Oleh: niadp | Juni 10, 2009

Ibnu Taimiyah: Tauhid-Tasawuf

 

IBNU TAIMIYAH

(661-728H)- (1263-1328 M) 

  1. Perjalanan Hidup Seorang Ibnu Taimiyah

Nama lengkapnya: Taqiyuddin Ahmad bin Abdilhalim bin Taimiyah, dilahirkan di Harran pada hari Senin 10 Rabiul Awwal 661 H. Ayahnya adalah seorang Syaikh, hakim dan khatib bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abdulhalim bin Abdissalam Ibnu Abdillah bin Taimiyah. Kakeknya adalah Syaikhul Islam Majduddin Abul Birkan Abdussalem bin Abdullah bin Taimiyah Al Harrani merupakan seorang fiqh pengikut madzhab Hanbali, Imam ahli Hadits, Tafsir, Ilmu Ushul dan seorang huffadz.

Saat berusia 6 tahun, bersama kedua saudaranya ia dilarikan ayahnya ke Damaskus, lantaran kota Baghdad diserang tentara Tartar. Di masa muda, beliau sudah hafal Al-Qur’an dengan motto hafalan “Mudah hafal dan sukar lupa” (Subhanallah..). Beliau pada masa umur di bawah 10 tahun telah memperoleh hadits dan banyak guru, serta khath dan ilmu hitung. Setelah itu ia mempelajari fiqh, bahasa arab yang lebih dititikberatkan pada ilmu nahwu, lalu tafsir dan ushul fiqh.

Ibnu Taimiyah sangat rakus ilmu, sebagai tambahan beliau selalu menyempatkan diri hadir dalam majelis muzakarah sehingga menginjak usia 17 tahun kepekaannya mengenai dunia ilmu sudah mulai nampak dan pada usia 19 tahun sudah berani memberi fatwa. Beliau sangat menguasai Rijalulhadits (para tokoh perawi hadits) dan Fununulhadits (macam-macam hadits). Semua hadits dalam Kutubus Sittah dan al Musnad ia kuasai.

Kepiawaiannya dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah, tidak diragukan lagi, sehingga ia mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir. Dalam waktu sehari semalam, beliau terus menulis tafsir, fiqh, ilmu ushul sambil menanggapi pendapat-pendapat para filosuf. Tak heran jika karangannya mencapai sekitar 500 buku. Demikian Ibnul Wardi menuturkan dalam “Tariikhu Ibnul Wardi”.

Al Wasithi mengemukakan: “ Demi Allah belum pernah lahir di permukaan bumi orang seperti syaikh kailian Ibnu Taimiyah, baik dari segi ilmiah, amaliah dan khuluqiyah (akhlak), ikutan dan mulianya maupun dari segi tantangannya terhadap orang yang menginjak-injak hak Allah dan kehormatannya”.

Karena ketenarannya, tidak sedikit para ulama menulis dan melukiskan perjalanan hidupnya, misalnya: Ibnu Alusi dalam “Jalaul ‘Ainain”, Shalahuddin bin Syakir Al Kutbi dalam “ Fawatuil Wafayat”, Ibnu Rajab dalam kitab “Thabaqat Ibnu Rajab” dan Ibnu Wardi dalam “Tarikh Ibnu Wardi”.

Menurut Ibnu Taimiyah, Islam adalah akidah dan amal. Satu perintah yang menancap dalam hati Ibnu Taimiyah adalah perintah jihad di jalan Allah, sebab itu adalah syarat kelengkapan dan kesempurnaan iman seseorang. Ibnu Taimiyah merupakan muslim yang berani, sabar dan pemaaf. Beliau sangat keras dalam menentang bid’ah dan khufarat. Cara yang beliau pakai dalam memerangi orang yang tidak sepaham dengannya adalah melalui pena dan diplomasi. Menurutnya, pena lebih tajam daripada pedang.

 

Dalam Al Munaqibul ‘Illiyyah, Imam Al Bazzar menerangkan tentang bagaimana Ibnu Taimiyah menentang kaum mulahidah (pembangkang) dan bid’ah sebagai berikut:

“ Allah memberikan kemampuan tersendiri kepadanya untuk menentang ahli-ahli bid’ah yang tenggelam dalam kesesatan. Dan Allah juga memberikan kepadanya (Ibnu Taimiyah) untuk menelanjangi pendapat-pendapat yang diselubungi khufarat dan bid’ah”.

“ sesungguhnya saya lihat ahli-ahli bid’ah, orang-orang yang sesat, diombang-ambingkan oleh hawa nafsu, seperti kaum Mufalsafah, Bathiniyah, Mulahadah dan orang-orang yang menyatakan diri dengan Wihdatul Wujud (pantheisme), Dahriyah, Qadariyah, Nashiriyah, Jahmiyah,Hululiyah, Mu’thilab, Mujassamah, Musybihah, Rawandiyah, Kilabiyah, Salimiyah dan sebagainya yang terdiri dari orang-orang yang tenggelam dalam kesesatan. Para pemuka aliran-aliran sesat tersebut menyebabkan manusia berada dalam keragu-raguan tentang dasar-dasar agama mereka. Sedikit sekali saya melihat atau mendengar mereka mempergunakan Al Qur’an dan Hadits dengan sebenarnya. Mereka adalah orang-orang zindiq. Setelah saya  melihat semua itu, jelaslah bagi saya bahwa wajib bagi yang mampu untuk menentang kebatilan-kebatilan serta melemahkan hujjah dan kesesatan mereka”.

 

Adz Dzahabi, ulama tarikh dan ahli hadits, menulis tentang ibnu taimiyah: “ Dia telah memprioritaskan sunnah Muhammad dan sistem salaf dengan mengemukakan hujjah-hujjah penguat, mukadimah-mukadimah dan hal-hal yang belum pernah ada sebelumnya. Beliau adalah seorang yang teguh pendirian dengan tetap mengatakan kebenaran yang dihasilkan ijtihad dan kekuatan pikirannya meski pendapatnya itu terasa pahit. Pendapat itu telah ia yakini kebenarannya berdasarkan hadits yang telah ia hafal.

 

Sebagai seorang Mujahid dan mujaddid, dalam upaya penghapusan kebatilan dan kemungkaran, beliau langsung terjun sendiri ke gelanggang dan tidak cenderung menyingkir atau ‘uzlah. Kekerasan itu dapat dilihat dari sebuah perjalanan ke Damaskus. Pada sebuah warung, beliau melihat orang-orang yang sedang bermain catur. Beliau langsung mendatanginya, mengambil papan catur dan membaliknya.

 

Pernah pada hari jum’at, Ibnu Taimiyah keluar bersama para pengikutnya untuk memerangi penduduk yang tinggal di gunung Jurdu dan Kasrawan. Penduduk itu banyak yang sesat dan kafir serta rusak akidahnya akibat perlakuan tentara Tartar yang pernah menghancurkan daerah tersebut dan telah memaksa penduduk setempat untuk mengikuti kepercayaan yang mereka anut. Ibnu Taimiyah mengumpulkan para penduduk dan beliau memberikan penjelasan tentang hakikat Islam. Orang- orang yang masih tetap pada pendiriannya semula dengan tidak mau merubah akidah dan kesesatannya dipaksa untuk menyerahkan harta mereka dan memberikan kepada Baitul Mal. Demikian Ibnu Hadi menerangkan dalam “Al ‘Uqudud Durriyah”, hal.366. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah pula melakukan penggerebekan ke tempat mabuk-mabukan di daerah Syam. Bersama para pengikutnya melakukan penghancuran, pengrusakan terhadap botol-botol khamar.

Namun, Ibnu Taimiyah adalah seorang pemaaf, meski sebenarnya beliau mempunyai kesempatan untuk membalas perlakuan musuh-musuhnya.

 

Pada tahun 700 negeri Syam dikepung oleh tentara Tartar, beliau segera mendatangi Walikota Syam guna memecahkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Dengan mengemukakan ayat Al Qur’an, beliau membangkitkan keberanian membela tanah air. Karena itu, beliau dipercaya oleh Walikota untuk pergi ke Kairo minta bantuan tentara Sultan. Kutipan diplomasi beliau dengan sang sultan:

“ Jika negeri Syam tidak tuan perhatikan lagi dan tidak pula dijaga lagi dari serangan musuh, maka kami akan mengangkat Sultan diantara kami. Seorang Sultan yang dapat memimpin kami, menjaga dan memajukan Syam ketika ia sudah aman. Jika tuan-tuan tidak ditakdirkan menjadi pemimpin-pemimpin Syam dan tidak pula menjadi raja-rajanya, penduduk akan maju ke depan. Tuan-tuan harus menang. Bagaimana tuan berdiam diri, padahal tuan-tuan adalah pemimpin dan Sulatnnya, dan mereka adalah anak buah kalian. Kalian bertanggung jawab terhadap mereka”

Hujjah Ibnu Taimiyah yang argumentatif tersebut menggugah hati para Sultan, hingga dikerahkanlah pasukan berangkat menuju Syam. Dan akhirnya mereka memperoleh kemenangan.

Tidak hanya itu, pada bulan Ramadhan 702 H, Ibnu Taimiyah terjun sendiri ke medan perang Syuqhub, yaitu tempat pusat komando dari tentara Tartar.

 

Karena bebas berpikir dan berijtihad tanpa melupakan Qur’an dan Hadits sebagai sumber dasar, maka banyak pula bermunculan penentang-penentang beliau. Pada tahun 698 H antara waktu Dzuhur dan Ashar Ibnu Taimiyah mengahdapi suatu ujian Hamawiyah, yaitu sebuah surat yang datang dari Hamat berisi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan masalah ketuhanan (Theologis) yang berkisar tentang sifat-sifat Allah. Semua kaum Muslimin sepakat mengenai pendapatnya tentang keesaan Tuhan, tidak ada yang menyerupai-Nya. Akan tetapi, menurut Ibnu Taimiyah, kandungan arti “keesaan” dan perkataan-perkataan lainnya yang ada hubungannya dengan perkataan tersebut, yaitu “tanzih” (penyucian), “tasybih” (penggambaran), “tasjim” (penjisiman) dapat berbeda-beda menurut perbedaan orang yang memakainya, sebab setiap golongan mengartikan dengan arti yang berlainan.

 

Akibatnya, ulama-ulama yang berbeda golongan saling kafir-mengkafirkan, hanya disebabkan perbedaan pengertian mengenai istilah-istilah tersebut. Menurut Ibnu Taimiyah, hal tersebut tidak boleh terjadi, sebab perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan dari segi peninjauan bukan perbedaan arti. Aliran Salaf Ibnu Taimiyah tidak pernah mengkafirkanlawan-lawannya, melainkan hanya memandang sesat, terutama para filosuf, golongan Mu’tazilah dan golongan tasawwuf yang menyatakan diri dan mempercayai dirinya telah menyatu dengan Tuhan atau peleburan daripada Zat-Nya.

 

Sebagai aliran salaf ia berpendirian bahwa keyakinannya tidak mengandung kesesatan, karena menurutnya perbuatan Allah telah dituturkan dalam Al Qur’an maupun Hadits. Dengan demikian ulama salaf berkeyakinan bahwa apa yang dikandung dalam Al Qur’an mengandung sifat-sifat Allah.

 

“Akidah Wasithiyah” adalah yang dianut oleh aliran salaf. Pada tahun 705 H., kemampuan dan keampuhan Ibnu Taimiyah diuji dalam mempertahankan akidahnya. Para kadhi berkumpul bersama Sultan di istana hanya ingin menguji pendiriannya itu. Hingga akhirnya jelaslah bahwa Ibnu Taimiyah benar-benar memegang teguh pendapatnya, bahwa akidah tersebut adalah akidah suniyah salafiyah.

 

Adalah sudah menjadi kelaziman, bahwa semakin melejit ke atas, maka fitnah semakin besar dan mengundang ketidak senangan orang banyak. Tantangan Ibnu Taimiyah semakin banyak, dan kebanyakan berasal dari golongan tasawwuf yang mengaku dirinya telah manunggal dengan Tuhan dan juga golongan yang meyakini bahwa Tuhan melekat pada makhluk-Nya (hulul).

 

Dilakukanlah pendeskriditan secara halus terhadap Ibnu Taimiyah, setelah adu resep dan konsep mengenai ketuhanan ternyata tidak berhasil. Mereka mengadukan Ibnu Taimiyah ke pengadilan dengan tuduhan bahwa Ibnu Taimiyah telah sesat dan ingkar, yaitu seakan-akan Ibnu Taimiyah meyakini bahwa Allah benar-benar tinggal di atas ‘Arsy, memiliki tangan sungguhan, berhubungan dengan Ibnu Taimiyah melalui isyarat-isyarat indera. Dan pengadilan memutuskan mengucilkan Ibnu Taimiyah di sebuah bangunan tinggi beberap hari. Pada malam hari Raya Idul Fitri, dia di pindah ke penjara yang dikenal dengan Jubb. Hakim mengirimkan surat ke Syam menghendaki pengikut Ibnu Taimiyah kembali pada akidah yang benar, jika tidak pengucilan dan penangkapan akan dilakukan.

 

Lalu, Sultan melakukan penangkapan-penangkapan terhadap para pengikut Madzhab Hanbali yang berada di Mesir dan Syam. Syaikhul Islam sendiri menjadi korban penyiksaan dan dipenjarakan. Kebanyakan pengikutnya pun disiksa dan sebagian dipenjara. Pada bulan Rabiul Awwal tahun 707H datang Emir Arab bernama Hisamuddin Mahna bin Isa ke Mesir dan mengeluarkan sendiri Ibnu Taimiyah. Berkali-kali beliau diminta kembali ke Damaskus, namun beliau menolak dan memilih untuk terus mengajar  dan memberi fatwa-fatwa di masjid-masjid dan tempat umum.

 

Fitnah kembali berulang ketika tahun 707 H beliau dituduh menjelek-jelekkan Ibnu Arabi, sufi yang terkemuka dari golongan Widhatul Wujud yang mengingkari akal dan mengesampingkan agama.  Ibnu Taimiyah membantah tuduhan tersebut di tempat umum dan kebanyakan hadirin mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah belum pernah menjelek-jelekkan Ibnu Arabi atau ahli-ahli tasawwuf lainnya. Ibnu Taimiyah hanya menentang pendapat mereka. Terjadilah sengketa paham antara para personil mahkamah pengadilan, apalagi terbukti bahwa Syeikh Nashr Al Munbaj, musuh Ibnu Taimiyah, ada hubungan dengan Raja Mudzbir Ruknuddin Beybars. Akhirnya Negara memutuskan mengucilkan ke Damaskus atau Iskandariah dengan syarat atau memilih dipenjarakan. Ibnu Taimiyah lebih memilih dipenjarakan. Namun, sahabat-sahabatnya tidak rela beliau memlilih penjara. Permintaan sahabatnya pun dipenuhi dan beliau pun pergi ke Damaskus. Hanya saja, pemerintah mencurigai kepergiannya tersebut dan memanggilnya kembali ke Kairo disebabkan Negara tidak menghendaki beliau pergi, dan lebih menginginkan memenjarakan beliau.

 

Setelah Raja Beybras turun tahta, barulah Ibnu Taimiyah bebas. Bila beliau berkenan, Raja Qalawan akan menangkapi musuh-musuhnya. Namun, sebagai seorang muslim yang konsekuen dengan ajarannya, beliau memaafkan kesalahan yang telah diperbuat musuh-musuhnya dan malahan masih memuji mereka.

 

Tahun 712 H Ibnu Taimiyah pulang kembali ke Damaskus. Ia kembali pada profesi dan kegiatan semula, menulis, mengajar, menyebarluaskan ilmu pengetahuan serta memberi fatwa.

 

Dalam masalah “Syaddur rihal” (perjalanan kunjungan), Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa safar yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin dan para ulama dengan niat hanya untuk mengunjungi kuburan-kuburan para aulia, tidaklah di syariatkan agama dan bahkan kunjungan tersebut merupakan maksiat yang paling besar. Sebagaimana disabdakan Nabi: Janganlah kamu melakukan perjalanan kecuali kepada tiga masjid : masjidil Haram, Masjidil Aqhsa, dan masjidku ini (masjid Nabawi).

 

Menurut Ibnu Taimiyah, kunjungan kepada tiga masjid itu, yang di syariatkan hanyalah dengan niat untuk shalat saja. Jangan sampai ada yang datang ke sana hanya karena untuk mengunjungi Majidil Haram atau Masjidil Aqsha karena tempat bersejarah, atau ke masjid Nabawi karena dibangun ketika Nabi datang ke sana seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang yang sesat dengan berthawaf disekitar batu Nabawi. Pendapat Ibnu Taimiyah  ini diputarbalikkan, bagi mereka yang memusuhinya, seakan-akan merusak dan menginjak-injak citra makam Nabi, para wali dan orang-orang Shaleh. Ibnu Taimiyah dilaporkan kepada Sultan dan ditangkap pada tahun 726 H.

 

Pemimpin kadhi dari golongan Syafi’I menjadi goncang dan timbulnya amarahnya. Dengan membina gubernur untuk mengambil sahabat Ibnu Taimiyah, dia bebas memenjarakan mereka. Akan tetapi kebanyakan dari mereka dilepaskan kecuali seorang, yaitu muridnya yang paling terkenal Syamsudin Muhammad Ibnul Qayyim Al Jauziyah tetap dipenjarakan.

 

Kehidupan penjara dimanfaatkan Ibnu Taimiyah untuk membaca dan menulis. Pada tahun 728 H, beliau menyelesaikan tulisannya yang berisi bantahan terhadap Ankhnai Al Maliki ( Ruddun’ala Ibnil Akhnai Al Maliki) yang menyatakan Akhnai tipis bekal ilmu pengetahuannya. Sikap ini malah mempersempit ruang gerak Ibnu Taimiyah. Semua buku, kertas, tinta, pena yang dibawa ke dalam tahanan dirampas pada tanggal 9 Jumadil Akhir tahun 728 H. Kitab “Al Wafayatul Wafayat” menerangkan, bahwa setelah alat tulis dan buku tidak dimiliki lagi, beliau menulis menggunakan arang. Perampasan tersebut merupakan hantaman berat bagi Ibnu Taimiyah, setelah itu beliau lebih banyak membaca Al Qur’an, beribadah dan memperbanyak tahajjud. Dan pada tanggal 20 Dzulqaidah, setelah menderita sakit selama 20 hari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah wafat di penjara. Beliau dimakamkan di kuburan Ash Shufiyah Damaskus.

 

  1. Pandangan-pandangan dan Jalan Berpikir seorang Ibnu Taimiyah

Pemikiran Ibnu Taimiyah di bidang politik sebenarnya dapat dikaji dari bukunya “Minhaj as-Sunnag an-Nabawiyah fi naqdh Kalam as-Syiah wal Qadariyah” (Jalan Sunnah Nabi dalam Penyangkalan terhadap Keyakinan Kalangan Syiah dan Qadariyah), As-Siyasah as-Syar’iyah (Sistem Politik Syariah), Kitab al-Ikhriyaratul ‘Ilmiyah (Kitab mengenai Peraturan-peraturan Yuridis yang berdiri sendiri) dan al-Hisbah fil Islam (Pengamatan terhadap Kesusilaan Masyarakat di dalam Islam).

 

Pandangan Ibnu Taimiyah mengenai politik pemerintahan yang kiranya agak berbeda dengan ulama lain adalah sebagai berikut:

  1. Mengenai Khilafah

Ibnu Taimiyah memandang bahwa tata politik setelah Nabi Muhammad wafat adalah suatu dispensasi khusus dari Allah dan menyebutnya sebagai Khilafah an-nubuwwah. Beliau menyatakan bahwa kekhalifahan ini tidak akan terulang lagi di dalam sejarah karena Nabi telah menyatakan; kekhalifahan ini, hanya bertahan selama 30 tahun setelah itu yang ada hanyalah politik dalam pengertian umum. Meski khalifah-khalifah dari Bani Umayah, Abbasiyah dan lain-lain menamakan diri sebagai khulafa, tetapi kaum Muslimin terpaksa menerima karena mereka memiliki otoritas yang nyata. Mereka tidak memerintah sebagai wakil-wakil Nabi, melainkan hanya tampil sesudah beliau wafat dan melaksanakan syariah sebagai hukum dasar Negara dengan sedaya upaya mereka. Jadi menurut Ibnu Taimiyah, tidak ditemukannya petunjuk mengenai teori konstitusional di dalam Al Qur’an, Sunnah atau dalam praktek Khulafaur Rasyidin, maka teori klasik mengenai kekhalifahan ditolaknya.

  1. Mengenai Ummah

Yang dimaksudkan Ummah menurut pandangan Ibnu Taimiyah diyakini sebagai penerima wahyu, memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk memelihara dan menyiarkan agama; dan bahwa organisasi Negara hanyalah salah satu fungsi ummah, sehingga secara relatif kurang penting dan kurang perlu dipermasalahkan. Menurut beliau, ummah mungkin saja orang kafir, tetapi apabila Al Qur’an mempergunakannya sehubungan dengan pengikut-pengikut Muhammad, maka yang dimaksudkan adalah orang-orang yang beriman. Belakangan ini, konsep tersebut diragukan baik oleh orang Muslim maupun bukan. Keraguan ini bersumber dari dokumen sejarah yaitu Perjanjian Damai antara Nabi dan orang-orang Yahudi di Madinah, yang berbunyi: Orang-orang Yahudi dari Bani Auf adalah sebuah ummah bersama-sama dengan orang-orang mukmin.

 

Ibnu Taimiyah mengutuk setiap prinsip persatuan dengan orang-orang bukan muslim dan mencela setiap persatuan yang lebih mengutamakan keserbaragaman daripada keseragaman dan yang lebih mengutamakan perpecahan daripada keutuhan. Ia mencela solidaritas sempit yang mengelompokkan umat manusia menurut kelahiran, ras dan deviasionisme religious dan menentang kepentingan kaum Muslimin yang lebih besar jumlahnya dan menghalangi terlaksananya kehidupan sosial politik dengan baik.

 

Menurut Ibnu Taimiyah solidaritas dicerminkan di dalam dua bentuk, yaitu di dalam kesatuan agama dan di dalam kesatuan bahasa. Masyarakat Muslim Ideal yang pada awal sejarah Islam melaksanakan tauhid dengan sesungguhnya, tidak memerlukan organisasi politik. Kesalehan pribadi dari anggota masyarakat tersebut sudah cukup untuk memelihara kohesi sosial sehingga kekuatan pemaksa untuk mempertahankan solidaritas ummah tersebut tidak diperlukan.

 

  1. Mengenai Imamah

Dalam doktrin Sunni intitusi imamah harus ditegakkan walaupun keharusan ini dotafsirkan berbeda oleh ahli yang berbeda. Misalnya Al Ghazali berpendapat bahwa masalah imamah tidaklah penting, karena hanya sebuah masalah hukum, yang sering menimbulkan fanatisme dalam ummah karena itu tidak perlu dipersoalkan.

 

Ibnu Taimiyah tidak mau menyebut rezim Nabi sebagai imamah, tetapi berkeras menyebutnya sebagai nubuwwah dan beliau menyatakan bahwa masalah imamah hanya timbul setelah Nabi wafat. Ibnu Taimiyah tidak mengakui teori tradisional mengenai kekhalifahan, maka beliau merasa tidak berkepentingan dengan pengangkatan seorang imam.

 

Ibnu Taimiyah telah menghancurkan fiksi pemilihan suara dan instuisi ahlul hall wal-aqd yang tidak berbentuk, tidak efektif dan sangat fiktif. Menurut beliau, Negara tercipta melalui kerjasama antara anggota masyarakat; dan penguasa tertinggi yang dipilih oleh rakyat memiliki kekuatan dan otoritas yang sesungguhnya di dalam masyarakat. Imamah yang benar adalah imamah yang ditegakkan berdasarkan sumpah setia (Mubaya’ah) yang saling mengikat diantara  raja dan rakyat. Mubaya’ah ini adalah semacam kontrak dan yang memiliki maksud yaitu kehendak bersama untuk menaati Allah dan rasul-Nya.

  1. Mengenai wilayah

Wilayah adalah sebuah amanah yang harus diarahkan imam kepada yang berhak. Ibnu Taimiyah menganggap bahwa amanah dan keadilan sebagai dua buah kualitas yang esensial bagi pemerintah Syariah. Setiap wilayah menurutnya merupakan kewajiban agama yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah.

  1. Pandangan Ibnu Taimiyah mengenai Ijtihad, tafsir dan takwil

Sebagai penganut aliran salaf, beliau hanya percaya pada syariat dan akidah serta dalil-dalilnya yang ditunjukkan oleh nash-nash. Maka aliran ini tidak percaya kepada  metode logika rasional yang dianggap asing bagi Islam, karena tidak terdapat dalam masa sahabat maupun tabi’in.

 

Akal pikiran, menurut beliau amatlah terbatas, apalagi dalam menafsirkan Qur’an dan Hadits. Beliau meletakkan akal pikiran dibelakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri, tidak berhak menafsirkan, menguraikan dan menakwilkan Qur’an kecuali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) dan dikuatkan oleh Hadits.

 

Menurut Ulama salaf, takwil adalah menafsirkan dan menerangkan maksud dari nash Al Qur’an dan Hadits, yang menurut pandangannya di dalam Al Qur’an banyak ayat yang merupakan penafsiran atau keterangan dari ayat-ayat lain. Tidak ada pertentangan antara cara memakai naqli yang shahih dengan cara aqli yang sharih. Akal tidak berhak mengemukakan dalil sebelum di datangkan dalil naqli. Bila ternyata ada pertentangan antara akal dan pendengaran (sam’i) maka harus di dahulukan dalil qath’I, baik ia merupakan dalil aqli maupun sam’i. dalil sam’I yang sudah kokoh naqlinya lebih didahulukan daripada akal.

 

Dalam bidang ilmu kalam, Ibnu Taimiyah menerangkan tentang wujud Allah, keesaan Allah, hubungan antar Khalik dengan makhluk berdasarkan dalil Al Qur’an, Sunnah serta itsar dari ulama salaf. Beliau tidak sepaham dengan filosuf, termasuk Al Ghazali.

 

Dalam hal Fiqh dan ushul fiqh, ijma” yang disepakati kaum muslimin secara bersama adalah Ijma’ yang dilakukan oleh para sahabat. Ijma’ yang dilakukanoleh ulama selain mereka, diragukan kebenarannya dan tidak bisa dipakai sebagai dasar hukum. Qiyas yang dapat diterima adalah qiyas yang shahih dan tidak rusak.  Beliau menerangkan tentang Qiyas yang benar, bentuk dan syarat yang harus dimiliki dan di dapat dalam Qiyas yaitu:

  1. Illat hukum tasyri’ yang terdapat dalam asal harus juga ada di dalam cabang, tanpa adanya pertentangan yang menjadi penyebab terlarang penentuan hukum Illat itu.
  2. Qiyas dengan pembatalan pembeda antara dua bentuk itu (maksudnya asal dan cabang). Antara keduanya, ushul dan furu” tidak boleh ada pembeda yang mempengaruhi syara’.

 

Mengenai Istishhab, beliau mendefinisikan: “Tetap berpegang teguh pada hukum asal, selama hukum itu belum diketahui tetap ada sudah diubah menurut syara’. Ia adalah hujjah bagi ketiadaan keyakinan terhadap ittifaq (sepakat). Jika seorang mujtahid dihadapkan pada suatu masalah yang sedang hangat terjadi dalam masyarakat, kemudian ia dimintai pendapat yang tidak terdapat dalam Qur’an dan Sunnah, serta tidak ada dalil syar’I lain yang menerangkan tentang hukum masalah itu, tentang haram atau mubahnya, maka ia harus memilih mubahnya, sebab asal segala sesuatu itu diperbolehkan, kecuali yang sudah diharamkan menurut syara’.

 

Istishhab adalah suatu metode mengambil dalil yang telah menjadi fitrah manusia dan mereka melakukannya dalam ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan.

 

Dengan Mashail mursalah, yang banyak dibicarakan dalam madzhab Maliki akan tetapi tidak dibicarakan dalam madzhab Hanbali, Ibnu Taimiyah tampak ragu untuk menyatakan diri menyandarkan pengambilan hukum berdasar Mahail Mursalah (kepentingan umum).

 

SUMBER KEPUSTAKAAN:

  1. As Siyasah as-Syar’iyah, oleh Ibnu Taimiyah
  2. Al ‘Aqidah al-Waithiyah, oleh Ibnu Taimiyah
  3. Ar-Radd ‘ala Siyar al Auza’I, oleh Abu Yusuf
  4. Al Imamah was Siyasah, Oleh Muhammad bin Jarir at-Thabari
  5. Al Igtishad fil I’tiqad, oleh Al Ghazali
  6. Al Wasithah bainal Khalqi wal Haqqi, oleh Ibnu Taimiyah
  7. Ilmu Kalam, oleh Prof.KHM. Thaib Thahir Abdul Mu’in
  8. I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, oleh KH. Sirajuddin Abbas
  9. Ibnu Taimiyah, oleh Abu Ahmadi
  10. Ibnu Taimiyah, oleh Dr. Muhammad Yusuf Musa
  11. Hayatu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, oleh Syeikh Muhammad Bahjah Al Bithar
  12. Muqaranah bainal Ghazali wa Ibnu Taimiyah, oleh Dr. Muhammad Risyad Salim
  13. Theologi Islam, oleh Dr. Harun Nasution
  14. The Political Thought of Ibnu Taimiyah, oleh Qomaruddin Khan.

 

(Disadur dari buku: Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Ke Masa karya Imam Munawwir)


Responses

  1. Terima kasih untuk artikelnya. saya copy. buat di print out.

  2. thank artikelnya

  3. Terima kasih atas artikelnya, saya buat bahab ajar kelas XII, MA Sunan Pandanaran Yogyakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: