Oleh: niadp | April 23, 2008

Celoteh Ukhti 1

…… Susahnya Jadi Jilbaber…………

kok merasa susah…?? Jadi jilbaber ya harus tulus, ikhlas dan harus terima konsekuensinya dong..!! iya.. iya.. judul itu bukan karena keberatan jadi jilbaber tapi Cuma plesetan dari judul filmnya Nova Eliza “ Susahnya Jadi Perawan” itu lho . Tapi iya juga sih.. pake jilbab tug k gampang, apalagi untuk bisa menjelma sebagai akhwat sejati butuh sedikit perjuangan agar tetap istiqomah. Biasanya kalo seorang perempuan sudah memutuskan untuk memakai jilbab, maka akan dihadapkan dengan tuntutan sosial. Maksudnya?? Yah.. believe or not, seorang jilbaber identik dengan pemahaman agama yang lebih dalam, lemah lembut dalam tutur kata dan berjuta karakter baik diharapkan melekat pada diri seorang jilbaber. Bahkan terkadang di identikkan dengan paham bahasa Arab juga ( wah.. untuk yang satu ini aku sendiri juga Cuma tau dikit- dikit; paling Cuma bisa bilang kaifa khaluk, afwan jiddan, syukron… pokoknya perbendaharaan katanya masih level rendahan banget ) Mungkin itu salah satu alasan perempuan untuk menunda diri berhijab. Karena takut belum bisa menerima konsekuensinya dan takut dibilang “merusak citra jilbab”. Bukankah segala sesuatu itu butuh proses. Kalau proses itu tak pernah dimulai mo kapan lagi? Kapan bisa mendapat predikat ‘akhwat’? bukannya ingin membuat spesialisasi atau meng-kotak – kotakkan status tapi denger- denger nggak semua jilbaber disebut akhwat. Akhwat itu yang jilbabnya gede, kalau agak kecil disebut akhwit, kalo jilbabnya kecil itu ikhwit, nah.. klo udah super kecil disebut uikhwit he..he (kidding ONLY, joke ini bukan aku yang ngarang lho!!)

kata akhwat itu sendiri berasal dari bahasa Arab dengan akar kata (fi’il madzi) ukhtun yang artinya saudara perempuan. Ciri-ciri secara fisik berjilbab lebar dan besar, memakai kaos kaki, jalannya menunduk dan terkadang dilengkapi dengan cadar (tapi gk gitu-gitu amat, karena jilbab bukan topeng sehingga kita melupakan karakter kita yang sebenarnya. just be your self asal tetep syar’i). yang terpenting sesuai dengan landasan dalam Al Qur’an saja :
“ Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tdk diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( Al Ahzab 59)

“ Didalam surga itu terdapat bidadari- bidadari yang sopan. Menundukkan pandangannya. Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka. Tidak pula oleh jin. ( Ar Rahmaan 56)

“ katakanlah kepada wanita beriman hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya ( An Nuur 32)

Nah lho.. siap jadi jilbaber berpredikat akhwat? Apa salahnya dicoba? Gk da ruginya khan memperbaiki diri?
Anyway, jadi jilbaber itu susah-susah gampang (menurutku). Gampang klo emang bener-bener dari hati, bukan karena terlihat cantik klo pake jilbab atau hanya ingin disebut “wanita soleha” (semoga saja tulus dari hati dan merasa itu adalah salah satu bentuk pengabdian kepada Allah SWT). Susahnya, terkadang orang lain seringkali menuntut sang jilbaber selalu perfect dalam karakter baiknya. Apa yang biasa orang lain lakukan tidak akan sama dalam pandangan jika seorang jilbaber yang melakukannya. Contohnya simple aja, diambil dari pengalaman pribadi aja ya.. pernah dalam satu acara aku datang tanpa dilengkapi kaos kaki, karena sebuah mismanagement sehingga semua kaos kakiku pada saat itu dicuci semua. Sesampainya ditempat acara hampir semua mata teman-temanku tertuju pada kakiku. Dengan pandangan yang ‘sedikit sinis’, mereka bilang ‘Nia kok gk pake kaos kaki? Kaos kakinya kemana?” wiii.. klo boleh memutar waktu, ingin rasanya gk datang aja deh.. apalagi mereka ngeliatin kakiku seolah-olah aku gk pake baju aja. Wah.. ternyata gk bisa dimaklumi yach,, padahal kasusnya tergolong kecil, gk pake kaos kaki, bukan gk pake jilbab. Nyesel sekali gk pake kaos kaki. Sepanjang acara kakiku terasa dingin sekali, malu dan gk PD ngapa-ngapain. Dalam hati aku berdo’a semoga aku diberikan kekuatan untuk lebih istiqomah lagi. Aku sering sekali mendapat komentar dari orang – orang disekitarku. ‘ tumben pake baju kecil atau “ jilbabnya kok pendek?’. Padahal kesalahannya gk parah kok, sependek-pendek jilbabku tetep aja menutup dada (afwan,, sedikit membela diri). Tapi semua komentar aku catat untuk tidak aku ulangi lagi. Jilbab-jilbab yang menurut mereka pendek pun tidak ku pakai lagi, padahal salah satunya adalah oleh-oleh ibuku sepulang dari Yogya. Jadilah ibuku cemberut karena oleh-olehnya aku hibahkan pada orang lain ( I’m so sorry Mom). Duh.. susahnya menjaga perasaan orang. Lucunya lagi.. boncengan sama kakakku sendiri aja langsung dapat sms “hayoo.. sama siapa tadi?”. Keliatan ngobrol sama cowok aja langsung dihujani pertanyaan-pertanyaan “ udah mulai berubah ya..?”. jika aku melihat kenyataan disekitarku, tiap orang bebas melakukan apapun tanpa komentar. Sedangkan seorang jilbaber diharapkan selalu menjadi uswatun hasanah ( contoh yang baik). Tidak hanya diluar tapi dirumah juga, kakak-kakakku seringkali ‘menggoda’ dengan cara memancing kemarahanku, karena menurutnya percuma aja banyak baca buku klo gk ada aplikasinya. Percuma baca buku ‘ LA TAHZAN’ klo gk bisa mengatur emosi dan menata hati. Duh.. susahnya..

But take it easy guys.. !! jangan takut. Yakinlah bahwa semuanya akan menjadikan kita jauh lebih baik. Manusia tidak ada yang sempurna. Memang sulit menyeimbangkan tampilan luar dan kepribadian. Semua butuh proses dan proses butuh waktu. Berproseslah layaknya ulat yang ingin menjadi kupu-kupu. Sang ulat harus berpuasa terlebih dahulu, menjalani ritual yang berat. Sampai akhirnya keluar menjadi kupu-kupu nan indah.sebagai manusia biasa dengan kadar iman yang naik turun ( bahkan lebih banyak turunnya dan susah naiknya ) tiada pilihan lain selain memohon kepada Allah untuk selalu diberikan petunjuk jalan yang benar, jalan yang Ia ridoi. Mengutip lirik lagu Rossa dalam lagunya TAKDIR CINTA “ Penguasa Alam,,! Tolonglah pegangi aku. Biar ku tak jatuh pada sumur dosa yang terkutuk”. Meskipun teorinya kitasudah tau, tetap saja aplikasinya gk semudah mengedipkan mata. Iya khan.

Dan aku.. aku adalah satu dari sekian banyak wanita yang ingin sekali membidadarikan diri. Walau harus diakui ibadahku pun jauh dari kata “sempurna”. Aku tak pernah tau ibadahku yang mana yang diterima oleh Allah atau bahkan tidak ada satupun ibadahku yang diterima. Aku tahu jika ditimbang tentunya nikmat-Nya jauh lebih banyak dibandingkan dengan ibadahku. Lalu, pantaskah mendamba soleha atau pantaskah diri ini mendamba menjadi bidadari surga? Hanya Allah yang tahu segalanya. Aku berdo’a agar bisa menjadi akhwat yang sesungguhnya tidak menjadi akhwat asal-asalan, yang dari tampilan lurnya akhwat sekali tapi tingkah laku dan kepribadiannya jauh dari syar’i. masih suka melakukan khalwat dan ikhtilat, menor dalam dandanan dan sederet hal yang non-syar’I seperti yang ditulis Annisa Aurelia dalam bukunya ‘Kerudung tapi kok gitu ya?’. Mari bercermin dan menjadi cermin. Cari referensi sebanyak-banyaknya untuk dijadikan panduan agar ibadah kita tidak sia-sia. Actually, jadi jilbaber tu gk susah.. kita akan merasakan betapa banyaknya perhatian orang disekitar yang ingin melihat kita lebih baik. Don’t be afraid to try …


Responses

  1. Itulah enaknya dihusnodhoni solehah. Banyak yang akan mengingatkan begitu kita sedikit lupa bagaimana harus bersikap…

    Istiqomah memang sulit, tapi harus terus diupayakan, bukan begitu?

  2. Asalamu’alaikum.
    Ukhti eang drahmati Alloh dmana saja enkau brada.
    Alhamdulillah, ddunia ini msh dhiasi oleh wnta2 solehah seperti ukhti.
    Smga ukhti sllu di anugrahi kbhagiaan dan senantiasa dlm lndungan dan bmbingan Alloh SWT.
    Amin.
    Ukhti, mmang bnar klo qt dah dianggap”orx baek alias soleh”, atw sdkit p’y namalah dmata orx b’yak, sdkit za qt brbwt “salah” pasti diomongin atw pling bgus kena tgur, biar qt bsa instrokpeksi diri.
    Tpi jgn kwatir, la takhouf la tahzan innallooha ma’ana.
    Slma qt bner dhdpan Alloh, qt g prlu cmas atw kwatir, krn eang nama’y orx, qt brbwt bner atw salah pasti bkal kena omong, alias diomongin.
    Apa lgy orx ntu adl orx eang g suka ama qt, eang bener za jdi salah apa lagy eang “salah”.
    Jdi, jgn prnahkawatir dgn omongan orx slma qt bner, tetaplah istiqomah menapaki jalan eang diridhoi Alloh.
    Trus klo qt, b’yk dpt ujian, ea sabar saja, itung2 latihan kesabaran+keimanan.
    Semangat!
    Semangat!
    Semangat!
    Allohu akbar!

    Waskum.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: