posisi di hati yang tidak bisa terganti. Restunya adalah titah buatku, tanpa restunya tak pernah aku melakukan sesuatu. Meskipun beliau bukan sosok yang ideal yang sering diceritakan di novel-novel, namun bagiku beliau punya berjuta kelebihan yang menyadarkan aku arti hadirnya buatku. Jauh sebelum aku tahu yang lain, aku terlebih dahulu mengenal ibuku. Aku memberati perutnya, aku tinggal di rahimnya selama 9 bulan. Aku tak tahu apa-apa pada saat itu. Kasih sayang pertama yang aku terima dari makhluk bernama manusia adalah tak lain dari kasih sayang ibuku. Memang terkadang sebel ketika lagi cerewet atau marah yang berlebihan, kuakui beliau sedikit high temperament dan a bit little selfish ( maafkan anakmu ) tapi aku mencintainya, bangga padanya meskipun ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa.

Bercerita tentangnya, tentang perhatiannya kepadaku yang begitu melimpah. Disaat aku tak tahu tentang ketulusan orang lain kepadaku, tapi aku meyakini ketulusan ibu kepadaku. Tanpa pamrih.. tanpa mengharapkan balasan. Aku ingat sekali, dulu, kalo aku males bangun sahur beliau selalu bersedia menggendong aku menuju meja makan (he..he manja yach). Di usia sebesar ini saja aku masih nyaman kemana-mana bersama beliau disaat cewek-cewek lain merasa malu pergi bareng ibunya. Beliau juga yang selalu mengingatkan aku untuk terus istiqomah puasa senin-kamis ( padahal awalnya sedikit keberatan karena takut aku gk kuat dan jatuh sakit but I prove it that I’m healthy). Dari persiapan apa yang harus aku makan setiap sahur, membangunkan aku jika aku terlalu lelap dalam tidur. Meskipun beliau tidak ikut puasa tapi cukuplah bagiku merasakan partisipasinya. Terus terang saja.. hal-hal seperti ini membuatku ingin selalu jadi anak kecil dibawah naungan orang tua. Bahkan ketika beliau berkata “ nanti jodoh kamu siapa ya…. Carilah yang seperti bapakmu yang tahu cara memperlakukan wanita, cinta sekali seumur hidup, sampai ajal memisahkan. Aku hanya tersenyum. Entah kenapa, tiba-tiba terasa ada yang sakit di hati. Tapi aku senang karena ibu tidak membuat kriteria “materi” untuk jodohku nanti. Sesaat aku harus menyadari bahwa aku tak bisa terus-terusan bersama orang tuaku. Pun aku takut kehilangan beliau. Aku mengerti kecemburuannya, sangat mengerti. Larangan untuk tidak “pacaran” pun sebenarnya datang dari didikan orang tuaku. Hal tersebut merupakan pra syarat sekolah buatku. Dan merupakan kebanggaan tersendiri saat bisa melaksanakan amanah itu.

Aku adalah bungsu dari empat bersaudara. Aku punya dua saudara laki- laki dan satu saudara perempuan ( yang ini sudah menikah sehingga membuatku menjadi satu-satunya anak paling cantik dirumah, dulunya sih ada saingan  tapi setelah “diculik” oleh suaminya jadilah aku puteri sorangan). Makanya ibu sangat cemburu padaku. Cemburu pada kegiatanku yang kadang dari pagi sampe ba’da isya’ baru pulang kerumah. Cemburu kalo ada yang sms ato nelpon malem-malem ( aneh ya.. padahal kan bukan dari siapa-siapa). Aku coba memahami perasaannya, aku sadar tak bisa memperhatikannya 100%. Untuk itu, aku selalu mengusahakan hari minggu selalu dirumah, mendengarkan ceritanya, mendengarkan keluhan atau sekedar menemani nonton sinetron ( itu hobinya, meskipun aku sebenarnya gk suka he.. he.. ) .

Hal yang paling menonjol dari kelebihannya adalah masakannya. Hmmm.. drive me crazy. Aku suka sebel dengan kakak ku yang jarang memuji masakan ibu. Setiap ada cacat sedikit, mungkin karena kelebihan garam saja, mereka akan complain lantaanggg sekali. Tapi saat makanannya pas dan enak, biasanya mereka Cuma berbisik: masakannya enak, ibu pinter masaknya. Oh no.. it’s not fair. Kalo udah gini biasanya aku-lah yang akan berteriak-teriak menyampaikan pujian kakak ku itu. Seneng deh bisa bikin ibu bahagiaa..!! hopefully, mudah-mudahan talenta masaknya cepet menular kepadaku.

Namun bagaimanapun juga, ibuku tetaplah manusia biasa, tidak seideal impian. Semoga aku bisa mencintai kekurangannya selayaknya aku mencintai kelebihannya. Whatever, I do very.. very… very Loooveeee yaaaa My Dearest Mother..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: