<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Road To Grow Up.. Akhwat Wanna Be</title>
	<atom:link href="http://niadp.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://niadp.wordpress.com</link>
	<description>Ketika Hidup Memberi Seribu Alasan untuk Ingin Sesuatu, maka Allah punya sejuta pengetahuan akan kebutuhanku</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Jun 2011 03:11:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='niadp.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Road To Grow Up.. Akhwat Wanna Be</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://niadp.wordpress.com/osd.xml" title="Road To Grow Up.. Akhwat Wanna Be" />
	<atom:link rel='hub' href='http://niadp.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PROSES VS WAKTU ( Keyakinan Utuh Pada-Nya)</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/07/11/proses-vs-waktu-keyakinan-utuh-pada-nya/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/07/11/proses-vs-waktu-keyakinan-utuh-pada-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 10:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[LOVELY POETRY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/2009/07/11/proses-vs-waktu-keyakinan-utuh-pada-nya/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengarkan kisah Nabi Uzair? Saya baru saja tahu sedikit ceritanya. Kisah Nabi ini penuh ibrah, namun seringkali kita abaikan. Ya.. seringkali kita abaikan. Saya jadi ingat seseorang yang mempertanyakan,” Kenapa cuma 25 Nabi saja yang musti kita ketahui, padahal ada banyak Nabi yang diutus Allah?.” Dan dengan usilnya saya jawab,” 25 Nabi saja kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=293&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengarkan kisah Nabi Uzair? Saya baru saja tahu sedikit ceritanya. Kisah Nabi ini penuh ibrah, namun seringkali kita abaikan. Ya.. seringkali kita abaikan. Saya jadi ingat seseorang yang mempertanyakan,” Kenapa cuma 25 Nabi saja yang musti kita ketahui, padahal ada banyak Nabi yang diutus Allah?.” Dan dengan usilnya saya jawab,” 25 Nabi saja kita tidak hafal dan persis faham kisahnya satu persatu, apalagi kalau lebih dari itu.” tertawalah ia.. ( Intermezo only!).</p>
<p>Nabi Uzair termasuk salah satu Nabi yang diutus ke Bani Israil setelah Nabi Musa, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Bani Israil adalah kaum yang tidak beriman, berhati batu, suka membantah, dan tidak mau mengalah sejak masa Yaqub hingga Nabi Isa. Dalam ajaran Islam, setiap orang bertanggung jawab atas keluarganya sendiri, kemudian masyarakat. Barulah setelah itu boleh hijrah ke tempat lain untuk berdakwah. Namun Uzair diutus ke Bani Israil dengan meninggalkan kampung halamannya. Beliau menempuh perjalanan dengan keledai sebagai tunggangannya. Berbeda dengan Nabi lain yang pada umumnya berdakwah di kaumnya sendiri, Uzair ditugaskan ke tempat lain.<span id="more-293"></span></p>
<p>Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi dan Rasul mengemban misi dakwahnya selama bertahun-tahun. Butuh kesabaran, ketabahan dan kerja keras serta melalui rintangan, hambatan, musibah dan siksaan. Nabi Nuh berdakwah selama 1000 tahun untuk mengajak kaumnya menyembah Allah. Nabi Muhammad butuh waktu 23 tahun untuk mengajak umatnya masuk islam.</p>
<p>Muncul banyak pertanyaan; apakah kita termasuk pendakwah? Apakah dakwah dan prilaku kita saling bertentangan? Apakah dakwah kita bisa membuat mereka cinta atau malah lari dari agama?</p>
<p>Kita belajar dari Nabi Uzair yang ditugaskan berdakwah di daerah yang tidak dikenalnya (mungkin bisa dihubungkan dengan dunia maya yang terkadang kita satu sama lain tak saling kenal). Namun cobalah dan berusahalah. Allah akan membukakan jalan dakwah. Dakwah adalah seni dan keterampilan.</p>
<p>Kembali ke kisah Nabi Uzair, sesampainya di tempat yang telah ditentukan beliau terkejut mendapati tempat itu hancur, tidak berpenghuni, bangunan-bangunan roboh. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.<br />
“ Allah mengapa Engkau utus aku ke tempat seperti ini, tidak ada manusia yang bisa aku dakwahi?,” tanya beliau.<br />
Jika kita berada di posisi Nabi Uzair, mungkin kita lebih memilih pulang seraya berpikir,” Apa Allah salah perintah ya?.”<br />
Astaghfirullah.. mustahil Allah salah.</p>
<p>Nabi Uzair bertahan. Beliau yakin ada tugas yang harus dikerjakan. Beliau harus menuntaskan tugas sesuai perintah-Nya. Itulah keteguhan dan keyakinan Uzair kepada Allah. Beliau sangat yakin dengan kekuasaan-Nya. Beliau yakin Allah akan menghidupkan kembali tempat yang hancur lebur ini. Bahkan beliau ingin melihat sendiri bagaimana Allah menghidupkan negeri yang sudah mati. Dengan kesabaran dan ketabahan, beliau menunggu perintah Allah selanjutnya.</p>
<p>Bagaimana dengan keyakinan kita? Sudahkah sampai ke level ini. Yakinkah kita Allah akan memenangkan jihad-jihad umat islam? Yakinkah kita Allah akan memperbaiki Negara kita? Mari kita miliki keyakinan Nabi Uzair. Keyakinan kepada Allah adalah anugaerah terindah yang dimiliki seseorang. Dengannya akan terbentuk mental yang kuat dan berani. Yakinlah, Allah tidak akan menelantarkan hamba-hamba-Nya yang selalu berhubungan dengan-Nya. Kewajiban-kewajiban yang kita kerjakan akan memperkokoh keyakinan kita.</p>
<p>Jangan putus asa, meski berbagai macam ketidakadilan selalu menimpa umat islam, jangan pernah kehilangan keyakinan. Belajar dari Uzair. Beliau yakin Allah tidak akan menelantarkannya. Naiklah beliau ke atas bukit, keledainya diikat di pohon. Lalu beliau duduk menunggu. Ia berharap dapat menyaksikan Allah menghidupkan kembali tanah yang sudah mati. beliau ingin daerah itu diperbarui sesuai dengan keinginan dan harapannya. Apa maksudnya?</p>
<p>Ilustrasi singkat, ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif yang jaraknya sangat jauh dan ditempuh dengan jalan kaki, beliau tidak mendapatkan apa-apa (upaya dakwahnya nihil), tidak ada seorangpun mengikuti dakwahnya. Akhirnya, beliau beristirahat di sebuah padang pasir untuk shalat. Kedua kaki beliau terasa perih. Tak lama berselang, datanglah serombongan jin yang menyatakan diri masuk islam. Subhanallah! Bagaimana bisa. Jauh-jauh beliau menempuh perjalanan untuk mendakwahi manusia, tapi yang datang malah serombongan jin.</p>
<p>Secara tidak langsung Allah berkata:<br />
“ Muhammad, kamu telah berusaha keras untuk berdakwah di tempat itu, dan kamu akan mendapat balasan dari usahamu, namun balasan itu tidak seperti yang engkau bayangkan/harapkan. Jangan pernah menganggap, usaha kerasmu-lah yang menyebabkan kemenangan Islam. Tugasmu hanya berusaha, dan Aku akan menentukan kemenangan tersebut.” Demikian pula-lah jika kita ingin Negara kita menjadi lebih baik. Sepakat..! <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketika Nabi Uzair ingin sekali melihat “perubahan” daerah itu, Allah mematikan beliau selama 100 tahun lamanya. Setelah 100 tahun tidak ada satupun dari tubuhnya yang berubah. Apa artinya? Artinya adalah Allah mampu melakukan apa saja yang di kehendaki-Nya.<br />
Allah berfirman,” Dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). QS 2: 259</p>
<p>Ketika dilihat, keledainya telah berubah menjadi tulang belulang yang hancur dan tidak mungkin hal itu terjadi dalam waktu 1 atau 2 hari saja. Allah jadikan waktu 100 tahun bagaikan 1 hari untuk Uzair dan makanannya, sedangkan keledainya tetap berlalu selama 100 tahun. Dulu, Uzair ingin sekali melihat proses penghidupan tanah yang telah mati, tapi Allah malah menunjukkan hal yang lebih sulit lagi. Dua hal yang ingin disampaikan, yaitu kekuasaan ALLAH dalam mengatur waktu dan rezeki kepada hamba-Nya. Bentuk- bentuk waktu yang ada saat ini hanyalah buatan manusia dan untuk manusia, tapi di sisi Allah waktu itu tidak berlaku.</p>
<p>Belum selesai kebingungan Nabi Uzair, Allah perlihatkan lagi kekuasaan-Nya dengan memperlihatkan tanah yang dulunya mati menjadi hidup dan menyusun kembali tulang belulang keledai serta menutupinya kembali dengan daging.<br />
“ Uzair, naikilah keledai itu sekarang,” perintah Allah.<br />
Dinaikilah keledai itu menuju tempat yang telah dihidupkan kembali oleh Allah. Beliau harus menyelesaikan misi dakwahnya. Turunlah beliau ke desa. Terlihatlah tempat yang ramai dengan aktivitas yang hidup. Orang-orang beranggapan Nabi Uzair telah meninggal 100 tahun yang lalu. Mereka tidak percaya bahwa yang ditemuinya adalah Uzair. Namun setelah dibuktikan barulah mereka percaya. Mulailah Uzair menjalankan misi dakwah yang seharusnya dikerjakan 100 tahun yang lalu, tapi Allah mewujudkannya sekarang.</p>
<p>Ibrah (pelajaran) yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah bahwa keyakinan pada ALLAH harus tertanam dengan kuat dalam hati dan pikiran. Hanya Dia Sang Penentu dan Pengatur segala urusan. Jadilah manusia yang yakin pada-Nya dan terimalah setiap keputusan yang diberikan-Nya. Serahkan semua kepada-Nya, Allah mampu berbuat apa saja yang dikehendaki tanpa ada satupun yang menghalangi.</p>
<p>Mutiara hikmah dari kisah Nabi Uzair adalah:<br />
1. Allah lah Sang Pengatur Waktu sekaligus rezeki dan umur.<br />
2. Perkara hidup dan mati. Allah-lah yang menggenggam umur kita setiap hari yaitu dikala kita tidur, nyawa kita belum tentu kembali. Kematian selalu berulang setiap saat. Tiap kali kita tidur, otomatis nyawa kita terambil sementara. Maka beristighfarlah..<br />
3. Pentingnya mengajak kepada kebaikan. Kita berusaha tidak meninggalkan tanggung jawab ini walau hanya pada satu orang.<br />
4. Yakinlah pada Allah</p>
<p>Bumi ini sudah sangat menderita dan rusak. Dari sekian banyak penduduk bumi, berapa banyak yang beriman kepada Allah?&#8230; Bumi kita sama dengan bumi Uzair. Bumi kita sekarang hancur secara ruh, moral, psikis dan spiritual. Bumi ini telah jauh dari Allah. Solusinya adalah yakin bahwa Allah akan memperbaikinya sebagaimana Allah menghidupkan bumi Uzair. Hanya saja, perbaikan butuh waktu.</p>
<p>Allah sengaja menunjukkan kepada Uzair, proses menghidupkan keledai dalam beberapa menit saja. Tapi dalam menghidupkan tanah yang sudah hancur, Nabi Uzair dimatikan selama 100 tahun. Mengapa tidak dalam waktu sehari saja? Karena Allah tidak ingin mengubah hukum alam yang telah berlaku. Ada sebuah proses alam yang harus dijalani.<br />
“ Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri.” ( QS. 13:11)</p>
<p>Pembangunan itu butuh proses yang bertahap, tidak bisa sekali jadi. Karena itu Allah menciptakan bumi selama 6 hari, tidak dalam waktu 1 hari. Meski itu bisa saja Allah lakukan. Ini dilakukan agar manusia tahu bahwa di bumi ada undang-undang yang telah diciptakan Allah, yaitu proses atau tahapan. Semuanya butuh undang-undang. Perubahan butuh proses melalui usaha dan kerja keras. Mengubah manusia menjadi baik juga butuh proses, dan proses butuh waktu yang sangat panjang.</p>
<p>Allah tidak mengabulkan keinginan Uzair untuk melihat proses penghidupan alam karena bertentangan dengan proses sunnatullah. Mengapa 100 tahun? Karena 100 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubah sebuah peradaban. Kemunduran umat islam terjadi selama 100 tahun. Dimulai dari abad ke-18 hingga abad ke-19. ketika Islam mundur, Eropa bangkit. Lihatlah… umat islam tidak jatuh dalam sekali hentakan, tapi hancur secara bertahap. Sedikit demi sedikit peradaban Islam runtuh digantikan oleh peradaban baru.</p>
<p>Bangkitnya Islam pun tidak mungkin terjadi dalam waktu sehari atau dua hari. Kita tidak perlu menyaksikan kebangkitan itu, yang lebih penting adalah bagaimana membentuk generasi-generasi yang cerdas dan bermoral yang akan merubah peradaban itu. jika kita meninggal dan bendera islam belum berkibar, minimal anak-anak kita akan meneruskannya atau melihat kejayaan Islam. Allah tidak akan bertanya, “ Mengapa Islam tidak berhasil di tanganmu?.” Tapi yang ditanyakan adalah apa yang telah kita berikan untuk islam?. Sammiyah meninggal tapi islam tidak juga menang. Hamzah terbunuh dalam Perang Uhud tapi Islam tidak juga menang. Tetapi satu hal yang pasti, mereka telah berbuat yang terbaik untuk Islam.</p>
<p>Pahami lagi.. antara proses, waktu dan keyakinan utuh kepada Allah.<br />
Negara ini.. butuh pejuang-pejuang yang mau berpeluh dalam barisan yang ambil bagian dari proses kebangkitan itu. Tetaplah berusaha, tak perlu mendengarkan kata orang, cemoohan dan celaan. LANJUTKAN… <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Bangkitlah Negeriku, Harapan itu masih ada. Luruskan niat di hati, rapat barisan sejati. Oposisi bukan solusi <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  (sok tau deh.. he,,he,,). Dalam shalat berjamaah, semakin dekat posisi kita dengan imam, maka semakin mudah kita mengingatkan jika sang imam salah. Bagaimana bisa kita tahu kesalahan Imam jika kita lebih memilih keluar dari Masjid (yah.. denger bacaan imam juga nggak, gimana bisa tau salah benarnya). Shalat sendirian OK.. tapi berjama’ah lebih hebat. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Get it!</p>
<p>Still inspired by Al ustadz Amru Muhammad Hilmi Khalid<br />
A Little Note: Mohon tidak diarah-arahkan, dihubung-hubungkan dengan “sesuatu” apapun. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/293/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=293&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/07/11/proses-vs-waktu-keyakinan-utuh-pada-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Do’a</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/06/30/bahasa-do%e2%80%99a/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/06/30/bahasa-do%e2%80%99a/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 07:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Do'a dan Harapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Diantara kita ada yang berkata,” saya telah merasakan pentingnya do’a, tapi saya tidak tahu do’a yang tersusun bagus. Saya hanya tahu sedikit tentang agama, apakah do’a saya yang sederhana ini akan dikabulkan? Apakah saya harus tetap berdo’a atau tidak? Saya tidak bisa berdo’a selain dengan bahasa daerah…”. Mengenai hal itu, pernah seorang lelaki datang kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=290&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diantara kita ada yang berkata,” saya telah merasakan pentingnya do’a, tapi saya tidak tahu do’a yang tersusun bagus. Saya hanya tahu sedikit tentang agama, apakah do’a saya yang sederhana ini akan dikabulkan? Apakah saya harus tetap berdo’a atau tidak? Saya tidak bisa berdo’a selain dengan bahasa daerah…”.</p>
<p>Mengenai hal itu, pernah seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu berkata,”Wahai Rasulullah, saya tidak bisa menirukan bacaan-bacaanmu ya Rasul maupun bacaan-bacaan Mu’adz.” Maka Rasul pun bertanya,” Apa yang biasa engkau baca?’. Lelaki itu menjawab,” Aku berucap,” Ya Allah, sungguh aku meminta surga kepada-Mu, dan berlindung kepada-Mu dari api neraka.” Rasul pun mengatakan,” Demikian jugalah aku dan Muadz biasa mengucapkan.”</p>
<p>(HR. Ibnu Majah dan Imam Ahmad)</p>
<p>Untuk itu, berdo’alah kepada Allah seperti yang kita rasakan dan jangan membebani diri. Tak perlu membuat-buat munajat. Jadilah diri sendiri, dan seketika itu juga kita akan menemukan lidah kita selayaknya lidah para Shalihin, hanya jika kita benar-benar tulus dan mencintai Allah seraya merasakan dalamnya nilai kepasrahan terhadap-Nya, yang akan menumbuhkan kerendahan, kekhusyuan, ketenangan, perasaan butuh, dan keharibaan penuh kepada Sang Pencipta langit dan bumi.</p>
<p> Ibnul Qayyim mengatakan;</p>
<p>“ sesungguhnya di dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersama Allah.”<span id="more-290"></span></p>
<p> Di dalam hati juga terdapat sebuah kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi kepada-Nya. Di dalam hati, ada tuntutan kuat yang tidak akan berhenti sebelum ALLAH menjadi satu-satunya tujuan.</p>
<p> Itulah sebabnya, do’a termasuk ibadah yang paling indah. Kita semua memiliki banyak tuntutan, baik itu harta, isteri, pekerjaan, anak-anak dan sebagainya. Setiap kita juga selalu mengharap keridhaan, petunjuk, dan karunia Allah. Setiap kita mempunyai beragam persoalan yang ingin terselesaikan.</p>
<p> Ya Rabb…. Seolah sekian banyak masalah dan persoalan dibagi rata agar kita kembali kepada-Nya; seolah segala keinginan dan cita-cita ditunda agar kita senantiasa menengadah kepada-Nya dan seolah-olah ampunan Allah tidak bisa diketahui, apakah telah diberikan atau belum, agar kedua tangan kita tetap rajin menengadah ke atas langit.</p>
<p> Tujuan dari ibadah do’a adalah agar kita senantiasa memohon kepada Allah dan meyakini dengan kuat bahwa Allah akan mengabulkan permintaan kita. Lalu mengapakah kita meminta pertolongan kepada orang yang juga membutuhkan pertolongan??</p>
<p> “ Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” ( QS. Fathir:15)</p>
<p> Sebuah kisah;</p>
<p>Mendiang Syekh Al-Azhaar Dr. Abdul Halim Mahmud menceritakan sebuah kisah nyata yang pernah terjadi di Mesir. Seorang bangsawan yang baik tidak memiliki cara tepat untuk menyuburkan tanah pertaniannya. Hampir saja tanamannya menjadi sia-sia. Ia pun duduk ditengah sawahnya yang luas dan berkata,</p>
<p>”Ya Allah, sesungguhnya Engkau berfirman,</p>
<p> “Maka aku katakan kepada mereka,”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat”. (Nuh:11)</p>
<p> Maka saksikanlah disini hamba-Mu, wahai Tuhan, memohon ampun kepada-Mu demi berharap agar Engkau curahkan rahmat-Mu kepada kami.”</p>
<p> Laki-laki itu terus beristighfar beberapa jam dengan keyakinan penuh akan janji Allah. Seketika itu, tiba-tiba langit diliputi oleh mendung kelam yang seketika mengucurkan air hujan yang amat deras.</p>
<p> Sungguh,” Dan Rabbmu berfirman,”Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenakan bagimu”.</p>
<p> Tidak percaya?? Kita coba yuk..!</p>
<p> Sayangnya.. manusia sering lupa.</p>
<p> Allah telah mengabulkan ribuan do’a kita namun kita melupakannya. Tidak selamanya pengabulan do’a seketika itu juga. Terkadang Allah mengabulkannya pada waktu yang telah ditentukan dan kita lupa bahwa hal itu sesungguhnya sebagai jawaban atas do’a kita sebelumnya. Beribu do’a kita telah terkabul. Ingat-ingatlah kembali.. janganlah lupa, sebab manusia sejati tidak akan melupakan cinta dan jasa walau sekejap. Apalagi terhadap pemberian yang terus menerus sepanjang hayat..</p>
<p> Kemudian, tahukah kita bahwa Rasul bersabda;</p>
<p>“ Do’a seorang muslim untuk saudaranya dari jauh (ketika tidak sedang bersama) adalah do’a yang mustajab. Di kepalanya terdapat seorang malaikat khusus yang setiap kali ia berdo’a untuk saudaranya, malaikat itu berkata; “Amiin. Dan semoga engkau juga mendapatkan yang serupa.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)</p>
<p> Marilah kita menjadi orang yang cerdas. Jika menginginkan do’a dan hajat dikabulkan oleh Allah, berdo’alah kepada-Nya untuk saudara kita dari jauh, sehingga do’a ini akan dikabulkan juga untuk kita secara tidak langsung. Subhanallah.. tidakkah kita ingin mencobanya??</p>
<p> Ayolah kita berdo’a tidak untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Berlakulah itsar dalam berdo’a. do’akan pula Negara kita, pemimpin kita dan tiap-tiap pejuang yang memperjuangkan kebenaran di jalan Allah. Do’akan pula keluarga, saudara, tetangga, semuanya.  Sanggup?? Kita coba yukkk! Bilakah kita berpikir bahwa carut marut Negara kita karena kita tak pernah mendo’a akan kebaikan baginya, yang ada kita hanya berprasangka, pesimis dan mencela serta berkoar-koar, “mana buktinya, mana hasilnya, dan sebagainya”. Sekarang, coba kita balik deh.. kita coba mulai mendo’akan sekaligus ber-azzam menjadi rakyat yang baik. Satu request khusus: do’akan saya juga yah..</p>
<p> kekuatan akan diberikan</p>
<p>pada saat kita tidak berpikir utk diri kita</p>
<p>pada saat kita berpikir utk orang lain</p>
<p>maka Allah akan memberikan kekuatan</p>
<p>dan itu adalah kekuatan yang sempurna</p>
<p>untuk membuat kita lebih sukses</p>
<p>( nyontek kata-katanya mas ERWIN )</p>
<p> Hmmm.. tapi kok sampe sekarang do’a kita masih belum diijabah ya..</p>
<p>Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa ALLAH bertanya kepada JIBRIL,”wahai Jibril! Apakah hamba-KU berdo’a kepada-Ku?</p>
<p>Jibril pun menjawab,”Ya”</p>
<p>Allah bertanya lagi,” Apakah ia menghiba kepadaku dalam meminta?”</p>
<p>Jibril menjawab,” Ya.”</p>
<p>Maka Allah berfirman, “ Wahai Jibril, tangguhkanlah (pengabulan) permintaan hamba-Ku, sebab Aku suka mendengar suaranya.”</p>
<p> Dari kesenyapan yang luar biasa, kesenyapan permulaan yang tak berawal muncul kerinduan Tuhan.</p>
<p>&#8220;Aku adalah perbendaharaan tersembunyi dan Aku ingin dikenal&#8221;. ( HADITS Qudsi)</p>
<p> Tahukah kita bahwa dosa yang membuat kita hina lebih disukai ALLAH disbanding taat yang kita bangga-banggakan. Jerit kita yang melakukan dosa lebih baik disisi Allah ketimbang kesombongan orang-orang yang taat..</p>
<p> Saya rasa antum-antum semua sangat faham dan bisa memaknai dengan jelas.</p>
<p> Khafizakumullahu wa jazaka khair..</p>
<p> Thanks to Al ustadz Amru Muhammad Hilmi Khalid as an inspiration to face up my daily reality of life; spiritnya beda, bahagianya juga beda..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/290/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=290&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/06/30/bahasa-do%e2%80%99a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IMAM HANBALI: ZAHID yang TEGUH BERPRINSIP</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/06/18/imam-hanbali-zahid-yang-teguh-berprinsip/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/06/18/imam-hanbali-zahid-yang-teguh-berprinsip/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 10:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[SERI TOKOH IMAM MADZHAB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[IMAM HANBALI (164-241 H atau 782-856 M)  Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adalah Imam yang keempat dari fuqaha Islam. Beliau memiliki sifat-sifat yang luhur dan tinggi, Imam umat Islam seluruh dunia, Imam Darussalam, Mufti di Irak, zahid dan saleh, sabar menghadapi cobaan, seorang ahli hadits dan contoh teladan bagi orang-orang ahli hadits.  Sayyid Rasyid Ridha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=284&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">IMAM HANBALI</p>
<p align="center">(164-241 H atau 782-856 M)</p>
<p> Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adalah Imam yang keempat dari fuqaha Islam. Beliau memiliki sifat-sifat yang luhur dan tinggi, Imam umat Islam seluruh dunia, Imam Darussalam, Mufti di Irak, zahid dan saleh, sabar menghadapi cobaan, seorang ahli hadits dan contoh teladan bagi orang-orang ahli hadits.</p>
<p> Sayyid Rasyid Ridha berpendapat bahwa Ahmad bin Hanbal adalah seorang mujadid abad ke-3 hijriah. Ada pula yang berpendapat, Ahmad bin Hanbal-lah yang berhak dinamakan mujaddid abad ke-3 dibanding dengan Ibnu Suraij, Syafi’i, Al Khilal atau An Nasai.</p>
<p> Ahmad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad, bulan Rabuil Awal tahun 164 H. keturunan Ibnu Hanbal bertemu dengan keturunan Rasulullah pada Mazin bin Mu’ad bin Adnan. Beliau termasyhur dengan nama datuknya (Hanbal) karena datuknya lebih masyhur dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang pejuang yang militan sedangkan datuknya adalah seorang gubernur di Sarkas. Khurasan, ketika masa pemerintahan Umawiyin pernah disiksa karena beliau salah seorang penyokong Abbasiyah. Ayah beliau meninggal pada saat beliau masih kecil. Beliau dibesarkan oleh ibunya Safiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik Asy Syaibani dari suku Amir. Orang tua beliau adalah keturunan asli Arab asli suku Syaiban tinggal di Basrah. Karena itu beliau digelari Al Basri. Apabila ziarah ke Basrah, beliau shalat dulu di masjid Mizan karena kata beliau masjid itu adalah masjid nenek moyangnya.<span id="more-284"></span></p>
<p> Ahmad bin Hanbal sangat menyayangi ibunya, terbukti ketika beliau sakit panas ketika berpergian ke Kufah, beliau mengatakan bahwa sakitnya disebabkan tidak minta izin dulu kepada ibunya sebelum berangkat.</p>
<p> Ibnu Hanbal hidup dalam kemiskinan. Beliau dalam memenuhi kebutuhan hidup harus melakukan aneka ragam pekerjaan seperti bekerja di tukang jahit, memilih sisa-sisa panen sehabis menuai, mengambil upah menulis dan terkadang mengambil upah dalam membawa barang-barang, yang penting halal dan beliau tidak mau menerima hadiah-hadiah.</p>
<p> Beliau menunaikan ibadah haji sebanyak lima kali, tiga kali ditempuh dengan berjalan kaki dengan biaya 30 dirham saja di setiap haji-nya.</p>
<p> Perjalanan-perjalanan beliau dalam menuntut ilmu pun ditempuh dengan bagaimanapun caranya dan dengan keterbatasan materi serta fasilitas. Seperti perjalanannya ke Kufah beliau tidur di sebuah gubug dengan berbantalkan tanah. Saat beliau belajar ke Yaman, beliau harus bekerja mengangkut barang bersama para kuli.</p>
<p> Di umur ke- 14 Ahmad bin Hanbal belajar mengarang, bahasa dan menghafal Al Qur’an. Beliau menuntut ilmu dengan giat. Sebagian ilmu yang didapatnya dipelajari dari Abu Yusuf. Pada mulanya beliau mempelajari kitab-kitab yang berdasarkan pemikiran-pemikiran. Kemudian beliau tinggalkan dan berpindah mempelajari hadis-hadis yang harus dikumpulkan dari beberapa tempat, hal ini dimulai pada tahun 174 H. Meskipun beliau miskin, tidak menghalangi diri beliau berpetualang mencari ilmu.</p>
<p> Ada riwayat yang menceritakan bahwa pada suatu kali Ahmad bin Hanbal mengembara dari Baghdad ke Syam. Ketika beliau bertemu dengan orang yang masyhurtempat beliau akan belajar, kebetulan orang itu sedang memberi makan anjing, sampai beliau bosan menunggu. Setelah selesai, orang itu menoleh dan berkata,”Mungkin saja engkau marah kepadaku”. Mendengar jawaban Ahmad bin Hanbal bahwa memang demikian, perawi itu terus menjelaskan,” Di negeri kami ini, tidak ada anjing. Tetapi anjing itu mengikutiku minta makan karena lapar dan haus. Dengan memberi makan dan minum aku merasa telah menunaikan kewajiban sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW., menurut yang diriwayatkan oleh Abi Az-Zanad, dari Araj, dari Abi Hurairah:</p>
<p> “ Barangsiapa yang memutuskan harapan dengan orang yang mengharap, Allah akan memutuskan pula harapannya di hari kiamat”</p>
<p> Mendengar ucapan itu, Ibnu Hanbal tersenyum dan berkata, “Hadits ini sudah cukup bagiku”. Beliau pun pulang kembali ke Baghdad.</p>
<p>Ibnu Hanbal sangat berhati-hati tentang riwayat hadits, karena hadits sebagai dasar tidak akan di dapatkan faedahnya tanpa meneliti riwayatnya. Beliau berkata,”Barangsiapa yang tidak mengumpulkan hadits dengan riwayatnya serta perbedaan pendapat mengenainya, tidak boleh memberikan penilaian tentang hadits tersebut dan berfatwa berdaarkannya.</p>
<p> Guru-guru Ibnu Hanbal</p>
<p>Guru-guru Ibnu Hanbal yang pertama ialah sahabat Abu Hanifah, Abu Yusuf Ya’kub bin Ibrahim. Ahli sejarah berpendapat bahwa pengaruh Abu Yusuf tidak besar terhadap beliau, maka yang dianggap gurunya yang pertama adalah Husyaim bin Basyir bin Abi Qasim Al Wasithi, yang diikuti Ibnu Hanbal selama lebih empat tahun untuk mempelajari tiga ribu hadits. Husyaim adalah Imam Hadits di Baghdad dari generasi tabi’it-tabi’in yang banyak mendengar hadits dari imam-imam dan banyak orang lain yang meriwayatkan hadits dari dia, seorang yang sangat takwa, wara’ dan kuat ingatan yang dilahirkan tahun 104 H dan meninggal tahun 183 H.</p>
<p> Disamping itu, beliau juga belajar dengan Umair bin Abdullah, Abdurrahman bin Mahdi dan Abu Bakar ‘Iyadi. Imam Syafi’i dikatakan oleh sebagian orang sebagai guru kedua yang memberikan pelajaran tentang pemahaman hukum dan cara-cara mengistimbatkan hukum. Ibnu Hanbal juga pernah belajar dari Ibrahim bin Saad, Yahya bin Al Qattan, Waki’ dan lain-lain. Selain itu beliau belajar kepada Sufyan bin ‘Uyainah yang tinggal di Mekkah.</p>
<p> Ibnu Hanbal lebih menonjol sebagai seorang tokoh dalam ilmu hadits daripada seorang tokoh ilmu fiqh, sehingga ada pendapat yang mengatakan bahwa beliau bukanlah imam dalam bidang fiqh. Tetapi pendapat itu tidak dapat diterima karena perhatian beliau yang menjurus kepada ilmu hadits tidak mengurangi ketinggian ilmunya dalam bidan fiqh. Meskipun beliau tidak menyusun kitab ilmu fiqh, tapi sahabat dan murid beliau menyusun kitab fiqh yang merupakan himpunan pendapat beliau, seperti kitab “Al Jami Al Kabir” yang terdiri dari 20 jilid yang disusun oleh Ahmad bin Muhammad Al Hilal dan lain-lain.</p>
<p> <strong>Ibnu Hanbal sebagai Guru</strong></p>
<p>Pada umur 40 tahun beliau mulai mengajar di masjid jami’ kota Baghdad. Majelis beliau terbagi dua: umum dan khusus. Pelajaran umum diadakan sesudah ashar di masjid. Pelajaran khusus diadakan di rumahnya sendiri. Beliau tidak pernah bersenda gurau, karena beliau sendiri tidak sabar terhadap cemoohan dalam senda gurau tersebut. apabila orang yang suka bersenda gurau di dekat beliau, orang itu tidak mau bergurau.</p>
<p> <strong>Sumber-sumber fiqh Ibnu Hanbal</strong></p>
<p>Ibnu Hanbal adalah orang yang sangat berpegang kepada Sunnah Rasul karena sunnah itulah yang menafsirkan Qur’an dan hukum-hukumnya. Ibnu Hanbal menempatkan Al Qur’an sebagai sumber hukum fiqh yang pertama, sunnah yang kedua, dan kata-kata serta fatwa para sahabat sebagai sumber ketiga. Selain itu beliau mengambil qias, ijma’, mahalih mursalah dan sadduz-zarai.</p>
<p> Ibnu Hanbal juga menggunakan hadits-hadits dhaif apabila tidak ada dalil lain selam tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama atau hukum yang berdasarkan kepada hadits shahih. Beliau sangat teliti tentang hadits-hadits yang menyangkut masalah halal dan haram, baik matan atau sanadnya, dan mempermudah persyaratan hadits-hadits jika menyangkut masalah-masalah dorongan untuk berbuat baik atau kelebihan suatu amal. Dalam hal ini beliau berkata,” Apabila kami menerima hadits-hadits Rasul mengenai halal haram, sunnah dan hukum, maka kami teliti dengan cermat, baik matan maupun sanadnya. Akan tetapi, kalau kami menerima hadits tentang kelebihan amal ibadah dan hal-hal yang bukan menyangkut masalah hukum, kami permudah syaratnya”.</p>
<p> Ibnu Hanbal memiliki beberapa istilah tersendiri dalam fiqhnya, seperti istilah “akrahuhu” (aku benci) atau “la yu’jibuni” (tidak menarik bagiku) beliau maksudkan bahwa masalah yang dibicarakan hukumnya “haram”. Sebagian orang yang tidak mengerti menyangka bahwa hukum yang sedang dibicarakan hanya sekedar tidak disukai.</p>
<p> Madzhab Ibnu Hanbal terkenal sangat keras dan ketat. Kekerasan beliau itu tampaknya disebabkan karena sifat wara’ yang sangat tinggi, sehingga beliau mewajibkan kepada diri sendiri hal-hal yang tidak diwajibkan kepada orang lain, menjauhi hal-hal yang syubhat dan berpegang teguh kepada hukum yang ada.</p>
<p> Madzhab Ibnu Hanbal juga keras dan berat dalam masalah mensucikan najis, seperti beliau mewajibkan mencuci bejana yang dijilat anjing sebanyak 7 kali, beliau mewajibkan membasuh tangan waktu bangun tidur sedangkan yang lain hanya (berpendapat) sunnat saja. Beliau mewajibkan berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung ketika berwudhu sedangkan yang lain berpendapat sunat saja, dan beliau mewajibkan berwudhu’ sehabis memakan daging onta. Akan tetapi, tidak semua hukum yang diketengahkan Ahmad bin Hanbal keras dan ketat.</p>
<p> <strong>Pandangan Kemasyarakatan Ibnu Hanbal</strong></p>
<p>Walaupun madzhab Hanbali tampaknya berat dan keras, akan tetapi dalam menyangkut kemasyarakatan kita dapati beberapa kelonggaran, seperti beliau berpendapat bahwa tanah yang diwakafkan kepada fakir miskin tidak wajib dikeluarkan zakatnya.</p>
<p> <strong>Syarat-syarat untuk menjadi Mufti</strong></p>
<p>Ibnu Hanbal menggariskan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufti, sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>orang yang memiliki niat ikhlas, karena tanpa keikhlasan ia tidak akan memperoleh petunjuk.</li>
<li>Seorang yang berilmu, berwibawa, wara’ dan tidak sombong.</li>
<li>Hendaklah seorang memiliki wibawa besar, agar tidak diperolok-olok oleh masyarakat</li>
<li>Hendaklah orang yang kuat yang sanggup menghadapi suatu perkara, berkat ilmu dan mentalnya yang tinggi.</li>
<li>Orang yang mengetahui keadaan manusia</li>
<li>Hendaklah orang yang mengetahui ilmu-ilmu Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi.</li>
</ol>
<p> <strong>Murid-Murid Ibnu Hanbal</strong></p>
<p>Murid-murid Ibnu Hanbal diantaranya Yahya bin Adam, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Ali bin al Madini al-Bukhari, Muslim, Anu Daud, Abu Zarah, Ar Razi, Ad Damsiqi, Ibrahim al-Harbi, Abu Bakar Ahmad bin Hani’ At Tha’I, Al-Altram, Muhammad bin Ishaq Al Shaghani, Abu Hatim Ar Razi, Ahmad bin Al-Huwari, Musa bin Harun, Hanbal bin Ishaq, Usman bin Said Ad Darami, Hujaj bin As-Sya’ir, Abdul Malik bin Abdul Hamid Al-Maimuni, Bakyi  bin Makhlid Al-Andalusi, Ya’kub bin Syaibah dan lain-lain.</p>
<p> Ahmad bin Muhammad al-Atram yang meninggal tahun 273 H pernah mengatakan, bahwa dia telah banyak menghafal ilmu fiqh dan perbedaan pendapat dalam ilmu itu, tetapi setelah berjumpa dengan Ahmad bin Hanbal, semua ditinggalkannya. Sedangkan Ahmad al-Maruzi yang meninggal tahun 275 H dan Ahmad bin Muhammad al-Khilal yang meninggal tahun 311 H, adalah orang-orang yang mengumpulkan fiqh Imam Ahmad bin Hanbal.</p>
<p> <strong>Sifat-sifat Ahmad bin Hanbal</strong></p>
<p>Sahabat-sahabat Ibnu Hanbal kebanyakan juga bersifat keras, tegas, zahid, wara’, berpegang teguh pada nash-nash Al Qur’an dan hadits, tidak mau mengadakan penafsiran dan tambahan.</p>
<p>Abu Wafa’ bin Aqil, seorang ahli fiqh bermadzhab Hanbali yang meninggal tahun 513 H menerangkan bahwa sahabat-sahabat Ibnu Hanbal adalah orang-orang yang tegas ikhlas, sangat serius dan tidak suka mengada-ngada. Mereka menjauhkan diri dari pandangan yang berlebih-lebihan, cerita-cerita dan takwilan-takwilan. Mereka banyak mengerjakan ibadah, lebih mengutamakan ke wara’ an dan tidak suka mempelajari ilmu-ilmu yang sukar dan terlalu teoritis. Mereka berpegang pada keterangan-keterangan saja. Kalau ada maksud yang terkandung dibalik keterangan nyata dan lahiriah itu, mereka serahkan kepada Allah. Karena berpegang pada dzahir ayat dan hadits, menjauhi takwilan, merekalah yang banyak menindak pendapat-pendapat yang syubhat.</p>
<p> Dr. Ahmad Asy Syurbasyi (penulis buku Al-Aimmatul Arbaah) berpendapat bahwa tidak ada suatu aliran/madzhab dalam islam yang benar-benar bersih dari bid’ah kecuali madzhab ini. Walaupun kewara’an mereka itu sangat berlebih-lebihan, kita berharapan baik semoga kekerasan madzhab mereka hendaknya dikurangi agar orang-orang kafir dan jahil tertarik untuk mempelajari Islam. Demikian juga kita berharap agar kekerasan mereka dalam menindak hal-hal yang tidak mereka setujui dapat dikurangi, seperti menyerang rumah-rumah yang diragukan, merusak alat-alat musik, memukul para penyanyi, menahan dan menanyai orang yang berjalan berpasang-pasangan dan lain-lain.</p>
<p> Ibnu Athir juga berharap supaya pengikut Ibnu Hanbal dapat mengumpulkan hadits-hadits Rasul dan mengajarkannya kepada manusia. Hendaknya pula mereka dapat terjun ke tengah-tengah masyarakat berfatwa dan mengubah masyarakat sesuai dengan perkembangan waktu, tempat dan watak manusia, tanpa keluar dari ketentuan-ketentuan dalam Qur’an. Cara yang halus dan baik –Insya Allah- akan lebih berhasil dari cara-cara kekerasan, sebagaimana tertera dalam QS. An Nahl 125 dan surat Thaha 44 (Wallahua’lam, Allah lebih tahu mengenai apa yang tidak kita ketahui, kepada-Nya lah kita kembalikan segala sesuatu).</p>
<p> <strong>Penderitaan Ibnu Hanbal</strong></p>
<p>Di masa Ibnu Hanbal telah banyak orang mencari-cari masalah yang belum pernah dipersoalkan sebelum itu,  yaitu apakah Al Qur’an itu “hawadits” (baru) atau “qadim” sama dengan sifat Allah, dimana orang mu’tazilah berpendapat hawadits.</p>
<p>Pemerintah Abbasiyah pada masa itu berpihak dan sangat dekat dengan golongan Mu’tazilah. Banyak orang Mu’tazilah yang memegang jabatan penting dalam pemerintahan seperti Ahmad bin Abi Duad yang memegang jabatan Menteri.</p>
<p>Pada suatu ketika Khalifah Al Ma’mun jatuh sakit. Ibnu Duab dapat membujuk Al Ma’mun menandatangani sebuah surat yang menginstruksikan para ulama mengakui dan mengajarkan paham bahwa Al Qur’an adalah hawadits. Ulama yang berjiwa penakut mematuhinya, tetapi Ibnu Hanbal menolaknya. Beliau tetap berpendapat bahwa Qur’an adalah kalamullah (pembicaraan Allah) dan pembicaraan Allah adalah salah satu sifat-sifat-Nya yang Qadim, karena Dia dan sifatnya sudah ada sejak zaman azali. Akhirnya, Ibnu Hanbal digiring dengan tangan terbelenggu menghadap Khalifah Al Ma’mun, tapi sebelum beliau sampai Khalifah Al Ma’mun meninggal dunia.</p>
<p>Al Mu’tasim menerima wasiat kakaknya Al Ma’mun untuk menyokong golongan Mu’tazilah (mungkin wasiat tersebut atas dorongan dari Ibnu Abi Duab). Karena tindakannya terhadap Ibnu Hanbal dan sangkaan orang bahwa tindakan Khalifah hanya karena hasutan Ibnu Abu Duab, banyak rakyat yang membencinya.</p>
<p>Ibnu Hanbal sendiri karena pendiriannya yang tidak berubah, dipukuli dengan kuat hingga pingsan, lalu diancam akan disiksa dengan pedang. Sesudah itu beliau dipenjarakan selama dua setengah tahun, barulah dibebaskan dalam keadaan lemah, sakit dan banyak bekas penyiksaan. Setelah kondisinya pulih beliau kembali mengajar.</p>
<p> <strong>Kitab-kitab karangan Ahmad bin Hanbal</strong></p>
<p>Kitab karangan Ahmad bin Hanbal hanyalah berisikan hadits sunnah atau atsar sahabat. Yang termasyhur adalah kitab “Al Musnad” berupa kumpulan hadits Rasulullah SAW sejumlah 40.000 hadits. Hadits- hadits tersebut beliau kumpulkan dari perawi-perawi yang terpercaya. Kitab tersebut dijadikan pedoman dalam menyelidiki hadits-hadits.</p>
<p>Kitab beliau yang lain adalah “Az Zuhd” yang menjelaskan sampai dimana kezuhudan nabi-nabi, sahabat-sahabat, khalifah-khalifah dan imam yang bersumberkan hadits, atsar dan “akhbar”, Kitab “As Shalah” yang merupakan kitab kecil, Kitab “Al Manasikul Kabir”, “Al Manasikus Shaghir”, “At Taufiq”, “An Nasikh wal Mansukh”, “Al Muqaddim wal Muakhir fi Kitabillahi Taala”, “Fadlailus Shahabah” dan lain-lain.</p>
<p> Risalah Ibnu Hanbal</p>
<p>Ibnu Hanbal mnulis surat yang kemudian dijadikan sebuah buku kecil bernama “Risalatu Rad’alal-Jihamiyah”. Dalam risalah tersebut beliau mengatakan bahwa golongan jihamiyah dengan segala macam bentuknya itu kafir dan halal dibunuh. Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa seseorang hanya dapat keluar dari Islam dengan mempersekutukan Allah atau menolak sesuatu yang di wajibkan-Nya dengan sengaja bukan karena malas.</p>
<p> Beliau juga mengemukakan pendapat golongan Mu’tazilah yang mengkafirkan segala orang yang berbuat dosa walaupun hanya berupa mencuri sedikit gandum, pendapat golongan Rafidah yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih mulia dari Abu Bakar yang nyata-nyata bertentangan dengan banyak ayat Qur’an maupun hadits.</p>
<p> Selain banyak masalah keimanan mengenai hari kiamat, akhirat dan hal-hal yang diriwayatkan oleh hadits-hadits mengenai masalah tersebut, juga dalam risalah itu Ibnu Hanbal menyatakan imannya tentang akan datangnya Dajjal yang kemudian dibunuh oleh Nabi Isa di pintu Lud.</p>
<p>Risalah tersebut juga menerangkan bahwa pendapat yang baik sesudah Nabi adalah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Selain itu dinyatakan pula kepercayaan kepada 10 sahabat yang telah diberitahu oleh Rasulullah akan masuk surga, kewajiban mematuhi imam, tidak sah nikah tanpa wali, kawin mut’ah adalah haram dan banyak lagi masalah-masalah lain, baik yang menyangkut fiqh, keimanan dan nasehat-nasehat yang beliau ucapkan dalam risalah tersebut.</p>
<p> <strong>Pengakuan- pengakuan Terhadap Ibnu Hanbal</strong></p>
<p>Abu Atim berkata,” Apabila kamu dapati ada orang mengasihi Ahmad bin Hanbal, tentu orang tersebut adalah pembela sunnah”.</p>
<p>An Nawawi mengatakan bahwa beliau adalah orang yang bijaksana, besar, terkemuka, wara’, zuhud, kuat ingatan, lagi banyak ilmu dan besar pengaruh.</p>
<p>Abdullah An Nasai Al Harwi mengungkapkan pujian bahwa Ahmad bin Hanbal adalah orang yang menyatukan antara zuhud dengan takwa, penerang hadits Nabi, yang menebus agama dengan jiwa, dan seorang yang sangat sabar dalam suatu rangkaian syair yang cukup panjang.</p>
<p> <strong>Kepribadian Ibnu Hanbal</strong></p>
<p>Beliau seorang yang mempunyai ingatan kuat, sabar, berkemauan keras, tidak riya’, dan selalu menjauhkan diri dari bersenda gurau. Karena wara’nya, beliau tidak memberikan fatwa tentang suatu masalah yang tidak ditanyakan kepada beliau, tentang masalah yang tidak terjadi, tidak menyukai hal-hal yang sepele, tidak mengeluarkan fatwa berdasarkan pendapat sendiri dan banyak pula menjawab pertanyaan dengan “aku tidak tahu”.</p>
<p>Beliau melarang keras berpegang kepada ilmu para ahli pikir dan mantiq. beliau adalah orang yang sangat bersih, suci, zahid dan menghindarkan diri dari yang haram. Setelah uzur karena tua dan penderitaan, beliau masih bisa mengerjakan seratus lima puluh rakaat sehari semalam dan menamatkan Al Qur’an seminggu sekali.</p>
<p> Keluarga Ibnu Hanbal</p>
<p>Beliau menikah dengan seorang sahaya perempuan bernama Husan. Dari pernikahan tersebut lahirlah beberapa anak, yaitu: Said, Muhammad Al Hasan, Zainab, Fatimah dan anak kembar Hasan dan Husen yang meninggal beberapa hari setelah dilahirkan.</p>
<p> Beliau juga menikahi Al Abasah binti Al Padhl dan memperoleh beberapa anak, yaitu: Saleh yang bergelar Abu Fadhl, dilahirkan 203 H dan meninggal tahun265 H yang pernah menjadi hakim Asbahan dan menulis riwayat ayahnya, Abdullah yang digelari Abu Rahman, pimpinan majelis ilmu hadits, meninggal 290 H dan seorang anak perempuan.</p>
<p> Pada awal bukan Rabiul Awwal 240 H, beliau terserang panas sehingga tidak sanggup berjalan. Menjelang wafat beliau sempat mewasiatkan diantaranya berisi supaya keluarga dan segenap sanak saudara hendaknya tetap menyembah Allah, memuji-Nya, suka memberi nasehat kepada kaum muslimin. Beliau juga mengatakan bahwa Abdullah bin Muhammad Al Ma’ruf ada berhutang kepada beliau sebanyak 50 dinar.</p>
<p> Ibnu Hanbal meninggal dunia pada hari jum’at 12 Rabiul Awwal 241 H. Turut memandikan beliau Abu Bakar Ahmad bin Al Hujjaj Al Maruzi.</p>
<p>Semoga Allah meridhai segenap kebaikannya dan mengampuni tiap kesalahan yang tercelup di dalamnya. Amiin.</p>
<p> Sumber Bacaan:</p>
<ol>
<li>Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab, Bulan Bintang, Jakarta</li>
<li>Moenawar Chalil, Kembali pada Qur’an dan Sunnah, Pen. Bulan Bontang Jakarta,1977 (cetakan keempat)</li>
<li>Abul Hasan Ali al-Husni An Nawawi, Rijalul Fikri wad Dakwah fil Islam, Pen. Darul Fath Damaskus, 1965 (cetakan kedua)</li>
<li>Ahmad Asy-Syurbasy, Al-Aimmatul Arba’ah, pen. Darul Hilal Mesir.</li>
<li>Mochtar Rasyidi, Doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Penerbit Menara Kudus</li>
<li>Ahmad Siddiq, K.H., Khittah Nahdliyah, Penerbit Balai Buku Surabaya.</li>
</ol>
<p><em>(Disadur dari buku: Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Ke Masa karya Imam Munawwir)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/284/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=284&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/06/18/imam-hanbali-zahid-yang-teguh-berprinsip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Syafi&#8217;i; Imam Madzhab Fiqh Ketiga</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/06/15/imam-syafii-imam-madzhab-fiqh-ketiga/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/06/15/imam-syafii-imam-madzhab-fiqh-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 08:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[SERI TOKOH IMAM MADZHAB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[IMAM SYAFI’I ( 150-204 H atau 767-830 H)   Nama lengkapnya “Muhammad Idris As Syafi’i, merupakan imam ketiga, yang juga sebagai seorang pendukung ilmu hadits dan mujaddid (reformer) pada abad ke-2 Hijriah. Dilahirkan di Gazza, Palestina tahun 150 H. Ahli sejarah ada yang berpendapat beliau dilahirkan di Asqalan lebih kurang tiga kilometer dari Gazza dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=278&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">IMAM SYAFI’I</p>
<p align="center">( 150-204 H atau 767-830 H)</p>
<p align="center"> </p>
<p>Nama lengkapnya “Muhammad Idris As Syafi’i, merupakan imam ketiga, yang juga sebagai seorang pendukung ilmu hadits dan mujaddid (reformer) pada abad ke-2 Hijriah. Dilahirkan di Gazza, Palestina tahun 150 H. Ahli sejarah ada yang berpendapat beliau dilahirkan di Asqalan lebih kurang tiga kilometer dari Gazza dan ada pula yang mengatakan beliau dilahirkan di Yaman. Guna menggabungkan pendapat-pendapat yang berbeda itu Yakut menegaskan bahwa Imam Syafii dilahirkan di Gazza, kemudian pindah ke Asqalan sampai usia remaja.</p>
<p>Silsilah keturunan Imam Syafi’i ialah:  Abdullah bin Idris bin Al Abbas Usman bin Syafi’i bin Assaib bin Ubaid Abu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muttalib bin Abdul Manaf. Keturunan beliau bertemu dengan keturunan Rasulullah pada datuk Rasulullah, Abdul Manaf. Karena itu Imam Syafi’i dijuluki dengan anak paman Rasulullah. Yakut menjelaskan bahwa Hasyim yang dimaksud bukan Hasyim bin Abdul Manaf, tapi Hasyim bin Ukhai. Imam Syafi’i menganggap dirinya sebagai orang yang dekat dengan Rasulullah, bahkan dari keturunan “Zawil Qurba” yang berjuang bersama Rasulullah ketika aksi pemboikotan. Maka tidak benar pendapat yang menyatakan beliau bukan keturunan bangsa Quraisy.</p>
<p>Imam Syafi’i berasal dari keluarga miskin yang diusir dari negerinya, lalu hidup di perkampungan orang Yaman. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih kecil, kemudian di bawa ibunya ke Makkah ketika berumur 2 tahun atau 10 tahun sebagai anak yatim. Ibu Imam Syafi’i bernama Fathimah binti Abdullah Azdiyah, berasal dari keturunan Al-Azd.</p>
<p>Imam Syafi’I muda hidup dalam keadaan miskin sehingga beliau harus mengumpulkan batu-batu yang baik, tulang belulang dan pelepah tamar untuk dijadikan catatan dan terkadang beliau pergi ke tempat orang-orang berkumpul untuk meminta kertas guna menyalin pelajaran. Sejak kecil beliau sudah hafal Al Qur’an dan menulis Hadits. Beliau sangat tekun mempelajari kaidah-kaidah nahwu sharaf dengan mengembara lebih kurang 10 tahun bersama kabilah Huzail yang terkenal paling baik bahasa Arabnya dan Imam Syafi’i banyak menghafal syair-syair dari kabilah itu.<span id="more-278"></span></p>
<p>Selain menuntut ilmu beliau juga belajar memanah, dengan sepuluh buah anak panah tanpa meleset satu pun. Cita-cita beliau pada mulanya adalah dua: panah dan ilmu. Orang yang mendengar hal tersebut berkata,” Demi Allah, ilmumu lebih baik lagi dari kepintaranmu memanah.”</p>
<p>Meski beliau banyak belajar sastra Arab, tetapi Allah menakdirkan beliau untuk mendalami Ilmu Fiqh. Dalam satu perjalanan dengan sekretaris Az Zubair, beliau membawa seuntaian syair. Berkatalah orang yang bersama beliau,”Orang semacam engkau tidak cocok menurutkan syair tersebut karena akan menjatuhkan dirimu. Alangkah sangat minimnya fiqh mu”. Kata-kata tersebut sangat berkesan di ingatan Imam Syafi’i  hingga beliau mulai mengikuti Muslim bin Khalid Az Zindi, mufti Mekkah, untuk belajar ilmu fiqh.</p>
<p>Riwayat lain menceritakan, Imam Syafi’i bertemu dengan Muslim dalam perjalanan mempelajari ilmu nahwu dan sastra Arab. Betanyalah Muslim mengenai Imam Syafii  dan kemudian Muslim berkata “ sebenarnya Allah telah memuliakan engkau di dunia dan akhirat. Alangkah baiknya jika engkau menggunakan kepintaranmu untuk mempelajari Ilmu Fiqh yang lebih baik untukmu”.</p>
<p>Diceritakan pula, Mas’ab mendapati Imam Syafii mempelajari syair dan nahwu, lalu bertanya,” Untuk apakah ini? Jika engkau mempelajari fiqh dan ilmu hadits tentu lebih cocok bagimu”. Di suatu ketika, Mas’ab menemui Imam Malik meminta beliau mengajar Imam Syafi’i  dan bisa dikatakan tidak satupun ilmu Imam Malik dibiarkan berlalu begitu saja oleh Imam Syafi’i. kemudian beliau mengembara ke Irak, belajar pada Muhammad al Hasan. Beberapa tahun berlalu, beliau dan Mas’ab pergi ke Makkah. Mas’ab menceritakan kesuksesan Imam Syafi’I kepada Ibnu Daud hingga Ibnu Daud menghadiahkan 10.000 dirham kepada Imam Syafi’i.</p>
<p>Yang Jelas, Imam Syafi’i belajar di Makkah hingga dipercayakan oleh guru beliau Muslim bin Khalid Az Zanji untuk memberi fatwa. Kemudian pindah ke Madinah dengan Imam Malik hingga dapat menghafal seluruh isi kitab Al Muwaththa. Beliau giat belajar hingga Imam Malik meninggal dunia. Walaupun demikian beliau juga menyediakan waktu untuk menziarahi ibunya di Makkah dan mengembara ke sana kemari.</p>
<p><strong>Imam Syafi’i Bekerja</strong><br />
Ketika Gubernur Yaman datang berziarah ke Hejaz, Imam Syafi’I di rekomendasikan oleh beberapa orang Quraisy agar bekerja di Yaman. Akhirnya, beliau bekerja di Najran dan dikenal sebagai orang yang jujur dan adil. Suatu hari beliau dituduh bersekongkol dengan 10 orang penyokong Muawiyyin yang memprotes pelantikan khalifah. Setiap tertuduh dihadapkan dengan khalifah Harun Al Rasyid dan dihukum dengan pukulan ditengkuk.</p>
<p>Ketika sampai pada giliran Imam Syafi’i beliau berkata:</p>
<p>“ Perlahan sedikit wahai Amirul Mukminin. Tuan adalah orang yang menyuruh datang sedang aku yang disuruh datang. Tentu saja Tuan bisa berbuat apa saja, tapi tidak denganku. Hai Amirul Mukminun, ada dua orang yang satu menilai aku adalah saudaranya sedangkan yang lain menganggap aku adalah hambanya, menurut pendapat manakah yang lebih sayang kepadaku?<br />
“Tentu orang yang menganggapmu sebagai saudaranya”, jawab Harun Al Rasyid<br />
“ Engkau seharusnya demikian wahai Amirul Mukminin!” Sambung Imam Syafi’I, “Engkau adalah anak Al Abbas. Al Abbas anak Ali. Dan kmi dari keluarga Bani AL Muttalib. Maka kamu harus memandang kami sebagai saudaramu. Sedangkan orang-orang muawiyyin memandang kita sebagai hamba sahaya”.</p>
<p>“ Wahai anak Idris, sampai berapa jauhkah ilmumu tentang Qur’an dari segi hafalan?” kata Al Rasyid</p>
<p>Imam Syafi’i menjelaskan:</p>
<p>“Aku telah hafal keseluruhannya. Aku telah mengetahui tempat perhentian dan tempat mulai membacanya. Aku mengetahui mana nasikh (yang meralat) dan mana pula mansukh-nya (yang diralat), mana yang gelap dan mana pula yang terang, ancaman dan bujukan. Aku mengetahui pula mana yang ditujukan kepada hal-hal yang khusus dan mana pula yang ditujukan kepada hal-hal umum, serta mana pula yang diungkapkan dengan kata-kata yang khusus tetapi maksudnya umum”.</p>
<p>“Bagaimana pula pengetahuanmu tentang perbintangan?”, tanya Al Rasyid</p>
<p>“ saya mengetahui bintang darat, bintang laut, bintang Tanah Datar, bintang bukit-bukit, bintang Failak, bintang Mabah dan bintang-bintang lain yang harus diketahui,” jawab Imam Syafi’i.</p>
<p>“ Bagaimana  pengetahuanmu tentang keturunan Arab?” Harun Al Rasyid bertanya lagi.</p>
<p>“Ada yang mulia dan ada yang tidak baik. Aku mengetahui silsilah keturunan dan keturunan Amirul Mukminin”, Imam Syafi’i menjawab.</p>
<p>“Apakah akan engkau nasehatkan kepada Amirul Mukminin?”, sambung Harun Al Rasyid. Imam Syafii pun menasehatinya dengan suatu nasihat yang berasal dari Thawus Al Yamani yang sangat berkesan hingga Al Rasyid menangis, lalu memberi hadiah dan harta yang banyak.</p>
<p>Riwayat ini menunjukkan kepintaran Imam Syafii dalam berdiplomasi guna meloloskan diri dari hukuman, dan ketinggian ilmu pengetahuan di pelbagai bidang. Beliau pernah mengembara ke negeri Yaman, Kufah, Basrah, Mekah, Bagdad dan Mesir. Beliau juga gemar bertukar pikiran dengan ahli ilmu kalam, ahli filsafat, ahli fiqh, ahli hadits dan ulama-ulama lainnya, serta penyelidikan dan kesungguhan pribadi menjadi faktor yang menjadikan ilmu dan ajaran beliau berkembang dengan baik.</p>
<p>Beliau berkata<em>: Barang siapa mempelajari Al Qur’an tinggilah ilmunya. Siapa yang menulis Hadits, kuatlah alasan pendapatnya. Siapa yang suka membicarakan hukum fiqh akan menjadi orang pintar. Siapa yang memperhatikan budi pekertinya akan menjadi orang yang baik dan halus. Barang siapa yang banyak berhitung, pikirannya akan berkembang. Barangsiapa yang tidak menjaga kehormatan dirinya, ilmunya tidak akan berguna sama sekali.</em></p>
<p><strong>Guru Imam Syafi’i</strong></p>
<p>Muslim Khalid AzZindi adalah guru pertama Imam Syafi’i. menyusul kemudian ulama-ulama Makkah seperti: Sufyan bin Uyainah, Said bin Al Kudah, Daud bin Abdurrahman, Al ‘Attar dan Abdul Hamid bin Abdul Aziz. Lalu, Imam Syafi’i pindah ke Madinah pada usia 13 tahun untuk belajar kepada Imam Malik. Guru-guru lain di Madinah yaitu Ibrahim bin Sa’ad Al Anshari, Abdul Aziz Muhammad Ad Dawardi, Ibrahim bin Yahya Al Usmani, Muhammad Said bin Abi Fudaik dan Abdullah bin Nafi’i As Saigh.</p>
<p>Diantara guru-guru beliau di Yaman ialah Matraf bin Mazin, Hasyim bin Yusuf, hakim kota san’a, Umar bin Abi Maslamah dan Yahya bin Husen. Di Irak beliau belajar kepada Muhammad bin Al Hasan, Waki’ bin Al Jarrah Al Kufi, Abu Usamah Hammad bin Usamah Al Kufi, Ismail bin Athiah Al Basri dan Abdul Wahab bin Abdul Majid Al Basri.</p>
<p>Guru-guru Imam Syafi’i ada yang menjuruskan perhatian kepada hadits, ada yang mengutamakan pemikiran, ada pula yang berpaham Mu’tazilah, ada yang bermazhab syi’ah, ada pula yang bermazhab lain. Belajar pada guru-guru dengan berbagai mazhab sangat membantu beliau dalam mendalami ilmu fiqh dan ilmu-ilmu lainnya. Di Baghdad Imam Syafi’i mempelajari Hadits dan ijtihad dari Muhammad bin Al Hasan. Apabila guru-guru beliau telah meninggalkan majelis, beliaupun memperhatikan fiqh orang Madinah.</p>
<p>Pada suatu hari salah seornag guru beliau mengizinkan beliau berdebat dengannya dan beliapun memenangkannya hingga orang menganggap beliau sebagai orang yang ahli dalam ilmu fiqh dari Madinah dan sebagai sahabat Imam Malik. Seiring dengan bertambah tingginya ilmu beliau, kepribadian beliaupun semakin tinggi. Mulailah Imam Syafi’i mengeluarkan pendapat sendiri yang kadang-kadang berlainan dengan pendapat guru beliau.</p>
<p>Imam Syafi’i berpendapat bahwa orang banyak yang memuliakan Imam Malik. Di Spanyol (Andalus), topi Imam Malik dihormati untuk mendapatkan berkah. Biasanya orang memperkuat pendapatnya dengan sabda Rasul, tetapi mereka memperkuatnya dengan perkataan Malik. Imam Syafi’i menegaskan bahwa Malik adalah seorang manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Kemudian, beliau mulai mengkritik pendapat Malik yang ditulis dalam buku “Khilafu Malik”. Imam Syafi’i menegaskan dalam buku tersebut tidak adanya ijtihad dalam masalah-masalah yang telah dijelaskan dalam hadits. Sikap beliau tersebut semata-mata untuk memperbaiki paham tentang agama, bukan untuk menyaingi gurunya. Beliau selalu menyampaikan hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan gurunya dengan kata “Al Ustadz” bukan dengan langsung menyebut nama. Selain Imam Malik, Imam Syafi’i juga mengkritik Abu Hanifah, Al Auza’i dan lain-lain.</p>
<p>Karena Imam Syafi’i banyak belajar mempelajari kitab-kitab karangan Muhammad bin Hasan, dan guru-guru beliau yang berada di Irak, beliau sering melakukan diskusi dengan ahli fiqh Irak sehingga beliau dapat menyatukan antara fiqh orang Madinah dengan fiqh orang Irak, menyatukan antara tradisionalis (ahli hadits) dengan aliran rasionalis (ahli Ra’yi).</p>
<p><strong>Murid-Murid Imam Syafi’i</strong><br />
Murid-murid beliau diantaranya; Abu Bakar Al Humaidi, Ibrahim bin Muhammad Al Abbas, Abu Bakar Muhammad bin Idris  dan Muhammad bin Al Jarud di Mekkah, Al Hasan As Sabah Az Za’farani, Al Husin bin Ali Al Karabisi dan Ahmad bin Muhammad Al Asy’ari Al Basri di Baghdad, Harmalah bin Yahya, Yusuf bin Yahya Al Buwaithi Ismail bin Yahya Al Mizani, Muhammad bin Abdullah Hakam dan Ar Rabi’ bin Sulaiman Al Jazi di Mesir.</p>
<p>Murid beliau yang termasyhur adalah Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Hanbal adalah murid beliau yang terbanyak menghadiri majelis Imam Syafi’i dan sangat menghormati gurunya. Ketika Imam Syafi’i berada di Makkah untuk mengajar di Masjidil Haram, banyaklah orang yang menziarahi tanah suci sambil mendengarkan uraian beliau dan Ahmad bin Hanbal pun ikut serta. Ahmad bin Hanbal pula yang memperkenalkan Imam Syafi’i kepada Ishaq bin Rawaih.</p>
<p>Selama 9 tahun Imam Syafi’i berada di Makkah untuk mengajar dan mendalami ilmu. Tahun 195 H beliau pindah ke Baghdad dan menyusun kitab Ar Risalah yang memuat prinsip-prinsip tentang ushul fiqh. Kitab tersebut beliau susun kembali ketika pindah ke Mesir. Beliau tinggal di Mesir lebih dari 40 tahun, dimana beliau telah menyusun beberapa kitab, diantaranya “Al Um” yang berisikan hukum-hukum tentang berbagai masalah (agama). Disini pula beliau  menyusun madzhab baru karena telah berbedanya situasi dan adat istiadat masyarakat yang dihadapi.</p>
<p>Disamping mengajar fiqh, beliau juga mengajarkan ilmu-ilmu lain. Ar Rabi’ bin Sulaiman mengatakan bahwa Imam Syafi’i mengadakan majelis pelajaran Qur’an ba’da subuh sampai matahari tinggi, kemudian mengadakan muzakarah dan mengulangi pelajaran yang lalu. Sepulang mereka, datang pula ahli syair dan bahasa belajar bahasa dan sastra Arab kepada beliau.</p>
<p><strong>Fiqh Imam Syafi’i</strong><br />
Fiqh Imam Syafi’i merupakan penggabungan antara aliran “naqli” dengan aliran “ra’yi”, menggabungkan cara-cara untuk memahami Qur’an dan mengistinbatkan hukum, sehingga beliau dianggap sebagai pendiri ushul fiqh.</p>
<p>Imam Syafi’i berkata,” Dimanapun bumi kuinjak dan langit yang menjauhiku, apabila disampaikan orang sesuatu yang tidak sampai dengan sesuatu yang aku katakan, aku akan dengar dan patuhi”. “Adapun yang aku katakan dan gariskan, kan tetapi bertentangan dengan perkataan Rasulullah, maka pendapatku sebenarnya adalah yang dikatakan oleh Rasulullah.”</p>
<p>Oleh sebab itu, beliau sangat memperhatikan dan banyak sekali menghafal hadits. Ibnu Farhun dalam bukunya “Ad Dibajul Madzahib” mengatakan Imam Syafi’i adalah seorang hafiz dan dapat menghafal kitab “Al Muwaththa” dalam tempo 9 malam saja. Fakhrudin ar Razi membayangkan betapa besar peranan Imam Syafi’i dalam menyatukan antara hadits dan pemikiran dengan menjelaskan bahwa ulama sebelum Imam Syafi’i terbagi menjadi 2 golongan; yakni ahli hadits dan ahli ra’yi. Imam Syafi’i banyak mengetahui hadits Rasul tentang macam-macamnya, cara-cara berdiskusi, punya lidah fasih, sehingga dapat mengalahkan ahli pikir yang berusaha menjatuhkan ahli hadits.</p>
<p>Imam Syafi’i juga menjadikan ijma’ sebagai sumber hukum sesudah Qur’an dan  Sunnah dengan beberapa syarat. beliau  memberi pendapat-pendapat yang berdasarkan pada “terkaan” belaka dalam masalah agama. Karena itu, beliau tidak menyukai ilmu kalam dan bid’ah. Beliau juga merasa sedih melihat pertengkaran ahli ilmu kalam yang sudah saling kafir mengkafirkan. Imam Syafi’i berpendapat bahwa seseorang  belum boleh mengeluarkan hukum syari’ah kalau belum mengetahui cara-cara dan syarat-syarat qias. Beliau menilai orang yang mencari-cari alasan tentang sesuatu berdasarkan pikirannya, seolah-olah telah mengadakan bid’ah dalam agama. Ar Razi mengatakan bahwa kedudukan Imam Syafi’i dalam ilmu ushul seperti kedudukan Aristoteles dalam ilmu logika (mantiq) dan Khalid bin Ahmad dalam ilmu Syair.</p>
<p>Setelah menyelidiki madzhab-madzhab yang terkemuka, beliaupun meneruskan peraturan-peraturan yang lengkap mengenai cara mengambil hukum dari Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qias. Imam Syafi’i adalah orang yang mampu menjelaskan cara “mengistinbatkan” hukum dari Al Qur’an dan hadits, mengetahui nash-nash yang “nasikh” dan yang “mansukh” yang “mujmal” dan yang “mubayyan”, yang “khas” dan yang “am” dan ilmu “mantiq”.</p>
<p>Karya Tulis Imam Syafi’i<br />
Menurut sebagian ahli sejarah beliau telah menulis 13 buah kitab, yaitu dalam bidang ushul fiqh, fiqh sastra dan lain-lain. Diantara kitab Imam Syafi’i yang terkenal adalah “Ar Risalah” tentang ushul fiqh yang ditulis atas permintaan Abdurrahman al Mahdi, salah seorang ahli hadits di masa Imam Syafi’i.</p>
<p>Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis kitab “A Hujjah” sesuai dengan pendapat beliau dengan madzhab “al qadim” nya. Kitab beliau yang lain ialah “Al Wayasa al Kabirah”, Ikhtilaf Ahlil Iraq, Washiyatus Syafi’i, Jami’al Ilm, Ibtal al Istihsan, Janni’al Mizan al Kabir, Jami’al Mizan a Shaghir, Al Amali, Mukhtasar al Rabi’wal Buwaiti, al Imala dan sebagainya, disamping “Al Um” sebagai kitab terlengkap dalam ilmu fiqh.</p>
<p>Imam Syafi’i dan bahasa arab<br />
Bahasa Ibu Imam Syafi’i adalah bahasa Arab. Namun beliau juga mempelajari bahasa Arab selama 20 tahun sehingga menjadi seorang yang ahli dalam bahasa Arab. Ibnu Hisyam, Abu Ubaid, Ayyub bin Suwaid, Abu Usman Al Mazini, sebagai para ahli bahasa arab menegaskan Imam Syafi’i adalah “hujjah” (pendapatnya dipakai alasan) dalam bahasa Arab.</p>
<p>Imam Syafi’i adalah orang yang ahli ilmu bahasa dan ahli menggunakan bahasa, ahli sastra dan seorang sastrawan. Ibnu Hisyam, seorang ahli bahasa Arab, dan Az Za’farani pernah berkata bahwa Imam Syafi’i tidak pernah bersalah sedikitpun dalam menggunakan bahasa arab. Ar Rabi’ berkata bahwa lidah imam Syafi’i lebih besar dari kitab-kitabnya. Diantara penulis sejarah hidup Imam Syafi’i ada yang meriwayatkan ini, Allah sajalah yang tahu benar tidaknya riwayat ini bahwa beliau pernah bermimpi dimana Nabi Muhammad SAW datang mengusap lidah Imam Syafi’i dengan air ludahnya dan berkata “Pergilah, semoga Allah memberkahi engkau.”</p>
<p><strong>Imam Syafi’i sebagai penyair</strong></p>
<p>Al Mubarrid berkata,” Imam Syafi’i adalah seorang penyair dan sastrawan yang hebat, seorang yang paling mengetahui ilmu Qiraat”.</p>
<p>Mas’ah bin Zubair berkata bahwa ayahnya pernah membaca syair bersama Imam Syafi’i. ketika Imam Syafi’i membaca syair kabilah Huzail, ayahnya mengingatkan Imam Syafi’i agar tidak mengajarkan syair tersebut kepada ahli hadits karena mereka tidak akan mampu menghafalnya.</p>
<p>Ismail bin Yahya al Mizani pernah menjenguk Imam Syafi’i yang tengah menderita sakit yang membawa kematian beliau. Imam Syafi’i berkata: “Aku kira aku akan meninggal dunia, akan berpisah dengan kawan-kawan. Sekarang aku sedang meminum segelas kematian. Aku sedang kembali menemui Allah yang Maha Besar dan Maha Mulia. Demi Allah aku tidak tahu apakah rohku menuju surga atau neraka”.</p>
<p>Lalu, Imam Syafi’i menangis dan bersyair:</p>
<p><em>Di kala jiwaku telah memberontak, alamku telah sempit</em></p>
<p><em>Hanya kemaafan-Mu lah, tumpuan harapan penyerahan dariku</em></p>
<p><em>Dosa-dosaku besar, tetapi manakala kubandingkan</em></p>
<p><em>Dengan samudera kemaafan-Mu, kemaafan-Mu lah yang jauh lebih besar</em></p>
<p><em>Dikaulah pemilik keampunan dan kemaafan dan (aku yakin)</em></p>
<p><em>Engkau masih tetap mengampuni</em></p>
<p><em>Dengan rahmat dan kemuliaan-Mu, Engkau memuliakan dan mengampuni</em></p>
<p><em>Jika Engkau izinkan iblis tidak sanggup menggoda hamba-Mu</em></p>
<p><em>Kenapakah hamba-Mu yang suci Adam, dapat tergoda?</em></p>
<p> </p>
<p><strong>Imam Syafi’i dan Politik</strong></p>
<p>Imam Syafi’i berpendapat bahwa umat islam wajib memiliki khalifah yang berasal dari bangsa Quraisy, dan harus dengan bai’at rakyat, atau dengan cara lain kalau keadaan memaksa. Kalau salah seorang telah di bai’at oleh rakyat maka kepemimpinannya harus diterima.</p>
<p>Beliau tidak suka mencampuri pertentangan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah. Beliau sependapat dengan Umar bin Abdul Aziz dalam menyikapi pertentangan tersebut: “Tanganku telah dilindungi Allah dari darah-darah yang tertumpah dalam perang tersebut. karena itu, aku tidak mau mengotori lidahku dengan pembicaraan masalah tersebut”.</p>
<p>Imam Syafi’i menyokong golongan Alawiyyin yang menentang golongan Abbasiyien. Beliau menanggapi pelantikan Ali dengan kata-kata: “Imam Ali memiliki beberapa sifat yang kalau orang lain memiliki salah satunya, dia pantas tidak takut kepada siapapun juga. Beliau seorang zahid, dan orang zahid tidak menghiraukan dunia dan isinya. Beliau seorang yang berilmu pengetahuan, dan orang yang berilmu tidak khawatir kepada siapapun. Beliau seorang yang berani dan orang yang pemberani tidak takut kepada siapapun. Beliau orang yang mulia dan orang yang mulia tidak takut pada siapapun.</p>
<p><strong>Pujian dan Kritikan Terhadap Imam Syafi’i </strong></p>
<p><strong>&gt; Pujian &lt;</strong></p>
<p>Abu Bakar Al Humaidi berkata,” Imam Syafi’i adalah pemuka ilmu fiqh”.</p>
<p>Ahmad bin Hanbal berkata,” Imam Syafi’i adalah filosof dalam empat hal: bahasa, tempat manusia berpedoman, ilmu ma’ani dan ilmu fiqh.</p>
<p>Sufyan Ats Tsauri berkata,”Imam Syafi’i adalah orang yang termulia pada waktu itu”.</p>
<p>Yahya bin Said Al Kattani berkata,” Aku belum pernah bertemu orang yang lebih pintar dan ahli dalam ilmu fiqh selain Imam Syafi’i”.</p>
<p>Muhammad bin Abdulhakam berkata,” Jika Imam Syafi’i tidak ada tentu aku tidak mengetahui bagaimana cara menjawab pertanyaan orang. Beliau juga orang yang mengajarkan ilmu qias. Beliau pendukung sunnah dan atsar, berlidah fasih, pintar dan bersikap tegas”.</p>
<p>Daud bin Abu Az Zahiri berkata,” Imam Syafi’i mempunyai kelebihan-kelebihan yang tidak ada pada orang lain. Ia keturunan orang-orang mulia, beragama dengan konsekuen, memiliki jiwa yang halus, memiliki pengetahuan tentang hadis yang shahih dan tidak shahih, hafal nasikh dan mansukh, hafal Qur’an dan hadits, mengetahui sejarah khalifah-khalifah dan keindahan tulisan.</p>
<p><strong>&gt; Kritikan &lt;</strong></p>
<p>Sebagian pengkritik mengatakan bahwa beliau bukanlah seorang reformer, karena tidak sanggup membasmi golongan-golongan ekstrim pada waktu itu, dan karena beliau berpendapat yang berhak jadi khalifah hanyalah orang Quraisy dan sah walaupun tanpa bai’at rakyat, dalam keadaan terpaksa. Padahal kedaulatan di tangan rakyat. Memegang kekuasaan dengan kekuatan pedang adalah merampas dan berkhianat.</p>
<p>Kritik lainnya dilancarkan karena beliau menyokong pendapat golongan ekstrim yang mengatakan sekufu antara kedua calon pengantin adalah syarat sah perkawinan, dan mereka mengatakan bahwa orang Quraisy hanya sekufu dengan orang Quraisy dan orang Arab dengan orang Arab. Padahal Allah menegaskan dalam QS. Hujurat:13;</p>
<p><em>Hai Manusia, sesungguhnya Kami telah ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, bersuku bangsa, hanyalah untuk saling mengenal. Sesungguhnya orang termulia diantara kamu ialah orang yang bertaqwa.</em></p>
<p> Sebenarnya dalam hal ini Imam Syafi’i mengambil jalan tengah, beliau berpendapat bahwa menikah dengan yang tidak sekufu bukanlah haram yang membatalkan akad, semua terserah kepada pengantin perempuan atau walinya, apabila mereka setuju maka sah-lah pernikahannya, jika tidak nikahnya harus di fasakh. Imam Syafi’i berkata,” tidak ada hadits yang menyatakan bahwa kufu itu berdasarkan keturunan”.</p>
<p>Sifat-sifat Imam Syafi’i<br />
Basyrat Muraisi berkata,”Akal orang ini menyamai akal separuh penduduk dunia. Beliau lebih menyukai membicarakan masalah-masalah pokok daripada masalah kecil”.</p>
<p>Imam Syafi’i memiliki lidah yang fasih dan iman yang teguh. Beliau sangat menjaga diri (wara’), sehingga Yahya bin Mu’in berkata,” Jika berkata dusta itu diperbolehkan Allah, tentu Imam Syafi’i akan menahan diri agar tidak berdusta untuk menjaga dirinya”. Beliau berkata,” Jika meminum air dingin menjatuhkan harga diri, tentu aku tidak akan meminumnya”.</p>
<p>Beliau seorang yang berhati lembut dan pemurah. Dimana saja beliau tetap mempertahankan kebenaran. Tidak segan beliau mencabut pendapat yang telah dikemukakan kalau memang ternyata salah, atau ada pendapat lain yang lebih kuat. Karena itu dalam fiqh beliau kita dapati ada dua madzhab, Al Qadim (yang lama) dan Al Jadid (yang baru).</p>
<p>Dalam mempertahankan kebenaran beliau tidak dipengaruhi oleh hubungan persaudaraan dan keluarga, karena kebenaran adalah masalah lain dari hubungan persaudaraan. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin.</p>
<p>Imam Syafi’i senantiasa menjauhi maksiat dan hal-hal yang dianggap tidak baik. Seperti yang dinasihatkan Imam Malik: “Wahai Muhammad (Idris), Allah telah memasukkan Nur ke dalam hatimu. Karena itu janganlah kotori dengan berbuat maksiat, bertakwallah kepada Allah, engkau akan diberi Nya sesuatu”.</p>
<p>Ketaqwaan dan ketakutan Imam Syafi’i kepada Allah selalu menyertai dimanapun berada. Sebagaimana beliau menyatakan keadaannya; “Keadaanku adalah sebagaimana orang yang sedang dimintai pertanggungjawaban tentang delapan masalah, yaitu Allah SWT dengan Al Qur’an , Nabi Muhammad dengan sunnahnya, Malaikat penghafal dengan apa yang dihafalkannya, setan dengan kemaksiatan, waktu dengan penggunaannya, jiwa dengan nafsu, anak-anak dengan makanan mereka, dan malaikat maut dengan roh”. Imam Syafi’i sangat banyak melakukan tahajud di malam hari. Beliau membagi waktu malam nya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat tahajud dan sepertiga lagi untuk tidur.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal secara berlebihan pernah mengatakan bahwa ada diriwayatkan dari Rasulullah bahwa Allah akan mengutus pembaru dalam agama. Umar bin Abdul Aziz diutus untuk seratus tahun pertama dan Imam Ahmad bin Hanbal berharap yang kedua adalah Imam Syafi’i. jamaludin Asy Sayuthi pernah menguntaikan dalam rangkaian syairnya yang bernama “ Tuhfatul Muhtadin bi akhbaril Mujahidin”, bahwa pembaru abad pertama adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Imam Syafi’i adalah pembaru kedua.</p>
<p>Sayangnya, Imam Syafi’i tidak dikaruniai Allah umur panjang, sebagaimana Imam Malik. Beliau sering menderita sakit seperti wasir yang banyak mengeluarkan darah. Di usia 54 tahun, beliau meninggal dunia di Mesir di rumah sahabatnya Abdullah bin Hakam ba’da maghrib. Beliau dimakamkan di sebelah barat Al Khandak, dekat kuburan Zahith, dan  tempat tersebut menjadi masyhur sebagai bukti kebesaran beliau.</p>
<p>Sumber bacaan:</p>
<ol>
<li>H. Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab, Bulan Bintang Jakarta</li>
<li>Abul Hasal Ali al-Husni An-Nadwi, Rijalul Fikri wad Da’wah fil Islam, Darul Fath. Damaskus cetakan II,1965</li>
<li>Ahmad Asy Syurbasi, Al Aimmatul Arba’ah, Penerbit Darul Hilal Mesir</li>
<li>Sirajuddin Abbas, K.H., Keagungan Madzhab Syafi’i, Pen.Pustaka Tarbiyah Jakarta</li>
<li>Mochtar Rasjidi, Doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Penerbit Menara Kudus</li>
<li>Sirajuddin Abbas, K.H., I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah, Pen. Pustaka Tarbiyah Jakarta</li>
<li>Ahmad Siddiq, K.H., Khittah Nadliyah, Penerbit Balai Buku Surabaya.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=278&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/06/15/imam-syafii-imam-madzhab-fiqh-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muhammad bin Abdulwahab dan Fenomena Wahabi</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/06/15/muhammad-bin-abdulwahab-dan-fenomena-wahabi/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/06/15/muhammad-bin-abdulwahab-dan-fenomena-wahabi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 07:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[SERI TOKOH PERGERAKAN ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[MUHAMMAD bin ABDULWAHAB (1115-1204 H) – (1703-1792 M) Pada dasarnya, gerakan Wahabi bertujuan untuk memperbaiki kondisi berupa kepincangan-kepincangan, menghapuskan segala perbuatan takhayul dan kembali kepada islam yang sejati. Segala bid’ah yang masuk kemudian tulisan dan segala macam tafsiran para ahli agama pada Zaman Tengah Islam dahulu, pemujaan dalam bentuk sesajen dan mistik, pengagungan para wali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=275&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>MUHAMMAD bin ABDULWAHAB<br />
(1115-1204 H) – (1703-1792 M)</strong></p>
<p>Pada dasarnya, gerakan Wahabi bertujuan untuk memperbaiki kondisi berupa kepincangan-kepincangan, menghapuskan segala perbuatan takhayul dan kembali kepada islam yang sejati. Segala bid’ah yang masuk kemudian tulisan dan segala macam tafsiran para ahli agama pada Zaman Tengah Islam dahulu, pemujaan dalam bentuk sesajen dan mistik, pengagungan para wali dan berbagai bentuk penyelewengan dilarang. Demikian Stoddard mengungkapkan dalam bukunya “The New World of Islam.</p>
<p>Pribadi Muhammad bin Abdul Wahab, sebagai pelopor gerakan ini sering diidentikkan sebagai seorang radikal ekstrim dalam mengemukakan gagasan, tanpa melihat situasi kondisi. Ironisnya lagi, beliau difitnah seakan-akan membawa agama baru.</p>
<p>Pembaruan (tajdid) dalam Islam sering dideskripsikan seakan-akan ingin mengubah dasar islam sesuai dengan perkembangan zaman dan menghilangkan nilai dasar Islam, kemudian diganti dengan jalan pikiran yang selaras dengan keadaan zaman, dengan tanpa mempertimbangkan wahyu dan hanya mengandalkan ra’yu. Benarkah??<span id="more-275"></span></p>
<p>Kondisi Umat Islam abad ke-18<br />
Sejak abad XI M, dinamika dan semangat Islam berangsur-angsur mengalami penurunan. Spirit of Islam dan ruh daya juang semakin hilang. Sumber inspirasi dan motivasi (Al Qur’an) mulai dilupakan dan tak ada lagi hasil kreasi dan inovasi. Umat islam pada waktu itu, secara kuantitas naik, tapi kualitas mengalami kemunduran.</p>
<p>Kemurnian tauhid semakin terancam. Guru-guru dan pemimpin rohani dikultuskan, dijadikan perantara antara manusia dengan Tuhan. Amal ibadah yang tadinya murni kemasukan bermacam bid’ah dan khufarat. Stoddard menggambarkan situasi pada saat itu sebagai berikut:<br />
Abad kejumudan ditandai dengan berbagai penyimpangan. Ketauhidan diselubungi khufarat dan paham kesufian. Masjid ditinggalkan masyarakat awam dan menghias diri dengan azimat, penangkal penyakit. Mereka belajar kepada fakir atau darwisy dan menziarahi kuburan orang-orang keramat untuk meminta sesuatu. Kota Makkah dan Madinah pun jadi tempat penuh penyelewengan dan penyimpangan, ibadah haji pun disalahgunakan. Penghormatan kepada Al Qur’an bukan dengan mengamalkan isinya melainkan hanya dengan menjunjung Qur’an diatas kepalanya, bahkan ada lembaran yang dibakar, ditelan untuk obat penenang hati. Akhirnya, Al Qur’an yang berisi petunjuk Tuhan menjadi magic, obat penawar dan jampi.</p>
<p>M. Natsir menambahkan: “Essensialia demokrasi dalam tata Negara, digantikan oleh feodalisme dalam bermacam-macam bentuk. Pegawai pemerintah yang curang memeras dan merampas hak rakyat. Petani dan orang kota patah semangat untuk bekerja dan berusaha. Baik pertanian maupun perdagangan jatuh merosot sama sekali.”</p>
<p>Ruh jihad dan ijtihad, kemerdekaan berpikir dan semangat berjuang menjelajah mencari kebenaran pun merosot. Yang ada hanyalah jiwa serba turut, puas terhadap hasil karya nenek moyangnya. Di kalangan awam, gairah untuk melepaskan diri dari keadaan lumpuh itu hilang. Malahan ada slogan-slogan yang mendorong orang benci kepada dunia, lari dari kenyataan dan keadaan.</p>
<p>Pada masa itu, banyak didapati hadits yang maudhu’. Di satu pihak ulama menerima Hadits tersebut, akan tetapi di pihak lain menolaknya. Sedangkan menurut Ahmad bin Hanbal, hal-hal yang menjadi perselisihan ulama, tak patut dijadikan sumber islam yang murni. Di Basrah, ajaran Islam sudah terkena pengaruh kepercayaan Parsi. Banyak upacara, adapt istiadat, kepercayaan yang tidak bersumber dari Islam. Kesimpulannya, kompleks sekali penyakit umat islam pada masa itu.</p>
<p>Tetapi Allah tidak akan membiarkan agamanya ditelan keadaan begitu saja. Setiap masa akan lahir tenaga pembangkit, agar sadar akan posisi yang sedang mencekam umat Islam. Ibarat di antara cabang pohon pohon yang rapuh akan tumbuh tunas-tunas baru.</p>
<p>Kelahiran Muhammad bin Abdulwahab<br />
Beliau lahir di Uyainah pada tahun 1115 H atau 1703 M, sebuah kota kecil di lembah Nejed, suatu daerah yang pada saat itu masih murni keislamannya. Muhammad bin Abdulwahab dididik oleh ayahnya sendiri (Seorang alim dari aliran madzhab Hanbali yang menjadi kadhi di negeri itu). Sulaiman bin Ali adalah neneknya yang tergolong ulama terkemuka yang menjadi tumpuan masyarakat dalam permasalahan agama.</p>
<p>Sejak kecil, pada diri Muhammad bin Abdulwahab sudah menampakkan kecerdasan dan kecekatan dalam menghafal dan memahami suatu masalah. Pada usia 9 tahun, beliau sudah hafal Qur’an. Puas dengan didikan ayahnya dan telah banyak mengkaji fiqh aliran Ahmad bin Hanbal, maka dilanjutkannya perjalanan ke Madinah. Beliau berguru kepada Syekh Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad as-Sindi. Dari kedua guru tersebeut beliau mengetahui bahwa bermacam-macam bid’ah telah merata dan diamalkan oleh umat Islam. Untuk memperluas pengalaman dan wawasan beliau berpetualang ke beberapa negeri yaitu di Bashrah selama 4 tahun, di Baghdad selama 5 tahun, di Kurdistan beliau bermukim selama setahun, kemudian ke Hamadhan selama 2 tahun, lalu ke Isfahan untuk mempelajari falsafah dan tasawwuf, kemudian pulang ke negerinya setelah singgah di kota Qumm.</p>
<p>Usaha Pemurnian<br />
Menurut pengamatan Muhammad bin Abdulwahab, masyarakat Islam sudah tidak lagi murni sebagaimana masyarakat di zaman Nabi. Keadaan itu akan dikembalikan sesuai dengan bentuk aslinya. Bentuk khufarat dan bid’ah telah dan tengah menyelusup ke dalam Islam. Ditambah lagi, pengikut Ahmad bin Hanbal terkenal paling gigih dan radikal dalam usaha pemurnian, terutama di bidang tauhid. Hingga demikian berminatnya beliau untuk mengembalikan Islam sebagaimana yang diamalkan oleh ulama-ulama salaf.</p>
<p>Visi utama beliau adalah mengembalikan Islam kepada sumbernya yang asli, membersihkan tauhid dari segala macam syirik, membersihkan ibadah dari segala macam bid’ah dan memberantas formalisme kosong dengan menganjurkan hidup sederhana.</p>
<p>Dimulailah program pemurnian di tempat kelahirannya di usia beliau yang ke 37. dilemparkannya kritik yang tajam terhadap khufarat dan bid’ah yang berlaku. Tak heran bila spontan beliau mendapat perlawanan sengit dari kepala-kepala golongan. Pamannya sendiri, Sulaiman bin Abdulwahab tak ketinggalan ikut menentangnya. Kemarahan timbul karena Muhammad bin Abdulwahab memaksakan keinginan secara keras terhadap metode. Seluruh Bashrah rebut dengan menyaksikan seorang pemuda Islam dengan kekerasan hati yang luar biasa. Penguasa Uyainah, Amir al-Hasa segera mengeluarkan perintah untuk membunuh beliau. Demi ketenangan, Amir Uyainah mengambil jalan tengah dengan memerintahkan Abdulwahab untuk meninggalkan Uyainah.</p>
<p>Az Zabir menjadi tempat yang strategis untuk menyelamatkan diri. Kemudian beliau berpandangan, bahwa kampungnya sendiri jauh lebih aman. Disinilah seruan itu dimulai: “Kembali pada Qur’an dan Hadits yang shahih”. Usaha pemurnian akhirnya mendapat pengikut, diantaranya Pangeran Usman bin Muammar, Amir Uyainah. Dengan bertambahnya pengikut, terutama dari kalangan pembesar, dakwah dan pemurnian semakin lancar. Para pembesar mengikutinya menebang pohon-pohon keramat yang di puja masyarakat. Demikian pula kuburan-kuburan keramat yang dimuliakan, tempat meminta berkat dan pertolongan.</p>
<p>Ketika beliau menerapkan hukum Islam kepada seorang wanita pezina, hebohlah masyarakat akan kekerasan dalam menjalankan hukum rajam sampai mati. disebabkan kehebohan itu, beliau menjadi tidak nyaman dan menghindarkan diri dari Dari’ah (tempat kediaman keluarga Su’ud).</p>
<p>Guna mencetak kader, beliau mendirikan sekolah yang menggembleng pemuda yang berdatangan dari seluruh penjuru Arab. Sekembali mereka dari menuntut ilmu, di daerah masing-masing mereka menyebarkan paham pemurnian. Pada dasarnya, usaha pemurnian Muhammad bin Abdulwahab adalah suatu upaya untuk mengembalikan kehidupan umat Islam sesuai dengan kehidupan Nabi Muhammad dan salafus shalih. Tauhid diajarkan secara keras dan diterapkan selurus-lurusnya. Segala bentuk kemusyrikan dan bid’ah serta penambahan dari bentuk Islam di masa Nabi Muhammad SAW diberantas sama sekali. Kultus terhadap orang-orang yang dianggap suci, pengagungan kubur-kubur, benda-benda yang dikeramatkan disapu bersih. Tarekat keshufian dilarang. Masjid-masjid di dirikan secara sederhana. Bahkan seni bangunan keagamaan pun dianggap tabu. Karena itu, kaum Wahabi membongkar kubah kuburan Nabi Muhammad di Madinah dan meruntuhkan menara-menara masjid yang dipandang sebagai penyembahan berhala.</p>
<p>Hal tersebut membuat kaum orientalis berpendapat bahwa kaum Wahabi, sekalipun moralnya tinggi, berpandangan terlalu picik, seakan-akan anti kebudayaan. Semua benda kemewahan serta perhiasan masjid dimusnahkan. Pakaian sutera, makanan mewah, minuman anggur, candu, kopi dan rokok dilarang.</p>
<p>L. Stoddard menuturkan lagi mengenai gerakan Wahabi ini:<br />
“Ketika Amir bin Abdu Daus dikalahkan oleh Su’ud maka terbukalah jalan bagi perjuangan Muhammad bin Abdulwahab. Nejed dan Hejaz disatukan dalam bendera Wahabi. Dan Su’ud melakukan perjuangan di tanahnya sendiri, Mekkah (Hejaz). Kerajaan Hejaz dipegang oleh Syarif Husen, seorang raja islam yang masih kolot pendiriannya. Banyak dijumpai khufarat dan bid’ah di daerah kekuasaannya. Bergeraklah Su’ud di samping Muhammad bin Abdulwahab untuk menghantam raja Mekkah tersebut dengan memakan waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, Syarif Husen dapat diturunkan dan naiklah Su’ud memimpin tanah Hejaz.</p>
<p>Setelah kekuasaan dipegang Wahabi, terjadilah perubahan besar di tanah suci, baik di Mekkah maupun Madinah. Kuburan para pahlawan di Baqi’ yang tadinya mempunyai pagar yang bagus, disamping batu nisannya yang tinggi, semua dirobohkan. Kuburan menurut Islam tidak boleh diabngun lebih tinggi dari tanah. Maka gundullah tanah-tanah kuburan para pahlawan di Madinah. Sejak Su’ud memegang tampuk pemerintahan, berlakulah hukum Islam secara murni di segala bidang.</p>
<p>L. Stoddard menambahkan: “Negara Wahabi amat menyerupai khalifah Mekkah yang dahulu. Walau memiliki tenaga militer yang besar, Su’ud selalu bertanggungjawab atas anggapan umum. Ia tidak melecehkan kemerdekaan yang sah dari rakyatnya. Berjalanlah pemerintah yang keras, namun adil dan bijaksana. Perampokan hampir tak dikenal, pendidikan berkembang. Barakallah..!</p>
<p>Pola Pemikiran Muhammad bin Abdulwahab<br />
Beliau berpandangan, wibawa Qur’an dan Sunnah adalah mutlak, sedangkan akal hanya berfungsi sebagai instrumen untuk memahami maksud-maksud nash, yang terkandung dalam Qur’an dan Sunnah (Lihat Tarikh Madzhahibil Islamiyah fis siyasah wal Aqa’id hal 214, oleh Dr.Abu Zahrah).</p>
<p>Di satu pihak ada golongan yang menghendaki ajaran Islam dapat dirasionalkan. Pola semacam ini dianut oleh kalangan Mu’tazilah. Sebagian lagi menginginkan pengalaman-pengalaman batiniah dipadukan dengan ajaran Islam. Ayat Qur’an dan Hadits dapat juga ditakwilkan sesuai dengan pengalaman batin. Bahkan sekalipun hadits itu perawinya dhaif boleh dipakai asal dapat memperkuat rasa kebatinan. Golongan ini biasa disebut batiniah atau dzauqiyah.</p>
<p>Muhammad bin Abdulwahab berpendirian bahwa kemutlakan Qur’an dan Sunnah tidak bisa ditawar-tawar dengan cara apapun, pendiriannya ini menjadi pangkal tolak keinginannya untuk kembali ke agama seperti yang diamalkan oleh ulama-ulama salaf. Pola ini sering disebut sebagai pola “Salafiyah” sedangkan para orientalis menyebutnya sebagai pola berpikir “tradisionalis”.</p>
<p>Sebagian mengecam gerakan Wahabi yang dianggap menjadikan Islam sepanjang hakikatnya dan sifatnya tidak berkembang menurut keadaan masa dan tidak sejalan dengan kemajuan zaman. Kecaman tersebut timbul –mungkin- disebabkan mereka melihat seakan-akan gerakan Wahabi kurang mendukung daya kreativitas manusia. Hingga kurang jelaslah garis pemisah di daerah mana yang memerlukan kekuatan akal dan daerah mana yang harus dikembalikan kepada Al Qur’an secara mutlak.</p>
<p>Namun, pembela Wahabi mengatakan, bahwa kecaman tersebut tidak mengandung unsur kebenaran karena tahap pertama untuk perbaikan keagamaan ialah kembali dengan keadaan yang asli dan berpegang teguh pada keadaan semula. Seorang mujaddid agama, tidaklah melihat jalan untuk menegakkan perbaikan dan mencapai tujuan, selain dengan melenyapkan segala bid’ah dan segala paham yang telah melekat pada agama.</p>
<p>Benar tidaknya argumentasi antara pengecam dan pembela Wahabi dalam hal dan menolak modernisasi, dapat kita lihat dari perkembangan sejarah, apakah mereka tergolong fundamentalis konservatif, dengan menutup diri dalam menerima bentuk tata nilai dari luar ataukah mereka menjadi fundamentalis modern, yang terbuka menerima nilai dari luar, asal tidak menggoyahkan akidah.</p>
<p>Tauhid Muhammad bin Abdulwahab<br />
Pelajaran Tauhid beliau berikan secara sederhana, mudah dicerna. Kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” beliau pahamkan secara praktis, tidak berbelit-belit. Hal ini dapat dikaji dalam tulisannya :”Kitabul Tauhid al-Ladzi Huwa Haqqullah ‘alal Abid” dan ‘Kasyfus Syubhat”</p>
<p>Pengertian Islam secara simple menurut Muhammad bin Abdulwahab yaitu menyerahkan segala urusan kepada ALLAH, patuh atas segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan mengetahui rukun-rukunnya. Pemurnian tauhid yang diajarkan beliau tidak hanya berupa tingkal laku, perbuatan dan lisan tapi juga tulisan. Beliau tidak memandang siapapun, baik kepada umara’ dan ulama. Beliau sering melakukan polemik terbuka, guna adu hujjah.</p>
<p>Di samping aktif mengajar dan berdakwah, beliau juga meninggalkan beberapa karya tulis yang lazimnya dilakukan oleh ulama pada masa dahulu.</p>
<p>Sumber Bacaan:<br />
1. Fitnatul Wahabiyah, oleh Sayid Ahmad bin Dahlan<br />
2. ‘Ulamaul Muslimin wal Wahabiyyun, Isik Kitabevi<br />
3. Kitabut Tauhid al Ladzi Huwa Haqqullah ‘alal ‘Abid, oleh Muhammad bin Abdulwahab<br />
4. Tauhid Populer, oleh Drs. Imran Manan<br />
5. Islam dan Perspektif Sejarah, oleh M.Natsir<br />
6. Dunia Baru Islam, oleh L. Stoddard.</p>
<p>(Disadur dari buku: Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Ke Masa karya Imam Munawwir)</p>
<p>Demikianlah sepintas kilas tentang Muhammad bin Abdulwahab. Semoga Allah merahmati beliau dan membalas tiap tetes peluh dan segala ikhtiyar beliau dengan pahala yang berlimpah. Kepada Allah-lah kita kembalikan segala sesuatu. Semoga Allah meridhai kebaikan-kebaikannya dan mengampuni kesalahan yang tercelup di dalamnya. Wallahua’llam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/275/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=275&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/06/15/muhammad-bin-abdulwahab-dan-fenomena-wahabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Taimiyah: Tauhid-Tasawuf</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/06/10/ibnu-taimiyah-tauhid-tasawuf/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/06/10/ibnu-taimiyah-tauhid-tasawuf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 07:41:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[SERI TOKOH PERGERAKAN ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[  IBNU TAIMIYAH (661-728H)- (1263-1328 M)  Perjalanan Hidup Seorang Ibnu Taimiyah Nama lengkapnya: Taqiyuddin Ahmad bin Abdilhalim bin Taimiyah, dilahirkan di Harran pada hari Senin 10 Rabiul Awwal 661 H. Ayahnya adalah seorang Syaikh, hakim dan khatib bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abdulhalim bin Abdissalam Ibnu Abdillah bin Taimiyah. Kakeknya adalah Syaikhul Islam Majduddin Abul Birkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=271&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p align="center">IBNU TAIMIYAH</p>
<p align="center">(661-728H)- (1263-1328 M) </p>
<ol>
<li>Perjalanan Hidup Seorang Ibnu Taimiyah</li>
</ol>
<p>Nama lengkapnya: Taqiyuddin Ahmad bin Abdilhalim bin Taimiyah, dilahirkan di Harran pada hari Senin 10 Rabiul Awwal 661 H. Ayahnya adalah seorang Syaikh, hakim dan khatib bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abdulhalim bin Abdissalam Ibnu Abdillah bin Taimiyah. Kakeknya adalah Syaikhul Islam Majduddin Abul Birkan Abdussalem bin Abdullah bin Taimiyah Al Harrani merupakan seorang fiqh pengikut madzhab Hanbali, Imam ahli Hadits, Tafsir, Ilmu Ushul dan seorang huffadz.</p>
<p>Saat berusia 6 tahun, bersama kedua saudaranya ia dilarikan ayahnya ke Damaskus, lantaran kota Baghdad diserang tentara Tartar. Di masa muda, beliau sudah hafal Al-Qur’an dengan motto hafalan “Mudah hafal dan sukar lupa” (Subhanallah..). Beliau pada masa umur di bawah 10 tahun telah memperoleh hadits dan banyak guru, serta khath dan ilmu hitung. Setelah itu ia mempelajari fiqh, bahasa arab yang lebih dititikberatkan pada ilmu nahwu, lalu tafsir dan ushul fiqh.</p>
<p>Ibnu Taimiyah sangat rakus ilmu, sebagai tambahan beliau selalu menyempatkan diri hadir dalam majelis muzakarah sehingga menginjak usia 17 tahun kepekaannya mengenai dunia ilmu sudah mulai nampak dan pada usia 19 tahun sudah berani memberi fatwa. Beliau sangat menguasai Rijalulhadits (para tokoh perawi hadits) dan Fununulhadits (macam-macam hadits). Semua hadits dalam <em>Kutubus Sittah</em> dan <em>al Musnad</em> ia kuasai.<span id="more-271"></span></p>
<p>Kepiawaiannya dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah, tidak diragukan lagi, sehingga ia mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir. Dalam waktu sehari semalam, beliau terus menulis tafsir, fiqh, ilmu ushul sambil menanggapi pendapat-pendapat para filosuf. Tak heran jika karangannya mencapai sekitar 500 buku. Demikian Ibnul Wardi menuturkan dalam “Tariikhu Ibnul Wardi”.</p>
<p>Al Wasithi mengemukakan: “ Demi Allah belum pernah lahir di permukaan bumi orang seperti syaikh kailian Ibnu Taimiyah, baik dari segi ilmiah, amaliah dan khuluqiyah (akhlak), ikutan dan mulianya maupun dari segi tantangannya terhadap orang yang menginjak-injak hak Allah dan kehormatannya”.</p>
<p>Karena ketenarannya, tidak sedikit para ulama menulis dan melukiskan perjalanan hidupnya, misalnya: Ibnu Alusi dalam “Jalaul ‘Ainain”, Shalahuddin bin Syakir Al Kutbi dalam “ Fawatuil Wafayat”, Ibnu Rajab dalam kitab “Thabaqat Ibnu Rajab” dan Ibnu Wardi dalam “Tarikh Ibnu Wardi”.</p>
<p>Menurut Ibnu Taimiyah, Islam adalah akidah dan amal. Satu perintah yang menancap dalam hati Ibnu Taimiyah adalah perintah jihad di jalan Allah, sebab itu adalah syarat kelengkapan dan kesempurnaan iman seseorang. Ibnu Taimiyah merupakan muslim yang berani, sabar dan pemaaf. Beliau sangat keras dalam menentang bid’ah dan khufarat. Cara yang beliau pakai dalam memerangi orang yang tidak sepaham dengannya adalah melalui pena dan diplomasi. Menurutnya, pena lebih tajam daripada pedang.</p>
<p> </p>
<p>Dalam Al Munaqibul ‘Illiyyah, Imam Al Bazzar menerangkan tentang bagaimana Ibnu Taimiyah menentang kaum mulahidah (pembangkang) dan bid’ah sebagai berikut:</p>
<p>“ Allah memberikan kemampuan tersendiri kepadanya untuk menentang ahli-ahli bid’ah yang tenggelam dalam kesesatan. Dan Allah juga memberikan kepadanya (Ibnu Taimiyah) untuk menelanjangi pendapat-pendapat yang diselubungi khufarat dan bid’ah”.</p>
<p><em>“ sesungguhnya saya lihat ahli-ahli bid’ah, orang-orang yang sesat, diombang-ambingkan oleh hawa nafsu, seperti kaum Mufalsafah, Bathiniyah, Mulahadah dan orang-orang yang menyatakan diri dengan Wihdatul Wujud (pantheisme), Dahriyah, Qadariyah, Nashiriyah, Jahmiyah,Hululiyah, Mu’thilab, Mujassamah, Musybihah, Rawandiyah, Kilabiyah, Salimiyah dan sebagainya yang terdiri dari orang-orang yang tenggelam dalam kesesatan. Para pemuka aliran-aliran sesat tersebut menyebabkan manusia berada dalam keragu-raguan tentang dasar-dasar agama mereka. Sedikit sekali saya melihat atau mendengar mereka mempergunakan Al Qur’an dan Hadits dengan sebenarnya. Mereka adalah orang-orang zindiq. Setelah saya  melihat semua itu, jelaslah bagi saya bahwa wajib bagi yang mampu untuk menentang kebatilan-kebatilan serta melemahkan hujjah dan kesesatan mereka”.</em></p>
<p> </p>
<p>Adz Dzahabi, ulama tarikh dan ahli hadits, menulis tentang ibnu taimiyah: “ Dia telah memprioritaskan sunnah Muhammad dan sistem salaf dengan mengemukakan hujjah-hujjah penguat, mukadimah-mukadimah dan hal-hal yang belum pernah ada sebelumnya. Beliau adalah seorang yang teguh pendirian dengan tetap mengatakan kebenaran yang dihasilkan ijtihad dan kekuatan pikirannya meski pendapatnya itu terasa pahit. Pendapat itu telah ia yakini kebenarannya berdasarkan hadits yang telah ia hafal.</p>
<p> </p>
<p>Sebagai seorang Mujahid dan mujaddid, dalam upaya penghapusan kebatilan dan kemungkaran, beliau langsung terjun sendiri ke gelanggang dan tidak cenderung menyingkir atau ‘uzlah. Kekerasan itu dapat dilihat dari sebuah perjalanan ke Damaskus. Pada sebuah warung, beliau melihat orang-orang yang sedang bermain catur. Beliau langsung mendatanginya, mengambil papan catur dan membaliknya.</p>
<p> </p>
<p>Pernah pada hari jum’at, Ibnu Taimiyah keluar bersama para pengikutnya untuk memerangi penduduk yang tinggal di gunung Jurdu dan Kasrawan. Penduduk itu banyak yang sesat dan kafir serta rusak akidahnya akibat perlakuan tentara Tartar yang pernah menghancurkan daerah tersebut dan telah memaksa penduduk setempat untuk mengikuti kepercayaan yang mereka anut. Ibnu Taimiyah mengumpulkan para penduduk dan beliau memberikan penjelasan tentang hakikat Islam. Orang- orang yang masih tetap pada pendiriannya semula dengan tidak mau merubah akidah dan kesesatannya dipaksa untuk menyerahkan harta mereka dan memberikan kepada Baitul Mal. Demikian Ibnu Hadi menerangkan dalam “Al ‘Uqudud Durriyah”, hal.366. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah pula melakukan penggerebekan ke tempat mabuk-mabukan di daerah Syam. Bersama para pengikutnya melakukan penghancuran, pengrusakan terhadap botol-botol khamar.</p>
<p>Namun, Ibnu Taimiyah adalah seorang pemaaf, meski sebenarnya beliau mempunyai kesempatan untuk membalas perlakuan musuh-musuhnya.</p>
<p> </p>
<p>Pada tahun 700 negeri Syam dikepung oleh tentara Tartar, beliau segera mendatangi Walikota Syam guna memecahkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Dengan mengemukakan ayat Al Qur’an, beliau membangkitkan keberanian membela tanah air. Karena itu, beliau dipercaya oleh Walikota untuk pergi ke Kairo minta bantuan tentara Sultan. Kutipan diplomasi beliau dengan sang sultan:</p>
<p>“ Jika negeri Syam tidak tuan perhatikan lagi dan tidak pula dijaga lagi dari serangan musuh, maka kami akan mengangkat Sultan diantara kami. Seorang Sultan yang dapat memimpin kami, menjaga dan memajukan Syam ketika ia sudah aman. Jika tuan-tuan tidak ditakdirkan menjadi pemimpin-pemimpin Syam dan tidak pula menjadi raja-rajanya, penduduk akan maju ke depan. Tuan-tuan harus menang. Bagaimana tuan berdiam diri, padahal tuan-tuan adalah pemimpin dan Sulatnnya, dan mereka adalah anak buah kalian. Kalian bertanggung jawab terhadap mereka”</p>
<p>Hujjah Ibnu Taimiyah yang argumentatif tersebut menggugah hati para Sultan, hingga dikerahkanlah pasukan berangkat menuju Syam. Dan akhirnya mereka memperoleh kemenangan.</p>
<p>Tidak hanya itu, pada bulan Ramadhan 702 H, Ibnu Taimiyah terjun sendiri ke medan perang Syuqhub, yaitu tempat pusat komando dari tentara Tartar.</p>
<p> </p>
<p>Karena bebas berpikir dan berijtihad tanpa melupakan Qur’an dan Hadits sebagai sumber dasar, maka banyak pula bermunculan penentang-penentang beliau. Pada tahun 698 H antara waktu Dzuhur dan Ashar Ibnu Taimiyah mengahdapi suatu ujian Hamawiyah, yaitu sebuah surat yang datang dari Hamat berisi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan masalah ketuhanan (Theologis) yang berkisar tentang sifat-sifat Allah. Semua kaum Muslimin sepakat mengenai pendapatnya tentang keesaan Tuhan, tidak ada yang menyerupai-Nya. Akan tetapi, menurut Ibnu Taimiyah, kandungan arti “keesaan” dan perkataan-perkataan lainnya yang ada hubungannya dengan perkataan tersebut, yaitu “tanzih” (penyucian), “tasybih” (penggambaran), “tasjim” (penjisiman) dapat berbeda-beda menurut perbedaan orang yang memakainya, sebab setiap golongan mengartikan dengan arti yang berlainan.</p>
<p> </p>
<p>Akibatnya, ulama-ulama yang berbeda golongan saling kafir-mengkafirkan, hanya disebabkan perbedaan pengertian mengenai istilah-istilah tersebut. Menurut Ibnu Taimiyah, hal tersebut tidak boleh terjadi, sebab perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan dari segi peninjauan bukan perbedaan arti. Aliran Salaf Ibnu Taimiyah tidak pernah mengkafirkanlawan-lawannya, melainkan hanya memandang sesat, terutama para filosuf, golongan Mu’tazilah dan golongan tasawwuf yang menyatakan diri dan mempercayai dirinya telah menyatu dengan Tuhan atau peleburan daripada Zat-Nya.</p>
<p> </p>
<p>Sebagai aliran salaf ia berpendirian bahwa keyakinannya tidak mengandung kesesatan, karena menurutnya perbuatan Allah telah dituturkan dalam Al Qur’an maupun Hadits. Dengan demikian ulama salaf berkeyakinan bahwa apa yang dikandung dalam Al Qur’an mengandung sifat-sifat Allah.</p>
<p> </p>
<p>“Akidah Wasithiyah” adalah yang dianut oleh aliran salaf. Pada tahun 705 H., kemampuan dan keampuhan Ibnu Taimiyah diuji dalam mempertahankan akidahnya. Para kadhi berkumpul bersama Sultan di istana hanya ingin menguji pendiriannya itu. Hingga akhirnya jelaslah bahwa Ibnu Taimiyah benar-benar memegang teguh pendapatnya, bahwa akidah tersebut adalah akidah suniyah salafiyah.</p>
<p> </p>
<p>Adalah sudah menjadi kelaziman, bahwa semakin melejit ke atas, maka fitnah semakin besar dan mengundang ketidak senangan orang banyak. Tantangan Ibnu Taimiyah semakin banyak, dan kebanyakan berasal dari golongan tasawwuf yang mengaku dirinya telah manunggal dengan Tuhan dan juga golongan yang meyakini bahwa Tuhan melekat pada makhluk-Nya (hulul).</p>
<p> </p>
<p>Dilakukanlah pendeskriditan secara halus terhadap Ibnu Taimiyah, setelah adu resep dan konsep mengenai ketuhanan ternyata tidak berhasil. Mereka mengadukan Ibnu Taimiyah ke pengadilan dengan tuduhan bahwa Ibnu Taimiyah telah sesat dan ingkar, yaitu seakan-akan Ibnu Taimiyah meyakini bahwa Allah benar-benar tinggal di atas ‘Arsy, memiliki tangan sungguhan, berhubungan dengan Ibnu Taimiyah melalui isyarat-isyarat indera. Dan pengadilan memutuskan mengucilkan Ibnu Taimiyah di sebuah bangunan tinggi beberap hari. Pada malam hari Raya Idul Fitri, dia di pindah ke penjara yang dikenal dengan Jubb. Hakim mengirimkan surat ke Syam menghendaki pengikut Ibnu Taimiyah kembali pada akidah yang benar, jika tidak pengucilan dan penangkapan akan dilakukan.</p>
<p> </p>
<p>Lalu, Sultan melakukan penangkapan-penangkapan terhadap para pengikut Madzhab Hanbali yang berada di Mesir dan Syam. Syaikhul Islam sendiri menjadi korban penyiksaan dan dipenjarakan. Kebanyakan pengikutnya pun disiksa dan sebagian dipenjara. Pada bulan Rabiul Awwal tahun 707H datang Emir Arab bernama Hisamuddin Mahna bin Isa ke Mesir dan mengeluarkan sendiri Ibnu Taimiyah. Berkali-kali beliau diminta kembali ke Damaskus, namun beliau menolak dan memilih untuk terus mengajar  dan memberi fatwa-fatwa di masjid-masjid dan tempat umum.</p>
<p> </p>
<p>Fitnah kembali berulang ketika tahun 707 H beliau dituduh menjelek-jelekkan Ibnu Arabi, sufi yang terkemuka dari golongan Widhatul Wujud yang mengingkari akal dan mengesampingkan agama.  Ibnu Taimiyah membantah tuduhan tersebut di tempat umum dan kebanyakan hadirin mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah belum pernah menjelek-jelekkan Ibnu Arabi atau ahli-ahli tasawwuf lainnya. Ibnu Taimiyah hanya menentang pendapat mereka. Terjadilah sengketa paham antara para personil mahkamah pengadilan, apalagi terbukti bahwa Syeikh Nashr Al Munbaj, musuh Ibnu Taimiyah, ada hubungan dengan Raja Mudzbir Ruknuddin Beybars. Akhirnya Negara memutuskan mengucilkan ke Damaskus atau Iskandariah dengan syarat atau memilih dipenjarakan. Ibnu Taimiyah lebih memilih dipenjarakan. Namun, sahabat-sahabatnya tidak rela beliau memlilih penjara. Permintaan sahabatnya pun dipenuhi dan beliau pun pergi ke Damaskus. Hanya saja, pemerintah mencurigai kepergiannya tersebut dan memanggilnya kembali ke Kairo disebabkan Negara tidak menghendaki beliau pergi, dan lebih menginginkan memenjarakan beliau.</p>
<p> </p>
<p>Setelah Raja Beybras turun tahta, barulah Ibnu Taimiyah bebas. Bila beliau berkenan, Raja Qalawan akan menangkapi musuh-musuhnya. Namun, sebagai seorang muslim yang konsekuen dengan ajarannya, beliau memaafkan kesalahan yang telah diperbuat musuh-musuhnya dan malahan masih memuji mereka.</p>
<p> </p>
<p>Tahun 712 H Ibnu Taimiyah pulang kembali ke Damaskus. Ia kembali pada profesi dan kegiatan semula, menulis, mengajar, menyebarluaskan ilmu pengetahuan serta memberi fatwa.</p>
<p> </p>
<p>Dalam masalah “Syaddur rihal” (perjalanan kunjungan), Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa safar yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin dan para ulama dengan niat hanya untuk mengunjungi kuburan-kuburan para aulia, tidaklah di syariatkan agama dan bahkan kunjungan tersebut merupakan maksiat yang paling besar. Sebagaimana disabdakan Nabi: Janganlah kamu melakukan perjalanan kecuali kepada tiga masjid : masjidil Haram, Masjidil Aqhsa, dan masjidku ini (masjid Nabawi).</p>
<p> </p>
<p>Menurut Ibnu Taimiyah, kunjungan kepada tiga masjid itu, yang di syariatkan hanyalah dengan niat untuk shalat saja. Jangan sampai ada yang datang ke sana hanya karena untuk mengunjungi Majidil Haram atau Masjidil Aqsha karena tempat bersejarah, atau ke masjid Nabawi karena dibangun ketika Nabi datang ke sana seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang yang sesat dengan berthawaf disekitar batu Nabawi. Pendapat Ibnu Taimiyah  ini diputarbalikkan, bagi mereka yang memusuhinya, seakan-akan merusak dan menginjak-injak citra makam Nabi, para wali dan orang-orang Shaleh. Ibnu Taimiyah dilaporkan kepada Sultan dan ditangkap pada tahun 726 H.</p>
<p> </p>
<p>Pemimpin kadhi dari golongan Syafi’I menjadi goncang dan timbulnya amarahnya. Dengan membina gubernur untuk mengambil sahabat Ibnu Taimiyah, dia bebas memenjarakan mereka. Akan tetapi kebanyakan dari mereka dilepaskan kecuali seorang, yaitu muridnya yang paling terkenal Syamsudin Muhammad Ibnul Qayyim Al Jauziyah tetap dipenjarakan.</p>
<p> </p>
<p>Kehidupan penjara dimanfaatkan Ibnu Taimiyah untuk membaca dan menulis. Pada tahun 728 H, beliau menyelesaikan tulisannya yang berisi bantahan terhadap Ankhnai Al Maliki ( Ruddun’ala Ibnil Akhnai Al Maliki) yang menyatakan Akhnai tipis bekal ilmu pengetahuannya. Sikap ini malah mempersempit ruang gerak Ibnu Taimiyah. Semua buku, kertas, tinta, pena yang dibawa ke dalam tahanan dirampas pada tanggal 9 Jumadil Akhir tahun 728 H. Kitab “Al Wafayatul Wafayat” menerangkan, bahwa setelah alat tulis dan buku tidak dimiliki lagi, beliau menulis menggunakan arang. Perampasan tersebut merupakan hantaman berat bagi Ibnu Taimiyah, setelah itu beliau lebih banyak membaca Al Qur’an, beribadah dan memperbanyak tahajjud. Dan pada tanggal 20 Dzulqaidah, setelah menderita sakit selama 20 hari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah wafat di penjara. Beliau dimakamkan di kuburan Ash Shufiyah Damaskus.</p>
<p> </p>
<ol>
<li>Pandangan-pandangan dan Jalan Berpikir seorang Ibnu Taimiyah</li>
</ol>
<p>Pemikiran Ibnu Taimiyah di bidang politik sebenarnya dapat dikaji dari bukunya “Minhaj as-Sunnag an-Nabawiyah fi naqdh Kalam as-Syiah wal Qadariyah” (Jalan Sunnah Nabi dalam Penyangkalan terhadap Keyakinan Kalangan Syiah dan Qadariyah), As-Siyasah as-Syar’iyah (Sistem Politik Syariah), Kitab al-Ikhriyaratul ‘Ilmiyah (Kitab mengenai Peraturan-peraturan Yuridis yang berdiri sendiri) dan al-Hisbah fil Islam (Pengamatan terhadap Kesusilaan Masyarakat di dalam Islam).</p>
<p> </p>
<p>Pandangan Ibnu Taimiyah mengenai politik pemerintahan yang kiranya agak berbeda dengan ulama lain adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mengenai Khilafah</li>
</ol>
<p>Ibnu Taimiyah memandang bahwa tata politik setelah Nabi Muhammad wafat adalah suatu dispensasi khusus dari Allah dan menyebutnya sebagai Khilafah an-nubuwwah. Beliau menyatakan bahwa kekhalifahan ini tidak akan terulang lagi di dalam sejarah karena Nabi telah menyatakan; kekhalifahan ini, hanya bertahan selama 30 tahun setelah itu yang ada hanyalah politik dalam pengertian umum. Meski khalifah-khalifah dari Bani Umayah, Abbasiyah dan lain-lain menamakan diri sebagai khulafa, tetapi kaum Muslimin terpaksa menerima karena mereka memiliki otoritas yang nyata. Mereka tidak memerintah sebagai wakil-wakil Nabi, melainkan hanya tampil sesudah beliau wafat dan melaksanakan syariah sebagai hukum dasar Negara dengan sedaya upaya mereka. Jadi menurut Ibnu Taimiyah, tidak ditemukannya petunjuk mengenai teori konstitusional di dalam Al Qur’an, Sunnah atau dalam praktek Khulafaur Rasyidin, maka teori klasik mengenai kekhalifahan ditolaknya.</p>
<ol>
<li>Mengenai Ummah</li>
</ol>
<p>Yang dimaksudkan Ummah menurut pandangan Ibnu Taimiyah diyakini sebagai penerima wahyu, memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk memelihara dan menyiarkan agama; dan bahwa organisasi Negara hanyalah salah satu fungsi ummah, sehingga secara relatif kurang penting dan kurang perlu dipermasalahkan. Menurut beliau, ummah mungkin saja orang kafir, tetapi apabila Al Qur’an mempergunakannya sehubungan dengan pengikut-pengikut Muhammad, maka yang dimaksudkan adalah orang-orang yang beriman. Belakangan ini, konsep tersebut diragukan baik oleh orang Muslim maupun bukan. Keraguan ini bersumber dari dokumen sejarah yaitu Perjanjian Damai antara Nabi dan orang-orang Yahudi di Madinah, yang berbunyi: Orang-orang Yahudi dari Bani Auf adalah sebuah ummah bersama-sama dengan orang-orang mukmin.</p>
<p> </p>
<p>Ibnu Taimiyah mengutuk setiap prinsip persatuan dengan orang-orang bukan muslim dan mencela setiap persatuan yang lebih mengutamakan keserbaragaman daripada keseragaman dan yang lebih mengutamakan perpecahan daripada keutuhan. Ia mencela solidaritas sempit yang mengelompokkan umat manusia menurut kelahiran, ras dan deviasionisme religious dan menentang kepentingan kaum Muslimin yang lebih besar jumlahnya dan menghalangi terlaksananya kehidupan sosial politik dengan baik.</p>
<p> </p>
<p>Menurut Ibnu Taimiyah solidaritas dicerminkan di dalam dua bentuk, yaitu di dalam kesatuan agama dan di dalam kesatuan bahasa. Masyarakat Muslim Ideal yang pada awal sejarah Islam melaksanakan tauhid dengan sesungguhnya, tidak memerlukan organisasi politik. Kesalehan pribadi dari anggota masyarakat tersebut sudah cukup untuk memelihara kohesi sosial sehingga kekuatan pemaksa untuk mempertahankan solidaritas ummah tersebut tidak diperlukan.</p>
<p> </p>
<ol>
<li>Mengenai Imamah</li>
</ol>
<p>Dalam doktrin Sunni intitusi imamah harus ditegakkan walaupun keharusan ini dotafsirkan berbeda oleh ahli yang berbeda. Misalnya Al Ghazali berpendapat bahwa masalah imamah tidaklah penting, karena hanya sebuah masalah hukum, yang sering menimbulkan fanatisme dalam ummah karena itu tidak perlu dipersoalkan.</p>
<p> </p>
<p>Ibnu Taimiyah tidak mau menyebut rezim Nabi sebagai imamah, tetapi berkeras menyebutnya sebagai nubuwwah dan beliau menyatakan bahwa masalah imamah hanya timbul setelah Nabi wafat. Ibnu Taimiyah tidak mengakui teori tradisional mengenai kekhalifahan, maka beliau merasa tidak berkepentingan dengan pengangkatan seorang imam.</p>
<p> </p>
<p>Ibnu Taimiyah telah menghancurkan fiksi pemilihan suara dan instuisi ahlul hall wal-aqd yang tidak berbentuk, tidak efektif dan sangat fiktif. Menurut beliau, Negara tercipta melalui kerjasama antara anggota masyarakat; dan penguasa tertinggi yang dipilih oleh rakyat memiliki kekuatan dan otoritas yang sesungguhnya di dalam masyarakat. Imamah yang benar adalah imamah yang ditegakkan berdasarkan sumpah setia (Mubaya’ah) yang saling mengikat diantara  raja dan rakyat. Mubaya’ah ini adalah semacam kontrak dan yang memiliki maksud yaitu kehendak bersama untuk menaati Allah dan rasul-Nya.</p>
<ol>
<li>Mengenai wilayah</li>
</ol>
<p>Wilayah adalah sebuah amanah yang harus diarahkan imam kepada yang berhak. Ibnu Taimiyah menganggap bahwa amanah dan keadilan sebagai dua buah kualitas yang esensial bagi pemerintah Syariah. Setiap wilayah menurutnya merupakan kewajiban agama yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah.</p>
<ol>
<li>Pandangan Ibnu Taimiyah mengenai Ijtihad, tafsir dan takwil</li>
</ol>
<p>Sebagai penganut aliran salaf, beliau hanya percaya pada syariat dan akidah serta dalil-dalilnya yang ditunjukkan oleh nash-nash. Maka aliran ini tidak percaya kepada  metode logika rasional yang dianggap asing bagi Islam, karena tidak terdapat dalam masa sahabat maupun tabi’in.</p>
<p> </p>
<p>Akal pikiran, menurut beliau amatlah terbatas, apalagi dalam menafsirkan Qur’an dan Hadits. Beliau meletakkan akal pikiran dibelakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri, tidak berhak menafsirkan, menguraikan dan menakwilkan Qur’an kecuali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) dan dikuatkan oleh Hadits.</p>
<p> </p>
<p>Menurut Ulama salaf, takwil adalah menafsirkan dan menerangkan maksud dari nash Al Qur’an dan Hadits, yang menurut pandangannya di dalam Al Qur’an banyak ayat yang merupakan penafsiran atau keterangan dari ayat-ayat lain. Tidak ada pertentangan antara cara memakai naqli yang shahih dengan cara aqli yang sharih. Akal tidak berhak mengemukakan dalil sebelum di datangkan dalil naqli. Bila ternyata ada pertentangan antara akal dan pendengaran (sam’i) maka harus di dahulukan dalil qath’I, baik ia merupakan dalil aqli maupun sam’i. dalil sam’I yang sudah kokoh naqlinya lebih didahulukan daripada akal.</p>
<p> </p>
<p>Dalam bidang ilmu kalam, Ibnu Taimiyah menerangkan tentang wujud Allah, keesaan Allah, hubungan antar Khalik dengan makhluk berdasarkan dalil Al Qur’an, Sunnah serta itsar dari ulama salaf. Beliau tidak sepaham dengan filosuf, termasuk Al Ghazali.</p>
<p> </p>
<p>Dalam hal Fiqh dan ushul fiqh, ijma” yang disepakati kaum muslimin secara bersama adalah Ijma’ yang dilakukan oleh para sahabat. Ijma’ yang dilakukanoleh ulama selain mereka, diragukan kebenarannya dan tidak bisa dipakai sebagai dasar hukum. Qiyas yang dapat diterima adalah qiyas yang shahih dan tidak rusak.  Beliau menerangkan tentang Qiyas yang benar, bentuk dan syarat yang harus dimiliki dan di dapat dalam Qiyas yaitu:</p>
<ol>
<li>Illat hukum tasyri’ yang terdapat dalam asal harus juga ada di dalam cabang, tanpa adanya pertentangan yang menjadi penyebab terlarang penentuan hukum Illat itu.</li>
<li>Qiyas dengan pembatalan pembeda antara dua bentuk itu (maksudnya asal dan cabang). Antara keduanya, ushul dan furu” tidak boleh ada pembeda yang mempengaruhi syara’.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Mengenai Istishhab, beliau mendefinisikan: “Tetap berpegang teguh pada hukum asal, selama hukum itu belum diketahui tetap ada sudah diubah menurut syara’. Ia adalah hujjah bagi ketiadaan keyakinan terhadap ittifaq (sepakat). Jika seorang mujtahid dihadapkan pada suatu masalah yang sedang hangat terjadi dalam masyarakat, kemudian ia dimintai pendapat yang tidak terdapat dalam Qur’an dan Sunnah, serta tidak ada dalil syar’I lain yang menerangkan tentang hukum masalah itu, tentang haram atau mubahnya, maka ia harus memilih mubahnya, sebab asal segala sesuatu itu diperbolehkan, kecuali yang sudah diharamkan menurut syara’.</p>
<p> </p>
<p>Istishhab adalah suatu metode mengambil dalil yang telah menjadi fitrah manusia dan mereka melakukannya dalam ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan.</p>
<p> </p>
<p>Dengan Mashail mursalah, yang banyak dibicarakan dalam madzhab Maliki akan tetapi tidak dibicarakan dalam madzhab Hanbali, Ibnu Taimiyah tampak ragu untuk menyatakan diri menyandarkan pengambilan hukum berdasar Mahail Mursalah (kepentingan umum).</p>
<p> </p>
<p><strong>SUMBER KEPUSTAKAAN:</strong></p>
<ol>
<li>As Siyasah as-Syar’iyah, oleh Ibnu Taimiyah</li>
<li>Al ‘Aqidah al-Waithiyah, oleh Ibnu Taimiyah</li>
<li>Ar-Radd ‘ala Siyar al Auza’I, oleh Abu Yusuf</li>
<li>Al Imamah was Siyasah, Oleh Muhammad bin Jarir at-Thabari</li>
<li>Al Igtishad fil I’tiqad, oleh Al Ghazali</li>
<li>Al Wasithah bainal Khalqi wal Haqqi, oleh Ibnu Taimiyah</li>
<li>Ilmu Kalam, oleh Prof.KHM. Thaib Thahir Abdul Mu’in</li>
<li>I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, oleh KH. Sirajuddin Abbas</li>
<li>Ibnu Taimiyah, oleh Abu Ahmadi</li>
<li>Ibnu Taimiyah, oleh Dr. Muhammad Yusuf Musa</li>
<li>Hayatu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, oleh Syeikh Muhammad Bahjah Al Bithar</li>
<li>Muqaranah bainal Ghazali wa Ibnu Taimiyah, oleh Dr. Muhammad Risyad Salim</li>
<li>Theologi Islam, oleh Dr. Harun Nasution</li>
<li>The Political Thought of Ibnu Taimiyah, oleh Qomaruddin Khan.</li>
</ol>
<p> </p>
<p><em>(Disadur dari buku: Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Ke Masa karya Imam Munawwir)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=271&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/06/10/ibnu-taimiyah-tauhid-tasawuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hasan Al Banna dan Perjuangan Ikhwanul Muslimin</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/06/10/hasan-al-banna-dan-perjuangan-ikhwanul-muslimin/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/06/10/hasan-al-banna-dan-perjuangan-ikhwanul-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 07:32:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[SERI TOKOH PERGERAKAN ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[  HASAN AL-BANNA (1906-1949) Nama tokoh ini sangat dikenal di kalangan dunia Islam, terutama di kawasan Timur Tengah menjelang pertengahan abad ke XX M dan dampaknya dirasakan hingga saat ini di seluruh penjuru dunia. Beliau berhasil memobilisasi semua potensi dalam masyarakat, mulai dari buruh, usahawan, ilmuwan, ulama, zuama yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin beliau telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=268&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> </p>
<p align="center">HASAN AL-BANNA</p>
<p align="center">(1906-1949)</p>
<p>Nama tokoh ini sangat dikenal di kalangan dunia Islam, terutama di kawasan Timur Tengah menjelang pertengahan abad ke XX M dan dampaknya dirasakan hingga saat ini di seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Beliau berhasil memobilisasi semua potensi dalam masyarakat, mulai dari buruh, usahawan, ilmuwan, ulama, zuama yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin beliau telah menancapkan satu model organisasi radikal modern dalam Islam yang menangani seluruh aspek kehidupan. Para ulama penerus dan pewaris perjuangannya terpandang, disegani dan dihormati. Amal sosialnya amat terasa, dan sebagian pecahannya membuat teror dimana-mana. Bermula dari sekelompok kecil yang bersemangat dan gelisah di Kairo, yang kemudian tumbuh pesat menjadi serikat yang kokoh dan kuat, menyebar hampir di seluruh penjuru Timur Tengah, bahkan ke bagian dunia lain (paling tidak dalam hal gagasan).<span id="more-268"></span></p>
<p> </p>
<ol>
<li>Perjalanan Hidup Hasan Al Banna</li>
</ol>
<p>Dilahirkan pada tahun 1906, dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Ayah kandungnya adalah Syekh Ahmad ‘Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan as-Sa’ati (tukang arloji). Dalam lingkungannya orangtua itu tergolong berharta dan dihormati. Beliau memang datang dari lingkungan yang tekun dan setia mengkaji agama dan Al Qur’an. Lahir di distrik Syamsyirah, tepat di bagian barat Fuh. Beliau juga menguasai ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu bahasa dan hafal Al Qur’an. Selain bekerja di bengkel arloji, Syekh Ahmad jug aktif mengajar dan disegani oleh sejumlah besar ulama. Beliau memiliki perpustakaan pribadi dengan aneka ragam cabang ilmu pengetahuan.</p>
<p> </p>
<p>Syekh Ahmad juga banyak menekuni karya tulis. Diantaranya ialah Ba’da-I’ul Musnad, fi jam’iwa Tartibi Musnadisy Syafi’i was Sunan ( Segi-segi keindahan musnad, tentang Himpunan dan Pengurutan Musnad Imam Syafi’i dan Kitab-kitab sunan). Dari Musnad Ibnu Hanbal, beliau juga sempat menyunting, dengan judul Al-Fathur Rabbani, fi Tartibi Musnadil Imami Ahmud asy Syaibani (Pembukaan ketuhanan, Pengurutan Musnad Imam Ahmad Asy Syaibani).</p>
<p> </p>
<p>Sebagai seorang ayah, Syekh Ahmad menginginkan putranya menjadi mujahid (pejuang) disamping sebagai mujaddid (pembaru). Dinasehatkan kepada puteranya sebuah petuah: “Barang siapa menguasai nash, berarti ia akan menguasai disiplin ilmu”. Sejak kecil, Hasan Al Banna dituntut sang ayah untuk menghafal Al Qur’an secara penuh. Setelah itu, dimasukkan sekolah persiapan yang dirancang pemerintah Mesir menurut model sekolah dasar tanpa pelajaran bahasa asing. Di rumah pun, Hasan Al Banna bergelut dengan buku perpustakaan pribadi ayahnya, baik buku agama, hukum, hadits dan ilmu bahasa.</p>
<p>Al Banna muda gemar membaca cerita rakyat, terutama yang menimbulkan semangat heroic. Secara khusus, beliau terpukau oleh cerita kepahlawanan, perjuangan dan sejarah, cerita tentang para pahlawan Afrika Utara, hikayat Abu Muhammad al Baththal dan sebagainya. Umur 13 tahun, beliau sudah terlibat aksi, menulis puisi, dan menyaksikan pendudukan Mahmudiyah oleh pasukan Inggris. Hal tersebut menumbuhkan keyakinannya, bahwa pengabdian kepada tanah air merupakan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.</p>
<p>Di usia 14 tahun (1920) Al Banna masuk sekolah guru tingkat pertama di Damanhur. Kecendrungan reliji nya tetap tidak berubah. Beliau tetap berpuasa dalam bulan Rajab dan Sya’ban. Dalam usia semuda itu, beliau telah menggabungkan diri dengan mazhab sufi Hashofiyah. Pendiri mazhab ini kelak sangat berpengaruh atas perkembangan Al Banna, terutama mengenai ajarannya tentang persaudaraan sejati. </p>
<p>Sejak di sekolah menengah beliau sudah terpilih sebagai ketua Jam’iyatul Ikhwanil Adabiyah ( perkumpulan yang terdiri dari calon pengarang). Karena semangat heroiknya, maka beliau membentuk Jam’iyatul Man’il Muharramat dan Al-Jam’iyatul Hasafiyah Khairiyah (Perhimpunan Etika Islam). Setelah lulus dari sekolah guru, Al Banna ditunjuk sebagai guru. Tapi beliau memilih melanjutkan sekolah ke Darul Ulum dan lulus tahun 1927 di usia 21 tahun. Darul Ulum bisa dikatakan sebagai miniatur Al Azhaar yang dilengkapi dengan pengetahuan agama dan bahasa, dengan cara lebih modern.</p>
<p> Pada bulan Maret 1928, di Ismailiah beliau mendirikan Ikhwanul Muslimin. Pada mulanya beliau hanya mempunyai 6 pengikut dan sekelompok siswa yang taat pada guru. 6 bulan menjelang munculnya Ikhwanul Muslimun, beliau melakukan sejumlah persiapan. Sebagai media komunikasi dan propaganda, beliau memilih tiga kedai minuman yang besar. Dua kali seminggu beliau tampil di kedai tersebut dalam bentuk menerangkan ayat, mengingatkan umat akan adzab neraka dan nikmat surag berupa ceramah. Acara tersebut dihiasi dengan cerita serta tafsir Al Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan aktual.</p>
<p> Bila pengunjung mendesaknya untuk mengajari mereka prinsip-prinsip agama, beliau mengajak mereka ke sebuah zawiyah (tempat pertemuan sufi) yang sudah tua. Beliau mahir memahami kelompoknya yang kecil dan cara-cara efektif menghadapi mereka; sejumlah ulama, sufi dari berbagai aliran dan orang-orang yang terkemuka. Semua tampak puas terhadap Hasan Al Banna yang dengan bijaksana berhasil menyingkirkan pertentangan. Beliau membatasi petunjuknya pada masalah-masalah umum dan mengarahkan minat pada soal-soal di sekitar lingkungan sendiri.</p>
<p><em>“Saya mencoba menegakkan sebuah gerakan yang umum dan luas di dasari ilmu, pendidikan dan semangat militansi, yaitu sokoguru ajaran Islam”.</em></p>
<p>Mereka yang ingin mendapat pendidikan khusus –yang berkenaan dengan ajaran sufi- dipersilahkan mengambil jalan sendiri.</p>
<p> Al Banna memang pejuang yang menginginkan wajah Islam dikenal sebagai totalitas dan tampak utuh. Karena itu, beliau tidak hanya berkutat pada ilmu keagamaan, akan tetapi juga pengetahuan modern yang lain, seperti ilmu pendidikan, filsafat, logika, guna memperluas cakrawala pandangnya. Beliau juga memperkaya diri dengan kepekaan terhadap masalah-masalah di luar pemikiran agama. Beliau melihat politik, soal-soal kemasyarakatan dan olahraga, dengan semangat yang jarang terdapat pada tokoh agama lainnya. Minatnya terhadap industri dan perdagangan agaknya dipengaruhi oleh ayahnya sebagai tukang arloji yang berhasil.</p>
<p> Al Banna mulai peka terhadap politik ketika beliau melihat instansi militer Inggris yang berada di Ismaillah. Demikian pula administrasi Suez Canal Company yang memonopoli suplai kebutuhan umum. Perbedaan taraf hidup orang asing dan kaum buruh setempat membuat beliau prihatin.</p>
<p> Al Banna tinggal di Ismailiah sejak 1928 hingga 1933. menyebarkan agama yang tidak terbuka, tetapi berhasil menarik perhatian. Al jundi mengungkapkan:</p>
<p>Beliau bagai pemilik sebuah gedung kuno dan lapuk, dan ingin memperbaiki bangunan tersebut. Di pagarinya gedung itu, sehingga terlindung dari pandangan. Dan ketika pagar diruntuhkan, berdirilah sebuah gedung yang besar, kokoh dan ampuh”.</p>
<p>Masjid, bagi Hasan Al Banna tetap merupakan markas besar yang utama. Disana beliau merasa aman dan terlindung. Setelah dua tahun, berbagai perjalanan itu membuahkan cabang gerakan di Abusir, Port Said dan al-Balah. Setelah tiga tahun, sebuah cabang di Suez berdiri, barulah setahun kemudian hampir seluruh cabang terbentuk, berikut sebuah sekolah, tempat gadis-gadis dipersiapkan sebagai kader.</p>
<p> Disamping ketahanan mental, Al Banna memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Beliau biasa melakukan perjalanan pada akhir minggu dan selama liburan musim panas. Beliau mampu menempuh perjalanan jauh, bekerja hampir siang malam, berpidato, menulis, memimpin rapat dan pertemuan, mengontrol kegiatan markas besar dan cabang. Para sahabatnya, yang pernah bersama menunaikan ibadah haji juga mengakui ketahanan fisiknya.</p>
<p><em>Kami berkendara dari Makkah ke Madinah, semuanya mabuk perjalanan, kecuali Al Banna. Akibat salah makan, kami mengalami gangguan pencernaan, tapi Al Banna tidak. Kami tiba di Makkah yang mendidih setelah sebelumnya berada dalam udara lembab. Kemudian masuk Madinah yang lembab dari Makkah yang panas. Semuanya demam dan batuk-batuk kecuali Al Banna. Kami mendaki gua Hira sampai terengah-engah, Al Banna biasa saja.</em></p>
<p> Al Banna memakai buku pamphlet, surat menyurat, Koran, pidato, ceramah, kunjungan pribadi dan wejangan. Latar belakang pendidikan Al Banna, terutama studinya terhadap Al Qur’an, Hadits dan Biografi, berpengaruh jelas pada gerakan yang dipimpinnya. Gerakan yang diarahkan menuju garis murni Islam dilengkapi dengan semangat heroisme dan ketahanan menanggung azab dan bencana. Aspek lain yang menonjol dalam kepribadian tokoh ini adalah kecerdasannya. Ingatannya kuat dan mempunyai kemampuan menyelesaikan masalah dan menempatkan diri dalam berbagai situasi, serta kecakapannya memimpin para pengikut dari berbagai latar belakang budaya dan jenjang sosial. Kemampuan dan kesanggupannya memimpin para pengikut boleh dikatakan luar biasa. Untuk tiap anggota, beliau memiliki cerita khusus, kebiasaan khusus dan logika khusus.</p>
<p> Dalam semua pidato dan tulisannya, Al Banna senantiasa berusaha membuktikan bahwa Islam mengandung semua aspek yang terdapat dalam gerakan politik modern. Bahkan Islam lebih mengandung harapan, kekuatan, patriotisme dan watak yang lurus. Lebih dari itu, beliau adalah seorang yang bijak dalam bicara, berceramah dan mengarang.</p>
<p> Penulis Ahmad Hasan al-Hajjaji membicarakan Al Banna dalam bukunya Rouh wa Raihan (Kelapangan dan Istirah):</p>
<p>“<em>Ia mengungkapkan masalah sosial, budaya, hukum sama bijaknya seperti ia membicarakan persoalan agama. sejarah mencatat tokoh ini sebagai orator yang tangkas dan berwibawa, serta penulis yang berbakat dan terkemuka. Ia memiliki keyakinan diri yang mantap, kemampuan mencipta, orisinalitas. Ia tidak pernah meniru siapapun. Dapat berbicara mengenai apa saja tanpa persiapan terlebih dahulu dan santai dalam berceramah”.</em></p>
<p> </p>
<ol>
<li>Hasan Al Banna dan Pendidikan Al Ikhwanul Muslimin</li>
</ol>
<p>Pemikiran-pemikiran yang tumbuh di kalangan Ikhwanul Muslimin banyak bersumber dari gagasan-gagasan Hasan Al Banna dan dianggap baru oleh kalangan lain, bahkan diangap asing. Dr. Yusuf Qardhawy dalam buku “At Tarbiyatul Islamiyah wa Madrasatu Hasan Al Banna” mengemukakan bahwa paham Ikhwanul Muslimin tentang Islam adalah paham baru dan lama. Dikatakan baru karena paham itu asing bagi kebanyakan orang termasuk putera-putera Islam sendiri, karena paham itu memandang islam sebagai agama dan Negara, ibadah dan kepemimpinan rohani dan amal, shalat dan jihad, Al Qur’an dan pedang, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasan Al Banna:</p>
<p><em>“Islam adalah peraturan yang lengkap, mencakup seluruh aspek kehidupan. Ia adalah Negara dan tanah air atau pemerintah dan bangsa, jihad dan dakwah atau tentara dan pemikiran, intelektualitas dan undang-undang atau ilmu dan peradilan, akhlak dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, materi dan kekayaan atau usaha dan harta, begitu pula ia adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar”.</em></p>
<p> </p>
<p>Adalah kewajiban pendidikan Ikhwanul Muslimin untuk menghadapi efek-efek dari kebodohan lama dan pembodohan baru: bekerja keras untuk meletakkan sistem yang sempurna untuk mencerdaskan “seorang muslim” berlandasakan pada sumber Islam yang murni, sebelum dikotori oleh penambahan atau pengurangan dengan menjauhi istilah mutakallimin, takalluf para sufi dan debat para fuqaha.</p>
<p> </p>
<p>Tidak diragukan bahwa cabang-cabang dan pusat gerakan Ikhwanul Muslimin mempunyai usaha yang terus menerus di bidang ilmu dan penyadaran keislaman yang bersifat umum, sementara “keluarga-keluarga” mereka mengadakan pertemuan-pertemuan teratur bagi pendidikan akal. Diantara aspek pendidikan yang terpenting menurut Ikhwanul Muslimin adalah aspek kejiwaan dan akhlak. Al Banna yakin bahwa krisis dunia disebabkan oleh krisis jiwa dan hati sebelum menjadi krisis ekonomi dan politik.</p>
<p> </p>
<p>Cita-cita menurut Hasan Al Banna adalah harapan akan kemenangan Islam, percaya bahwa masa depam di tangan dan pertolongan Allah itu dekat (datangnya) meskipun bahaya bertubi-tubi dan bencana silih berganti. Diantara ucapan Hasan Al Banna :</p>
<p>“ Sesungguhnya kenyataan pada hari ini dan kemarin masih merupakan mimpi dan apa yang pada hari ini merupakan mimpi akan menjadi kenyataan pada hari esok”</p>
<p>Kesediaan berkorban adalah akhlak yang paling dipentingkan dalam pendidikan Ikhwanul Muslimin. Yang dimaksud dengan kesediaan berkoraban adalah tidak kikir tenaga, harta dan waktu untuk perjuangannya.</p>
<p> </p>
<p>Aspek pendidikan Ikhwanul Muslimin yang menonjol adalah pendidikan jihad, namun tidak sama dengan pendidikan kemiliteran yang menyebabkan menjadi ngeri dan tabu. Kemiliteran adalah disiplin dan latihan, sedangkan jihad adalah iman, akhlak, jiwa dan pengorbanan, disamping disiplin dan latihan pula. Gerakan Ikhwanul Muslimin menghidupkan pengertian jihad, memupuknya dan mempopulerkan dalam tulisan-tulisan, kitab-kitab, majalah-majalah, Koran-koran, pidato dan diskusi, syair-syair dan lagu-lagu Hasan Al Banna, semboyan yang diteriakkan oleh jamaah adalah: Aljihadusabiluna, wal mautu fi sabilillahi asma amanina ( Jihad adalah jalan kami dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi). Diantara cara-cara Ikhwanul Muslimin untuk mengingatkan kepad jihad adalah memperingati peristiwa-peristiwa Islam yang berhubungan dengannya, seperti perang Badar, penaklukan Makkah dan sebagainya.</p>
<p> </p>
<p>Pengetahuan Ikhwanul Muslimin dan pendidikan mereka secara umum menumbuhkan pada diri mereka perasaan unggul dan terhormat, akhlak suka berkorban dan memberi, jiwa berani mati, serta menanamkan dalam diri mereka makna prajurit yang mukmin berupa ketaatan, patuh kepad peraturan, mengedepankan itsar. Manifestasi ini dibuktikan secara nyata dalam milisi pembebasan Palestina (1948).</p>
<p> </p>
<ol>
<li>Hasan Al Banna dan Perkembangan Al Ikhwanul Muslimin</li>
</ol>
<p>Organisasi Ikhwanul Muslimin memang cepat berkembang, namun melalui tahapan serta penyusunan program yang menarik dan matang. Prinsip Ikhwanul Muslimin terdiri dari enam hal, yaitu:</p>
<ol>
<li>Ilmiah, yaitu menjelaskan Al Qur’an secara tepat, melalui tafsir asli dan segala elemen universalnya. Melengkapinya dengan semangat zaman dan membelanya dari kepalsuan dan kesangsian.</li>
<li>Praktik guna mempersatukan Mesir dan bangsa-bangsa Islam di sekitar prinsip-prinsip Al Qur’an, membina bangsa Qur’ani sejati, mempersatukan pandangan diantara aliran-aliran Islam yang bermacam-macam. Ini berarti pembangunan masyarakat Islam seutuhnya di atas satu dasar keagamaan dan penyelesaian perbedaan uang muncul dari berbagai kelompok madzhab.</li>
<li>ekonomi, yaitu peningkatan kesejahteraan nasional, perlindungan dan pembebasannya. Prinsip ini menguntungkan kaum buruh, juga membatasi pengaruh asing atas ekonomi Mesir, menghidupkan industri lokal dan mengarahkan kegiatan serikat buruh bagi peningkatan standar nasional dan financial para anggotanya.</li>
<li>Sosio-filantropis, menyangkut pelayanan masyarakat, perjuangan melawan kebodohan, penyakit, kemiskinan dan kebiasaan buruk.</li>
<li>Patriotisme dan nasionalisme. Menyangkut pembebasan lembah Nil, seluruh Arab dan seluruh tanah air Islam dari kekuasaan asing. Menyokong persatuan Arab tanpa syarat, usaha terus menerus kearah perwujudan Liga Arab.</li>
<li>Kemanusiaan dan universalisme, yaitu usaha ke arah terciptanya perdamaian yang menyeluruh dan peradaban yang manusiawi di atas landasan yang baru, lahir dan batin, melalui prinsip-prinsip universal Islam dibangun dalam ikatan persaudaraan.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Disamping program pendidikan, Ikhwan juga menyurati para pemimpin Mesir dan negeri-negeri Arab. Surat pertama dikirimkan kepada Muhammad Mahmud Pasha, kepala pemerintahan pertama setelah Ikhwan berdiri. Surat didahului dengan gambaran keadaan Mesir, yang tenggelam dalam kegelapan, kekacauan, kemiskinan, kebobrokan moral, kebudayaan dan fisik” . solusinya adalah pendidikan Islam dan Kitabullah. Lalu, perdana Menteri Mesir tesebut di desak menjadi “uswatun hasanah”, dengan jalan; pertama: melarang khalwat pria dan wanita , kedua: melarang para anggota cabinet mengunjungi rumah judi dan tempat-tempat hiburan, ketiga: melarang oknum yang sama membicarakan anak-isteri di Koran-koran, keempat: mengontrol ketaatan shalat, kelima: menjadikan anak negeri sebagai tuan rumah di tanah air sendiri, beragama Islam dan berbahasa Arab, keenam: menghukum para pejabat yang tak senonoh.</p>
<p> </p>
<p>Dalam upaya membubarkan partai politik, Ikhwan juga melakukannya via surat. Menurut mereka, partai politik yang terdapat di Mesir lebih bersifat semu ketimbang nyata. Motifnya bersifat personal bukan nasional.</p>
<p> </p>
<p>Pada tahun 1939, Ikhwan menyurati an-Nahas Pasha, mengharapkan agar kaum Wfdi menjadi teladan kebajikan dan mengumumkan program reformainya berpangkal pada prinsip-prinsip Islam. Termasuk perubahan undang-undang, pengukuhan pengadilan di bawah syariat, pembaruan pendidikan, merekrut para pria ideal menjadi tentara, memerangi kemesuman, memperbaiki keadaan ekonomi, menghentikan praktik yang mencontoh Eropa, memperbarui administrasi dan memperbarui politik luar negeri. Mereka membentuk komite khusus yang mempublikasikan surat-surat tersebut dalam bentuk pamflet.</p>
<p> </p>
<p>Pada 3 Jumadil Akhir 1365 (5 Maret 1946), terbit surat kabar Ikhwanul Muslimin. Diantara publikasi mereka, surat kabar harian mencapai sirkulasi tertinggi. Di dalamnya mereka menjelaskan tujuan gerakan, yang diperinci dalam lima bagian:</p>
<ol>
<li>Penjelasan ajaran-ajaran Islam dan kehadiran Islam yang serasi dalam zaman modern.</li>
<li>Membuktian kerancuan tuduhan yang di alamatkan ke pihak Ikhwan</li>
<li>Menggalang persatuan di kalangan Islam. Bergotong royong dalam perkara yang disetujui, dan memaafkan dalam perbedaan pendapat.</li>
<li>Mendemonstrasikan kepada masyarakat bahwa Islam tidak mempunyai perselisihan dengan agama manapun. Ajarannya adalah kasih, harmoni, kerjasama, dan perdamaian.</li>
<li>Menunjukkan jalan menuju Islam. Menerapkan hukumnya dalam kehidupan sehari-hari, rumah tangga, Negara dan masyarakat.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Di dunia usaha, Ikhwan mendirikan Syarikatul Mu’amalatil Islamiyah, sebuah serikat dagang diantara pengusaha Islam. Di Iskandariah, mereka memiliki perusahaan dagang dan engineering dengan 3.500 saham dan dengan 70 ribu pon, dan 50 ribu pon bagi awal usaha di bidang persuratkabaran.</p>
<p> </p>
<p>Namun, diantara kegiatan Ikhwanul Muslimun yang paling menonjol adalah aspek jihad; “Setiap Muslim adalah serdadu Allah. Mereka harus rela mengorbankan jiwa dan raga tanpa balas. Bila kehormatan Islam terancam, adalah kewajiban mereka maju membela dan terjun ke dalam jihad”. Pada 27Jumadil Akhir 1367 (6 Mei 1948), Al Banna memimpin langsung siding komite Pendiri Ikhwan yang menelurkan bebrapa keputusan, antara lain: menuntut pemerintah Mesir dan Pemerintah negeri-negeri Arab lain “ mengumumkan jihad melawan Yahudi serta mengambil segala langkah yang perlu untuk menjamin penyerahan kembali Palestina”.</p>
<p> </p>
<p>Tanggal 15 Mei 1948, tentara Arab mulai berperang untuk pembebasan Palestina. Di bawah perlindungan Liga Arab, Ikhwan ambil bagian. Sebagai akibatnya, mereka mendapat kesempatan mempersenjatai diri dan mengikuti latihan tempur yang cukup baik. Hal ini menyebabkan tuduhan terhadap ikhwan, bahwa mereka akan melakukan kudeta.</p>
<p> </p>
<p>8 Desember 1948, pemerintah memerintahkan pembubaran Ikhwanul Muslimin dan cabangnya di mana saja, menutup pusat kegiatannya, menyita Koran, dan semua publikasinya, juga uang dan kekayaan serta semua harta benda. Perusahaan-perusahaan dagang Ikhwan dilikuidasi. Pemerintah menahan sejumlah besar anggota Ikhwan.</p>
<p> </p>
<p>Menurut Al Banna, hal-hal yang mendorong pemerintah Mesir melancarkan kekerasan hati disebabkan oleh campur tangan inggris yang menganggap Ikhwan sebagai kekuatan nasional yang fanati, duri dalam bentuk persetujuan Mesir dengan negeri super itu, persiapan pemilu serta keinginan partai an-Nuqrasyi untuk menang meski dengan cara curang, faktor keinginan Negara Arab menangani masalah Palestina dan tekanan Internasional kekuatan asing.</p>
<p> </p>
<p>Al Banna mencoba mendekatkan pengertian untuk menjernihkan soal, tapi usaha kandas karena an-Nuqrasy terbunuh pada tanggal 28 Desember 1948. tuduhan pun ditumpahkan ke pundak Ikhwan. Anggota Ikhwan dikejar dan di halau, sebagian dibenamkan dalam kamp-kamp konsentrasi. Tindakan kekerasan ini sangat memukul Al Banna. Di depan matanya, bangunan yang dibinanya selama 20 tahun ambruk sekejap mata. Malah mungkin beliau kecewa telah melangkahkan Ikhwan ke gelanggang politik.</p>
<p>“ Dalam gambaran saya, serikat kita harus mengambil bagian memajukan Negara ini secara religius, sosial dan ekonomi, dengan meninggalkan aspek politik. Tokoh-tokoh kita boleh saja menampilkan diri dalam Pemilu, di bawah partai apapun yang mereka anggap layak. Saya percaya, waktunya tak lama lagi partai-partai tersebut akan memeluk keyakinan yang kita bela”.</p>
<p> </p>
<p>Namun langkahnya terhenti. Petang 12 Februari 1949, selagi duduk dalam kendaraan di depan kantor YMMA, Al Banna dibunuh. Meski semangat dan jiwa tetap melekat pada sanubari para pendukungnya, akan tetapi tanpa organisasai (nidzam) yang teratur dan rapi lambat laun akan mengalami nasib yang tidak menggembirakan. Pemerintah Abdul Hadi, terus mengadakan terror, secara buas dan kejam. Dr. Abdulkadir Audah, Sayyid Quthb bersama kawan-kawannya berakhir di tiang gantungan pada tanggal 8 Desember 1954. peristiwa itu sangat mengejutkan dunia, terutama dunia Islam, karena dirasa tidak wajar dalam suatu negeri Islam di tengah peradaban dunia yang bertambah maju.</p>
<p> </p>
<p>Demikianlah, meski jiwa patriotik masih tetap dimiliki oleh para pendukungnya, akan tetapi organisasinya makin lama makin rapuh. Pada masa Pemerintahan Anwar Sadat mereka masih tetap menunjukkan jiwa patriotiknya, lantaran Anwar Sadat lunak dalam menghadapi zionis Israel.</p>
<p> </p>
<p>Meski gerakan Ikhwanul Muslimin memasuki periode azab dan sengsara, akan tetapi nyatanya, minat khalayak terhadap Ikhwanul Muslimin semakin besar, dan orang makin banyak ingin mengkaji, apa itu Ikhwanul Muslimin dan siapa Hasan Al Banna.</p>
<p> </p>
<p>Sumber Bacaan:</p>
<ol>
<li>Al Ikhwanul Muslimin, Oleh Ishak Mussa Al Husaini</li>
<li>Al-Ikhwanul Muslimin fil Mizan, oleh Muhammad hasan Ahmad</li>
<li>Al-Islam wa Audla’unal Qanuniyah, oleh Dr. Abdul Kadir ‘Audah</li>
<li>At Tarbiyatul Islamiyah wa Madrasatu Hasan Al Banna, oleh Dr.Yusuf Qardhawy</li>
<li>Mudzakkirat Hasan al-Banna, oleh Ahmad Anwar al Jundy</li>
<li>Qaidud Da’wah au Hasan al-Banna, Hayaty Rajul wa Tarikhu Madrasah, oleh Anwar al-Jundi.</li>
</ol>
<p> </p>
<p><em>(Disadur dari buku: Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Ke Masa karya Imam Munawwir)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Note : Mengenai konsep jihad, baiknya dibarengi dengan baca buku-buku dari berbagai sumber misalnya (Fatwa-Fatwa Para Ulama Senior) dalam masalah terorisme, pengrusakan, batasan-batasan jihad dan vonis kafir oleh Abul Ashbal Ahmad bin Salim Al Misyri atau dengerin kajian bedah bukunya oleh  Ustd. Mustafa Aini, MA. mengenai fatwa-fatwa seputar terorisme, biar nggak salah penafsiran dan salah konsep yah…!</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=268&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/06/10/hasan-al-banna-dan-perjuangan-ikhwanul-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu dan Satu Bentuk Perhatianmu</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/06/06/ibu-dan-satu-bentuk-perhatianmu/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/06/06/ibu-dan-satu-bentuk-perhatianmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 07:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[LOVELY POETRY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Ibu Kaulah  gua teduh Tempatku bertapa bersamamu Sekian lama Kaulah kawah Darimana aku meluncur dengan perkasa Kaulah bumi Yang tergelar lembut bagiku Melepas lelah dan nestapa Gunung yang menjaga mimpiku Siang dan malam Mata air yang tak berhenti mengalir Membasahi dahagaku Telaga tempatku bermain Berenang dan menyelam   Kaulah ibuku, laut dan langit Yang menjaga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=264&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu</p>
<p>Kaulah  gua teduh</p>
<p>Tempatku bertapa bersamamu</p>
<p>Sekian lama</p>
<p>Kaulah kawah</p>
<p>Darimana aku meluncur dengan perkasa</p>
<p>Kaulah bumi</p>
<p>Yang tergelar lembut bagiku</p>
<p>Melepas lelah dan nestapa</p>
<p>Gunung yang menjaga mimpiku</p>
<p>Siang dan malam</p>
<p>Mata air yang tak berhenti mengalir</p>
<p>Membasahi dahagaku</p>
<p>Telaga tempatku bermain</p>
<p>Berenang dan menyelam</p>
<p> </p>
<p>Kaulah ibuku, laut dan langit</p>
<p>Yang menjaga lurus horisonku</p>
<p>Kaulah, ibu, mentari dan rembulan</p>
<p>Yang mengawal perjalananku</p>
<p>Mencari jejak sorga</p>
<p>Di telapak kakimu</p>
<p>(Tuhan, aku bersaksi</p>
<p>Ibuku telah melaksanakan amanat-Mu</p>
<p>Menyampaikan kasih sayang-Mu</p>
<p>Maka kasihilah ibuku</p>
<p>Seperti Kau mengasihi kekasih-kekasih-Mu. Amin)</p>
<p>~ Puisi Karya K.H.A. Mustofa Bisri</p>
<p>~ Teruntuk ibuku: sebagai ungkapan atas besarnya perasaan bersalahku, tak paham bentuk “kasih sayangmu” dalam bentuk yang berbeda.<span id="more-264"></span></p>
<p> </p>
<p>Akhir-akhir ini, ketika saya sibuk dengan pikiran-pikiran sendiri, tak mau diganggu dan terkesan eksklusif, ibu menjadi lebih sering bertanya “ kenapa pulang jam… “, jam berapapun saya pulang kerumah selalu saja ditanyakan alasannya. Pulang cepet ditanya, pulang sedikit larut-pun ditanya. Padahal, beliau tahu saya bukan tipe anak garis kiri (ini istilah yang saya pakai untuk kelompok anak yang suka menyalahgunakan kepercayaan orang tua). Beliau tahu, saya tidak akan keluar rumah tanpa kepentingan yang penting. Tapi hari-hari terakhir, beliau sangat ingin tahu alasan atas setiap waktu yang terpakai di luar. Dan.. saya (mendadak) merasa “tidak nyaman” dengan pertanyaan yang dilontarkan setiap hari itu. Saya seolah harus membuat laporan yang rinci tentang apa saja yang saya lakukan di luar. Tau dengan WH-Question ?? nah.. begitulah kira-kira brainstorm yang harus saya paparkan. Tak biasanya…</p>
<p> </p>
<p>Akhir-akhir ini, saya lebih suka menyendiri dan larut dengan pikiran saya sendiri. Menghabiskan malam dengan baca-baca, tulis-tulis, mikir-mikir dan ritual-ritual kecil yang saya ciptakan sendiri (ssstt.. No Mistic). Saya mendengar sodara-sodara saya menanyakan keberadaan saya, tapi saya terlanjur lebur dalam meditasi yang saya desain sendiri. There’s a change in me. Dan.. saya tetap mengeluhkan my daily WH-Questions from my mom.</p>
<p> </p>
<p>Beberapa hari terakhir, akhirnya saya tahu sesuatu. Ya.. saya lupa banyak hal, saya terlalu sibuk dengan pikiran saya sendiri. saya lupa, kalau saya biasa menceritakan setiap kejadian yang saya alami sehari-hari pada ibu. Kenapa sekarang tidak?! Saya lupa, untuk menceritakan kesah saya pada beliau. Saya lupa, membagi pengalaman sekaligus berhikmah bersama beliau. Saya lupa, bahwa saya adalah anak yang sangat diperhatikan, ditunggu jika belum pulang, ditanya keberadaannya jika tidak diketahui dan sebagainya. Saya lupa, bahwa saya tiap hari biasanya memang selalu hadir ditengah keluarga dengan celotehan-celotehan aktivitas dan cerita-cerita tentang kejadian yang saya temui di luar. Saya seperti anak TK yang begitu sampai dirumah, langsung disuruh bercerita tentang kegiatan-kegiatan di sekolah.</p>
<p> </p>
<p>Akhir-akhir ini, ternyata saya sedang mencoba keberanian untuk mandiri, memutuskan segala sesuatu sendiri, menjadi solving problem atas segala masalah yang saya hadapi sendiri. Yah.. anakmu sedang belajar berjalan sendiri,bu!. Karena apa? Sudahlah cukup membebani-mu dari kecil, sembilan bulan pula memberati perutmu. Tapi engkau tetaplah seorang yang dinamakan “IBU”. Tak kan pernah kau lelah bertanya tentang seorang yang dinamakan “ANAK”. So, patutkah aku merasa lelah untuk ditanya????!!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=264&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/06/06/ibu-dan-satu-bentuk-perhatianmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Beda Rasa</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/02/14/sahabat-beda-rasa/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/02/14/sahabat-beda-rasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 02:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Masjid As-Salam jadi saksi tentang dua hati yang sedang dilanda gelisah. Redup matahari ba’da ashar melingkupi suasana hari yang beranjak sore. Dua hati itu, pada hari itu sepakat bertemu, dibawah naungan kubah masjid. Melepas penat dan keluh kesah. Entah benar atau salah, yang jelas dua hati itu pada hari itu merasa nyaman dalam satu perasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=254&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Masjid As-Salam jadi saksi tentang dua hati yang sedang dilanda gelisah. Redup matahari ba’da ashar melingkupi suasana hari yang beranjak sore. Dua hati itu, pada hari itu sepakat bertemu, dibawah naungan kubah masjid. Melepas penat dan keluh kesah. Entah benar atau salah, yang jelas dua hati itu pada hari itu merasa nyaman dalam satu perasaan yang sama: RESAH. Dua hati yang seringkali tak punya waktu yang sama untuk bersama dalam satu waktu yang leluasa. Tapi hari itu, semua terasa berbeda. Dua hati itu, mampu menyatukan waktu meski hanya beberapa saat saja, untuk berbicara dari hati ke hati, memberi celah perasaan untuk mengungkapakan segala hal yang tak terjamah sebelumnya. Ungkapan perasaan itu bernama: RESAH.Tapi pada hari itu, kita tidak berbicara tentang kita, tak mengungkapkan jutaan beban yang mungkin sebenarnya sangat membebani. Kita hanya duduk bersama, memperhatikan manusia-manusia yang lalu-lalang beribadah di dalam masjid, menerka-nerka, mungkin mereka-pun menyimpan keresahan dan masalah yang sama. Hhhh..kita memang aneh. Sahabat beda rasa namun terikat oleh kecocokan jiwa yang sama. Kita punya kebiasaan-kebiasaan yang sama, terutama saat hati “terluka dan berdarah” yaitu ngubek-ngubek buku positif di perpustakaan dan bermuara di masjid yang sama. Kita sepakat untuk tidak melibatkan orang lain dalam keterpurukan sesaat seperti ini. Kita sepakat bahwa dengan sedikit ritual rihlah kecil-kecilan seperti ini, mampu merefresh tiap “kefuturan” menjalani hidup. Dan kita sepakat tidak menunjukkan muka berkerut pada orang-orang yang kita cintai. Cukupkah dengan kebiasaan yang sedikit aneh itu, lalu kita mampu mengusir aura kegundahan dari peforma lahiriah.</span></p>
<p><span id="more-254"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Awalnya, aku ingin bercerita banyak, tentang sempitnya waktuku dalam himpitan “tuntutan” yang benar-benar melelahkan, tentang beratnya menjalani hari akhir-akhir ini. Namun, ku lihat matamu pun lebih letih dan aku menangkap pesan tersirat di pancaran cahayanya “bahwa engkau-pun sedang dirundung kegelisahan”. Lalu, aku lebih suka jadi “penghibur” baginya, aku ingin ketika bersamanya dalam keceriaan yang aku punya, bukan malah membebani. Aku siap menjadi pendengar yang baik tentang masalah dalam kisah hari-harimu. Namun, tak jua tercurah dalam kalimat ucapanmu, yang ada engkau mengajakku memikirkan kasus teman-teman kita yang lain dan mencoba membicarakan solusinya. Engkau juga mengajak diriku berencana, berhikmah dan ah.. dirimu sahabat yang istimewa yang berusaha membunuh kesah dengan cara yang berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Kita.. sahabat beda rasa, masjid As-Salam jadi saksinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Di bawah kubahnya, aku merasakan rasa persaudaraan yang berbeda dari biasanya. mungkinkah karena kembali aku “gemar” mendramatisir keadaan?! Entahlah. Persamaan diantara kita adalah kita sama-sama suka dengan kalimat bijak, filosofi dan seni bertutur, kita adalah pecinta buku-buku positif, sama-sama tak begitu suka bahasan berat lagi monoton, tidak suka ngotot, debat dan sejenisnya. Dan engkau bilang, kita adalah filsuf kecil yang lemah lembut, empiris dan anti_kekerasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Kita tahu, bahwa menurut Al Ghazali para filosof adalah orang yang bingung dan menurut Ibnu Rusyd, pernyataan bahwa filosof adalah orang yang bingung adalah pernyataan yang membingungkan. Dan kita sering bingung akan “sesuatu”, membuat pertanyaan, saling bertanya dan akhirnya.. kita tertawa bersama karena sama-sama tak paham jawabnya, hingga sepakat untuk berpencar mencari jawaban dan bertemu lagi untuk berbagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Itulah kita, sahabat beda rasa. Dirimu dengan kepribadian Silence is Gold, punya kadar kedewasaan sedikit lebih tinggi dariku, berkepribadian lebih tertutup dariku. Sedangkan aku, punya tingkat keceriaan sedikit diatasmu, sedikit lebih “pecicilan” darimu, sedikit lebih supel darimu dan lebih punya celotehan sedikit lebih panjang darimu (meski kata orang, diriku tetap masuk kategori pendiem –kalo lagi diem-). Berdua kita punya jabatan yang sama di keluarga yaitu Anak Bungsu, namun manja-manja kecil dan sifat childish lebih nampak padaku dan dirimu jelas lebih mandiri. Namun, kata Rasul perbedaan diantara umat adalah Rahmat. Sesaat, ketika aku mencoba “karakter” yang berbeda atau mencoba menyamai karaktermu, yang ada dirimu segera protes. Menurutmu, aku dicintai karena apa adanya diriku, karakter-karakter sejatiku (innate capacity) itulah yang “ngangenin” (kata mu). Lalu, jika aku menghilangkannya, maka akan ada sesuatu yang “hilang” dan semua menjadi serba tak indah. Itulah kita, sahabat beda rasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Senangnya punya sahabat beda rasa, namun saling memahami (mudah-mudahan selamanya). Demi keutuhan wujud persahabatan, kita selalu memendam marah dan tak meluapkannya di tempat, selang beberapa waktu kita akan bertutur tentang kekesalan kita, serta harapan-harapan akan tidak terulangnya peristiwa yang menjadi stimulus bergejolaknya “emosi sesaat” tersebut. Betapa indahnya bersahabat tanpa dunia matematika alias banyak perhitungan. Sungguhlah, dirimu sahabat beda rasa, rasa-mu beda, tepatnya kaya rasa. Ada seni yang melukis sketsa persahabatan kita. Kita adalah dua hati yang tertatih meniti hidup dengan daya yang tak seberapa dan minus ilmu melimpah, tapi kita punya SEMANGAT: api yang mengobarkan bara juang. (iya kan Ukh..!)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Sahabat dengan kecocokan jiwa yang sama, masjid As-Salam jadi saksinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Betapa satu mimpi yang kita rancang dan entah kapan akan terwujud.. mungkinkah nyata dalam bilangan 10 tahun kedepan?? Wallahua’lam.. lihatlah, senja telah menggelar permadani gelapnya menutup cahaya matahari. Sepuluh tahun ke depan, akankah kita kembali mengulang moment cinta di ujung letihnya hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">10 tahun kemudian… jika diizinkan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Apakah kau masih selembut dahulu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Memintaku untuk tidak tidur larut malam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Dan tidur dalam mimpi yang indah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Sambil mengirimkan nina bobo ala seorang filsuf nan bijak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Lembah pandalawangi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Meresapi belaian angin yang menjadi dingin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Apakah kau masih menggenggam erat diriku seerat dahulu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Ketika ku genggam , kau genggamlah lebih erat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Apakah kau masih akan berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Engkau adalah saudara terbaik dalam hidupku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Kita begitu berbeda dalam semua , kecuali dalam CINTA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">* * *</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Yang tak kan pernah ku tahu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Dimana jawaban itu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Bahkan letusan berapi, bangunkan ku dari mimpi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Sudah waktunya berdiri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">Mencari jawaban kegelisahan HATI…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">( Puisi Cahaya Bulan yang sudah mengalami <span> </span>beberapa perubahan )</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=254&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/02/14/sahabat-beda-rasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Long Road.. Long Story of My Life</title>
		<link>http://niadp.wordpress.com/2009/02/06/long-road-long-story-of-my-life/</link>
		<comments>http://niadp.wordpress.com/2009/02/06/long-road-long-story-of-my-life/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 02:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niadp</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Writing about Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niadp.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Sepagi itu aku telah duduk manis bersama kakak iparku berkendara menuju satu tempat yang tak pernah terbayang sebelumnya. Sesaat kemudian aku telah menyusup ke satu cerita hidup yang begitu berbeda dalam sudut pandang mata kecilku. Yah.. keputusanku untuk resign ternyata menghantarkan aku ke sebuah tempat dimana kembali aku bisa menguak banyak “sesi_hidup” sebenar tentang sesuatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=247&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://niadp.files.wordpress.com/2009/02/2-radiant-wallpapers-collection-10.jpg?w=500&#038;h=375" alt="2-radiant-wallpapers-collection-10" title="2-radiant-wallpapers-collection-10" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-248" /></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sepagi itu aku telah duduk manis bersama kakak iparku berkendara menuju satu tempat yang tak pernah terbayang sebelumnya. Sesaat kemudian aku telah menyusup ke satu cerita hidup yang begitu berbeda dalam sudut pandang mata kecilku. Yah.. keputusanku untuk resign ternyata menghantarkan aku ke sebuah tempat dimana kembali aku bisa menguak banyak “sesi_hidup” sebenar tentang sesuatu yang biasanya hanya mampu kudengar tanpa aku tahu kebenarannya. Salah satu kesukaanku dalam hidup ini adalah berpetualang. Andaikata aku seorang laki-laki mungkin aku akan melakukan hal-hal ekstrim dalam petualanganku <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Hanya saja, aku ditakdirkan menjadi seorang wanita yang hidup dalam lingkaran keluarga overprotected, segala sesuatu selalu dibawah naungan pengawasan keluarga. Seperti sekarang, atas pertimbangan keluarga, demi satu bentuk perlindungan akan betapa sayangnya keluarga padaku, dari beberapa alternatif yang tersedia, aku akhirnya satu kantor dengan kakak iparku sendiri. Ah.. sudahlah <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sepagi itu, aku terkesiap mendapati diriku benar-benar telah menjadi bagian dari perputaran dunia “Pondok Pesantren” di kota kecil-ku ini. Sedari kecil aku tidak pernah membaurkan diri ke cerita kehidupan yang berbau pesantren. Meski seringkali orang berprasangka bahwa aku “anak pesantren” <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  (tampilannya aja,ilmunya jauh panggang dari api, nggak mateng-mateng.)Dan kini, aku telah menjadi salah satu staf yang membantu mengelola yayasan Pondok Pesantren tersebut. sungguh menarik,, jiwa observasi menggelitik untuk segera menggali “realita-realita” yang mungkin belum pernah aku ketahui sebelumnya. Dunia Pesantren, Dunianya para santri. Ah, entahlah <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p><span id="more-247"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Satu paragraf yang ku dapat kan dari e-book motivasi:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bila kita tak mencintai pekerjaan kita, maka cintailah orang-orang yang bekerja disana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila kita tak bisa mencintai rekan-rekan kerja kita, maka cintailah suasana dan gedung kantor kita. bila toh kita juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dan ke tempat kerja kita. namun, bila kita tak menemukan kesenangan disana, maka cintai apapun yang bisa kita cintai dari kerja kita: tanaman penghias meja, cicak diatas dinding atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja. Bila kita tidak menemukan yang bisa kita cintai dari pekerjaan kita, maka mengapa kita ada disitu?! tak ada alasan bagi kita untuk tetap bertahan. cepat pergi dan carilah apa yang kita cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Hmm.. apa hubungan kalimat-kalimat diatas denganku?!. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“ Ah..Nia, kenapa musti berhenti kerja sih, kan sayang”, ujar temanku mendengar keputusan resign-ku beberapa waktu lalu. Dan banyak komentar-komentar lain yang berusaha menggoyahkan tegaknya pendirianku pada saat itu. Sulit di jawab, namun yang aku ingat kembali pada paragraph diatas: <em>Bila kita tidak menemukan yang bisa kita cintai dari pekerjaan kita, maka mengapa kita ada disitu?! tak ada alasan bagi kita untuk tetap bertahan. cepat pergi dan carilah apa yang kita cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Seolah mengisyaratkan bahwa “gumpalan awan” disekitarnya-pun tak mampu menyuburkan cinta akan nya. Sebuah rangkaian kalimat ku tulis: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:&quot;">Ketika hati mulai berpaling</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:&quot;">Bagaimanakah mengembalikannya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:&quot;">Ketika dirasa hari tak senyaman biasanya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:&quot;">Lalu.. bagaimana bisa menyusurinya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:&quot;">Ketika semua semakin tak terarah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:&quot;">Masihkah mungkin untuk diteruskan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:&quot;">Letih ku menanti jawaban</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:&quot;">( sebuah hati yang berkabut)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Aku benci keegoisan, pembunuhan karakter, ketidakadilan bertubi-tubi, pembohongan publik, mengorbankan jiwa pihak lain demi kebahagiaan pribadi, lari dari masalah (ups…), yang jelas semuanya membuatku mampu berpaling seketika jika dirasa terlalu banyak hal yang berakibat “menyakiti orang lain”. Astagfirullah.. afwan, ngelantur. Dan aku terlanjur cinta pada dunia pendidikan, menyentuh keberadaan laskar pelangi dimanapun ia berada. Bahkan ditempat yang “sedikit pelosok” seperti Ponpes tempatku bekerja ini (maaf.. maaf.. nggak pelosok-pelosok banget sih.. cuma kadang sering kehilangan sinyal provider aja he..he.. )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan mengenai “dunia baruku”. Tapi aku tetaplah aku, seorang yang senang menuliskan segala pernak-pernik kecil yang tertangkap oleh mata, terasa di hati atau teraba oleh sentuhan peristiwa. That’s me..! <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sebaik-baik pemimpin kamu adalah yang kamu cintai dan mencintaimu. Kamu mendo’akan pemimpinmu dan beliaupun mendo’akan mu (HR.Imam Thabrani).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Aku seringkali terkagum-kagum membaca atau mendengarkan cerita tentang sosok pemimpin yang betul-betul bersahaja. Contohnya Tifathul sembiring yang lebih suka naik ojeg ketimbang naik mobil dan cerita-cerita lain tentang kiprah pemimpin yang sederhana layaknya Rasul kita yang tetap down to earth meski mempunyai jabatan tinggi. Trus, mo cerita apa nih tentang pemimpin yang terdekat dengan kita. Terlepas dari tiap rumor yang menghinggapi atau apalah kabar-kabar yang berhembus tentang sosok pimpinan PonPes ini mengenai baik-buruknya, aku tidak begitu tahu kebenarannya. Namun, yang aku tahu beliau punya jiwa kebersamaan yang indah. Sesekali aku surprise melihat beliau memotong kecil makanan yang sedang dipegang oleh seorang stafnya, padahal makanan itu notabene sudah dimakan. Beliau bukan sosok yang ekslusif (menurutku), berbaur dengan staf-stafnya tanpa melihat siapa orangnya. Selain itu, yang aku suka adalah sikap mencontohkan bagimana sesuatu harus dikerjakan, inovatif dan punya mimpi besar. Dan, yang menyenangkan adalah beliau mempunyai typelogi kepemimpinan patrilinial (kebapaan). “Nak”, demikian beliau memanggil kami yang masuk kategori kecil dan imut-imut (cieee..!). Never Give Up,Keep Fight..! Moga tujuan perjuangannya dipermudah oleh Allah. Sebenarnya, siapapun pemimpin-ku, aku selalu punya draft “pujian” yang tak pernah aku ungkap secara nyata (katanya muji tu nggak boleh ya,, aku seringkali diingetkan untuk tidak memuji, meski aku selalu punya pujian tersendiri untuk tiap jiwa yang aku kenal tanpa berniat untuk menyanjung dan berkali-kali pula aku tak bisa menahan diri untuk memuji hehe.. makanya dibilang bandel). Ssst.. mudah-mudahan jika beliau sedang browsing, tidak menemukan tulisan ini. Ah, aneh lah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Hmm.. merasakan udara baru, udara yang berbeda dari udara yang biasa kuhirup (hee..biasa aja kaliii). Tapi beneran berbeda kok dari lingkungan biasanya. Disini kita akan lebih sering mendengar kata “ana”, “antum” dan percakapan-percakapan bahasa arab (asli bikin ngiri..!). Apalagi ketika aku berjalan mengitari pondok, lalu sekelompok santri nampak memperhatikan seraya berujar dengan bahasa arab, duh.. apaan sih! Nyesel deh nggak ngerti bahasa arab. Sepertinya aku harus mengalokasikan waktu untuk belajar bahasa arab secara intensif nih.. yakin?! Yupp, do’ain aja, moga ada yang bersedia meluangkan waktu buat ngajarin. “kenapa nggak nyantri dari dulu”, kata seorang tenaga pengajar disana. Mmm.. bagaimana aku bisa menjawabnya. Toh, masa lalu sudah berlalu. Mustinya pertanyaan itu diganti dengan “ mulai nyantri aja dari sekarang”. Kalo sekarang sih.. mau banget. Tidak harus terdaftar jadi santri, tapi cukuplah dengan mempelajari ilmu-ilmunya. Aku punya konsep sendiri tentang dunia pesantren dan sayangnya belum tercermin secara keseluruhan disini. Miris, melihat para santri (yang punya kompetensi bahasa arab yang bikin aku ngiri) tapi akhlaknya minus. Kenapa minus?! Mereka seringkali aku dengar berucap kata-kata kotor, ghadul bashor-nya pun kurang dipergunakan, bahkan terkadang aku-pun bisa kena “suit-suit” jahil mereka. Sosok yang aku bayangkan menjadi bias dan kabur. Begitukah sosok santri kota ini? Mungkin tidak semuanya begitu, pasti masih ada sosok yang aku bayangkan selama ini, hanya saja untuk sementara waktu itulah yang terlihat. Aku ingat kata KH. Said Agil Siroj pas ikut seminar di hotel Abadi, bahwa yang paling sulit adalah<span>  </span>melaksanakan tarbiyah, terlebih untuk membentuk akhlak dan bermoral. Konsep pendidikan yang menerapkan komponen – komponen IQ, EQ dan SQ secara harmonis agar menghasilkan daya guna yang luar biasa, baik secara horizontal dalam lingkup pergaulan manusia maupun secara vertikal dalam relasinya dengan Ilahi Rabbi. Ah, indah-lah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“ustadzah”.. panggil anak-anak dimanapun bertemu. Astagfirullah..! aku nggak pantes banget dipanggil dengan sebutan “ustadzah”. “kamu tu termasuk korban penyempitan makna”, kata temanku ketika kuceritakan hal tersebut (ustadzah kan maknanya luas). Ya.. karena selain menjadi staf, aku juga mengisi kekosongan tenaga pengajar, jadi aku memang punya interaksi tersendiri dengan “laskar pelangi pesantren” ini. Dan mau tidak mau, udah pasti aku akan sering mendengar sapaan yang berasa “asing dan aneh” buatku (gini nih.. kalo contextual meaning nya beda-beda dan mindset-ku yang terlanjur menafsirkan kata “ustadzah” sebagai orang yang mempunyai kompetensi keilmuan dibidang agama). Meski berulang kali diingatkan-pun, mereka tetep aja gitu dengan wajah innocent mereka yang menggemaskan (buatku). Mengajar mereka adalah keasyikan tersendiri, berinteraksi dengan mereka adalah kebahagiaan tersendiri dan mendengarkan cerita-cerita mereka adalah kesenangan tersendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tapi…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Berada di lingkungan pesantren, tak jua membuat ibadah menjadi lebih mudah lho.. terlebih buat aku yang “lumayan ribet” dengan segala perangkatnya (atau mungkin aku-nya saja yang belum bisa beradaptasi). Ketika ku tanya “ dimana mushola-nya?’, aku kaget ketika diarahkan pada satu tempat “open air”. Hah..! bukannya wanita tu semakin tertutup tempatnya semakin baik. Mm.. mungkin ada konsep-nya sendiri yang aku tidak tahu alasan syar’i-nya. Tapi, aku tidak bisa sholat di situ. Lalu, aku sibuk mencari tempat yang “sreg”. Kesana kemari ditunjukkan tapi keadaannya tidak memungkinkan. Tak sadar aku berujar “ Aku kan tidak sedang berada di Jepang, mo sholat aja kok susah”. Hhhh.. akhirnya aku numpang di salah satu rumah “tenaga pengajar” di kompleks Ponpes. Masya Allah..! lagi-lagi aku harus miris. Aku tidak ingin mengatakan “jelek”, tidak.. rumahnya tidak begitu jelek. Standar-lah, sama dengan rumahku yang sederhana. Namun, untuk sebuah konsep rumah sehat rasanya sangat tidak terpenuhi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Pengap tak berudara, tanpa cahaya matahari, sehingga lampu biasa saja di hidupkan seharian. Rumahku juga sederhana dan mungkin tidak sehat-sehat amat, hanya saja ini lebih parah dari rumahku. Ah, biasalah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Shock culture.. itulah istilah yang tepat mengenai kondisi yang sedang aku hadapi saat ini (Sst..padahal aku udah janji sama seorang teman untuk berhenti mendramatisir keadaan). Tapi inilah keadaan yang seringkali aku dengar sebelumnya bahwa Pesantren di kota ini menyimpan banyak cerita-cerita tentang sebuah “kekurangan dari berbagai segi” yang belum terpecahkan. Dimana letak salahnya?! Di bagian mana yang musti benar-benar di perhatikan dan mulai di perbaiki?!. Akan sangat disayangkan sekali jika PonPes yang sekiranya mampu mencetak kader-kader berakhlakul karimah, tak mampu memenuhi “request dan harapan” dari masyarakat. Bahkan dari cakap-cakap yang pernah aku dengar bahwa ada satu fenomena tentang orang umum yang belajar agama ternyata mempunyai semangat lebih tinggi ketimbang para santri (mungkin ini hanya berlaku di kota-ku saja, dalam ruang lingkup yang kecil, tidak secara keseluruhan,-red). Pembentukan kader yang smart, struggle, santun dengan kecerdasan spiritual yang tinggi,<span>  </span>mampukah di hasilkan disini?! Semoga saja, aku menantikan hal tersebut terealisasi disini. Allahumma Amiin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Banyak hal yang belum tertulis, banyak hal yang harus ditelusuri, banyak hal yang masih menjadi pertanyaan, banyak hal yang masih menjadi harapan.. masih banyak hal yang entahlah, aku juga masih bingung untuk menterjemahkannya. Seiring sejalannya waktu mungkin akan terjawab dengan sendirinya. Sayang sekali,, sepertinya tak lama aku-pun harus meninggalkan dunia baru itu, di saat aku mulai mencintai segala sesuatu yang ada di sana. Entah untuk waktu yang tak lama atau selamanya. Bila beribu kata tak sanggup menjawab tanya, bila mata terlanjur menangkap makna. Bijaksanalah,, butuh waktu,tempat dan rasa yang tak mudah. Bijaksanalah.. butuh waktu, tempat dan rasa yang leluasa. Dia menjawab dengan cara-Nya yang luar biasa dan perantara-Nya yang tak terduga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(Nia_pinkoLover_050209_ba’da subuh)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niadp.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niadp.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niadp.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niadp.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niadp.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niadp.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niadp.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niadp.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niadp.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niadp.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niadp.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niadp.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niadp.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niadp.wordpress.com/247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niadp.wordpress.com&amp;blog=3157182&amp;post=247&amp;subd=niadp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niadp.wordpress.com/2009/02/06/long-road-long-story-of-my-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85880b4f828115704bb13e7379055144?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">niaimoed</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://niadp.files.wordpress.com/2009/02/2-radiant-wallpapers-collection-10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2-radiant-wallpapers-collection-10</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
